KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Lamunan Rafan


__ADS_3

RAFAN POV


Beberapa hari setelah kedatanganku, di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota kelahiranku. Pertama kalinya aku melihatmu, wanita bercadar yang mengetuk pintu hatiku. Aku melihatmu berdiri di dalam salah satu toko terbesar di pusat perbelanjaan itu. Toko yang kebetulan milik keluarga Adiputra. Keluarga yang begitu terpandang dan kaya raya di kota kelahiranku. Keluarga yang begitu dermawan di mata banyak orang.


Aku melihatmu berdiri bimbang diantara banyaknya gamis-gamis mewah dan mahal. Namun entah kenapa aku terpana melihat penampilan sederhanamu? Gamis yang kamu kenakan, tak sebanding dengan gamis yang ada di toko ini. Penampilan sederhanamu tak menampakkan jati dirimu yang sesungguhnya. Status yang tak biasa dan tak semua orang memilikinya. Kemewahan yang seolah sengaja ingin kamu tutupi dalam kesederhanaan. Namun dua bola mata indahmu, seakan ingin menampakkan kesejukan dan keteduhan yang tersimpan di balik cadar. Senyum menawan yang kamu sembunyikan, demi menghalau mata lapar para kaum adam. Termasuk diriku yang tertarik akan sikap santunmu. Walau tak pernah aku melihat wajahmu. Namun hatiku percaya, kamu memiliki wajah cantik yang terpancar jelas dari hati.


Aku terus melihatmu bimbang memilih. Entah untuk siapa kamu memilih gamis? Jelas sekali kebingungan dalam memilih, bukan karena harga. Namun karena model yang terlalu banyak dan takut tak sesuai dengan sang penerima hadiah. Dengan langkah tegas aku menghampirimu. Kupilih satu gamis yang menurutku sederhana, tapi sangat elegant bila dipakai oleh orang tua. Jujur aku bahagia, ketika aku melihat kamu membeli gamis yang aku pilihkan. Pertama kalinya aku merasakan kebahagian sebagai seorang laki-laki. Sikap hangat dan ramah yang kamu tunjukkan padaku. Semakin membuatku percaya, kamu wanita berhati emas. Sederhanamu, alasan keistimewaanmu.


Kedua mataku terus menangkap sosok indahmu. Aku terus melangkah mengikuti langkah kecilmu, ada rasa aneh dalam hatiku. Pertama kalinya aku begitu tertarik dengan seorang wanita. Bukan karena harta, bukan karena wajah, bukan juga karena status sosial dan pendidikannya. Dalam hidup aku hanya mengenal dua wanita, satu ibu yang melahirkanku dan kedua adik yang begitu aku sayangi. Kini dalam sederhanamu, hatiku tertarik bahkan mungkin tertambat. Aku luluh hanya dalam satu tatapan. Sikap dinginku tak lagi terasa, aku luluh dalam hangat kesederhanaanmu.


Sempat aku bertanya dalam hati. Apa yang ada dalam dirimu? Sehingga aku begitu tertarik padamu. Apa yang aku lihat dalam sosokmu? Sampai kedua mataku tak bisa berpaling dari langkah kecilmu. Pertanyaan yang terus berputar dalam benakku. Tak ada jawaban untuk pertanyaanku, sebab sederhanamu alasan ketertarikan hatiku.


Lama aku mengikuti langkah kakimu. Sampai akhirnya hatiku tergerak menyapamu. Langkah kakiku hanya ingin menghampirimu. Dengan langkah tegapku, aku berjalan menghampiri dirimu. Aku menawarkan sebotol air mineral, sekadar melepaskan dahaga yang terlihat di raut wajahmu. Keringat yang nampak di pelipismu, jelas mengatakan rasa lelah yang mulai menyapa tubuhmu. Kesempatan yang takkan pernah aku dapatkan, setidaknya sekali saja aku melupakan rasa malu dan menjauhkan harga diri. Aku hanya ingin menyapa, tidak lebih karena penampilanmu jelas menunjukkan batasan diantara kita.

__ADS_1


Dengan keramahan aku menawarkan pertemanan. Namun tangan yang terulur, tak membuatmu terketuk untuk menyambutnya. Dengan lugas dan tegas kamu menolak pertemanan dariku. Semua demi batasan yang sejak awal ada diantara kita. Seketika aku tersadar dari angan tak pantasku. Iman yang kamu pegang teguh, membuatku tersadar. Kamu benar-benar istimewa.


Aku diam terpaku dan membisu, menyadari sikapku telah salah. Demi hasrat yang penuh napsu. Aku melanggar batasan yang sejak dulu ada dalam hidupku. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Hatiku tergugah ingin mengenalmu. Melupakan iman yang menjadi dasar dalam hidupku selama ini. Sungguh pertama kalinya aku menyadari, kekuatan cinta itu nyata. Menghancurkan iman, ketika hanya napsu yang menjadi dasar dari rasa itu.


Aku menatap langkah kecilmu yang menjauh. Membawa suara merdu yang sekejap meneduhkan hatiku. Aku melihat punggungmu menjauh. Membawa harapan akan asaku yang telah kandas. Langkah kakimu yang mulai tak terlihat. Menyadarkan diriku tak ada jalan kita bersatu. Aku kembali menjadi seorang Rafan Grifarri Abdullah yang dingin dan tak akan ingin mengenal kata cinta. Semua tak lain, karena tangis ibuku yang terluka oleh cinta dan baktinya.


Entah jodoh atau memang sudah tertulis? Kita bertemu keesokan harinya. Pertemuan kedua yang membuatku tak mampu berpaling darimu. Meski aku tahu, ada wanita lain yang menanti kepastian dariku. Wanita yang tak pernah aku kenal atau ada dalam benakku, walau sesaat Wanita yang aku pandang sebelah mata hanya, karena perjodohan yang mendasari hubungan diantara kami. Wanita yang semakin aku sisihkan, ketika aku bertemu denganmu.


Wanita yang sengaja dipilihkan oleh ibu yang melahirkanku. Meski tak pernah aku mendengar permintaan itu secara langsung dari ibuku. Seorang wanita yang telah merebut hati ibu kandungku. Ibu yang paling berharga dan berjasa dalam hidupku. Demi senyum dan kebahagiannya, aku rela mengorbankan segalanya. Namun bertemu denganmu, membuatku siap menolak permintaannya. Mengguratkan rasa kecewa di hati wanita paling sempurna dimataku. Dalam sekejap kamu mengalihkan dunia dan hidupku. Hanya denganmu kelak aku bahagia, alasan yang mungkin membenarkanku. Kala aku menolak dan melawan perintah pemilik surgaku.


Aku berlari menuju ruang IGD, aku berlari melewatimu. Sebagai seorang laki-laki aku tertarik akan sosokmu. Namun sebagai seorang dokter, sudah tugasku membantu menolong pasien. Seperti dirimu yang melupakan lelah, aku melakukan hal yang sama. Aku melupakan alasanku sampai berdiri di rumah sakit terbesar dan terlengkap di kota ini. Rumah sakit yang kini menjadi tempatku mengabdi dan menolong sesama.


Setelah satu jam, aku keluar dari ruang IGD. Aku berharap masih bisa melihatmu, meski semua itu hanya harapan tanpa asa. Aku menyadari, banyak hal yang lebih penting kamu lakukan. Daripada duduk diam di ruang tunggu. Namun dua bola mataku membulat, ada rasa bahagia dan tak percaya. Ketika aku melihatmu duduk di kursi panjang tak jauh dari ruang IGD. Sekali lagi aku melihat kebesaran hatimu, keikhlasan tanpa pamrih yang membuatku semakin mengagumimu.

__ADS_1


Nampak aku melihat wajah lelahmu. Penampilanmu tak lagi sempurna. Hijab putihmu tak lagi putih. Noda darah memberi warna merah di hijabmu. Aku melihatmu semakin menawan dengan noda yang tak pernah membuatmu risih. Kesamaan yang sempat tersirat di hatiku. Jika kita memiliki tujuan yang sama. Ringan tanganmu begitu mudah memberikan bantuan. Tanpa kamu berharap akan balasan yang kamu terima. Penampilanmu yang tak lagi sempurna. Membuatmu terlihat semakin cantik. Bukan kesempurnaan fisik yang aku lihat darimu. Kesempurnaan hati yang takkan pernah bisa aku lihat dari wanita lain. Alasan aku sulit percaya akan sosok wanita, selain ibu dan adikku.


Kamu bukan wanita pertama yang ada dihatiku. Namun kuyakinkan dirimu, kamu wanita yang membuatku luluh dan terpana. Bukan dengan kecantikan wajah, tapi kecantikan hati yang membuatku tersadar. Masih ada wanita berhati putih sepertimu. Meski tak ada kata sempurna, tapi aku percaya kamu terbaik diantara yang baik.


Seandainya aku harus memilih, harta atau dirimu. Aku akan memilih hidup bersamamu. Dalam setiap tatapanmu ada aura yang menenangkan hatiku. Sebaliknya hartaku membuatku jauh dari kata tenang. Namun terselip rasa takut, saat aku mengingat rasa kecewa ibu yang melahirkanku. Namun rasa kagum ini terlalu kuat, sampai aku tak mampu menjauh darimu. Bahkan melupakan bayanganmu, aku seolah tak sanggup. Aku kalah oleh rasa yang belum tentu bersambut. Hatiku terpaut, pada hati yang belum tentu untukku. Namun angan penuh bahagiaku hancur? Ketika aku melihat kedua orang tuamu. Dunia penuh kebahagianku hancur, tak ada harapan lagi untuk rasaku. Hatiku tak lagi utuh, hatiku patah dan hancur hanya dalam hitungan detik.


Rumah sakit itu, menjadi tempat pertemuan kedua kita. Sekaligus tempat aku mengenal siapa dirimu sebenarnya? Seorang Humairah Nabila Ikhsani, putri kedua tuan besar Arya Arsan Adiputra. Orang terpandang dan kaya raya, seseorang yang kamu panggil papa. Laki-laki yang tak lain, ayah dari ibuku. Dia kakek yang tak pernah aku kenal. Hubungan darah yang seketika menghancurkan harapan indahku. Wanita yang mengetuk hatiku, tak lain adik kandung ibuku.


RAFAN POV END


"Boleh aku duduk bersamamu!" sapa Aira, suara lembutnya membuyarkan lamunan Rafan. Seketika Rafan tersadar dari lamunannya. Dia melihat sosok nyata Aira, sosok yang beberapa detik lalu ada dalam angan dan lamunannya.


"Silahkan!" sahut Rafan gugup.

__ADS_1


"Terima kasih!" ujar Aira, sembari menarik kursi ke belakang. Aira duduk tepat di depan Rafan. Dua bola mata indahnya menyapa Rafan dengan hangat. Tatapan yang meluluhlantakkan hati dan perasaan Rafan.


__ADS_2