
Seminggu setelah makan malam penuh kehangatan. Iman memutuskan melamar Afifah pada kedua orang tuanya. Embun dan Nur yang bertugas menyiapkan segalanya. Sebelum Iman datang melamar malam ini. Dia sudah bertamu dengan Dewangga. Sekadar meminta restu akan pinangannya. Kebetulan ayah Afifah sudah meninggal. Afifah hanya tinggal bersama ibu dan Via. Sebab itu saat acara lamaran nanti, keluarga Via yang akan menjadi wali dari pernikahan Afifah.
Tepat pukul 19.00 WIB, semua orang sudah bersiap. Arya sudah datang sejak sore. Sebenarnya dia tidak ingin ikut, tapi Iman memaksa. Sebagai seseorang yang pernah menjadi kakak ipar. Iman berharap Arya ikut menjadi saksi kebahagiannya. Iman menyadari alasan Arya menolak ikut.
Sejak makan malam itu, Arya selalu menghindar dan mencari alasan. Saat Iman mengajaknya bertemu dengan Afifah. Bukan Arya tidak ingin bertemu Afifah. Namun jelas Arya ingin menghindar dari Via. Mengubur dalam-dalam rasa kagum yang mulai mengusik harinya. Semua Arya lakukan demi kebahagian dan ketenangan Embun.
"Sayang, kamu sudah siap. Kenapa belum keluar?" ujar Abra menyapa hangat Embun.
Nampak Embun berdiri tepat di jendela kamarnya. Menatap gelap malam yang menyelimuti alam. Embun mencoba mencari cahaya remang dalam hatinya. Sebuah ketenangan akan rasa bahagia yang siap digapai abah Iman. Embun tidak pernah melarang kebahagian Iman. Namun sebagai seseorang yang dekat dengan Iman. Embun merasa layak takut akan kehilangan kasih sayang Iman.
"Sebentar lagi kak, aku masih sedikit pusing. Malam ini begitu penting buat Abah. Aku tidak ingin mengacaukannya. Aku harus kuat, agar acara malam ini berjalan lancar!"
"Sayang, kamu menyembunyikan sesuatu!" ujar Abra, lalu memeluk Embun erat.
"Aku tidak menyembunyikan apapun. Dokter Afifah wanita baik. Dia yang akan menjaga abah dengan penuh kasih sayang. Kesetian dokter Afifah diuji selama puluhan tahun. Dia satu-satunya wanita yang tulus menyayangi abah. Jadi tidak ada alasanku melarang pernikahan ini!" ujar Embun, Abra mengangguk mengerti. Abra mendekap erat Embun, napas Embun jelas terdengar di telinga Abra.
"Sayang!"
"Ada apa kak?" sahut Embun, sembari memeluk erat tubuh Abra. Embun menyandarkan gelisahnya pada tubuh tegap Abra. Mencari ketenangan dalam hangat dekapan suami yang sangat disayanginya.
"Bagaimana dengan hubungan papa Arya dan Via?" ujar Abra lirih, Embun mendongak ke arah Abra. Tangannya terasa semakin erat mendekap Abra. Sebuah jawaban yang sampai saat ini belum bisa ditemukan oleh Embun.
"Kakak menyadarinya!"
"Sayang, papa Arya dan aku seorang laki-laki. Mungkin watak dan pemikiran kami berbeda. Namun hasrat dan tatapan saat menyukai seseorang itu sama. Aku melihat jelas tatapan beda papa Arya pada Via. Namun aku juga merasa, ada keraguan dalam rasanya. Papa Arya merasa semua itu hanya cinta semu dan asa yang tidak mungkin. Papa Arya seolah mencoba mengacuhkan rasa, mengubur dalam hasrat yang mulai mengusik harinya. Setiap kali tatapan mereka bertemu, papa Arya selalu menghindar. Entah kenapa papa Arya merasa ragu? Mungkin semua ini ada hubungannya dengan usia Via yang hampir sama dengan Nur!"
"Kakak mengawasi papa!" ujar Embun lirih, Abra menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebagai seorang putra, aku hanya ingin memastikan papa baik-baik saja. Aku berharap papa mendapatkan kebahagiannya. Sikap dingin papa pada Via, tidak pernah ditunjukkan papa pada Nur. Sebab dalam dingin papa, ada rasa yang berbeda. Sebuah hasrat akan hubungan dua insan dalam ikatan suci. Seorang laki-laki mungkin mudah mencintai, tapi akan sangat sulit bagi mereka melupakan cinta itu. Ketika ada satu nama yang terukir begitu dalam di hati. Keraguan papa mengatakan rasanya. Semua itu membuktikan, papa tidak benar-benar menyukai Via. Ada rasa takut, jika rasanya menjadi jarak yang tak terlihat. Meninggalkan luka tak bernanah di hati papa!" ujar Abra bijak, Embun diam mendengarkan perkataan Abra. Tangannya semakin erat memeluk Abra, seolah Embun tidak ingin jauh dari Abra.
"Sayang, aku tidak akan memintamu merestui hubungan papa dengan Via. Aku pernah berada dalam posisimu. Ketika papa mengenalkan mama Indira sebagai istri keduanya. Aku marah dan cemburu, aku membenci papa Haykal dan memutuskan pergi dari rumah. Hidup mandiri jauh dari keluarga, bahkan kota tempatku dilahirkan. Sikap keras dan egoisku, membuatku kehilangan segalanya. Aku kehilangan kehangatan kasih sayang yang senantiasa ditunjukkan mama Indira. Mungkin satu hal yang berbeda, mama Indira pantas menjadi ibu sambungku. Sedangkan Via mungkin tak serasi bila bersanding dengan papa Arya. Sebab usia mereka yang berbeda lima belas tahun. Namun tanpa kita sadari, ada sebuah suara hati. Suara yang tetap terdengar, meski kita menutup kedua telinga. Suara hati yang akan nampak jelas, meski mata tertutup rapat. Sebuah suara murni dari dalam hati yang tak bernalar dan itu bernama cinta. Sebuah rasa yang hadir, tanpa berpikir akan perbedaan!"
__ADS_1
"Kak, aku tidak melarang papa menikah dengan dokter Via. Selama doktee Via mampu membahagiakan papa. Hanya saja, ada rasa yang mengganjal di hatiku. Mungkinkah mereka bisa satu pemikiran dengan perbedaan usia yang begitu jauh!"
"Sayang, itulah kehebatan cinta. Sebuah rasa yang mengikat tanpa takut perbedaan. Kita hanya berbeda lima tahun, tapi pernahkah tak sepaham? Indah pernikahan itu ada dalam setiap perselisihan kecil. Sebab akan ada sebuah pengertian dalam perdebatan. Sama halnya kamu yang menerimaku tanpa bertanya masa laluku. Sebuah ketulusan yang membuatku menyadari, aku tidak akan bisa jauh darimu. Aku sangat membutuhkanmu, sebab itu aku selalu belajar memahami pemikiranmu dan menerima sikap kerasmu. Itulah Cinta, sesuatu yang nyata terasa. Tanpa bisa kita mengikari, saat cinta itu datang menyapa. Sebaliknya, kita tidak akan sanggup menggenggamnya erat. Jika memang cinta itu ingin pergi!"
"Semoga saja, papa tidak kecewa dengan rasanya!" ujar Embun, Abra mengangguk pelan.
"Artinya kamu mengizinkan papa menikah dengan Via!"
"Sejak awal aku tidak pernah melarang papa menikah dengan dokter Via atau tante Sofia. Hanya saja, aku belum sanggup menerima tangan ibu lain dalam hidupku!"
"Lantas, kenapa kamu mengizinkan abah menikah dengan dokter Sofia!"
"Kak Abra, aku tidak pernah melarang mereka menikah!" ujar Embun kesal, seraya mendorong tubuh Abra.
"Sayang, aku bercanda. Jangan diambil hati!" teriak Abra, Embun berjalan keluar dari kamarnya.
Braakkkk
"Sayang!" ujar Abra sembari mengejar Embun, suara bantingan pintu menjadi jawaban kekesalan Embun.
"Embun, apa yang terjadi?" ujar Arya, Embun diam membisu. Dia menolak menjawab pertanyaan Arya. Embun menoleh ke arah Abra dengan tatapan penuh kekesalan. Arya merasa cemas melihat pertengkaran Abra dan Embun.
"Embun, buka mulutmu!" ujar Nur, Embun menoleh ke arah Nur. Belum sempat Embun membuka mulut, Nur sudah menyuapi Embun dengan satu sendok penuh es krim coklat kesukaan Embun.
"Nur!" teriak Embun kesal, Nur terkekeh melihat amarah Embun.
"Kamu tidak cocok dengan raut wajah itu. Sekarang makan es krim ini, agar hatimu tenang!" ujar Nur santai, lalu memberikan satu kotak es krim kepada Embun.
"Sayang, aku hanya bercanda!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun. Dengan perlahan Embun menepis tangan Abra.
"Nur, kita ikut mobil Ibra!" ujar Embun lantang, Abra langsung menahan tangan Embun. Saat Abra melihat Embun akan menjauh darinya.
__ADS_1
"Marahlah sesukamu, bila perlu jangan maafkan aku. Namun jangan pernah berpikir, untuk menjauh dariku. Apalagi mencari tenang dari orang lain. Cintaku tak pernah mengizinkan itu!" ujar Abra tegas, sembari menggenggam erat tangan Embun.
"Ibra, arti cinta sesungguhnya. Memahami dan mengalah demi penyatuan. Sumpah, kak Abra keren!" ujar Nur lirih, Fahmi menelan ludahnya kasar.
"Nur!" ujar Ibra lirih, tepat di samping Nur.
"Hmmm!" sahut Nur, sembari mendekatkan telinganya. Berharap Ibra berbisik padanya. Agar tidak mengganggu Embun dan Abra.
"Kak Fahmi jauh lebih keren. Lihat dia pergi menjauh, ketika melihatmu dekat denganku. Dia hanya peduli rasa nyamanmu. Tanpa peduli rasa sakit dan kecewanya!" bisik Ibra, Nur menoleh ke arah Fahmi. Nampak Fahmi berjalan menjauh, Fahmi memilih duduk sedikit menjauh dari Nur dan Ibra.
"Kenapa malah membahas pak Fahmi?" sahut Nur kesal, Ibra terkekeh saat melihat kekesalan Nur.
"Kamu benar Nur, persahabatan kita lebih berarti. Daripada rasa cinta tanpa arti. Kini aku menyadari, arti cinta sesungguhnya. Dan rasaku padamu, arti cinta seorang sahabat yang saling membutuhkan tapi bukan untuk bersama!" batin Ibra, sesaat setelah Nur menjauh.
"Kita jadi berangkat atau tidak?" ujar Iman memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi. Embun melepas tangan Abra, lalu berjalan masuk ke dalam mobil Abra.
"Abra, apa semua ini tentang acara malam ini?" ujar Iman.
"Embun hanya salah paham, dia akan tenang setelah amarahnya mereda. Terkadang perselisihan itu layak tercipta. Sebab cinta akan selalu ada menyatukan. Arti cinta yang sesungguhnya!" ujar Abra sopan, Iman mengangguk mengerti.
"Semoga saja itu benar Abra, papa harap perselisihan kalian bukan karena kecemasan Embun akan hubunganku dengan Via. Hubungan yang belum tentu terjalin, meski harap itu pernah ada dalam benak papa. Jika yang kurasakan pada Via itu cinta. Papa berharap, cinta ini hanya ada dalam hati. Tanpa harus bersatu dan menyakiti!" batin Arya.
Tin Tin Tin
"Jadi berangkat tidak!" teriak Embun lantang, setelah membunyikan klakson mobil Abra berkali-kali. Abra langsung berlari, dia masuk ke dalam mobil.
"Kamu semakin cantik saat marah!" ujar Abra mesra.
"Kak Abra, kalian sedang bertengkar. Namun masih bisa merayu, benar-benar pejuang cinta sejati!" ujar Nur lirih, Fahmi dan Ibra saling menoleh.
"Kode keras kak Fahmi!" ujar Ibra, Nur menoleh ke arah Ibra.
__ADS_1
Buuuggghhh
"Diam kamu Ibra!" ujar Nur kesal.