
"Rafan, kamu sudah makan malam!" ujar Embun lirih, ketika melihat Rafan baru datang. Rafan menoleh dengan raut wajah datar, gelengan kepala Rafan menjawab kecemasan Embun.
Sejak beberapa hari, Rafan selalu pulang terlambat. Kesibukan di rumah sakit dan studinya, menyita waktu istirahat Rafan. Embun sempat meminta Rafan memilih antara pekerjaan dan studinya. Namun permintaan Embun hanya angin lalu. Rafan terus dengan keputusannya. Rafan memilih menghabiskan waktu dengan banyak kegiatan. Seakan Rafan tengah berlari dari sebuah kenyataan. Embun merasa tak mengenal putranya. Namun Embun tak memiliki alasan tepat, untuk bertanya alasan sikap Rafan yang berubah.
"Mama akan menyiapkan makan malam untukmu. Bersihkan dirimu, lalu turun untuk makan malam!" ujar Embun, Rafan diam membisu. Tak ada penolakan atau persetujuan, Embun semakin cemas dengan perubahan sikap Rafan.
Abra kebetulan melihat sikap diam Rafan. Sikap diam yang tak mungkin ditunjukkan Rafan pada Embun. Namun malam ini, jelas Abra melihat hubungan ibu dan anak yang merenggang. Entah karena alasan apa? Namun sikap Rafan tidak biasanya, Abra merasa Rafan tengah dalam tekanan besar. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Sesuatu yang pernah dirasakan Abra saat muda. Kebimbangan yang pernah menjadi dilema dalam hidup seorang Abra.
"Rafan, naiklah ke kamarmu. Jika kamu sudah lapar, turunlah makan malam. Papa akan menemuimu nanti!" ujar Abra, Rafan mengangguk tanpa ragu. Rafan mengiyakan perkataan Abra, seakan pemikiran Rafan dan Abra sama.
Embun menoleh bergantian ke arah Abra dan Rafan. Ada rasa tak percaya, melihat hubungan ayah dan anak yang membaik. Sebaliknya Abra semakin yakin, jika Rafan menyimpan sesuatu yang tak mudah diceritakan pada Embun. Ibu yang selalu ada pertama dalam setiap langkah hidup Rafan. Namun kini menjadi orang terakhir, bukan karena Rafan tidak lagi peduli pada Embun. Namun ada sesuatu yang akan menyakiti Embun. Jika Rafan mengatakannya pada Embun tentang masalahnya.
"Kak Abra, apa yang terjadi pada Rafan? Kenapa dia mengacuhkanku? Seolah Rafan tidak membutuhkanku lagi!" ujar Embun lirih penuh rasa tidak percaya, Abra menggeleng lemah.
Abra tidak setuju dengan pemikiran dangkal Hanna. Sampai kapanpun Rafan tidak akan mengacuhkan Embun, hanya saja ada saatnya seorang ibu tersisih. Ketika seorang ayah yang lebih dibutuhkan seorang putra. Seperti kondisi Rafan saat ini, dia merasa lebih nyaman bicara dengan Abra. Daripada bicara dengan Embun.
"Tenanglah sayang, Rafan sedang dalam tekanan besar. Seorang laki-laki harus bisa menyelesaikan tekanan dalam hidupnya. Jika tidak, Rafan akan selamanya berada di zona nyamannya. Sekarang putraku sedang berusaha melawan tekanan dalam hidupnya. Jadi biarkan seorang ayah yang menyelesaikannya. Aku akan mencari tahu, apa tekanan yang sedang dihadapinya?" tutur Abra, Embun termenung mendengar perkataan Abra.
Embun merasa perkataan Abra tidak masuk akal. Namun dalam hatinya, Embun merasa bahagia. Melihat hubungan Abra dan Rafan yang mulai menghangat. Setidaknya setelah sekian tahun hubungan ayah dan anak yang mendingin. Hari ini, Embun melihat cara agar keduanya semakin dekat dan menghangat. Embun mencoba memahami sikap diam Rafan, sebab akan ada Abra yang menjadi sandaran Rafan putranya.
"Aku harap perkataan kakak benar. Sekarang, aku harus membuatkan makan malam atau tidak?" ujar Embun lirih, Abra menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa? Rafan belum makan malam!" ujar Embun, Abra mengangguk mengiyakan perkataan Embun.
"Aku akan mengajak Rafan keluar makan malam. Saat ini aku yakin, perutnya tidak merasa lapar. Bimbang dalam hatinya, sejenak menghilangkan lapar dan dahaga. Bahkan kedua matanya takkan merasa mengantuk. Sesuatu yang wajar, ketika hati dan pikirannya penuh dengan satu tekanan!" ujar Abra lirih, Embun tersenyum. Lalu berjalan menjauh dari Abra. Embun merasa perkataan Abra mulai melantur.
"Terserah kakak, aku pergi ke kamar Kanaya. Sejak tadi siang, dia mengurung diri di kamar. Aku takut terjadi sesuatu padanya!" ujar Embun, sembari menaiki tangga. Abra mengangguk mengiyakan perkataan Embun. Abra tersenyum melihat punggung Embun yang semakin menjauh. Jauh dalam hatinya, ada rasa bangga akan sosok Embun. Seorang ibu yang mampu menjadi teman bagi putra-putrinya.
"Sayang, aku akan mengajak Rafan keluar makan malam. Kalau Kanaya bersedia, nanti kamu menyusulku bersamanya. Kita bisa makan malam bersama!" teriak Abra, Embun mengacungkan jempol ke udara. Isyarat Embun setuju dengan perkataan Abra.
Satu jam kemudian, Abra dan Rafan sudah sampai di sebuah cafe yang menghadap langsung ke laut. Sebuah cafe berlantai dua dan beratapkan langit. Abra sengaja membawa Rafan ke tempat yang jauh dari rumah. Laut menyimpan sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan. Tempat yang akan membuat seseorang merasa tenang. Rafan putra Embun, dia memiliki sifat dan kebiasaan yang hampir sama. Sebab itu Abra membawa Rafan ke tepi laut. Agar Rafan bisa mengutarakan seluruh gelisah dalam hatinya.
"Rafan jagoan, sekarang kita hanya berdua. Kita jauh dari mama dan rumah. Sekarang kamu bisa mengatakan seluruh beban dalam pikiranmu. Papa akan menjadi pendengar yang setia!" ujar Abra, Rafan mendongak menatap Abra. Nampak dua bola mata Rafan sendu.
Abra melihat ada yang tersimpan dalam sendu tatapan Rafan. Abra merasa yakin, ada masalah yang tengah Rafan pikirkan. Sebuah masalah yang terlalu sulit diungkapkan, tapi tidak akan pernah selesai. Jika Rafan tidak membaginya pada seseorang. Alasan yang membuat Abra membawa Rafan ke tempat ini. Selain mengajak Rafan makan malam. Abra ingin mendengar keluh kesah sang putra. Abra ingin menjadi teman Rafan, bukan ayah yang akan ikut campur urusan Rafan.
__ADS_1
"Papa!" sapa Rafan lirih, Abra terpaku mendengar panggilan penuh harap dari Rafan.
Panggilan yang hampir terlupa oleh telinga Abra. Sebuah panggilan yang begitu menyentuh Abra, bukan karena Rafan putranya. Namun makna di balik panggilan Rafan yang begitu mengharap bantuan Abra. Sejenak Abra melihat Rafan yang begitu membutuhkan dirinya. Abra seolah menatap Rafan kecil yang takut terjatuh. Lirih panggilan Rafan, bak uluran tangan Rafan yang butuh pertolongan Abra. Sikap penuh harap dari seorang putra yang lama menjauh dari Abra.
"Katakan Rafan, papa akan mendengarnya!"
"Katakan padaku, aku harus memilih cinta atau persaudaraan?" ujar Rafan singkat, sontak Abra mendongak. Dia menatap tak percaya, Abra melihat putranya yang lemah dalam kebimbangan. Abra mulai menyadari alasan sikap Rafan yang berbeda.
"Hanna, apa ini ada hubungannya dengan dia?" ujar Abra menebak, Rafan mengangguk pelan. Abra menghela napas, dia mulai menyadari arah masalah Rafan. Abra menggenggam erat tangan Rafan, anggukan kepala Abra menjadi isyarat sebuah dukungan. Abra berharap Rafan mengatakan seluruh isi hatinya.
"Katakan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi? Papa hanya akan menjadi temanmu saat ini. Papa tidak akan ikut campur, seandainya papa memiliki pendapat. Itu hanya sebuah pandangan dan keputusannya tetap ada padamu!" ujar Abra, Rafan diam membisu.
Tak ada suara yang terdengar, hanya ombak laut yang terdengar. Angin laut terasa dingin menusuk tulang. Bulan terlihat malu menampakkan sinarnya. Alhasil langit gelap tanpa cahaya sang rembulan. Rafan diam merasakan alam yang begitu dingin menyapanya. Tak berapa lama, terdengar helaan napas Rafan.
"Papa, sebenarnya beberapa hari yang lalu om Hanif menemuiku!"
"Hanif, putra abah Iman!" ujar Abra tak percaya, Rafan mengangguk mengiyakan. Abra mengeryitkan dahinya tak mengerti.
"Dia sengaja datang menemuiku di rumah sakit. Dia meminta sesuatu yang berat dan tak sanggup aku berikan!" ujar Rafan dengan suara tertahan, Abra menepuk pelan pundak Rafan pelan.
FLASH BACK
"Apa kabar dokter Rafan?" sapa Hanif, Rafan memutar tubuhnya 180°. Rafan melihat Hanif sudah berdiri tepat di belakangnya. Belum sempat Rafan menjawab, terlihat Hanif berjalan menghampirinya. Hanif meminta waktu bicara dengan Rafan. Tanpa ada rasa curiga, Rafan mengiyakan dan mengajak Hanif pergi ke kanti rumah sakit. Tempat paling nyaman yang ada di rumah sakit
"Silahkan duduk!" ujar Rafan ragu, Hanif tersenyum sembari menarik kursi. Hanif duduk tepat di depan Rafan. Nampak sikap kikuk Rafan, ada kebingungan yang tercipta dari pertemuannya dengan Hanif. Sikap kikuk yang ditangkap dengan mudah oleh Hanif.
"Hanif, panggil aku Hanif. Aku memang adik dari ibu kandungmu. Namun sampai saat ini, aku belum sepenuhnya menerima hubungan ini. Jadi anggap aku sebagai teman sebayamu, kecuali kamu bersedia menyanggupi permintaanku. Aku akan pertimbangkan menerima hubungan persaudaraan dengan keluargamu, terutama ibu kandungmu!" ujar Hanif dingin, Rafan diam menatap nanar Hanif.
Tiba-tiba Rafan merasakan ngilu di hatinya. Perkataan Hanif membuat Rafan merasa sakit. Naluri alami yang terasa, ketika hati kita tersakiti. Rafan mencoba tetap tenang dan berpikir semua akan baik-baik saja. Dengan tatapan tenang dan wibawa seorang dokter, Rafan menghadapi sikap angkuh Hanif.
"Anda datang jauh-jauh, tentu bukan untuk basa-basi. Jika memang ada yang ingin anda katakan. Silahkan anda bicara, saya akan mendengarkannya. Mengenai saya menyanggupi atau tidak, itu tergantung permintaan anda. Takutnya saya tidak memiliki, sesuatu yang anda inginkan!"
"Kamu memilikinya!" sahut Hanif tegas dan dingin. Rafan menopang dagu dengan kedua tangannya. Nampak Rafan mengimbangi keangkuhan dan kesombongan Hanif Rka Adijaya. Rafan mulai menemukan ketenangan, dia mencoba tegas menghadapi sikap dingin Hanif.
"Hanna, aku menginginkan dia!" ujar Hanif angkuh dan sombong. Sontak Rafan menatap tak percaya, perkataan Hanif tidak masuk akal. Hanna bukan barang yang bisa diberikan atau ditukar. Jelas Rafan marah mendengar perkataan Hanif. Namun Rafan mencoba menahan amarahnya, Hanif akan semakin menjadi bila dihadapi dengan amarah.
__ADS_1
"Saya tidak mengerti!" sahut Rafan, Hanif tertawa mendengar sahutan Rafan. Jelas Rafan mengerti maksud perkataan Hanif. Namun Rafan belum memahami, apa inti dari perkataan Hanif?
"Aku ingin kamu melepaskan Hanna. Membatalkan perjodohan diantara kalian. Membiarkan Hanna menikah denganku. Jika kamu memenuhi permintaanku. Aku akan mengakui hubungan persaudaraan dengan keluargamu. Jika tidak, aku akan membuat ibumu menderita. Sebab dia alasan aku membenci ayah kandungku!" tutur Hanif arogant, Rafan menggeleng lemah. Dia menolak permintaan Hanif saat itu juga.
"Anda telah salah paham, seharusnya anda meminta Hanna pada keluarganya. Aku bukan siapa-siapa? Hanna masih milik kedua orang tuanya. Lagipula, Hanna bukan barang yang pantas diminta atau diberikan begitu saja. Satu hal lagi, Hanna tidak ada hubunganya dengan perselisihan keluarga Adijaya. Sangat tidak masuk akal, jika Hanna menjadi korban dari permasalahan keluarga Adikaya!" tutur Rafan tegas, Hanif tertawa dengan lantangnya. Perkataan Rafan seolah omong kosong bagi Hanif.
"Terserah padamu, aku akan memberimu waktu sampai rencana pernikahanmu dengan Hanna gagal. Ingat Rafan, pikirkan baik-baik permintaanku. Kamu mungkin laki-laki yang dicintai Hanna, tapi aku laki-laki yang mencintai Hann dengan segenap hidupku!" ujar Hanif dingin, lalu pergi meninggalkan Rafan.
FLASH BACK OFF
"Apa yang harus Rafan lakukan? Disisi lain, ada kebahagian dan ketenangan mama. Disisi lain, ada kebahagian dan ketenangan Hanna. Haruskah aku memilih salah satu diantara mereka. Jika nyatanya, aku harus melukai yang satu demi kebahagaian yang lain!" ujar Rafan lirih, sesaat setelah menceritakan semuanya pada Abra. Rafan membungkuk, menempelkan keningnya di atas meja. Rafan menutup kedua matanya dengan berbantal kedua tangannya. Rafan bimbang akan dua piihan yang tak pernah bisa dipilih olehnya.
Abra mengusap lembut rambut hitam legam Rafan. Abra memahami dilema yang dirasakan Rafan. Dalam hati putranya ada dua wanita yang begitu penting. Embun seorang ibu yang memberinya kehidupan dan Hanna seorang wanita yang memberikan cahaya dalam hidupnya. Abra bingung dengan masalah Rafan. Hanya ada satu orang yang bisa memutuskan dan itu bukan Abra atau Rafan.
"Rafan, katakan pada mama. Minta dia menjawab kebimbanganmu. Papa yakin, mama akan memintamu memilih Hanna. Mama tidak akan membiarkan Hanif mengusik kebahagianmu. Pendapatmu akan sama dengan mama. Masalah keluarga Adijaya, tidak ada hubungannya dengan Hanna!" tutur Abra, sembari mengusap lembut kepala Rafan. Nampak Rafan menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin Embun mendengar masalah ini. Rafan tidak ingin melihat Embun bersedih.
"Dia tidak akan jujur padaku. Rafan takut aku terluka dengan masalah ini. Rafan mengenal diriku, sebab itu dia lebih memilih diam. Namun Rafan mulai meragukanku sebagai seorang ibu. Dia merasa mampu memberikan kebahagian padaku, dengan mengorbankan kebahagiannya. Rafan mulai lupa, jika tanganku yang selama ini menghapus air matanya. Kedua tanganku yang menggendongnya, ketika dia menangis. Rafan tak lagi percaya, jika akulah ibu yang selama ini memberikan ketenangan dalam hidupnya. Rafan mulai merasa hebat tanpaku!" tutur Embun dingin, Abra dan Rafan langsung mendongak dan menoleh ke arah Embun. Nampak Embun berdiri tepat di belakang mereka. Embun mendengar semua kejujuran Rafan.
"Mama, aku tidak bermaksud seperti itu!" ujar Rafan dengan suara penuh rasa bersalah. Rafan berdiri menghampiri Embun, kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya. Rafan meminta maaf akan kesalahpahaman yang sempat terpikir oleh Embun.
"Sayang, Rafan tidak bermaksud buruk!" ujar Abra menimpali, berharap Embun tidak salah paham.
"Mama, maafkan Rafan!" ujar Rafan dengan mata yang berkaca-kaca. Rafan semakin merasa bersalah, ketika dia melihat Embun yang tetap diam.
"Jika kamu masih percaya pada mama. Seharusnya kamu percaya, mama bisa menghadapi Hanif dan menyelesaikan masalah keluarga Adijaya. Jika kamu berpikir mama terluka, karena penolakan Hanif. Seharusnya kamu juga bisa berpikir, jika mama akan tiada melihat putranya hancur!" ujar Embun dingin dan penuh emosi.
"Maafkan Rafan, maaf!" ujar Rafan, Embun menggeleng lemah. Abra memeluk Embun, berharap Embun memaafkan Rafan.
"Mama, maafkan Rafan!" ujar Rafan terbata-bata.
"Sayang!" ujar Abra, Embun diam tak bergeming.
"Bukan mama yang seharusnya memaafkanmu, tapi wanita yang sedang berdiri di tepi laut itu. Dia wanita yang telah kamu berikan harapan dan duka dalam waktu bersamaan. Dia yang terus menangis menanti kepastian darimu. Wanita yang menangis dalam sujud dan doa hanya demi dirimu. Mama akan memaafkan kebodohanmu, setelah dia memaafkanmu!" ujar Embun lantang, Abra dan Rafan menoleh ke arah laut.
"Hanna!" ujar Rafan lirih, nampak Hanna dan Kanaya tengah berdiri menghadap laut.
__ADS_1