KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Amarah Gunawan


__ADS_3

Tiga hari sudah, Arya dirawat di rumah sakit. Hari ini Arya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Via. Meski Arya masih berada di bawah pengawasan dokter Via. Kondisi Arya mulai membaik, tapi pola makan Arya masih harus dijaga. Sebab itu Embun memutuskan untuk membawa Arya pulang ke rumahnya. Embun ingin merawat Arya sampai sembuh. Embun tidak ingin Arya sendirian dalam sakitnya. Gunawan dan Clara tidak akan mungkin merawat Arya.


Pagi ini Embun datang ke rumah Arya. Abra berniat mengantar Embun, tapi ditolak oleh Embun. Sebab Abra ada rapat penting, Embun tidak ingin mengganggu pekerjaan Abra. Akhirnya Embun pergi sendiri ke rumah Arya. Embun hanya ingin mengambil beberapa barang Arya. Tepat pukul 09.00 WIB, Embun sampai di rumah Arya. Nampak beberapa orang tengah mengangkut barang. Embun merasa bingung, saat melihat beberapa barang diangkut. Seolah rumah akan dikosongkan dan tak lagi ditempati. Embun masuk ke dalam rumah Arya. Dia langsung masuk ke dalam kamar Arya. Embun tidak ingin mencari tahu, alasan beberapa barang diangkut keluar.


"Clara!" teriak Gunawan penuh emosi.


Braakkkk


Suara bantingan pintu terdengar sampai di kamar Arya. Gunawan marah tanpa alasan, dia berteriak bak orang kesurupan. Jelas amarah sedang menguasai hati dan pikirannya. Embun tidak berani keluar, dia memilih bersembunyi di kamar Arya. Embun takut terjadi sesuatu. Melihat amarah Gunawan membuatnya takut. Amarah yang seakan ingin membunuh seseorang.


"Clara!" teriak Gunawan kedua kalinya.


Amarahnya semakin tersulut, kala Clara tidak datang menemuinya. Beberapa ART berdiri tak jauh dari Gunawan. Pertama kalinya mereka melihat amarah Gunawan. Sejujurnya pribadi Gunawan tidak buruk. Sekalipun dia tidak pernah marah atau jahat pada orang lain. Namun hasutan Clara membuatnya membenci Embun. Sebagai seorang ayah, tentu saja Gunawan akan membela putrinya. Walau putrinya yang bersalah.


"Ada apa papa? Kenapa berteriak? Aku sedang membereskan barang-barangku!" ujar Clara santai, Gunawan meradang. Nampak raut wajahnya memerah. Tangan Gunawan mengepal manahan amarah yang membuncah dalam dirinya.


"Apa yang kamu lakukan pada Embun? Sampai Arya melakukan semua ini!" ujar Gunawan lantang penuh emosi.


Clara menatap nanar Gunawan, lalu dengan santainya dia meninggalkan Gunawan menuju dapur bersih tak jauh darinya. Clara mengambil minuman dingin. Sikap Clara seakan dia tidak peduli akan pertanyaan Gunawan. Jelas Clara tidak ingin menjawab, bahkan mungkin Clara tidak lagi peduli akan amarah sang ayah.


"Clara, jawab!" teriak Gunawan dengan tangan mengepal.


"Kenapa papa peduli dengan Embun? Apapun yang aku lakukan? Papa tidak perlu tahu dan tidak perlu khawatir. Aku hanya membuat Embun menyadari, jika dia bukan siapa-siapa di depanku?"


"Sekali lagi papa bertanya, apa yang kamu lakukan pada Embun? Sampai Arya bisa melakukan hal sekejam ini pada kita!" ujar Gunawan lantang, Clara tertawa sangat lepas. Suaranya menggema di seluruh rumah. Sebuah tawa yang seakan ingin menunjukkan kebahagian telah melakukan hal gila pada Embun.

__ADS_1


"Aku hampir saja membuat Embun dan bayinya terbunuh. Aku sengaja menghalangi langkah kaki Embun. Agar Embun jatuh tersungkur ke atas tanah. Sayangnya ada sahabat atau lebih tepatnya pengawal setianya. Sehingga Embun tidak terjatuh dan akhirnya selamat. Asal papa tahu, Clara bahagia telah melakukan itu!" ujar Clara dengan penuh kebahagian, tatapannya binar penuh keceriaan.


"Clara!" ujar Gunawan, sembari menarik tubuh Clara menghadapnya.


"Sakit!" teriak Clara, ketika cengkraman tangan Gunawan terasa kuat di lengannya.


Plaakkkk


"Papa menamparku!" ujar Clara tak percaya, tamparan keras pertama yang dia terima dari sang ayah. Clara langsung memegang pipinya yang memerah. Embun tersentak, mendengar suara keras tamparan Gunawan pada Clara.


"Kamu kehilangan akal Clara, kamu hampir saja membunuh Embun. Apa kamu sadar? Embun masih saudaramu, anaknya tak lain keponakanmu. Papa tidak menyangka, kamu begitu bahagia dan bangga dengan sikap tak pantasmu. Seharusnya bukan tamparan yang kamu terima. Jika perlu papa akan membawamu ke kantor polisi. Agar kamu jera dan tidak berbuat nekat lagi!"


"Kenapa papa malah membela Embun? Dia wanita yang membuatku sengsara. Kehadirannya membuatku kehilangan segalanya. Semua yang aku miliki, kini menjadi miliknya. Tak pantaskah aku marah dan membencinya!" ujar Clara lantang, Gunawan menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya, Clara putrinya yang manis. Kini berubah bengis dan tidak bisa dikendalikan lagi. Clara semakin tak mengerti, mana yang baik dan buruk?


"Setidaknya sekarang aku lega, akhirnya aku bisa membalas sakit hatiku. Aku tidak akan menyesal, sebab aku sudah berusaha menyakiti Embun!" ujar Clara santai, tangan Gunawan terangkat. Namun dengan sombong, Clara malah menantang Gunawan. Seolah dia tidak lagi takut akan tamparan Gunawan.


"Kenapa berhenti pa? Tampar aku sepuas papa, amarah papa semakin membuatku membenci Embun. Dia alasan sakit dan dukaku. Aku akan melakukan segala cara agar dia terluka. Aku siap menanggung resiko apapun?" ujar Clara tanpa rasa bersalah.


"Termasuk hidup seperti gelandangan. Apa kamu pikir Arya akan membiarkanmu? Bukan Arya yang akan mencarimu. Tuan Adijaya, bukan orang yang bisa diajak berkompromi!"


"Sudah kukatakan, tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja!"


"Bahkan hidup di rumah yang luasnya hanya tiga kali kamarmu!" ujar Gunawan lirih, Clara langsung menoleh.


"Maksud papa?"

__ADS_1


"Arya sudah memutuskan mengusir kamu dari rumah ini. Bahkan Arya menghentikan aliran dana pada perusahaan papa. Sekarang semuanya berakhir, Arya menghancurkan kita tanpa ampun!" ujar Gunawan lirih, dengan raut wajah lesu. Clara terdiam, dia tidak percaya. Ketika menyadari Arya mampu berbuat sejauh itu.


"Tidak mungkin, om Arya tidak sejahat itu!"


"Apa kamu pikir seorang ayah akan diam? Ketika putrinya hampir saja terbunuh. Bahkan perusahaan Daniel kini mulai goyah. Arya membuat perusahaan itu di ujung tanduk!"


"Papa tahu darimana?"


"Orang tua Daniel menghubungi papa. Mereka ingin bertemu Embun. Berharap Embun bisa membujuk Arya. Bahkan mereka rela meminta maaf demi kebodohan Daniel putranya. Kamu bodoh, jika menganggap Arya akan diam saja. Arya menjadi pemilik saham terbesar perusahaan Daniel. Semua itu hanya cara, agar dia mudah menghancurkannya. Arya siap kehilangan harta, asalkan rasa sakit putrinya terbalas. Papa akan melakukan hal yang sama, seandainya itu terjadi padamu!"


"Om Arya memintaku berhenti dari perusahaan, tapi tidak keluar dari rumah ini!"


"Lihat itu Clara, mereka sedang mengeluarkan semua barangmu. Arya sudah menyiapkan penjara baru untukmu. Rumah kecil di gang sempit!" ujar Gunawan lirih dan lemah. Clara berjalan mundur, dia tidak percaya akan semua yang terjadi.


"Papa lakukan sesuatu, aku tidak ingin hidup sengsara!"


"Minta maaf pada Embun, kalau perlu berlutut demi satu kata maaf darinya!" ujar Gunawan, Clara menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya!"


"Jika begitu, terima hasil dari kebodohanmu!" ujar Gunawan dingin.


"Aku tidak akan berlutut pada Embun!" ujar Clara dengan nada bingung.


"Kenapa papa berbuat sejauh itu? Mungkin ini kasih sayangnya, tapi menghancurkan hidup orang lain demi diriku. Sungguh aku tak pernah mengharapkan itu!" batin Embun tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2