KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Haykal Anzari Ansa


__ADS_3

Selamat pagi!" sapa Haykal ramah, senyum Haykal membius mata para siswinya.


Guru tampan yang mengajar bidang matematika di salah satu SMU ternama. Sosok yang dalam sekejap mampu mendapatkan simpatik dari semua orang. Terutama para siswi yang terpesona dengan ketampanannya. Tak dipungkiri masa putih abu-abu, menjadi masa paling menantang dan membahagiakan. Masa remaja yang mulai mengenal arti cinta.


"Pagi pak!" Sahut mereka serempak, Haykal mengenalkan diri dengan singkat.


Semua mata tertuju padanya. Mengagumi ketampanan guru pengganti. Guru tampan yang terlihat masih sangat muda. Jelas usianya tidak selisih jauh dari para muridnya. Sebaliknya kedua mata indah Haykal mengunci satu sosok yang tak lain Kanaya Fauziah Abimata. Satu-satunya siswi yang tidak peduli pada keberadaan Haykal. Ketampanan Haykal seolah tidak berarti untuknya. Tak ada kekaguman Kanaya akan sosok guru barunya. Dia sangat acuh, bahkan terkesan tak peduli dengan kehadiran sang guru. Sampai-sampai Kanaya tak pernah bersikap sopan pada Haykal.


Kanaya tak menoleh pada Haykal meski sedetik. Tak ada rasa penasaran Kanaya akan sosok Haykal. Di saat semua temannya ingin mengenal, bahkan mendekati Haykal. Mungkin Kanaya orang yang tak ingin mengenal Haykal. Sekadar memanggil namanya saja, Kanaya tidak akan bersedia. Jelas Kanaya merasa Haykal tak pantas dikagumi. Meski Haykal adalah guru baru yang akan mengajar di kelasnya. Guru matematika, bidang yang sangat digemarinya.


"Baiklah, sebagai perkenalan. Saya akan menulis satu soal di papan. Siapa yang bisa mengerjakan? Silahkan maju menjawab soal di papan. Sebagai hadiah, jika jawabannya benar. Bapak akan mengizinkan dia keluar dari kelas saya!" ujar Haykal, seketika Kanaya mendongak. Haykal sudah merasa Kanaya akan tertarik, untuk mengerjakan soal. Sebab Haykal mendengar, Kanaya salah satu murid berprestasi. Matematika mata pelajaran favoritnya dan keluar di jam pelajaran Haykal. Seolah menjadi cita-cita Kanaya, sejak dia melihat guru tampan seperti Haykal.


Haykal mencoba mengenal para muridnya. Dia ingin melihat, sejauh mana materi yang diketahui muridnya. Terutama Kanaya murid spesialnya. Entah sejak kapan Haykal merasa tertarik untuk mengenal Kanaya? Siswi yang begitu tidak peduli padanya dan bahkan Kanaya terlihat membencinya. Sebab itu Haykal merasa tertarik dengan sifat Kanaya yang acuh padanya.


Haykal menulis sebuah soal yang belum pernah dikerjakan atau dibahas. Selesai menulis Haykal mempersilahkan siapapun yang ingin menjawab? Tak ada yang menyahuti perkataan Haykal, semua terlihat menunduk. Beberapa menit kemudian, Kanaya maju ke depan. Dengan santai dia mengerjakan tugas di papan. Tangannya begitu mahir dalam menulis. Terlihat rasa yakin di wajah Kanaya. Seakan dia menjawab dengan benar soal yang ditulis Haykal. Hanya lima menit, Kanaya mengerjakan soal di papan. Nampak keyakinan Kanaya akan jawabannya. Bahkan Haylal menggeleng tak percaya, ketika melihat sikap santai Kanaya.


Kanaya maju sembari menenteng tas ranselnya. Seakan Kanaya akan langsung keluar dari ruang kelasnya. Haykal menatap Kanaya heran, tak pernah dia bertemu dengan murid seperti Kanaya. Bukan pujian yang diterima Haykal, tapi tatapan penuh kebencian yang tak memiliki dasar. Pribadi santai Kanaya, membuat Haykal geleng-geleng kepala. Tak ada murid dengan kepintaran di atas rata-rata dan kaya, tapi selalu bersikap acuh akan penampilannya.


"Selesai!" ujar Kanaya antusias, Haykal berdiri menghampiri Kanaya. Dia berdiri tepat di samping Kanaya.


Sejenak Haykal terkesima, tulisan Kanaya sangat rapi. Meski penampilan Kanaya terkesan santai dan acuh. Hijab dan seragam panjangnya, menutup aurat Kanaya dengan sempurna. Wajah Kanaya putih tanpa make up. Wajah teduh yang mengusik mata Haykal. Menyiratkan rasa penasaran yang tak bisa dinalar oleh akal. Ketertarikan yang tak pernah dibayangkan oleh Haykal. Dia tertarik pada murid yang masih belia. Entah itu murni karena kepintaran Kanaya atau wajah teduh yang nampak. Kala menatap wajah Kanaya.


Kedua bola mata Haykal membulat sempurna. Tatkala Haykal melihat jawaban Kanaya yang benar dan rapi. Haykal merasa Kanaya bukan gadis biasa, dibalik sikap santai dan acuh. Tersimpan kepintaran yang tak biasa. Kepintaran yang mungkin diturunkan dari keluarganya. Segala kelebihan yang sengaja ditutupi. Menyadarkan Haykal, akan sebuah kesempurnaan sejati Kanaya. Seorang anak yang mewarisi darah keluarga Abimata dan Adijaya. Dua keluarga besar yang memiliki nama dan kekayaan yang tak bisa diremehkan begitu saja.


"Jawabanmu benar, ternyata yang dikatakan Silvi benar. Penampilanmu tak mencerminkan kepintaranmu. Sebaliknya kepintaranmu menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya!" ujar Haykal tak percaya. Kanaya menoleh tepat di tengah-tengah pintu ruang kelasnya. Kanaya menatap nanar guru baru yang membuat seluruh murid terpesona.


"Sebuah buku dikatakan baik bukan hanya karena sampulnya. Namun isi dari buku itu sendiri!" sahut Kanaya dingin, sembari keluar dari ruang kelasnya.


"Tunggu!"


"Ada apa?" sahut Kanaya dingin.


"Waktu istirahatmu hanya sepuluh menit. Setelah itu kamu kembali ke kelas. Bapak akan menguji kepintaranmu sekali lagi!" ujar Haykal, Kanaya berlalu tanpa menyahuti atau menoleh ke arah Haykal.


"Kenapa dia begitu membenciku?" batin Haykal heran.


Beberapa menit kemudian Haykal masuk kembali. Haykal sengaja keluar mengikuti langkah kaki Kanaya. Lagi dan lagi Haykal terkejut, bukan kantin tempat yang dituju Kanaya. Sebaliknya Kanaya berjalan perlahan menuju mushola yang ada di kawasan sekolah. Haykal merasa tak percaya, Kanaya murid yang membencinya. Tak lain murid yang menggenggam iman dalam dirinya. Kanaya mengajarkan pelajaran berharga pada Haykal. Seorang murid yang dipandang sebelah mata. Mampu membuat kedua matanya terbuka lebar.


Setelah menyapa para muridnya. Haykal membagikan kertas ujian yang sudah dia siapkan. Seperti biasa Haykal selalu memperbolehkan, siapa yang lebih dulu selesai keluar? Haykal mencoba memahami cara belajar muridnya. Terutama Kanaya yang selalu antusias dengan metode ini. Dia yang selalu pertama selesai mengerjakan. Sebab dia murid yang paling ingin keluar dari jam pelajarannya.


"Permisi pak, saya sudah selesai!" ujar Kanaya, sembari memberikan kertas pada Haykal.


Seketika Haykal mendongak terkejut, dia menerima kertas dari Kanaya. Sekilas Haykal meneliti, ternyata hasilnya diluar dugaan. Haykal menggelengkan kepala tak percaya. Kanaya mampu menyelesaikan tugas yang bahkan belum diterangkan padanya. Entah Kanaya yang terlalu pintar? Atau Haykal yang terlalu meremehkan Kanaya.


"Hanya 30 menit, kamu sudah menyelesaikan tugas dari saya. Kamu sengaja mengerjakan

__ADS_1


sembarangan, karena ingin segera keluar dari kelasku!" ujar Haykal dingin, Kanaya diam menatap tak peduli ke arah Haykal.


Kanaya pribadi yang acuh, sampai dia tak peduli akan pendapat orang lain tentangnya. Meski ada nama besar Abimata di belakang namanya. Kanaya tak pernah membanggakan diri atau sombong akan kekayaan yang dimilikinya. Kanaya mencoba menutupi semua kemewahan yang dia dimilikinya. Dengan penampilan sederhana dan kesehariannya yang terlihat biasa.


"Apapun yang bapak pikirkan? Berapapun nilai yang aku dapat? Aku sudah berusaha semampuku!" sahut Kanaya dingin, Haykal tersenyum mendengar perkataan Kanaya. Nampak jelas rasa percaya diri Kanaya. Rasa percaya diri akan kesungguhan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh Haykal.


"Ini hari pertamaku mengajar, tapi aku merasa kamu kesal melihatku. Apa aku pernah berbuat salah padamu? Di hari pertamaku, kamu selalu ingin keluar secepat mungkin!" ujar Haykal lirih, sembari meletakkan kertas ujian Kanaya.


Sesungguhnya Haykal hanya menggoda Kanaya. Haykal ingin melihat sikap Kanaya, akankah Kanaya marah atau tetap tenang dengan perkataan dingin Haykal.


"Saya bukan tidak suka melihat anda. Saya kesal melihat wajah mereka yang terpesona akan ketampanan anda. Daripada saya ikut terpesona pada anda, lebih baik saya keluar mengerjakan hal yang lebih positif!" Sahut Kanaya santai, Haykal mengangguk pelan. Terselip rasa kagum akan prinsip yang dipegang Kanaya.


"Itu artinya kamu bisa saja terpesona padaku. Seandainya setiap kelasku, kamu paling akhir keluarnya!" sahut Haykal percaya diri, Kanaya menggelengkan kepalanya lemah.


"Tidak akan pernah, selain ketampanan anda. Ada hal lain yang membuat aku malas bertemu bapak!" sahut Kanaya santai, lalu keluar dari ruang kelasnya. Meninggalkan Haykal yang terdiam, menatap punggung Kanaya yang pergi menjauh.


"Siapa dia? Kenapa aku begitu tertarik padanya? Aku seperti mengenalnya, tapi dimana aku mengenalnya? Mungkinkah aku tertarik padanya. Padahal jelas dia muridku!" batin Haykal, seutas senyum terlihat di wajah tampan Haykal.


Tepat pukul 14.00 WIB, bel sekolah berbunyi. Tanda jam pelajaran telah selesai. Nampak beberapa murid berdesakan keluar dari sekolah. Bahkan nampak beberapa murid membawa mobil pribadi. Maklum sekolah ini, termasuk salah satu sekolah elit yang ada di kota ini. Sebagian besar muridnya berasal dari kalangan menengah ke atas. Hal yang wajar, jika mereka menggunakan fasilitas pribadi seperti mobil atau sepeda motor pribadi.


"Rafan!" sapa Haykal ramah, seketika Rafan menoleh.


Rafan heran melihat Haykal sahabatnya ada di sekolah Kanaya. Berkali-kali Rafan mengedipkan kedua matanya tak percaya. Dia merasa tak percaya, ketika Haykal ada di depannya. Jelas Haykal takkan mungkin ada di negara ini. Sebab Haykal dan Rafan berteman, saat Rafan berada di negara orang.


"Apa kabar Rafan?" ujar Haykal, sembari mengulurkan tangan ke arah Rafan.


"Aku baik, kapan kamu tiba di negara ini? Kenapa tidak langsung menghubungiku?"


"Sebulan yang lalu aku datang, selama ini aku tinggal di rumah saudaraku!" ujar Haykal tegas, Rafan mengangguk mengerti.


"Lantas, kenapa kamu bisa ada di sekolah ini? Jangan katakan, kamu mengajar di sekolah ini. Kamu memang bermimpi menjadi guru, tapi kamu lebih pantas menjadi pembisnis!" ujar Rafan dengan tawa. Rafan dan Haykal bersahabat sejak di bangku SMU. Keduanya memilih kuliah di jurusan yang berbeda. Namun hubungan keduanya tak pernah merenggang, meski keduanya jarang bertemu.


"Aku menggantikan sepupuku, setidaknya sampai aku benar-benar terjun dalam bisnis. Lagipula, mengajar itu menyenangkan!" ujar Haykal, Rafan menatap curiga ke arah Haykal. Pribadi hangat Haykal dan pesonanya menjadi nilai plus sebagai seorang laki-laki. Haykal dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun yang diinginkannya.


"Aku curiga, sepertinya ada seseorang yang membuatmu merasa nyaman di sekolah ini. Ingat Haykal, mereka muridmu atau jangan-jangan kamu menyukai rekan kerjamu!" ujar Rafan menggoda Haykal, seketika wajah Haykal berubah. Raut wajahnya memerah, bak kepiting rebus. Haykal tersipu malu mendengar godaan Rafan. Seolah perkataan Rafan memang benar adanya.


"Hati-hati Haykal, jangan sampai kamu terjebak dengan cinta anak SMU!" ujar Rafan, saat melihat Haykal terdiam.


"Kamu berpikir terlalu jauh. Aku hanya sebentar mengajar di sini. Setelah sepupuku kembali, aku akan berhenti bekerja!"


"Itu rencanamu, tapi DIA memiliki rencana lain untuku. Aku hanya takut, rasa nyamanmu membuatmu terpikat dengan gadis SMU. Cinta yang mereka tawarkan memang indah, tapi cinta mereka hanya semu. Tidak ada ikatan pernikahan, sebab mereka hanya ingin bersenang-senang!" ujar Rafan tegas dan dingin, seketika Haykal mendongak. Dia merasa perkataan Rafan benar adanya. Sebuah kenyataan akan perbedaan diantara dirinya dengan para muridnya.


"Kanaya!" teriak Rafan lantang, suara Rafan membuyarkan lamunan Haykal. Dia menoleh searah tangan Rafan yang melambai. Raut wajah Haykal berubah pias, terlihat Kanaya Fauziah Abimata berjalan perlahan ke arah mereka.


"Dia!" batin Haykal tak percaya.

__ADS_1


Kanaya berjalan dengan langkah malasnya. Sikap malas yang selalu ditunjukkannya pada Rafan. Kanaya tak pernah setuju atau senang melihat Rafan menjemputnya. Kanaya lebih senang, jika berangkat atau pulang menggunakan angkutan umum. Satu lagi kesederhanaan Kanaya yang tak pernah ingin memamerkan fasilitas mewah miliknya. Rafan sudah bisa menebak, respon Kanaya ketika melihatnya datang. Sebab itu Rafan tidak marah atau kesal menanti sang adik yang sengaja berjalan lambat ke arahnya.


"Kanaya, dia?" ujar Haykal lirih, Rafan mengangguk pelan.


"Dia adikku!"


"Adikmu, pantas saja!" ujar Haykal lirih hampir tak terdengar.


"Pantas kenapa? Dia menyebalkan bukan?" ujar Rafan, Haykal mengangguk pelan.


"Sama sepertimu!" ujar Haykal, Rafan tersenyum simpul.


"Bukan aku yang menyebalkan, tapi kalian yang menyebalkan!" ujar Kanaya sinis, Rafan dan Haykal saling menoleh. Kanaya berdiri tepat di samping Rafan. Haykal menatap tak percaya, dia mengenal dua saudara yang memiliki sifat yang hampir sama.


Buuugghhh


"Kenapa kakak menjemputku? Aku bisa pulang dengan angkutan umum!" ujar Kanaya kesal, sesaat setelah memukul lengan Rafan dengan sangat keras. Rafan memberikan ponselnya pada Kanaya.


"Tanyakan pada mama, kenapa malah marah padaku?" ujar Rafan, sembari memberikan ponselnya pada Kanaya.


"Paling tidak kakak bisa menungguku di luar sekolah. Kenapa malah menunggu di tempat parkir? Aku malas melihat mereka menatap haus ke arah kakak. Ujung-ujungnya mereka mendekatiku, hanya untuk nomer ponselmu!" ujar Kanaya kesal, Rafan menoleh ke arah gadis-gadis belia yang sedang menatap ke arahnya dan Haykal. Seketika tubuh Kanaya bergidik geli, melihat tatapan lapar teman-temannya. Seakan tak ada lagi laki-laki tampan selain Rafan dan Haykal. Rafan mengusap kepala Kanaya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, aku pikir sudah telat menjemputmu. Jadi kakak langsung masuk ke dalam!" ujar Rafan lirih dan hangat.


"Terserah!" sahut Kanaya kesal, lalu masuk ke dalam mobil.


Braaakkk


"Kita pulang sekarang!" ujar Kanaya, sesaat setelah menutup pintu mobil. Rafan dan Haykal terkejut, jelas Kanaya kesal dan melampiaskannya pada pintu mobil.


"Rafan, kenapa dia melarangmu datang menjemputnya? Satu hal lagi, dia membenciku tanpa alasan. Padahal, hari ini pertama kali aku mengajar. Jelas tidak ada alasan dia membenciku!"


"Ketampanan dan namamu, dia membenci dua hal yang melekat dalam dirimu. Kamu juga melihat, betapa kesalnya dia melihatku datang kemari?"


"Kenapa dia membenci laki-laki tampan? Sangat tidak masuk akal!" ujar Haykal tak mengerti.


"Entahlah Haykal? Kelak kamu akan mengetahuinya sendiri. Aku harus pulang sekarang, sebelum Kanaya manja semakin kesal!"


"Tunggu Rafan!" ujar Haykal lantang, Rafan menoleh tepat di samping pintu mobilnya.


"Lalu, soal nama?" ujar Haykal penasaran, Rafan tersenyum simpul. Rafan menoleh ke arah Kanaya yang duduk tepat di samping kursi pengemudi.


"Namamu sama dengan nama kakek kami. Orang yang tak disukai Kanaya. Jadi, semoga berhasil menghadapi Kanaya manja. Sekali dia kesal, akan sulit menenangkan hatinya!"


"Haykal, maksud Rafan nama depanku. Haruskah aku berganti nama, agar dia tidak membenciku. Setidaknya dia peduli akan keberadaanku sebagai guru pembimbingnya" batin Haykal bingung dan tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2