
Abra kembali ke rumah tepat pukul 18.30 WIB. Entah kenapa pekerjaan begiru menyita waktunya? Abra cemas memikirkan kondisi Embun. Tinggal di rumah yang begitu asing, dengan tatapan tidak suka beberapa orang. Semakin membuat Embun tak berdaya. Meski ada Ardi, tapi Abra sangat cemas akan batin Embun. Sejak melangkahkan kaki di rumah Abimata. Embun belum pernah menerima tatapan hangat penghuni yang lain, kecuali Ibra dan Indira. Mereka mulai menghargai keberadaan Embun.
"Kamu baru pulang Abra?"
"Iya kakek, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa Abra tinggal. Bahkan besok pagi, Abra harus pergi ke luar kota!"
"Beristirahatlah, setelah itu turun makan malam!" Ujar Ardi, Abra mengangguk pelan.
"Embun!" Ujarnya lirih, Ardi menoleh ke arah kamar Abra. Seakan ingin mengatakan, jika Embun tengah berada di kamarnya.
"Begitu mendengar suara mobilmu, Embun langsung naik ke kamarnya. Sejak tadi, Embun berada di dapur!"
"Baiklah kakek, Abra ingin istirahat sebentar saja!" Ujar Abra, Ardi mengedipkan kedua matanya.
Ardi mengikuti langkah kaki Abra, dia menatap punggung tegap Abra. Langkah tegapnya terdengar berirama di atas tangga. Ardi menatap penuh harap pada punggung Abra. Berharap Abra menjadi putra yang membanggakan bagi keluarga Abimata.
"Kelak kamu akan memahami arti pernikahan ini. Pernikahan yang kupaksa, bukan demi diriku semata. Pernikahan yang begitu sakral. Sebagai awal kebahagianmu Abra. Satu doa kakek, bahagiakan Embun dan penuhi tanggungjawabmu. Dia amanah Iman yang dititipkan padamu. Harta paling berharga Iman sahabat, sekaligus saudara angkat papamu. Janji yang pernah terucap, sudah kakek tepati. Semoga keputusan ini benar!" Batin Ardi, sembari menatap punggung Abra yang menghilang.
"Papa!" Sapa Haykal lirih, seketika Ardi menoleh. Ardi melihat Haykal datang bersama seseorang. Ardi berdiri ditopang kaki tua yang mulai melemah.
"Apa kabar tuan Ardi?" Sapa Gunawan, seraya mengulurkan tangannya. Ardi menyambut hangat tangan Gunawan.
"Gunawan Adiputra!" Sapa Ardi lirih, Gunawan mengedipkan mata sembari mengutas senyum.
"Papa mengenalnya!" Ujar Haykal tidak percaya.
"Gunawan pemilik Adiputra Group, perusahaan raksasa dibidang kontraktor. Salah satu perusahaan bonafit dengan keuntungan yang tidak sedikit. Perusahaan yang kini bekerjasama dengan perusahaan kita. Bahkan Gunawan orang yang ingin kamu jadikan sebagai mertua bagi Abra!"
"Papa!" Ujar Haykal lirih, Ardi menoleh ke arah Haykal.
"Tidak perlu terkejut, mungkin aku sudah tua. Namun tubuh tua ini tidaklah bodoh. Aku menyadari niat dibalik perjodohan yang kalian rencanakan!" Ujar Ardi lirih, Gunawan dan Haykal saling memandang.
Ardi tersenyum simpul, ada setitik rasa tak percaya. Melihat Haykal yang teguh ingin menjodohkan Abra. Meski Haykal sendiri menyadari, Abra sudah termiliki. Namun Ardi yakin, kelak Haykal orang yang paling menyesal. Jika seandainya Abra terluka dan menyadari siapa sebenarnya Embun? Namun untuk saat ini, Ardi harus tetap diam. Setidaknya sampai Abra benar-benar mencintai Embun.
"Tuan Ardi, rencana itu sudah berlalu. Sekarang kami hanya ingin menjalin kerjasama, tidak lebih!" Ujar Gunawan, Ardi mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku percaya perkataanmu. Sekarang duduklah, mari kita berbincang. Lama kita tidak bertemu. Semenjak kamu pindah ke luar kota, kita tidak pernah bertemu lagi!" Ujar Ardi ramah, lalu mengajak Gunawan duduk bersamanya.
Suara tawa yang terdengar sesekali, seolah ingin mengatakan keakraban diantara ketiganya. Ketegangan yang sempat terjadi, mulai mencair dan hangat. Ardi mencoba melupakan amarahnya pada Haykal. Ardi tidak ingin menjadi alasan kegagalan kerjasama Haykal dengan Gunawan.
__ADS_1
"Anda masih tetap sama, humoris!" Ujar Gunawan memuji Ardi. Sebaliknya Ardi hanya tersenyum simpul.
"Lebih baik kamu tinggal, sebentar lagi makan malam!"
"Terima kasih tuan, tapi aku sudah ada janji dengan putriku. Kami berencana makan bersama!"
"Lebih baik kamu hubungi dia, minta dia datang kemari. Kita bisa makan bersama-sama!" Ujar Ardi, Gunawan terdiam lalu mengangguk pelan.
Tepat pukul 19.30 WIB, makan malam telah siap. Satu per satu anggota keluarga Abimata turun. Tak terkecuali Abra dan Embun yang tengah berada di kamarnya. Sejak tadi kedatangan Gunawan, Abra tidak mengetahuinya. Abra sempat kaget, saat melihat Gunawan dan Clara sudah duduk di meja makan. Abra yang semula menggandeng tangan Embun. Spontan melepaskan tangan Embu, seakan dia canggung melakukannya di depan mereka.
"Abra, cepatlah!" Ujar Haykal memanggil Abra, tanpa melihat ke arah Embun.
Embun yang berdiri tepat di belakang Abra. Sengaja menundukkan wajahnya, bukan malu tapi Embun mencoba menjaga pandangannya. Lalu perlahan Embun mendekat ke meja makan bersama Abra. Embun melihat kursi tempatnya sudah terisi oleh Clara. Tanpa banyak bicara, Embun memilih duduk di tempat yang kosong. Duduk yang sedikit menjauh dari Abra.
"Sayang, duduklah di samping Clara. Aku yang akan duduk di sana!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku mohon!" Ujar Abra sembari menggenggam tangan Embun.
"Kenapa kalian harus meributkan kursi? Sekarang duduklah!" Ujar Haykal lantang, Embun mengangguk pelan. Lalu dia duduk sedikit menjauh dari Abra.
Gunawan yang sekilas melihat wajah Embun, merasakan keanehan yang tidak biasa. Wajah Embun yang begitu familiar. Wajah yang mengingatkannya pada seseorang. Tatapan menelisik Gunawan, membuat Embun merasa tidak nyaman. Namun Embun tetap berusaha tenang, agar tidak terjadi keributan lagi.
"Istrimu cantik!"
"Dia tenangku!" Ujar Abra lirih, Clara menoleh tidak mengerti.
"Jika tentang cantik, aku sudah terlalu sering melihat atau mendengarnya. Namun Embunku tidak hanya cantik. Dia penenang hati dan jiwaku. Embun penyejuk dalam hidupku. Hadiah terindah yang pernah aku dapatkan!"
"Kamu mencintainya Abra!"
"Mungkin lebih dari itu Clara. Aku bisa hidup dengannya, tapi aku juga bisa tiada tanpanya!"
"Tidak mungkin!" Ujar Clara lirih hampir tak terdengar.
"Kamu mengatakan sesuatu!" Ujar Abra, Clara menggeleng lemah. Clara diam menatap Abra, hatinya terasa ngilu melihat tatapan penuh cinta Abra.
"Maaf nona Clara, silahkan ini minuman dan makanan ringan!" Ujar Embun sopan, Clara mengangguk pelan.
"Abra benar, dia tidak hanya cantik. Suaranya begitu merdu, sikapnya begitu sopan. Pantas Abra jatuh hati padanya. Sebagai wanita biasa, aku sudah bisa melihat ketulusannya dan bahkan mengaguminya. Apalagi Abra!" Batin Clara.
__ADS_1
"Terima kasih!" Ujar Clara, Embun mengangguk pelan. Lalu berlalu meninggalkan Abra dan Clara. Namun langkah Embun terhenti. Ketika tangan Abra menahan langkah kakinya.
"Ada apa kak?"
"Duduklah bersama kami!" Pinta Abra, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya Embun, duduklah bersama kami!" Sahut Clara, lagi dan lagi hanya gelengan kepala yang ditunjukkan Embun.
"Kenapa sayang?" Ujar Abra, Embun menunduk seolah tak memiliki alasan akan penolakannya. Abra menghela napas, dia kecewa melihat penolakan Embun. Sebaliknya Clara terlihat sedih, bukan karena penolakan Embun. Namun kehangatan Abra pada Embun.
"Dia mungkin malu, merasa rendah berada diantara kakak dan kak Clara. Secara kalian berdua orang-orang pintar. Sedangkan dia, hanya...!"
"Tutup mulutmu Naura!" Ujar Abra emosi, Naura langsung menunduk.
Embun menahan tubuh Abra, berharap Abra tidak melakukan sesuatu yang berlebihan. Seketika Abra merasa tenang, saat Embun menenangkan amarahnya. Clara memegang dadanya yang terasa ngilu. Melihat kehangatan diantara Abra dan Embun. Seakan bak anak panah menancap ke arah jantungnya. Clara semakin sakit, ketika melihat begitu mudahnya Embun menenangkan Abra. Padahal sejauh dia mengenal Abra, tidak akan mudah membuat Abra tenang. Jika Abra sudah marah dan kesal.
"Naura, sejak pertama aku mengenalmu. Aku mencoba berpikir seperti dirimu. Mencoba memahami kemarahanmu akan kehadiranku. Namun semakin lama aku mencoba memahamimu. Semakin aku tidak mengerti, alasan bodoh akan amarahmu. Jujur Naura, aku tidak akan bersikap tak pantas sepertimu. Jika hanya untuk mendapatkan perhatian dari kakak laki-laki!"
"Diam kamu!" Ujar Naura melawan Embun, Abra meradang. Namun Embun menghentikannya, lalu Embun berjalan menghampiri Naura.
"Jika memang kamu takut kehilangan kakakmu Abra. Sangat salah, jika kamu marah dan menyalahkanku. Kebencianmu padaku hanya akan membuat jarak diantara kalian semakin jauh. Sejatinya seorang kakak ipar, bukanlah musuh yang harus kamu singkirkan. Sebaliknya dia kakak yang harus kamu sayangi layaknya kakak kandungmu. Percayalah Naura, sikap tak pantasmu akan menjauhkan Abra darimu. Bahkan mungkin membuat Abra membencimu. Jurang dalam diantara kalian bukan aku, tapi cara berpikirmu. Berubahlah Naura, sebelum kamu benar-benar kehilangan Abra. Jangan sampai kamu merasakan sepiku dan sendiriku. Sepi tanpa seorang kakak di sampingku. Bersyukurlah Naura, kamu memiliki keluarga yang utuh. Dua kakak laki-laki yang siap menjadi sandaranmu di kala lelah. Menjadi penopang di saat rapuhmu. Menjadi pelindung ketika bahayamu. Belajarlah mengerti orang lain, sebelum kamu mengharap pengertian orang lain!" Tutur Embun, Naura menatap tajam Embun. Seakan tidak suka menerima nasehat Embun.
"Dia benar-benar berbeda!" Batin Clara.
"Kamu hanya banyak bicara. Apa yang aku katakan memang benar? Kamu malu berada diantara kak Abra dan kak Clara!" Ujar Naura, Abra sudah mengepalkan tangannya.
"Aku jauh lebih rendah, jika aku lupa akan imanku!"
"Kamu!" Sahut Naura yang merasa tersindir.
"Maaf kak Abra, jika aku memintamu memilih. Duduk di sini bersama nona Clara atau pergi denganku!"
"Pergi denganmu!" Sahut Abra lantang.
"Kamu dengar itu Naura, tidak perlu aku merasa rendah. Jika meminta kak Abra memilih, tetap aku yang dipilihnya. Aku sengaja menepi, agar kalian bisa bersama dengan kak Abra. Itulah harga diri yang sesungguhnya Naura. Memahami kepentingan orang lain, demi menjaga harga diri orang lain!"
"Sayang!"
"Tetaplah di sini kak, sudah lama kalian tidak bertemu. Memberikan beberapa menit milikku untuk nona Clara. Tidak akan membuat dunia dan harga diriku hancur!" Ujar Embun lantang.
__ADS_1