
"Kamu manja Arya, sakit lambung sampai menginap di rumah sakit!" ujar Iman yang datang ke rumah sakit.
Iman yang mendengar kabar dari Abra, langsung datang ke rumah sakit. Iman sempat terkejut mendengar penyakit yang di derita Arya dari dokter Afifah. Sebab itu Iman datang secepat mungkin. Dia ingin memberikan dukungan pada Arya. Iman bukan hanya sahabat, dia sudah selayaknya adik bagi Iman.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu kamu menjengukku!"
"Aku tidak menjengukmu, jangan besar kepala. Aku datang menyapa calon istrku!" ujar Iman santai, Arya tersenyum mendengar gurauan Iman.
Tak berapa lama, Embun datang bersama Nur. Keduanya keluar menuju mushola masjid. Setelah itu, mereka pergi ke kantin rumah sakit. Embun dan Nur membeli makanan kecil, sebab Abra sudah keluar membeli makan malam untuk Embun dan Nur.
"Abah!" sapa Embun dan Nur hampir bersamaan. Iman mengangguk seraya tersenyum, Embun langsung duduk tepat di sebelah Iman. Dia mencium punggung tangan Iman, Nur melakukan hal yang sama. Dua saudara tak sedarah yang sangat menyayangi dan menghormati Iman.
"Kalian darimana saja? Lihat Arya sampai menangis, merasa kesepian dalam sakitnya!" ujar Iman, seraya tertawa lepas.
Buuugghh
"Diam kamu, jangan datang menjengukku. Jika hanya ingin mengejekku!" ujar Arya, tepat setelah Arya melempar bantal ke arah Iman.
"Papa, sakit!" teriak Embun, saat bantal menghantam lengannya.
Arya terkejut dan hendak berdiri menghampiri Embun. Hampir saja selang infus Arya terlepas, jika Afifah tidak berteriak melarang Arya bergerak. Arya langsung terdiam, ketika mendengar teriakkan Afifah. Via datang bersama Afifah, tapi bukan sebagai dokter. Melainkan tamu yang ingin menjenguk kerabat. Via datang membawa buah, sedangkan Afifah datang membawa makanan khusus untuk Embun.
"Sayang, calon mama datang membawa makanan kesukaanmu!" ujar Iman, Afifah tersipu malu. Embun menoleh ke arah rantang yang dibawa Afifah. Harum masakan Afifah, membuat Embun merasa lapar.
"Afifah, makanan untukku mana?"
"Maaf, aku hanya membuat makanan kesukaan Embun dan Nur. Aku pikir kamu tidak datang menjenguk Arya!" sahut Afifah santai tanpa merasa bersalah.
Iman langsung menarik tangan Afifah, sontak saja Afifah jatuh tepat di sebelah Iman. Afifah langsung mendorong tubuh Iman menjauh. Embun langsung berpindah tempat, dia tidak ingin ikut dalam keromantisan Iman dan Afifah. Arya hanya bisa menggeleng tak percaya, melihat Iman yang masih sanggup bersikap manis di rumah sakit. Sedangkan Via menunduk malu, dia tidak ingin melihat sesuatu yang belum pantas dilihatnya.
"Abah, ada Nur yang masih jomblo!" teriak Nur, Iman menoleh dan langsung melepaskan tangan Afifah.
"Beruntung kita hanya menikah secara agama. Jika kita sudah sah, aku akan mengikatmu tanganmu. Agar kamu selalu ada di sampingku!" bisik Iman, Afifah meronta dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Iman.
__ADS_1
"Apa yang kamu lalukan? Ini di rumah sakit, jika ada perawat yang melihatnya bagaimana?" ujar Afifah kesal, Iman menatap Afifah lekat.
"Salah kamu sendiri, melupakan aku begitu saja. Kamu tidak peduli laparku, hanya Embun yang kamu pikirkan. Padahal aku juga merindukanmu!" ujar Iman merayu, Embun dan Nur bergidik geli. Mereka tidak percaya, Iman akan merayu Afifah di depan semua orang. Arya tersenyum sinis, seolah mengejek rayuan Iman yang kuno.
"Abah, sudah cukup. Lebih baik kita makan, cucumu sudah kelaparan!" ujar Embun lantang, Afifah mengangguk setuju.
"Dokter Via, silahkan duduk. Kita makan malam bersama!" ajak Embun, Via menangkupkan kedua tangannya. Menolak dengan halus ajakkan Embun.
Setelah perdebatan tanpa makna, akhirnya mereka semua makan malam bersama. Arya hanya bisa melihat. Kondisinya tidak memungkinkan, bila dia ikut makan makanan berminyak. Apalagi ada Via yang siap menentang. Seandainya Arya bersikap keras kepala dan memaksa makan malam bersama mereka. Arya hanya bisa diam menatap kebersamaan mereka semua.
"Papa lapar?" ujar Embun, Arya hanya diam menatap Embun. Lalu Embun datang dengan sepiring nasi dengan satu iris tempe goreng dan tahu goreng.
"Papa, meski ini hanya tempe dan tahu, tapi kalau aku yang menyuapinya pasti terasa seperti daging!" ujar Embun menghibur Arya, lalu menyuapi Arya dengan tangannya sendiri. Hanya mengangguk, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Arya langsung menerima suapan dari Embun tanpa banyak bicara.
"Iya terasa daging, tapi daging kedelai!" teriak Iman, sembari tertawa.
"Abah!" ujar Embun kesal, Iman terkekeh melihat raut wajah Embun.
"Maaf sayang, abah bercanda supaya Arya tersenyum!"
Sebenarnya Embun menunggu kedatangan Abra. Dia tidak ingin makan malam, sebelum Abra makan. Sebagai istri dia hanya peduli pada lapar dan kenyang suaminya. Embun sanggup menahan lapar, tapi tidak melihat Abra kelaparan. Sebab itu dalam amarahnya, Embun masih peduli akan kondisi Abra. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Abra.
"Sayang, papa sudah kenyang!" tolak Arya disuapan yang kesekian kali. Embun mengambilkan air putih dan memberikannya pada Arya.
"Sekarang papa istirahat, aku dan kak Abra akan menjaga papa!"
"Kamu pulanglah Embun, abah yang akan menjaga Arya. Kalau kamu yang menjaganya. Dia akan semakin manja dan merasa nyaman di rumah sakit!" ujar Iman, Arya langsung duduk. Dia mengambil bantal yang ada di belakang punggungnya.
Buuugghh
"Dasar kompor, hanya bisa memanasi!" ujar Arya, sesaat setelah tangannya melempar bantal ke arah Iman.
"Maaf, aku bercanda!" ujar Iman lirih, Arya menatap Iman dengan senyum simpul. Sebuah senyum isyarat takkan pernah ada amarah yang nyata diantara mereka.
__ADS_1
"Papa istirahatlah, jangan dengarkan kata abah. Dia tidak akan berhenti, sampai papa menyerah!" ujar Embun lirih, Arya mengangguk pelan.
Kreeeekkk
"Sayang, makan malammu!" ujar Abra, Iman menggelengkan kepalanya lemah.
"Kamu membelinya dimana? Hampir dua jam kamu pergi, kalau menunggu bisa kelaparan putriku!" ujar Iman dengan memasang wajah marah.
"Maaf abah, tempat biasa yang dikatakan Embun tutup. Terpaksa aku membeli makanan di tempat yang lain. Kebetulan tempatnya ada di dekat jalan menuju desa!"
"Kamu pergi sejauh itu!"
"Iya sayang, aku takut kamu tidak suka makanan di sekitar sini!" ujar Abra lirih, Embun menghampiri Abra. Lalu mengambil makanan yang baru saja di beli Abra.
"Lain kali, jangan pergi sejauh itu. Kakak pasti lelah, apalagi hanya demi makanan untukku. Aku bisa memakan apapun yang kamu bawa. Jadi jangan pernah khawatirkan rasa kenyangku. Jaga dirimu, itu sudah cukup membuatku tenang. Kamu bukan hanya suamiku, tapi ayah dari putraku. Dia juga tidak ingin menyusahkan ayahnya!" ujar Embun lirih, lalu menuntun Abra menuju sofa.
"Sekarang makanlah, sudah sangat malam. Kakak pasti belum makan!" ujar Embun, Abra terdiam membisu. Abra tak menyangka Embun bersikap begitu manis padanya. Embun melupakan amarah yang ada dalam hatinya. Bahkan Embun melupakan sekelilingnya, dia merasa hanya ada Abra di sampingnya. Tak ada orang lain lagi di ruangan itu.
"Kamu tidak makan!" ujar Abra, saat Embun menyuapi Abra.
"Aku akan makan setelah melihat kenyangmu. Papa sudah makan dari tanganku. Sekarang suamiku yang akan makan dari tanganku. Kelak aku berharap putraku yang akan makan dari tanganku!" ujar Embun lirih, Abra diam menunduk. Arya dan Iman langsung menoleh ke arah Embun.
"Embun, apa yang kamu katakan?" ujar Iman kaget, Embun menoleh dengan sebuah senyum.
"Tidak ada, aku hanya berandai-andai!" sahut Embun santai dan tenang. Abra dan Nur terdiam tanpa kata.
"Abah harap, ini pertama dan terakhir kalinya kamu bicara seperti itu!" ujar Iman tegas, Embun mengangguk pelan. Arya menatap ragu ke arah Embun, seolah dia menyadari ada yang salah dalam perkataan Embun.
"Sayang makanlah, aku sudah kenyang!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Abra tak lagi sanggup menelan makanan.
"Sayang, kamu akan baik-baik saja. Papa berjanji, kebahagian dan kehangatan diantara kita akan kembali. Mama akan berada diantara kita, papa janji sayang!" batin Abra sembari mengelus lembut perut buncit Embun.
CUP
__ADS_1
"Kalian kesayangan papa!" ujar Abra, sesaat setelah mencium lembut perut Embun.