
"Acara yang membosankan!"
Braaakkk
"Kamu!" ujar Kanaya tak percaya, Galuh mengangguk perlahan. Suara kursi yang ditarik Galuh, seketika membuyarkan diam Kanaya. Galuh datang tanpa suara, bak angin malam yang berhembus di sela malam yang dingin nan sunyi. Angin malam terasa menusuk, tanpa ada suara yang mengiring langkahnya.
Kanaya mengedipkan berkali-kali kedua matanya. Kanaya heran dan tak percaya, melihat Galuh berada di acara yang sama dengannya. Galuh duduk tepat di depan Kanaya. Tak ada rasa malu, sebaliknya Galuh terlihat begitu percaya dirinya duduk satu meja dengan Kanaya. Galuh merasa yakin, Kanaya tidak akan marah atau melarangnya duduk satu meja.
"Iya, ini aku Galuh!" sahut Galuh hangat dan riang, Kanaya menggeleng tak percaya. Setelah kejadian di kampus, Kanaya sangat tidak ingin bertemu Galuh. Kanaya ingin mempertegas jarak diantara mereka berdua. Kanaya tidak ingin ada rasa yang tak pantas.
"Kenapa kamu ada di sini? Jika kamu merasa acara ini membosankan. Kenapa tidak pergi? Seperti kamu pergi di saat jam kuliah!"
"Jika aku pergi, aku akan memberikan waktu orang lain menemanimu. Lagipula, tuan Kusuma tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" ujar Galuh santai, Kanaya diam membisu. Kanaya menoleh ke kanan dan kiri, mencari meja kosong. Kanaya ingin duduk menjauh dari Galuh. Mahasiswa yang mulai melanggar batasan diantara guru dan murid.
"Tidak perlu mencari, semua meja sudah penuh. Sebab itu aku duduk di meja ini. Jika ibu berpikir aku duduk di sini demi ibu. Aku pastikan pemikiran ibu benar!"
"Kamu!" ujar Kanaya kesal, Galuh tersenyum simpul. Dia merasa kesempatannya besar, tapi kesempatan yang akan dipatahkan Kanaya sebelum berkembang.
"Aku memang tampan, tidak perlu berteriak memanggilku!" ujar Galuh percaya diri. Kanaya terdiam, kecerian Galuh mengingat Kanaya akan dirinya dulu.
Galuh seperti dirinya yang tak pernah peduli akan pendapat orang lain. Kanaya yang selalu ceria, tak pernah mengeluh hanya karena satu rasa sakit. Keberadaan Galuh, sejenak menyadarkan Kanaya akan cara bahagia. Tawa yang pernah mengisi hari-harinya.
"Percaya diri!"
"Jelas, sebab itu aku berani duduk di bersama ibu. Lihatlah, banyak mata yang mengawasi kita. Ada yang iri, melihat ibu duduk bersamaku. Ada yang heran, kenapa aku memilih duduk dengan ibu? Bahkan ada yang marah sekaligus kecewa, melihat kedekatan kita. Mereka tak lebih dari orang-orang yang haus akan kekuasaan dan harta!" tutur Galuh santai, Kanaya mengeryitkan dahinya. Sekilas dia melihat sosok dewasa dalam pribadi Galuh yang acuh.
"Tunggu, dari cara bicaramu. Aku merasa seolah diriku yang beruntung bisa mengenalmu, bukan sebaliknya!" ujar Kanaya, Galuh mengangguk. Kanaya semakin tak percaya, dia mengenal laki-laki yang benar-benar percaya diri.
"Itu pendapat mereka, bukan diriku. Kalau menurutku, aku yang beruntung bisa dekat dengan ibu. Apalagi, bisa melihat tatapan penuh amarah tuan Kusuma!" ujar Galuh tegas, tatapan Galuh lurus ke arah jam 12.00. Tempat dimana sang ayah berdiri bersama dengan beberapa rekan kerjanya.
"Tuan Kusuma!" ulang Kanaya, lalu menoleh ke arah yang sama dengan Galuh. Kanaya bertemu dengan tatapan tajam tuan Kusuma. Laki-laki yang tak pernah dikenalnya, tapi kini menatapnya dengan penuh kebencian. Kanaya langsung menunduk, tatkala dia melihat sorot mata Kusuma yang tajam.
"Iya, tuan Kusuma bintang pesta malam ini. Ayahku yang paling menyebalkan dan pemaksa!" ujar Galuh, Kanaya hanya diam. Perkataan Galuh membuatnya tak mengerti. Kenapa nada bicara Galuh begitu dingin? Seakan Galuh membenci ayahnya. Namun baik atau buruknya hubungan Galuh dengan orang tuanya. Kanaya tidak ingin terlibat atau ikut campur.
"Ibu!"
"Hmmmm!" sahut Kanaya, tanpa mengangkat wajahnya. Kanaya mencoba mengalihkan perhatian. Dia tidak ingin terus larut dalam perbincangan dengan Galuh. Namun bukan Galuh, jika dia tidak bisa membuat Kanaya terus bicara dengannya.
"Kenapa ibu bisa datang di acara membosankan ini? Apa ibu masuk dalam daftar wanita yang akan dijodohkan dengan saya?" ujar Galuh dengan nada penuh harap. Kanaya langsung mendongak, dia melihat tawa riang di wajah Galuh. Kanaya bergidik ngeri, dia merasa Galuh sangat berharap dengannya.
"Tidak!" teriak Kanaya lantang.
"Kenapa tidak?"
__ADS_1
"Aku datang hanya untuk menemani papa, tidak lebih!"
"Mereka juga datang dengan orang tuanya!" ujar Galuh, Kanaya menoleh ke arah yang ditunjuk Galuh. Kanaya melihat beberapa wanita berkumpul. Penampilan mereka anggun, jelas menunjukkan mereka bukan wanita sembarangan.
"Apa hubungannya mereka denganku?"
"Mereka datang untuk bertemu denganku. Aku pikir, ibu datang dengan tujuan yang sama!"
"Tidak akan!" sahut Kanaya dingin dan ketus, Galuh langsung tertawa. Sikap kesal Kanaya terlihat menggemaskan bagi Galuh. Seorang tuan muda yang kini bersimpuh mengharap sebuah cinta. Melupakan cinta yang ditawarkan padanya. Demi satu cinta sang dosen pujaan hati.
"Apa yang kurang dalam diriku? Katakan, aku akan memperbaikinya!"
"Sudahlah, kita hentikan pembicaraan tidak penting ini. Pergilah, tatapan tuan Kusuma membuatku takut. Sepuluh menit lagi, bukan hanya tatapan yang aku terima. Mungkin pengawaknya yang akan datang kepadaku!"
"Tenanglah, selama ada aku. Jangankan menyentuhmu, menatap langsung kedua mata indahmu. Tuan Kusuma tidak akan bisa. Dia memang ayahku, tapi aku putranya yang takkan mudah dihadapinya!" ujar Galuh lantang, Kanaya menunduk. Dia melihat kebencian seorang putra yang begitu besar. Entah kenapa Galuh begitu berani menantang ayahnya?
"Lebih baik aku yang pergi!" ujar Kanaya, Galuh menahan tangan Kanaya. Sontak Kanaya menoleh, tatapannya tajam penuh amarah.
"Duduklah, aku yang akan pergi. Namun percayalah, aku pergi bukan kalah. Aku pergi, karena ingin memperjuangkanmu!"
"Maksudmu!"
"Aku akan mengatakan pada mereka semua. Hatiku telah memilihmu, cintaku terpaut padamu, hidupku berputar disekitarmu dan senyummu tujuan hidupku!"
"Acara ini hanya sandiwara yang harus segera berakhir. Aku akan mengatakan pada mereka. Terutama pada tuan Kusuma. Agar tak ada lagi acara membosankan seperti ini!" ujar Galuh, Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Jangan bodoh, aku tidak ingin ada urusan dengan keluargamu!" ujar Kanaya tegas, Galuh berjalan menghampiri. Kedua tangannya menopang di atas meja. Tatapannya tajam ke dalam dua bola mata Kanaya.
"Maafkan aku ibu, tapi kelak anda akan berurusan dengan keluarga Kusuma!"
"Kenapa?"
"Karena penerus keluarga mereka telah terikat padamu!" ujar Galuh, lalu pergi meninggalkan Kanaya yang terpaku tak percaya.
"Kanaya, kita pulang!" sapa Abra, Kanaya mendongak.
"Papa!"
"Lebih baik kamu menjauh dari dia!"
"Maksud papa?"
"Penerus keluarga Kusuma!" ujar Abra dingin, Kanaya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Dia hanya muridku!" sahut Kanaya, lalu berdiri tepat di samping Abra. Keduanya berjalan menghampiri tuan Kusuma.
Galuh tersenyum melihat Kanaya datang menghanpirinya. Sebaliknya, Kanaya menunduk tak sedikitpun menatap Galuh. Abra menyapa tuan Kusuma, sedangkan Kanaya mengangguk menyapa tuan Kusuma. Sejak awal Abra sudah melihat kedekatan Galuh dan Kanaya. Sebab itu Abra memutuskan pulang lebih awal. Abra tidak ingin ada hubungan lebih antara Galuh dan Kanaya.
"Abra!" panggil seseorang, Kanaya menoleh. Nampak wanita anggun berjalan menghampiri Abra dan Kanaya. Abra diam menatap tajam, tatapan yang penuh tanda tanya.
"Apa kabar Abra? Sudah lama kita tidak bertemu. Dimana Embun? Kenapa kamu pulang tanpa menyapaku?" cecar sang wanita, Abra menghela napas.
"Clara!" sahut Abra, Clara mengangguk pelan.
"Dia siapa?" bisik Kanaya.
"Sepupu mamamu!" sahut Abra singkat.
"Maaf, kami harus pulang!" ujar Abra pamit.
"Acara belum dimulai, Galuh putraku belum memilih calon pengantinnya. Bukankah kamu datang dengan tujuan yang sama. Mengenalkan putrimu pada putraku dan berharap putraku memilihnya!" ujar Clara dingin, Abra menggeleng lemah. Abra memutar tubuhnya, dia melangkah pergi.
"Kenapa kamu diam Abra? Dimana keberanian tuan muda Abimata? Keberanian yang pernah membuatku terhina dan terbuang!" ujar Clara sinis, Abra terus berjalan. Kanaya mengikuti langkah kaki Abra. Kanaya tetap diam, tak ingin mencari tahu alasan sikap dingin Clara. Wanita berkelas yang menggunakan dress maroon yang indah. Tubuhnya begitu indah, langkah kakinya sangat anggun. Kecantikan yang membuat mata kaum adam terpana.
"Clara cukup!" ujar tuan Adi Putra Kusuma.
"Galuh, apa kamu menyukai dia? Putri keluarga Abimata. Dia tidak hanya cantik, tapi juga pintar dalam menggoda laki-laki!" ujar Clara, Abra langsung menoleh. Kanaya menggenggam erat tangan Abra. Berharap tidak ada amarah, setelah mendengar perkataan Clara.
"Clara, jangan pernah melibatkan putriku. Masalah hanya antara aku dan dirimu!" ujar Abra, Clara tersenyum sinis mendengar perkataan Abra.
"Dia putrimu, darahmu yang mengalir dalam nadinya. Jadi dia akan selalu terhubung denganmu!" ujar Clara sinis.
"Kanaya kita pergi!" ujar Abra, lalu menarik tangan Kanaya. Clara tersenyum sinis, melihat Abra pergi demi menahan rasa malu.
"Nyonya Clara, jangan pernah menghina Kanaya. Satu menit yang lalu aku diam mendengarkan. Namun satu menit berikutnya, belum tentu aku bisa diam. Kanaya alasan hidupku, berani anda menyakitinya. Aku akan membalasnya berserta bunganya!" ujar Galuh dingin dan sinis, Clara menatap tajam Galuh. Adi hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah bisa menduga, akhir dari perdebatan Clara dan Galuh.
"Sayang, Galuh mengancamku!" ujar Clara manja, Adi hanya diam. Galuh tersenyum sinis, lalu berdiri tepat di depan Clara dan Adi ayahnya.
"Jangan pernah menghinanya atau menyentuhnya. Jika tidak ingin melihat amarahku!"
"Tapi dia memang perayu, buktinya dia sudah berpisah di usianya yang masih muda!"
"Nyonya Clara, diamlah!" teriak Galuh lantang, dengan tangan menunjuk ke arah wajah Clara.
"Itu kenyataannya!"
"Papa, tutup mulutnya atau papa harus memilih diantara aku dan dia!" ujar Galuh tegas dan dingin.
__ADS_1
"Clara diamlah, jangan memancing emosi Galuh. Tidak mudah meredakan amarahnya. Jangan sampai dia menghancurkan malam ini!" ujar Adi lirih, Clara langsung menunduk.