KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Trauma


__ADS_3

Semenjak Embun masuk rumah sakit. Abra mempercayakan semuanya pada Ibra. Abra akan datang ke kantor, ketika dia dibutuhkan. Selebihnya Abra mempercayakan pada Ibra. Sedangkan Ibra merasa gelisah, bukan karena tanggungjawab. Ibra merasa tak berdaya melihat tatapan dingin Nissa. Ibra merasa Nissa sengaja menghindar dari Ibra.


Akhirnya setelah berpikir lama, Ibra memutuskan datang mencari Nissa. Dia akan mengatakan segalanya. Ibra hanya berharap semua kembali seperti dulu. Ada bagian dalam cerita. Ibra mengemudikan mobilnnya menuju rumah Nissa. Namun tepat di depan rumah Nissa langkahnya terhenti. Dia melihat kejadian yang tidak seharusnya.


"Assalammualaikum!" sapaa Nissa lirih.


Plaaakkkk


Braakkkk


"Ibu!" Teriak Nissa histeris, bersamaan dengan tubuh Salwa yang jatuh ke atas tanah.


Tap Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Nissa menggema di rumah. Dengan sekuat tenaga, Nissa berlari menghampiri Salwa. Lelahnya musnah seketika, berganti cemas dan rasa sedih. Keras tamparan sang ayah yang mendarat di pipi ibunya. Bak tusukan tajam belati ke arah hati lunaknya. Sakit yang tertinggal menyisakkan luka yang teramat dalam. Tubuh lemah sang ibu yang jatuh menabrak dinding. Layaknya petir yang menyambar tubuh lemahnya. Tulang belulangnya hancur, tak mampu lagi menopang lelahnya.


"Ibu!" Sapa Nissa dengan air mata yang berderai.


Dengan tangan mungilnya, Nissa menopang tubuh ibu yang melahirkannya. Mendekap erat Salwa yang tak berdaya menerima amukan sang imam dunia akhiratnya.


"Ibu!" Sapa Nissa lagi, Salwa mendongak menatap putri kecilnya.


Sebuah kedipan dari mata indahnya. Menjawab sapaan lembut sang putri. Mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. Meski semua itu hanyalah kepalsuan semata. Sejatinya semua tak pernah baik-baik saja.


"Kamu pantas menerima semua itu!" Ujar Afif emosi, kedua mata Afif mengisyaratkan amarah yang tak biasa.


Sontak Nissa mendongak, menatap tajam sang ayah. Marah dan kesal, dua hal yang kini memenuhi hatinya. Tak ada lagi rasa nyaman yang dirasakan Nissa dari sosok ayah. Kemarahan dan sikap kasar Afif pada Salwa. Nyata meninggalkan rasa trauma yang teramat di hati dan benak Nissa. Tak lagi ada kasih sayang dalam tatapan Afif. Semua berganti dengan kebencian yang tak bertepi.


"Kenapa kamu menatapku? Ibumu pantas mendapatkan tamparan itu. Dia membangkang setiap perkataanku!" Ujar Afif marah, Nissa berdiri menatap tajam Afif.


Dua mata indahnya mengunci wajah ayah yang telah membuatnya kecewa. Nissa menatap lurus tepat ke dalam dua bola mata Afif. Tangannya menggenggam erat gamisnya. Bukan takut menatap sang ayah yang penuh amarah. Sebaliknya Nissa mencoba menenangkan diri dari amarah. Semua demi sang ibu yang tak pernah mengajarkan kebencian dalam dirinya. Afif tetap ayah yang harus dihormatinya. Sejahat atau sekeji apapun Afif, darah yang mengalir dalam dirinya. Nyata darah ayah yang dulu menyayanginya.


"Cukup ayah, jangan terus menyalahkan ibu. Sudah cukup derita yang ibu rasakan. Belum cukupkan diamnya menerima perlakuan ayah. Sampai hati ayah menyiksanya. Seolah air mata dan suara tangisnya, simfoni lagu yang enak di dengar!"


"Diam kamu Nissa, tak pantas kamu bicara seperti itu. Aku ayah yang harus kamu hormati. Apapun keputusanku, itu yang harus kamu patuhi!" Teriak Afif lantang, sembari menatap penuh amarah ke arah Nissa dan Salwa.


"Jika ayah menginginkan rasa hormat dariku. Perlakukan ibu selayaknya istri, bukan budak napsu atau pembantu yang selalu ada saat ayah menginginkannya!" Ujar Nissa tegas, tanpa sedikitpun rasa takut pada Afif.


"Nissa!"


Plaakkkk


"Jaga bicaramu!" Teriak Afif keras, sekeras tamparannya di pipi Nissa.


Seketika Nissa memegang pipinya yang terasa panas. Air matanya menetes semakin deras. Rasa sakitnya bukan hanya karena kerasnya tamparan. Namun kenyataan tak ada lagi kasih sayang dan kehangatan dari ayahnya. Membuatnya terluka begitu dalam, sangat dalam sampai tak mampu lagi Nissa menahan sakitnya.


"Aku tak lagi mengenal ayah!" Ujar Nissa lirih, di sela isak tangisnya. Nissa mundur beberapa langkah.


"Nissa!"

__ADS_1


"Ibu!" Sahut Nissa, seraya menoleh menatap Salwa yang berdiri tak jauh darinya.


"Sayang, jangan pernah bicara seperti itu. Dia ayah yang melindungimu. Sampai kapanpun ayah tetap ayah? Tak pernah berubah, meski sikapnya berubah!" Bisik Salwa tepat di telinga Nissa. Dalam dekapan Salwa, isak tangis Nissa terpendam.


Meski tubuh Salwa sakit, tulangnya lemah tak bertenaga. Dia akan tetap kuat menopang air mata sang putri. Rasa sakitnya tak seberapa, dibanding air mata putri yang lahir dari rahimnya. Dengan sisa tenaga, Salwa menenangkan Nissa yang ketakutan. Kehangatan pelukan ibu, selalu bisa menjadi obat paling mujarab. Senyum palsu Salwa, menjadi obat manis dalam luka Nissa.


"Sampai kapan ibu? Ayah tak pantas lagi dihormati. Amarah ayah, membuatnya tak lagi berhak akan panggilan itu. Tamparan demi tamparan yang ibu terima. Bukti nyata, tak ada kehangatan ditangannya. Ayah menganggap ibu layaknya samsak pelampias amarah. Kegagalannya sebagai imam, menjadi alasan dia menyalahkan ibu. Sampai kapan ibu harus menangis menerima sikap kasarnya? Mungkin air mata ibu takkan mengering, tapi mataku tak mampu lagi melihat matamu menangis!"


"Nissa!" Ujar Fitri lemah, Afif menatap kosong dua wanita dalam hidupnya.


Nissa melepas pelukan Salwa berjalan mundur menjauh dari kedua orang tuanya. Nissa menggeleng tak percaya, melihat kehancuran keluarga kecilnya. Tak ada lagi ada kehangatan, semua hilang menyisakan air mata dan kebencian.


Tak jauh dari Afif, tangan Nissa terangkat sempurna. Menunjuk tepat ke arah dada bidang Afif. Tangan mungil yang lemah, nampak kuat dan tajam. Laksana belati tajam yang menunjuk tepat ke arah jantung Afif. Bersiap menghunus jantung orang yang dirindukannya, sekaligus dibencinya.


"Dia tak pantas lagi menjadi seorang ayah. Aku mampu menahan sakit tamparannya. Aku sanggup menerima tatapan penuh kebenciannya. Aku siap menjadi pelampiasan amarahnya. Namun aku tak lagi sanggup melihat sikap kasarnya padamu. Dia ayah yang aku rindukan dekapannya. Sekaligus ayah yang kubenci dengan amarahnya!"


"Tutup mulutmu!" Sahut Afif dengan amarah yang menggebu.


"Selama ini aku diam, semua demi ibu. Namun pengertian ibu tak ada harganya dihadapanmu. Bukan menyadari arti ibu, ayah semakin kasar. Ayah kejam dan bengis, seolah ibu musuh yang pantas dibantai!"


"Nissa, jaga batasanmu!" Teriak Afif keras, suaranya menggema di seluruh rumah.


"Ayah lupa kebaikan ibu, semua terlupa tanpa bekas. Meski hati ayah menyadari, ibu wanita yang menemani ayah selama ini. Dia wanita yang siap menerima hinaan demi menjaga kehormatanmu. Ibu wanita yang sanggup menerima keras tamparanmu. Hanya demi ketenangan hatimu!"


"Diam!" Bentak Afif, tangannya terangkat siap menampar Nissa.


"Jangan!" Cegah Salwa, sembari menggelengkan kepala. Tangan Salwa menangkup tepat di depan dadanya. Memohon agar Afif tak mengangkat tangannya pada Nissa.


"Ayah berubah!" Ujar Nissa lirih,


"Nissa, putriku!" Ujar Afif, seraya menggenggam erat tangannya. Ada rasa sesal yang tersimpan dalam kepalan tangan Afif. Tatapannya kabur, hanya air mata Nissa yang tampak jelas di hadapannya.


"Mas Afif, dia putri kita yang selalu menyayangimu. Kini tak ada kasih sayang dalam tatapannya. Hanya rasa takut yang mengisi hati dan benaknya. Kala dia menatap wajahmu. Sadarlah mas, sebelum kamu kehilangan segalanya. Kelak kuatmu berganti lemah. Jika bukan pada Nissa, lantas pada siapa kita bergantung?" Tutur Salwa lemah dengan tatapan sayu kedua matanya. Tatapan yang tak lagi tegas, sekadar menatap punggung Nissa yang menjauh.


BRAAAKKK


"Ibu!" teriak Nissa, sesaat setelah tubuh Salwa jatuh menghantam lantai.


"Nissa, ada apa?"


"Kenapa kamu di sini? Apa yang kamu lakukan?" ujar Nissa sinis dan dingin, Ibra tidak menggubris sikap dingin Nissa. Ibra langsung mengangkat tubuh lemah Salwa menuju mobilnya. Afif terlihat ketakutan, dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


"Kenapa kamu diam?"


"Ibumu harus segera ke rumah sakit!" ujar Ibra lantang.


"Ibra aku bisa sendiri!" ujar Nissa, ketika melihat ibunya di bawa ke rumah sakit.


"Masuklah, kita bawa ibumu ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Ibra mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Dia takut terjadi sesuatu pada ibu Nissa. Sedangkan Nissa akhirnya mengikuti saran Ibra dengan membawa ibunya menuju rumah sakit. Kecemasan seorang anak, ketika melihat sang ibu terluka.


"Ibra, terima kasih!"


"Sudah tugasku menjagamu, ketika kak Fahmi tidak ada di sampingmu!" ujar Ibra santai, Nissa langsung menunduk. Dia melihat jelas rasa kasihan, bukan kepedulian akan hubungan lama diantara mereka.


"Aku sadar Ibra, aku bukan pilihan terbaik untukmu. Keluargaku hancur tanpa sisa, meninggalkan rasa sakit dan pedih. Sampai aku takut mengenal sebuah keluarga. Aku tidak percaya, ada keluarga yang harmonis. Semua itu hanya omong kosong!"


"Pantas kamu menghindar dariku, tapi aku percaya. Kelak akan ada masa, kamu menerima rasa yang ada diantara kita. Rasa yang dulu ada, tapi tak nampak oleh mata!" ujar Ibra, Nissa langsung menunduk sempurna.


...☆☆☆☆...


RUMAH SAKIT


"Bagaimana kondisi ibuku?"


"Dia baik-baik saja, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Aku sudah memesan kamar VIP. Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja!" Ujar Dwi ramah dan tenang, Nissa menggeleng lemah.


Dwi menatap heran Nissa, gelengan kepala Nissa nyata membuat Dwi tak percaya. Dwi Anggara Wijaya, dokter muda spesialis saraf. Teman masa kecil Nissa dan saat putih abu-abu. Putra tunggal keluarga Wijaya yang tersohor dan kaya. Teman yang selalu ada di saat-saat tersulit Nissa. Melindungi Nissa dari segala duka. Berusaha menghapus air mata Nissa yang tak pernah diperlihatkan pada siapapun?


"Kenapa?"


"Terima kasih dokter Dwi telah merawat ibuku. Tidak perlu dokter menyiapkan kamar khusus untuk ibu. Sudah terlalu banyak utang budiku pada dokter. Aku takut tak lagi mampu membayar!" Tolak Nissa ramah, Dwi menghela napas. Dia sudah menyadari penolakan Nissa. Tak pernah sekalipun Nissa menerima bantuannya. Selalu saja Nissa menganggap hutang, bantuan yang tulus diberikan olehnya.


"Haruskah ada kata hutang dalam pertemanan kita? Sejak dulu tak pernah aku ingin menghitungnya. Berteman denganmu sudah cukup bagiku. Namun aku selalu merasa ada jarak yang sengaja kamu bangun dalam pertemanan kita!" Sahut Dwi kecewa, Nissa diam menatap nanar Dwi.


"Bukan aku sengaja membuat jarak itu. Namun perbedaan status yang ada. Membuatku sadar akan posisiku. Pertemanan kita tulus, tapi pendapat orang tak selamanya tulus. Biarkan hubungan ini ada dengan batasannya. Agar tak pernah ada hati yang kelak terluka!" Sahut Nissa santai, Dwi diam menatap sendu Nissa.


"Baiklah Nissa, aku akan menempatkan ibumu di kamar biasa. Namun aku harap kamu tidak keberatan. Jika aku sendiri yang akan merawat ibumu!" Pinta Dwi, Nissa mengangguk pelan. Kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya.


"Sekali lagi terima kasih. Aku bersyukur kamu selalu ada, di saat aku terpuruk!" Ujar Nissa, sembari membungkuk pelan. Tanda Nissa sangat berterima kasih pada Dwi.


"Aku akan selalu ada, dengan atau tanpa kamu memintanya!" Sahut Dwi lantang dan tegas. Dwi memutar tubuhnya, berjalan menjauhi Nissa.


"Terima kasih teman!" Gumam Nissa, bersamaan dengan kepergian Dwi.


Bersamaan dengan Dwi yang pergi, Nissa memutar tubuhnya. Berjalan perlahan menuju ruang IGD tempat ibunya terbaring tak berdaya. Langkah gontai Nissa menampakkan hatinya yang galau. Bayangan kehilangan sosok ibu menghantui benaknya. Ketakutan Nissa hidup tanpa seorang ibu. Membuatnya lemah melangkah dalam dunia yang gelap.


"Ibu, bangunlah. Jangan tinggalkan Nissa sendiri. Tubuhku mungkin telah besar, tapi aku masih putri kecilmu. Jangan biarkan aku hidup sendiri. Dunia ini terlalu kejam, aku takut melawan kerasnya hidup. Temani aku, meski kelak aku hanya melihat lemahmu. Itu cukup membuatku kuat. Aku mohon ibu, biarkan aku sekali lagi melihat senyummu. Sinar matamu, cahaya terang dalam langkah gelapku. Dirimu alasan aku bertahan dengan segala lemahku. Sosokmu semangat dan harapanku menggapai impian yang tak mungkin. Dirimu kuat dan lemahku, dirimu semangat dan putus asaku, dirimu tumpuan segala asaku. Jangan tinggalkan aku, jangan pergi meninggalkanku sendiri!" Batin Nissa pilu, kedua tangannya menutup sempurna wajah cantiknya. Membendung air mata yang deras menetes.


"Menangis takkan membuat ibumu tersadar. Bukan lemah yang harus kamu tunjukkan. Kuatlah demi ibumu, buat dia bangga padamu. Jika putrinya mampu menahan luka tanpa air mata!" Ujar Ibra lirih, tangannya menyodorkan sapu tangan putih ke arah Nissa.


Seketika Nissa mendongak, menatap Ibra dengan mata sembabnya. Perlahan Nissa berdiri, berhadapan dengan Ibra bos besar di perusahaannya. Nissa menghapus air mata jernihnya dengan ujung hijabnya. Menolak sapu tangan pemberian Ibra. Nissa melangkah pergi, menjauh dari Ibra. Tanpa kata ataupun menoleh, Nissa mengacuhkan keberadaan Ibra.


"Setuju atau tidak, perkataanku benar adanya. Senyum ibumu akan selalu ada. Hanya saat melihat putrinya bangkit. Bukan terpuruk hanya karena sakitnya!"


"Diam!" Teriak Nissa.


"Kenapa aku harus diam? Kamu takut mendengar kebenaran. Sadarlah, kuatmu yang akan menyembuhkan ibumu. Bukan air mata dan suara ratap hatimu. Bodoh, jika kamu berpikir ibumu akan sembuh hanya dengan air matamu!"

__ADS_1


"Ibra, kamu tidak mengenalku ataupun keluargaku. Jadi tidak ada hakmu menggurui saya. Bagimu air mata ini hanya kebodohan, karena kamu tidak pernah menangis. Kehidupanmu baik-baik saja dan selalu baik!" Sahut Nissa lantang, Ibra tersenyum sinis.


"Kamu salah, air mataku tak menetes bukan karena hidupku yang tidak baik-baik saja. Setiap orang punya cara sendiri menunjukkan lemahnya, sama halnya aku. Kamu benar aku tidak terlalu mengenalmu. Setidaknya aku mencoba membuatmu tenang. Maaf jika aku salah tempat!" Tutur Ibra, lalu melangkah pergi.


__ADS_2