KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rindu yang terbayar


__ADS_3

Sang matahari mulai kembali ke peraduannya. Meninggalkan siang hari yang panas. Digantikan oleh senja yang menyeruak dari ufuk timur. Langit biru tak lagi terlihat, tergantikan dengan langit yang berwarna jingga. Terangnya meneduhkan mata yang menatapnya. Guratan tinta emas yang takkan pernah bisa ditandingi.


Lukisan alam yang teramat indah takkan mampu diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan rasa syukur yang tak terhingga. Ketika kedua mata masih mampu terus menatap keindahannya. Rasa tenang menelisik hati, ketika sang senja menyeruak dalam pikiran yang dipenuhi kegelisan. Obat dari rasa sakit yang disediakan alam. Tak terbeli dan tidak diperjual-belikan.


Embun menatap lurus ke arah barat. Tempat matahari kembali ke peraduannya. Sinarnya menerpa wajah cantiknya. Terasa hangat menyusup ke dalam pori-pori kulit. Angin sore yang berhembus. Terasa dingin menyusup ke dalam tulang belulangnya. Senja selalu menjadi cara Embun melupakan kekosongan hatinya. Keindahan senja seakan mengajarkan pada Embun. Bahwa semua indah pada saat dan tempat yang tak sama.


Sejak pagi tadi, Embun begitu cemas. Entah kenapa dia begitu ingin melihat wajah tampan Abra? Rasa rindu yang penuh dengan cinta. Embun merasa gelisah, hanya wajah Abra yang terlintas dalam benaknya. Waktu yang berputar terasa begitu lambat. Pertama kalinya setelah Rafan lahir, Abra pergi ke luar kota. Jarak yang membuat Embun merasa begitu sepi tanpa Abra di sampingnya. Rasa rindu yang sama mungkin dirasakan Abra.


"Aku merindukanmu!" batin Embun pilu.


Lama Embun berdiri menatap senja. Embun melupakan sejenak waktu yang berputar di sekelilingnya. Rafan sedang pergi bersama Arya dan Fitri, tinggalah Embun sendirian di rumah. Merasakan rindu yang seakan siap membunuh Embun secara perlahan. Rindu yang nyata membuat dadanya terasa sesak. Menanti hari esok datang, membawa kembali sang pemilik hati.


Braakkkk


Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Embun. Suara yang menggema di kamarnya yang sepi tanpa Abra dan Rafan. Embun menoleh dengan rasa terkejutnya. Suara langkah kaki Abra terdengar seirama dengan detak jantungnya. Embun bahagia, sekaligus tidak percaya. Dia melihat Abra tengah berdiri di depannya. Setetes bening air mata Embun jatuh. Air mata haru akan kehadiran sang pemilik hati yang begitu dirindukan.


"Sayang!" sapa Abra, lalu menarik tangan Embun.


"Aaaa!" teriak Embun, tepat bersamaan dengan tubuhnya yang berada dalam dekapan Abra. Embun terkejut menyadari Abra menarik tubuhnya tiba-tiba.

__ADS_1


Abra mendekap erat tubuh Embun, tak ada lagi jarak yang memisahkan keduanya. Abra benar-benar tidak berdaya. Dia kalah oleh rindu yang mengusik dalam tubuhnya. Abra tak mampu menahan hasrat yang tiba-tiba mengusai hati dan benaknya. Kerinduan yang bermula dari rasa takut kehilangan. Kini nyata berubah menjadi rasa cinta yang teramat besar.


Cup


Satu kecupan manis mendarat di bibir tipis Embun. Tangan Abra merangkul pinggang Embun dengan begitu mesra. Abra mendekatkan tubuhnya dengan tubuh mungil Embun. Sangat dekat sampai Abra bisa merasakan detak jantung Embun. Hembusan hangat napas Embun, bak aroma terapy yang memabukkan Abra. Membuat Abra lupa akan dunia, hanya Embun yang ada dalam benaknya. Abra semakin erat memeluk Embun, hanya sehelai baju yang menjadi jarak diantara keduanya.


Perlahan tangan Abra mulai bermain, Abra melepas hijan instan yang dikenakan Embun. Satu kecupan manis mendarat di leher jenjang Embun. Kecupan hangat yang berbalas helaan napas penuh cinta dari bibir Embun. Abra semakin liar, kecupan berubah menjadi ciuman hangat nan panjang. Embun merasakan tubuhnya semakin panas. Hangat yang mengusik benak dan hatinya.


Tangan Embun memeluk tubuh Abra, Embun luluh dalam hangat cinta Abra. Kerinduan yang tersimpan dalam hati, kini berbalas dengan penyatuan cinta. Abra merasakan sentuhan Embun, sentuhan yang membuat Abra semakin bergairah. Abra menghujani leher Embun dengan kecupan penuh cinta. Tak lagi hangat yang terasa, Embun seolah terbakar oleh cinta yang diungkapkan oleh Abra. Embun lemah tanpa tenaga, Embun pasrah akan sentuhan penuh cinta Abra.


"Sayang, aku merindukanmu!" bisik Abra mesra, lalu mencium lembut daun telinga Abra.


Abra menggendong Embun tepat di atas tempat tidur. Dengan penuh kelembutan Abra membuka satu per satu kancing gamis yang dikenakan Embun. Satu kancing terlepas bersamaan dengan satu kecupan manis Abra di tubuh Embun. Abra semakin liar dan tak berakal, cinta tulusnya pada Embun berganti dengan hasrat penuh cintanya. Sentuhan demi sentuhan Abra, membuat Embun tak berdaya. Tubuhnya lemas, hanya ******* lirih yang terdengar dari bibir mungilnya. Embun menikmati sentuhan demi sentuhan Abra. Sampai Embun tak menyadari, dirinya telah kalah oleh hasrat penyatuan.


"Sayang, mungkin ini bukan pertama kalinya. Namun setiap menyentuhmu, aku merasa itu yang pertama kalinya. Tubuhmu candu bagiku, aku lemah akan dirimu!" ujar Abra lirih dengan napas yang memburu.


Embun diam tak berdaya, merasakan tangan Abra semakin liar. Melepas satu per satu pakaian yang menutupinya. Embun tak berdaya, sentuhan Abra benar-benar memabukkan. Embun begitu mencintai Abra, cinta itulah yang membuat Abra begitu hangat padanya. Embun tak lagi sadarkan diri, kehangatan Abra membuatnya lupa diri. Embun pasrah akan perlakuan Abra, penyatuan cinta yang penuh dengan ketulusan.


"Sayang!" sapa Abra, Embun mengangguk pelan.

__ADS_1


Sebuah persetujuan akan izin penyatuan yang tak terucap. Embun menyerahkan dirinya pada Abra, laki-laki yang berhak memilik mahkota indahnya. Walau dulu semua telah terenggut tanpa cinta. Namun kini semua terjadi, dengan cinta suci nan tulus. Tak ada lagi angkuh dan keras kepala. Embun mulai menyadari kewajibannya sebagai seorang istri. Seluruh jiwa dan hidupnya hanya milik Abra. Hanya pada Abra, Embun menyerahkannya.


Abra dan Embun menyatu dalam cinta. Tak ada lagi jarak yang memisahkan keduanya. ******* hangat penuh cinta, menjadi bukti cinta mereka yang menyatu. Sentuhan hangat Abra, meruntuhkan benteng kokoh Embun. Tak ada paksaan, semua berjalan dengan keikhlasan dan cinta. Abra dan Embun mencurahkan hasrat yang membuncah. Menyatukan rindu yang menggebu dalam cinta yang utuh.


"Terima kasih!" bisik Abra, lagi dan lagi Embun mengedipkan kedua matanya. Embun merasa malu, meski semua ini bukan pertama kalinya.


Cup


Abra mengecup lembut kening Embun yang penuh dengan keringat. Abra memeluk erat tubuh Embun. Rasa rindu yang terbayar, menghilangkan ketakutan yang mengusik hati dan jiwa Abra. Beberapa kali, Abra mencium mesra kening Embun.


"Maaf, membuatmu lelah sayang. Jujur, aku bahagia. Kini aku tenang, jika kamu hanya milikku seorang. Terima kasih, kamu atas ketulusanmu. Aku mencintaimu!" batin Abra, seraya mencium Embun yang tertidur dalam pelukannya.


"Sudah azan, aku harus bersih-bersih!" ujar Embun terbangun mendengar suara azan yang berkumandang dengan merdunya.


"Sayang!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun.


"Aku menginginkanmu lagi!" ujar Abra polos, Embun langsung menepis tangan Abra.


"Aku lelah!" sahut Embun lantang dan dingin. Sontak Abra tertawa, melihat sikap manis Embun.

__ADS_1


__ADS_2