KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sabrina Salsabilla


__ADS_3

"Wijaya, sedang apa kamu di sini? Jangan katakan, kamu sedang mencariku!" ujar Sofia dengan rasa percaya diri.


Sofia bertemu Wijaya tepat di depan rumah keluarga Adijaya. Sofia datang di saat Wijaya akan pulang. Amarah Iman tak bisa diredam, keputusan Iman final. Pemecatan Sabrina menjadi keputusan terakhir dan tidak bisa ditawar. Iman tidak akan berunding dengan keputusannya. Rasa sakit Embun akan pengkhianatan. Penghinaan yang diterima Embun, menjadi alasan terbesar Iman memutuskan semua itu. Wijaya hanya terdiam, tidak bisa memberikan keputusan apapun.


"Sofia Adijaya!" sapa Wijaya ramah, Sofia tersenyum sinis. Dia melirik ke arah Sabrina, wanita cantik yang datang bersama dengan Wijaya. Nampak rasa tidak percaya Sofia, lebih tepatnya rasa cemburu yang tak mampu terucap.


"Apa kabar Wijaya? Istrimu cantik, kamu pintar dalam memilih!" ujar Sofia santai, Wijaya menatap nanar Sofia. Sekilas ada rasa bahagia di hati Wijaya, dia bisa melihat Sofia lagi.


"Dia bukan istriku, tapi CEO di perusahaanku!" sahut Wijaya dingin, Sofia mengangguk mengerti.


Sofia berjalan lebih dekat ke arah Wijaya. Sofia berdiri tepat di samping Wijaya. Keanggunan Sofia terpancar jelas dari cara berpakaiannya. Kecantikan Sofia sebelas dua belas dengan Almaira. Walau keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Namun sejatinya Sofia tetap wanita yang mampu membuat seorang laki-laki jatuh cinta. Rasa cinta yang menggetarkan hati Wijaya Eka Nugraha.


"Aku pikir kamu sudah menikah!" bisik Sofia mesra, seketika tubuh Wijaya bergetar. Hembusan napas Sofia, membangkitkan hasrat dan cinta yang selama ini terpendam. Suara lembut Sofia, terdengar merdu di telinga Wijaya. Suara yang lama tak terdengar dalam hidupnya.


"Aku belum menikah!" sahut Wijaya dingin, menutupi ketertarikkannya pada Sofia.


"Hmmm, aku pikir setelah kita berpisah. Kamu menemukan pasangan terbaik. Melupakan cinta masa lalu denganku!" ujar Sofia, Wijaya menunduk. Sedangkan Sabrina terdiam terpaku. Melihat bos besarnya terpesona oleh Sofia Adijaya. Sikap hangat yang tak pernah dilihat oleh Sabrina. Wijaya bak gunung es yang dingin, tapi akan berubah menjadi gunung berapi bila marah.


"Sayangnya, aku kalah oleh cinta ini!" ujar Wijaya lirih hampir tak terdengar. Sofia tersenyum, mendengar kejujuran Wijaya. Meski suara Wijaya lirih, Sofia bisa mendengar kejujuran Wijaya.


"Wijaya, kamu belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kamu di sini? Papa mungkin sedang istirahat!" ujar Sofia heran.


Kedatangan Sofia sangat janggal, apalagi setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Sofia merasa Wijaya tidak seperti dulu. Dia lebih tampan dan mapan, alasan seorang wanita akan jatuh hati pada Wijaya. Namun Sofia tidak pernah berharap lebih. Sikap tak pantasnya dulu, takkan pernah membuat Sofia berani menatap Wijaya. Sofia hanya menganggap hubungannya dengan Wijaya hanyalah pertemanan.


"Aku bertemu Iman dan Embun putrinya!"

__ADS_1


"Untuk apa?" sahut Sofia penasaran. Wijaya menghela napas, lalu menoleh ke arah Sabrina. Tatapan yang penuh arti, Wijaya merasa bingung dengan permasalahan Sabrina dengan Abra.


Sabrina bukan hanya pegawai baginya, tapi dia sudah seperti putrinya sendiri. Wijaya yang mengajarkan bisnis pada Sabrina. Sekarang setelah semua kesuksesan karir ada dalam genggaman Sabrina. Semuanya terpaksa berakhir, ketika penguasa sekelas Iman Adijaya mengharapkan kehancuran Sabrina. Wijaya tidak lagi mengharapkan kontrak kerja dengan perusahaan Adijaya. Namun membiarkan Sabrina melawan kekuasaan Iman Adijaya. Tentu Wijaya tidak akan tega, mengingat kekuasaan Adijay Group dalam bisnis.


"Meminta maaf, karena dia telah melukai hati Embun!" ujar Wijaya lirih, wajanya datar tanpa ekspresi. Sofia menoleh ke arah Sofia, nampak Sofia mengeryitkan dahinya. Dia tidak mengerti kenapa Sabrina harus meminta maaf pada Embun.


"Apa yang dia lakukan pada Embun?"


"Tidak ada, semua sudah selesai. Embun sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Lebih baik kami pulang, kamu juga butuh istirahat!" ujar Wijaya lirih, saat Wijaya melihat Sofia datang sembari menggendong beberapa berkas.


Wijaya melihat sosok Sofia yang sudah berbeda. Tak lagi Sofia manja dan angkuh, dia melihat Sofia yang baru. Wijaya merasa bahagia, melihat Sofia cinta pertamanya. Dengan tatapan penuh kehangatan, Wijaya mencoba memahami lelah yang kini dirasakan Sofia. Wijaya memilih pergi, meninggalkan kesempatan berdua dengan Sofia. Demi waktu istirahat yang dibutuhkan Sofia


"Maaf Wijaya, semoga aku salah menduga. Apa dia menjalin hubungan dengan Abra?" ujar Sofia lirih dan sopan. Rasa penasaran Sofia membuatnya berpikir sejauh itu. Wijaya langsung menunduk, helaan napas Wijaya seakan jawaban yang membenarkan dugaan Sofia.


"Dia wanita anggun, kecantikannya mampu menundukkan mata laki-laki. Pesonanya melumpuhkan hasrat seorang pria. Abra laki-laki normal, dia memiliki hasrat yang sama dengan laki-laki lain. Jika masalah ini berhubungan dengan Embun. Pasti ada hubungannya dengan Abra, sebab hanya Abra yang akan membuat Embun tersakiti!"


"Kamu sangat menyayangi Embun!" sahut Wijaya, Sofia tersenyum dingin.


"Dia putri almarhumah Almaira dan Arya. Jelas jika aku menyayanginya!"


"Aku pikir dia putri Iman!" ujar Wijaya tak percaya, Sofia menggeleng lemah.


"Embun putri almarhummah kak Almaira, tapi yang membesarkannya kak Iman. Dia cucu kesayangan Dewangga Adijaya. Sangat bodoh, jika kamu membuat masalah dengannya. Apalagi masalah ini berhubungan dengan kebahagian Embun. Mungkin kak Iman akan diam, tapi tidak kak Arya. Dia akan berbuat di luar nalar. Jika itu menyangkut putrinya!" sahut Sofia dingin dan tegas, Sofia melirik Sabrina. Nampak seutas senyum simpul di wajahnya. Sofia merasa dirinya hampir sama dengan Sabrina. Sofia pernah merasakan cinta yang tak sepantasnya ada.


Sabrina langsung mendongak. Tubuhnya terlihat bergetar, isyarat diam menyadari kesalahannya. Namun Sabrina merasa bukan hanya dirinya yang bersalah. Abra juga bersalah, sebab Abra memberikan celah pada Sabrina untuk mendekat. Berharapa akan rasa yang sesungguhnya tak pantas untuk diharapkanny. Merasa kebahagian akan dia rasakan, seandainya dia hidup bersama Abra. Tanpa Sabrina peduli akan ada hati yang terluka.

__ADS_1


"Sabrina mungkin salah, tapi itu hanya kekhilafan anak muda. Mungkinkah Arya akan bertindak kejam? Mengingat Embun sedikitpun tidak mempermasalahkannya!" sahut Wijaya, Sofia berdiri tepat di samping Wijaya.


"Jika Embun putrimu, apa yang akan kamu lakukan pada menantu dan wanita penggoda dalam rumahtangga putrimu. Apa kamu akan menjabat tangannya dan mengucapkan kata selamat. Sebelum kamu berbicara, posisikan dririmu sebagai Arya. Seorang ayah yang tak pernah bertemu putrinya. Seorang ayah yang takut kehilangan putri kecilnya. Apalagi melihat senyum bahagia putrinya yang menghilang. Tergantikan air mata dan rasa sakit. Bagimu ini sebuah kekhilafan, tapi bagi kak Arya dan kak Iman semua ini pengkhianatan!"


"Maaf!" ujar Wijaya yang jelas merasakan dirinya bersalah.


"Sabrina, aku pernah berada di posisimu. Mencintai pada hati yang salah. Aku melakukan hal yang sama denganmu. Menggapai cinta dengan segala cara, bahkan merendahkan harga diriku sendiri. Sampai akhirnya aku lelah dan meninggalkan hatiku yang hancur tanpa sisa. Aku hanya ingin mengingatkanmu, berhentilah berbuat bodoh. Sebelum kamu hancur dengan menyisakan rasa malu!" tutur Sofia, sembari menepuk pelan pundak Sabrina.


"Kamu sudah berubah Sofia, tidak hanya wajahmu yang cantik. Kini hatimu mulai menampakkan kecantikannya!" batun Wijaya.


"Wijaya, aku masuk lebih dulu. Tubuhku sangat lelah, lain kali kita makan siang bersama!" pamit Sofia sopan, Wijaya mengangguk tanpa banyak bicara.


"Apa kabar Wijaya? Lama tidak bertemu!" sapa Arya ramah, nampak Arya menjulurkan tangannya meminta berjabat tangan dengan Wijaya. Dengan perasaan cemas, Wijaya menerima uluran tangan Arya. Keduanya berjabat tangan sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu.


"Semoga dia tidak mendengar pembicaraanku dengan Sofia!" batin Wijaya.


"Aku baik, terima kasih!" sahut Wijaya, Arya mengangguk lalu menoleh ke arah Sabrina.


"Sabrina Salsabila, CEO muda yang tengah naik daun. Aku harap kita tidak pernah bertemu dalam satu tender. Jika tidak, aku pastikan karir cemerlangmu akan hancur. Aku mampu melakukan apapun? Demi rasa sakit putriku, tapi Embun putriku tidak akan memaafkanku melakukan itu. Jadi lebih baik kamu berhati-hati dalam melangkah. Jangan sampai kamu salah jalan dan akhirnya bertemu denganku!" tutur Arya dingin, sedangkan kedua tangan Arya mengepal sempurna.


"Arya, kamu salah paham!" ujar Wijaya, Arya tak peduli perkataan Wijaya. Tatapannya terus mengunci wajah cantik Sabrina.


"Kak Arya, kita masuk!" ujar Fitri, sembari merangkul tangan Arya. Meminta Arya ikut dengannya masuk ke dalam rumah keluarga Adijaya.


"Kamu salah memilih lawan Sabrina!" bisik Wijaya tepat di samping telinga Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2