KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rafan Ghifarri Abdullah


__ADS_3

Sejak dini hari Embun tidak bisa memejamkan kedua mata indahnya. Akhirnya tepat setelah azan subuh selesai berkumandang. Embun keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju dapur. Embun melihat beberapa ART sedang sibuk di dapur. Embun langsung berjalan keluar menuju halaman belakang.


Sontak Embun mendekap tubuhnya, angin terasa dingin menyentuh tulang. Entah kenapa Embun begitu gelisah? Embun merindukan putra kecilnya yang masih berada jauh darinya. Embun merasa tidak sabar menunggu kedatangan putranya. Pagi ini rencananya sang putra akan pulang dari rumah sakit. Kegelisahan seorang ibu yang begitu ingin memeluk buah hatinya.


"Sayang, ini masih sangat pagi!" ujar Abra, Embun menoleh saat mendengar suara Abra.


Cup


Abra langsung mencium pipi Embun, tepat saat Embun menoleh ke arahnya. Tangan Abra memeluk erat tubuh Embun. Mendekap hangat tubuh Embun yang dingin tertiup angin pagi. Kabut menyelimuti pagi, embun menyapa dengan kesejukkannya. Embun memegang erat tangan Abra yang memeluk pinggangnya. Abra sengaja mengikuti Embun, saat melihat Embun melangkah ke luar dari rumah. Abra tidak akan membiarkan Embun sendirian dalam kerinduannya.


"Terima kasih, kakak selalu ada di sampingku. Entah apa yang akan terjadi padaku? Seandainya kakak tidak ada menopang tubuh lemahku. Dalam sujud aku selalu berdoa, semoga semua ini tidak akan berakhir kelak. Meski tidak ada kata selamanya dalam hidup. Ada akhir dalam segala hal, tapi sebelum semua berakhir. Aku ingin kita selalu berpegangan tangan sampai waktu itu tiba!"


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Kita akan bersama selamanya!" ujar Abra heran, Embun menggeleng lemah. Isyarat tidak ada yang berarti dalam perkataannya. Namun semua nyata akan terjadi. Selamanya tidak pernah ada, sejatinya akan ada akhir dalam segala hal.


"Aku hanya asal bicara, tidak perlu diambil hati. Apapun yang akan terjadi nanti? Aku ingin semua tetap seperti ini. Kakak ada selalu memelukku. Kita akan saling berpegangan, berharap tidak ada yang merusak hubungan ini!"


"Sayang, aku tidak mengetahui apa yang membuatmu mengatakan semua ini. Namun percayalah, aku akan terus mencoba menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Aku akan belajar menjadi suami dan ayah yang terbaik. Putra kita akan menjadi pengikat cinta kita selamanya!" ujar Abra menyakinkan Embun, Abra semakin erat memeluk tubuh Embun.


"Siapa nama putra kita? Apa kakak sudah menyiapkannya?"


"Sayang, kamu mulai mengalihkan pembicaraan!"


"Masih terlalu pagi, jangan bicara sesuatu yang terlalu serius. Nanti kita tua sebelum waktunya!" ujar Embun seraya tersenyum. Abra mengangguk mengiyakan perkataan Embun.


Embun dan Abra saling berpelukan, keduanya berdiri menanti sang fajar menyapa. Tak ada lagi dingin embun pagi. Hangat cinta keduanya mengalahkan dingin alam yang menyapa. Abra seolah ingin menumpahkan kasih sayangnya pada Embun. Putra tercinta mereka akan hadir di tengah-tengah mereka. Menjadi pelengkap dalam cinta Abra dan Embun.


"Tuan Abra, ada tuan Haykal!" ujar bik Siti, Abra dan Embun langsung melepaskan pelukannya. Abra menoleh dengan raut wajah heran. Dia merasa aneh mendengar Haykal datang sepagi ini. Abra merasa ada sesuatu yang telah terjadi.


"Kami akan segera menemuinya!" sahut Abra, mencoba mencari bersikap setenang mungkin. Embun meminta Abra segera keluar menemui Haykal. Embun tidak ingin Haykal menunggu terlalu lama. Sehingga akan ada masalah baru yang tercipta.


"Kak Abra, pergilah lebih dulu. Aku tidak bisa jalan cepat!" ujar Embun lirih, Abra tersenyum mendengar perkataan Embun. Dengan penuh hangat, Abra merangkul tangan Embun. Lalu menggandeng Embun, melangkah menuju ruang tamu.


"Aku akan menemanimu, papa bisa menunggu!" sahut Abra santai, Embun langsung menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Abra.


"Aku takut bertemu papa, kakak saja yang menemuinya. Aku masuk ke dalam kamar saja!"


"Kenapa kamu takut? Ada aku yang menemanimu, aku ada untuk menjagamu. Papa tidak akan bisa menyentuhmu!" ujar Abra, Embun menunduk terdiam.


Embun diam seribu bahasa, ada yang mengganjal dalam pikirannya. Abra jelas melihat ketakutan Embun. Pertemuannya dengan Haykal selalu meninggalkan rasa sakit. Sebab itu pantas jika Embun merasa tak sanggup lagi menatap Haykal.


"Sayang, tenanglah. Aku ada di sampingmu!" ujar Abra, lalu merangkul lengan Embun.


"Hmmmm, aku percaya!" sahut Embun, Abra tersenyum penuh haru. Abra mengecup lembut kening Embun.


"Sayang, aku dan Rafan akan menjadi perisaimu. Kami akan menjagamu, kita bertiga akan hidup bahagia!"


"Rafan!" ujar Embun mengulang perkataan Abra. Embun tidak mengerti maksud perkataan Abra. Nama asing yang baru saja didengarnya.


"Rafan Ghifarri Abdullah, nama yang aku pilih untuk putra kita!" ujar Abra dengan penuh kebahagiaan.


"Nama yang indah!" sahut Embun singkat, Abra mengangguk seraya merangkul Embun dengan penuh cinta.

__ADS_1


Embun dan Abra berjalan menuju ruang tamu. Keduanya berjalan dengan penuh cinta. Melupakan sejenak rasa takut akan pertemuan Embun dengan Haykal. Abra membuat Embun melupakan rasa sakitnya dengan rasa cintanya yang begitu besar. Embun mencoba setenang mungkin, berharap Abra tidak cemas memikirkan dirinya.


"Assalammualaikum pa!" sapa Abra ramah, Embun berdiri tepat di belakang Abra. Dengan berpegangan tangan, keduanya berjalan menemui Haykal. Nampak Haykal menatap sinis ke arah Abra dan Embun.


Plaakkk


"Kenapa papa menamparku?"


"Kamu pantas mendapatkan itu. Demi dia kamu melupakan semua keluargamu. Termasuk kakek yang membesarkanmu dengan penuh cinta. Kamu melupakannya begitu saja!" ujar Haykal penuh emosi, Abra diam menatap tak mengerti ke arah Haykal. Embun bersembunyi di balik punggung Abra.


"Apa yang ingin papa katakan? Kenapa papa semarah ini padaku?"


"Jelas papa marah padamu, kamu melupakan kakek Ardi demi dia. Wanita yang sangat kamu sayangi. Demi dia kamu lupa jalan pulang. Memutuskan hubungan dengan semua orang. Sampai sakit kakekmu tak lagi penting untukmu!"


"Kakek sakit!" ujar Abra dan Embun hampir bersamaan. Nampak jelas keterkejutan dan rasa cemas di wajah Embun dan Abra. Keduanya tak percaya, ketika Haykal mengatakan keadaan Ardi.


"Terlambat rasa cemasmu itu. Kakekmu sekarang sedang berjuang melawan sakitnya. Sedangkan kamu dengan santainya bermesraan dengan wanita ini!" ujar Haykal penuh emosi. Abra dan Embun terdiam, dengan penuh rasa bersalah keduanya menunduk.


"Papa, maafkan Abra yang tidak mengetahui kalau kakek sakit!"


"Jelas kamu tidak mengetahuinya, kamu selalu sibuk dengan dia. Wanita yang membuatmu melupakan semua hal!"


"Papa cukup, kenapa selalu menyalahkan Embun? Kami sudah bahagia, jangan pernah salahkan Embun. Dia bukan alasan perubahanku. Sebaliknya sikap papa yang seperti ini. Alasan aku menjauh dari keluarga Abimata!"


"Tutup mulutmu Abra. Kamu mulai lupa cara menghargai orang tua!" ujar Haykal lantang, Abra diam menatap lekat Haykal. Embun memutar tubuhnya, dia berpikir hendak menjauh dari Abra dan Haykal.


"Kamu ingin kemana?" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun.


"Sudah seharusnya kamu sadar, kamu hanya pengganggu dalam keluarga Abimata!"


"Papa, dia istri Abra. Jangan pernah bicara sekasar itu. Hargai dia!"


"Berapa memang harga dirinya? Bukankah dia sangat kaya, tidak perlu lagi dia menjual harga dirinya!" ujar Haykal sinis, Embun diam membisu.


"Papa!" teriak Abra dengan amarah yang siap meledak.


"Tidak perlu berteriak, dia memang wanita pembawa masalah!"


"Tuan, bukan Embun putriku yang membawa masalah dalam keluargamu. Namun keangkuhan dan kesombongan dalam hatimu yang membuat seluruh keluargamu hancur!" sahut Fitri lirih, Haykal menoleh dengan heran.


Haykal baru pertama kali melihat Fitri. Jelas dia tidak mengenal fitri. Nampak Fitri datang bersama dengan Arya. Tepat di belakang mereka, Iman dan Afifah yang tengah menggendong baby Rafan. Embun dan Abra terkejut, melihat Rafan sudah datang. Abra bahkan langsung menunduk, dia merasa malu dengan sikap Haykal. Sebaliknya Arya nampak tenang, tak ada amarah dalam mata tajamnya. Arya merasa tidak perlu membela Embun. Baik Arya atau Iman ingin melihat sekuat apa Abra membela putri mereka?


"Anda siapa? Tidak seharusnya ikut campur. Ini masalah keluarga kami. Melihat penampilan anda, seharusnya anda mengetahui adab dalam pergaulan. Tidak sepantasnya anda ikut campur dalam urusan kami!" ujar Haykal dengan begitu bangganya. Fitri tersenyum dibalik hijabnya. Fitri berjalan melewati Abra, menghampiri Embun yang berdiri dengan rasa takut. Fitri menarik tubuh Embun, merangkul Embun penuh cinta.


"Kak Afifah, tolong bawa cucu kita ke dalam. Aku ada sedikit urusan di sini. Dia masih terlalu kecil mendengar masalah orang dewasa. Apalagi mendengar kesombongan kakek yang seharusnya bahagia melihatnya lahir dengan selamat!" pinta Fitri, Afifah dan Iman mengangguk pelan. Arya berdiri dengan bersandar pada dinding. Arya seolah tak peduli akan amarah Haykal. Ada rasa percaya yang jelas nampak di wajah Arya. Seolah semua akan selesai tanpa campur tangannya.


"Cucu!"


"Iya tuan yang terhormat, dia cucuku yang lahir dari rahim putriku. Kenapa anda merasa heran? Jika dulu Embun tumbuh tanpa seorang ibu. Sekarang dia akan membesarkan putranya bersama dua ibu sambungnya. Mungkin anda tidak mengenalku, sebab ini pertemuan pertama kita!"


"Kamu istri tuan Arya!" ujar Haykal tidak percaya, Fitri mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


"Aku istri sah tuan Arya, ayah kandung dari menantumu Embun!"


"Tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin? Seperti halnya sikap anda yang tidak pernah berubah. Amarah dan hinaan yang tidak mungkin anda tunukkan pada Embun. Nyatanya masih mungkin anda lakukan. Walau anda menyadari, siapa sebenarnya putriku? Apa yang bisa kami lakukan pada anda sebagai orang tuanya?"


"Sombong!" sahut Haykal sinis.


"Menghadapi orang seangkuh anda, memang diperlukan kesombongan. Sebab ketulusan hanya akan menjadi lap kaki dihadapanmu. Harga diri seseorang hanya sampah dalam pikiran anda. Sebaliknya bagiku yang baru mengenal anda, sikap anda tak lebih dari kebodohan dan ketakutan akan sebuah kekalahan!" ujar Fitri, dengan tetap merangkul tubuh Embun. Dengan penuh kasih sayang, Fitri mengangkat dagu Embun.


"Embun, angkat kepalamu dan tatapan ayah mertua. Jangan pernah tunjukkan lemahmu, kamu bukan istri tanpa status. Kamu istri sah Abra, dengan kesucian kalian menikah. Tidak ada yang berhak meragukan kesucian hatimu. Embunku tidak pernah takut dilupakan, kenapa sekarang aku merasa? Embunku takut menatap dunia yang selalu melupakannya. Sebagai seorang menantu, kamu tidak diperbolehkan melawan orang tua. Namun sebagai seorang manusia biasa, kamu berhak melawan keangkuhan dan kesombongan ayah mertuamu. Selama kamu mampu bersikap sopan dan memahami batasan yang ada!"


"Mama!" ujar Embun lirih, Fitri mengedipkan kedua mata indahnya.


"Lihat dia tuan, diamnya bukan karena takut. Dia hanya ingin menjaga harga diri suaminya. Seandainya putriku menginginkan, suara lantangnya mampu membuat hubungan ayah dan anak berakhir. Putriku memilih menunduk, menenangkan amarah yang kini menguasai hati dan pikirannya. Di saat putriku belajar dewasa menerima penolakan anda. Kenapa anda malah bersikap seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Putriku dan putramu menikah dengan sebuah ketulusan, cucuku Rafan bukti rasa cinta itu ada. Mereka bahagia dengan jalan yang mereka pilih. Namun aku merasa anda takut melihat kebahagian mereka. Bukan karena status putriku, tapi hatimu yang terlalu hitam dan gelap. Sampai tak ada cahaya yang maampu meneranginya. Bahkan cahaya cinta Abra dan Embun yang begitu terang!"


Plok Plok Plok


"Anda begitu hebat dalam bicara, pantas saja tuan Arya takluk dalam rayuan manis anda!" ujar Haykal sinis, Arya meradang. Namun dengan cepat Fitri melarang Arya maju. Isyarat mata Fitri menyakinkan Arya semua baik-baik saja.


"Apa yang aku katakan bukan sebuah diplomasi atau pengertian? Sebaliknya perkataanku sudah cukup membuat harga diri anda hancur. Ingat tuan, semakin anda menghina putriku. Maka semakin jauh jarak yang anda ciptakan dengan putra kesayanganmu. Abra seorang putra yang harus memilih kedua orang tuanya daripada istrinya. Sedangkan putriku seorang istri yang akan selalu mengikuti langkah suaminya. Namun anda lupa satu hal, cucuku Rafan akan selalu bersama dengan putriku ibu kandungnya. Jika anda memutus satu tali, anda harus siap kehilangan ikatan yang lain. Abra bukan hanya kehilangan putriku, tapi dia akan kehilangan cucuku. Abra akan hancur layaknya anda saat ini. Mungkin akan jauh lebih hancur!" ujar Fitri, Abra langsung mengangkat wajahnya. Nampak gelengan kepala Abra. Isyarat dia tidak ingin terpisah dari Embun.


"Kamu mengancamku!"


"Sama sekali tidak, jika anda tidak percaya. Buktikan sekarang, detik ini juga minta Abra memilih anda atau putriku? Anda akan melihat hancur dan sakit Abra. Rasa sakit yang belum pernah anda lihat, membayangkannya saja anda tidak akan sanggup!"


"Mama Fitri, aku mohon jangan pisahkan aku dengan Embun!" ujar Abra memelas, Embun menoleh ke arah Fitri. Dengan kedipan mata, Fitri menenangkan Embun.


"Kenapa anda diam tuan? Silahkan minta Abra mengakhiri hubungannya dengan putriku. Tidak ada yang akan menghalangi anda melakukan semua itu. Percayalah, Abra akan memilih anda. Putriku tidak akan membiarkan Abra memilih dirinya. Putriku tumbuh dengan ayah yang hebat. Seorang ayah yang tidak hanya mengenalkan dia dengan dunia. Namun dia mengajarkan aturan dalam hubungan!" ujar Fitri lantang, Arya merangkul tubuh Embun. Fitri dan Arya menjadi perisai Embun. Nampak Abra mengusap wajahnya kasar. Haykal menatap, entah kenapa ada rasa takut dalam dirinya?


"Jangan katakan apapun, jika kamu tidak sanggup menerima akibatnya!" ujar Iman, Afifah memberikan Rafan pada Embun. Dengan penuh cinta Embun menggendong Rafan. Embun mencium lembut pipi gembul Rafan. Buah cintanya dengan Abra, Lalu setetes bening air mata Embun jatuh membasahi pipi Rafan.


Buuuggghh


"Jangan pernah minta Abra memilih. Jangan pisahkan kami. Mereka jiwa dan nyawa Abra!" ujar Abra menghiba pada Haykal. Abra berlutut tepat di depan Haykal. Kedua tangannya menangkup, memohon pada Haykal. Abra menghiba pada Haykal demi kebahagaian yang selalu dipermasalahkan.


"Abra, bangunlah nak!" pinta Haykal lirih, Abra menepis tangan Haykal. Saat Haykal menuntunnya berdiri. Haykal terpukul melihat rapuh putranya.


"Abra mohon!" ujar Abra menghiba, Haykal terpaku tubuhnya kaku.


"Kenapa anda diam tuan? Minta Abra mengakhiri pernikahannya dengan Embun. Agar anda menyadari, betapa berharganya kebahagian Abra?" ujar Fitri, Abra menunduk dengan posisi berlutut di depan Haykal.


"Embun, lebih baik kita masuk. Rafan masih butuh istirahat. Tubuhmu juga masih sangat lemah!" ajak Fitri, Embun memutar tubuhnya. Dia berjalan membelakangi Abra. Meninggalkan Abra yang terus menghiba pada Haykal.


Buuugghhh


"Abra, papa mohon berdirilah!" ujar Haykal sembari berlutut di depan Abra.


"Istrimu hebat Arya, bisa membuat Haykal bersimpuh. Kita menghancurkannya dengan harta, sebaliknya istrimu menghancurkan hati Haykal yang penuh dengan kesombongan!" bisik Iman, Arya hanya diam membisu.


"Terima kasih, telah menyayangi putriku. Seorang ibu kandung telah kurebut dari Embun putriku. Kini kamu datang menjadi ibu sambung yang begitu menyayangi putriku. Terima kasih istriku!" batin Arya. Iman dan Arya memilih meninggalkan Abra dan Haykal. Mereka ingin bermain dengan Rafan cucu pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2