
"Jika kamu masih percaya pada mama. Seharusnya kamu percaya, mama bisa menghadapi Hanif dan menyelesaikan masalah keluarga Adijaya. Jika kamu berpikir mama terluka, karena penolakan Hanif. Seharusnya kamu juga bisa berpikir, jika mama akan tiada melihat putranya hancur!" ujar Embun dingin dan penuh emosi.
"Maafkan Rafan, maaf!" ujar Rafan, Embun menggeleng lemah. Abra memeluk Embun, berharap Embun memaafkan Rafan.
"Mama, maafkan Rafan!" ujar Rafan terbata-bata.
"Sayang!" ujar Abra, Embun diam tak bergeming.
"Bukan mama yang seharusnya memaafkanmu, tapi wanita yang sedang berdiri di tepi laut itu. Dia wanita yang telah kamu berikan harapan dan duka dalam waktu bersamaan. Dia yang terus menangis menanti kepastian darimu. Wanita yang menangis dalam sujud dan doa hanya demi dirimu. Mama akan memaafkan kebodohanmu, setelah dia memaafkanmu!" ujar Embun lantang, Abra dan Rafan menoleh ke arah laut.
"Hanna!" ujar Rafan lirih, nampak Hanna dan Kanaya tengah berdiri menghadap laut.
"Iya Hanna, wanita malang yang menanti janjimu manis dalam ketidakpastiaannya!" ujar Hanna dingin, Abra merangkul lengan Embun. Abra mencoba menenangkan Embun, sebab Rafan akan semakin terpuruk. Kala menatap amarah Embun untuknya. Abra terus bersikap manja pada Embun, demi sebuah harapan yang sangat mulia.
Berharap Embun memaafkan Rafan, melupakan kesalahpahaman yang terjadi. Namun Embun tak bergeming, kebimbangan Rafan sebuah bukti akan kebodohannya. Rasa bimbang yang tak seharusnya ada di dalam hatinya. Sebab kebimbangan Rafan akan menjadi alasan kerenggangan dalam hubungan Rafan dan Hanna.
"Mama, Rafan izin menemui Hanna!" ujar Rafan tegas, Abra mengangguk mengiyakan. Namun tak ada sahutan dari bibir Embun. Rafan menunduk terdiam, menanti izin dari wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Wanita yang tanpa sengaja terluka oleh kebimbangannya.
"Sayang!" ujar Abra mesra.
"Pergilah Rafan, ingat satu hal. Jika kamu tidak bisa membahagiakan Hanna. Jangan pernah menyakiti hatinya dengan harapan palsu yang kamu janjikan!" ujar Embun dingin, Rafan diam membisu. Perkataan Embun menusuk tepat jauh ke dalam hatinya. Embun selalu tegas, dia tidak akan membenarkan sikap Rafan atau Kanaya. Jika memang mereka berdua salah. Embun akan menghukum keduanya sesuai dengan kesalahan yang mereka lalukan.
__ADS_1
"Iya ma!" sahut Rafan singkat, ada rasa bersalah yang terdengar dari bibir Rafan.
"Sayang, kita makan sekarang atau menunggu mereka berkumpul!" ujar Abra mengalihkan perhatian Embun. Di saat yang bersamaan, Abra meminta Rafan segera pergi menemui Hanna. Abra menyakinkan Rafan, jika dia akan menenangkan hati Embun.
"Kenapa aku merasa kakak mulai memanjakan Rafan?"
"Sayang, sekali saja biarkan Rafan bersandar padaku. Setelah malam ini, aku akan tegas padanya. Rafan membutuhkan teman, bukan ayah yang akan menyalahkan atau membela sikapnya!" ujar Abra, Embun menatap lekat Abra.
"Baiklah, aku akan mengalah. Bukan demi rayuanmu, tapi hubungan diantara kalian yang mulai hangat!" ujar Embun final, lalu duduk di kursi yang ada di depannya.
"Terima kasih istri cantikku!" ujar Abra, sembari menggenggam erat tangan Embun. Sekilas Abra dan Embun melihat Rafan berlari di atas pasir pantai. Rafan berlari sekuat tenaga, melawan dingin angin laut. Semua demi pertemuannya dengan Hanna sang pemilik hati.
"Seharusnya Rafan belajar darimu cara merayu wanita!" ujar Embun, menyindir Abra yang tengah sibuk merayunya. Abra tersenyum ke arah Embun, menganggap biasa sikap Embun yang tengah menggodanya.
Sejenak Rafan merasa bersalah pada Hanna. Tubuh Hanna yang diam menatap laut. Seakan mengisyaratkan kepedihan yang mendalam. Dekapan tangan Hanna pada tubuhnya. Menampakkan jelas sakit dan sepi dalam hatinya. Rafan seolah melihat Hanna tengah menghapus rasa sakit dengan berdiri melawan dingin angin laut yang berhembus. Kedua kaki Hanna tak lagi merasakan dingin air laut. Hanna bak tubuh tanpa nyawa, Rafan merasa bersalah telah menyakiti Hanna dengan kebimbangannya.
Tiba-tiba Kanaya menoleh, dia melihat Rafan yang tengah termenung menatap Hanna. Dengan kepolosannya, Kanaya berjalan menjauh. Kanaya seolah mengerti yang sedang terjadi. Kanaya memilih menjauh, dia ingin memberikan ruang dan waktu untuk Hanna dan Rafan. Mungkin Kanaya masih sangat kecil, tapi dia cukup dewasa untuk mengerti. Jika Hanna satu-satunya wanita yang mampu mengetuk hati terdalam Rafan. Hati yang penuh dengan dingin, kini mulai menghangat dengan cinta yang ditawarkan Hanna. Wanita sederhana yang mencintai kakaknya Rafan dengan penuh ketulusan.
Lama Hanna merasakan perpaduan alam yang sangat nyata. Langit yang terlihat indah dengan hadirnya bintang-bintang kecil. Laut yang terlihat sangat menakutkan, ketika cahaya tak lagi menyinarinya. Angin yang terasa begitu dingin menebus tulang. Sedingin hati seseorang yang tak memiliki cinta. Hanna seolah lupa akan sekitarnya, dingin alam dan hatinya seolah selaras. Menyatu dalam tubuhnya yang terluka dan tersisih.
Hanna mulai tersadar, saat sebuah suara memanggil namanya. Sebuah suara yang sangat dikenalinya. Suara yang begitu dirindukannya, suara yang meninggalkan luka tak bernanah di hatinya. Hanna menoleh dengan tatapan tak percaya. Tulangnya terasa lemas, ketika dia melihat Rafan sudah berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Angin laut sangat dingin!" ujar Rafan, sembari memakaikan jaket yang digunakannya.
Tubuh Hanna membeku, ketika tanpa sengaja Rafan menyentuh tubuhnya. Rafan memakaikan jaket pada tubuh dingin Hanna. Tulang Hanna terasa begitu lemas tanpa tenaga. Hampir saja Hanna terjatuh, jika Rafan tidak segera memegang tubuhnya. Rafan memegang Hanna dengan erat, tatapan Rafan mengunci wajah Hanna. Tatapan yang seakan mengatakan rasa cinta yang mendalam. Rasa bersalah yang semakin menggerogoti hati Rafan. Saat dia melihat wajah Hanna yang sedikit pucat.
"Kak Rafan, apa ini benar dirimu? Aku tidak bermimpi!" ujar Hanna lirih, Rafan mengangguk pelan.
Hanna menyentuh pipi Rafan dengan kedua tangannya. Hanna merasakan hangat kulit Rafan. Seketika tangan Hanna bergetar, rasa rindunya berakhir. Wajah yang dirindukan, kini ada di hadapannya. Tangan yang begitu hangat, kini menopang tubuh lemahnya. Hanna tak pernah mengetahui, jika Embun membawanya bertemu Rafan.
"Maaf!" ujar Rafan lirih, Hanna menggeleng lemah.
Setitik bening air mata Hanna jatuh, kerinduan yang menyiksa harinya telah berakhir. Kedua mata sendunya, telah menemukan kembali wajah yang dicarinya. Hanna menangkup wajah Rafan, tangannya bergetar tak percaya. Di bawah langit malam, disaksikan oleh laut. Hanna menemukan kembali sosok yang begitu dirindukannya.
"Jangan katakan apapun, biarkan aku menatap wajahmu!" ujar Hanna lirih dengan suara bergetar, tangis Hanna pecah. Dia melihat Rafan yang begitu dirindukannya. Rafan menyeka air mata Hanna dengan lembut. Hanna memejamkan matanya, ketika hangat tangan Rafan menyentuh pipinya.
"Maafkan aku!" ujar Rafan lirih, sembari menempelkan keningnya tepat di kening Hanna. Keduanya larut dalam akhir sebuah rindu.
Bruuuukkkk
"Terima kasih!" ujar Hanna lirih, sesaat sebelum dia pingsan.
"Hanna!" teriak Rafan, sembari menopang tubuh Hanna yang terjatuh.
__ADS_1
"Kak Hanna!" teriak Kanaya, lalu berlari menghampiri Hanna.
"Maaf!" ujar Rafan dengan penuh rasa bersalah. Rafan mendekap erat tubuh lemah Hanna.