KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Persetujuan


__ADS_3

Malam yang dinantikan Haykal tiba, dia datang ke rumah Kanaya. Dengan tujuan mengatakan seluruh keinginannya. Haykal datang dengan harapan Abra akan menerima pinangannya pada Kanaya. Haykal ingin melanjutkan niat tulusnya. Agar tak ada lagi ketakutan akan kehilangan Kanaya. Entah ini ketulusan atau hasrat semata? Namun satu hal yang pasti, hanya bersama Kanaya kebahagian Haykal terwujud.


Haykal datang sendirian, kedua orang tua Haykal telah tiada. Namun Haykal memiliki sepupu yang tak lain Silvi. Salah satu guru di sekolah Kanaya. Tepat pukul 19.30 WIB, Haykal datang menggunakan mobil sport warna merah. Haykal datang dengan persiapan matang. Nampak satu mobil di belakang Haykal. Mobil yang ditumpangi beberapa saudara, salah satunya Silvi. Haykal menyiapkan beberapa barang yang khusus dipersiapkan untuk Kanaya calon istrinya.


Satu langkah pertama Haykal masuk ke dalam rumah megah Kanaya. Hati Abra berdetak hebat. Jantung Abra seolah ingin melompat dari tempatnya. Ketakutan Abra yang terbayang beberapa tahun ke depan. Nyata terjadi malam ini, saat dirinya benar-benar belum siap kehilangan Kanaya. Namun sebagai seorang ayah dan muslim yang mengerti agama. Abra tak pantas menyesali atau mengeluh, ketika datang lamaran untuk putrinya. Embun memiliki ketakutan yang sama, mengingat Kanaya masih sangat kecil. Namun semua tak dapat dicegah, Haykal berhak memilih dan Kanaya pantas dipilih. Kini hanya waktu yang bisa menjawab. Akan seperti apa hubungan antara mantan guru dan muridnya?


"Duduklah Haykal, papa masih ada di dalam. Sedangkan mama dan Hanna ada di dapur!" sapa Rafan ramah, menyambut kedatangan para tamu. Silvi tersenyum mengangguk, lalu meletakkan seserahan di atas meja.


Rafan menepuk pelan pundak Haykal. Seutas senyum terlihat di wajah Rafan. Haykal tertunduk malu, dia mengerti alasan senyum Rafan untuknya. Rafan memang tak melihat betapa beraninya Haykal mengkhitbah Kanaya di depan semua orang. Namun cerita Aira, sudah mampu meyakinkan Rafan. Jika rasa cinta Haykal, untuk Kanaya itu tulus. Rafan juga mengenal pribadi Haykal dengan baik. Pribadi yang baik dan sederhana, semakin membuat Rafan yakin menyerahkan kebahagian adiknya di tangan Haykal.


"Silahkan duduk, saya permisi ke dalam sebentar!" ujar Rafan lirih, Haykal mengangguk pelan.


Entah kenapa Haykal merasa cemas? Keberaniannya menghilang tanpa sebab. Tak ada sikap tegas, seperti kemarin malam. Kini tinggallah Haykal yang cemas dan gelisah. Nampak beberapa kali Haykal menghela napas. Kedua tangannya saling meremas, menandakan kecemasan dalam hatinya. Silvi yang tanpa sengaja melihat kegelisahan Haykal. Perlahan menepuk tangan Haykal, mengedipkan kedua matanya. Seakan ingin mengatakan semua baik-baik saja.


"Berdoalah, agar semuanya lancar!" bisik Silvi, Haykal menoleh sembari mengangguk pelan.


"Terima kasih!" sahut Haykal lirih, Silvi mengedipkan kedua mata indahnya.

__ADS_1


Tap Tap Tap


Terdengar langkah kaki penuh wibawa. Langkah kaki Abra terdengar mengusik ketenangan Haykal. Malam ini bukan pertama kalinya Haykal datang berkunjung. Namun entah kenapa Haykal merasa asing dengan rumah megah Kanaya? Haykal merasa kecil tak berdaya. Bahkan dinding rumah Kanaya, bak penjara yang siap menghukumnya. Haykal merasa lemah, hati dan benaknya kalut. Seolah tak sanggup menghadapi sesuatu yang akan terjadi.


"Apa kabar Haykal?" sapa Abra lirih dan hangat, Haykal langsung mendongak. Abra mengulurkan tangannya.


Haykal langsung mencium punggung tangan Abra. Sejenak Abra terhenyak kaget, ketika dia melihat Haykal bersikap seramah itu. Namun tak berapa lama, Abra tersadar Haykal bukan lagi rekan kerjanya. Haykal kini datang untuk putri kecilnya Kanaya. Jika boleh jujur, Abra belum siap menerima Haykal ataupun laki-laki lain datang meminang putrinya. Abra benar-benar bingung, apalagi usia Kanaya yang masih sangat muda.


"Baiklah Haykal, katakan tujuanmu datang ke rumahku. Melihat semua yang ada di atas meja. Aku menduga, kamu sudah sangat siap mengkhitabah Kanaya!"


"Om Abra, sebenarnya aku…!" ujar Haykal terhenti, ketika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Nampak Iman dan Arya datang bersama seorang pemuka agama. Abra semakin gelisah, kini semuanya semakin nyata dan serius. Abra benar-benar tak habis pikir. Melihat semuanya terjadi begitu cepat.


Meski Arya tak pernah mempermasalahkan lagi. Apalagi setelah Aira jujur akan rasa yang tersimpan seseorang. Aira berharap agar Arya tak menjodohkan dia dengan siapapun? Sampai dia benar-benar siap membuka hati untuk orang lain. Sebab itu, malam ini Arya datang bersama Iman. Keduanya bukan orang lain bagi Kanaya. Mereka kakek yang sudah seperti orang tua bagi Kanaya.


"Papa, silahkan duduk!" ujar Abra sopan, lalu mencium punggung tangan Arya dan Iman bergantian. Semua orang terdiam membisu, sikap sopan Abra pada ayah Embun. Membuat Haykal dan tamu yang lain tak percaya. Mereka merasa takjub dengan sopan santun yang masih ada di dalam rumah mewah Abra.


"Apa kabar Haykal? Tidak perlu mengingat kejadian semalam. Sekarang yang paling penting, kesungguhanmu pada Kanaya cucuku. Mungkin Kanaya sudah setuju dengan pinanganmu, tapi aku dan Iman belum tentu setuju. Jika Abra pasti setuju, meski jauh di dalam hatinya terasa berat menerimanya!" ujar Arya spontan dan tegas, seketika Abra terdiam. Dia menyadari perkataan Arya benar adanya.

__ADS_1


"Maafkan saya, jika kejujuran saya menjadi alasan ketakutan dan kegelisahan semua orang. Mungkin semua terkesan terburu-buru, tapi percayalah rasa yang ada di hatiku untuk Kanaya tulus. Ketakutan akan jauh dari bayangannya, membuatku berani mengambil keputusan sebesar ini. Kanaya tidak akan menerima rasaku, apalagi menjalin hubungan tanpa status sesuai syariat islam. Hanya dengan pinangan ini, aku berharap Kanaya menerimaku apa adanya?"


"Baiklah Haykal, mungkin kami menganggap kesungguhanmu hanya sikap spontan dan tergesa-gesa. Namun dibalik pemikiran dangkal kami. Ada satu hal yang harus kamu pahami. Kanaya masih sangat kecil, dia belum genap 17 tahun. Banyak waktu yang belum dia habiskan di masa mudanya. Haruskah kamu mengkhitbahnya saat ini? Ketika kamu sendiri menyadari, Kanaya belum siap untuk hubungan apapun. Apalagi sebuah pernikahan yang tentu masih sangat jauh darinya. Setidaknya kamu bisa memikirkan kebaikan Kanaya. Bisakah kamu menundua pinanganmu tiga atau empat tahun ke depan!" ujar Arya lantang dan tegas, Haykal menggeleng lemah. Arya menghela napas, nampak raut wajah kecewa Arya pada Haykal. Iman menepuk pelan tangan Arya, meminta Arya menenangkan diri.


"Tuan Arya, sekali lagi saya meminta maaf. Jangankan tiga atau empat tahun ke depan. Memikirkan besok pagi, Kanaya bukan siapa-siapa dalam hidupku? Jujur tuan Arya, saya tidak sanggup. Rasa ini menyiksaku, kebaikan dan ketulusan Kanaya mengusik ketenangan hidupku. Aku bisa saja menyimpan rasa ini sampai Kanaya siap? Namun berapa besar dosa yang akan aku tanggung, setiap kali aku melihat Kanaya. Hanya terbersit keinginan memiliki dan memeluk Kanaya. Rasa suciku akan ternoda dengan hasrat menggebu dalam hatiku!"


"Jika memang tujuan mengkhitbah Kanaya demi menjauhi zina dan fitnah. Lantas, katakan pada kakek. Apakah kamu akan menikah dengan Kanaya sekarang juga? Sebab mengkhitbah artinya satu langkah menuju pelaminan!" ujar Iman lirih, suara Iman menggetarkan hati Haykal. Suara yang menenangkan, tapi membuat hati Haykal tersentuh.


"Seandainya semua itu mungkin, aku akan menikah dengan Kanaya malam ini juga. Detik ini, aku ingin merubah status sendiriku. Aku ingin memiliki Kanaya lahir dan batin. Bukan hanya demi hasrat semata, melainkan rasa tulus yang tak mampu aku hapus dari hati dan ingatanku. Namun semua harapan itu takkan pernah terjadi. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan Kanaya demi cinta ini. Aku akan membiarkan Kanaya meraih seluruh mimpinya. Semua cita-cita yang pernah ada jauh sebelum mengenalku!"


"Haykal, jika malam ini aku memintamu menikah dengan Kanaya. Sanggupkah kamu menjamin kebahagiannya? Mungkinkah kamu mampu menahan hasrat birahimu, setidaknya sampai Kanaya menyelesaikan sekolahnya!" ujar Iman, Abra menunduk. Seorang ayah yang harus bisa merelakan putrinya menemukan kebahagiannya.


"Saya tidak akan berjanji, tapi dengan sekuat jiwa dan sepenuh hati aku akan membahagiakan Kanaya. Hasrat birahiku mampu aku cegah, tapi rasaku tidak mudah aku tahan. Terima kasih telah percaya padaku, tapi pernikahan diantara kami hanya akan terlaksana. Kala Kanaya menginginkannya!" ujar Haykal lantang dan tegas.


"Haykal, seberapa siap kamu menjadi bagian dari hidup dan dunia Kanaya. Mungkin wajah dan sikapnya membuatmu terkesan. Namun ada sisi keras dan kasar yang tak mudah dikendalikan. Mampukah kamu menerima atau setidaknya mendidik Kanaya?" ujar Abra, Iman dan Arya mengangguk hampir bersamaan. Kedua melihat Abra, seperti melihat mereka sendiri. Kala Abra datang meminang Embun menjadi bagian dari hidup Abra.


"Aku tidak memiliki apapun yang berharga, selain tulus dan keyakinan akan rasa cinta pada Kanaya. Aku memiliki materi, tapi aku yakin Kanaya tidak akan tertarik dengan semua itu. Jangankan hasil keringatku, materi yang diberikan keluarga ini. Tak lantas membuat Kanaya menjadi sosok yang sombong dan angkuh. Sebaliknya aku datang hanya dengan satu janji. Aku akan belajar dan terus belajar memahami Kanaya. Ibarat buku, ada banyak tulisan dalam diri Kanaya yang ingin aku pelajari!"

__ADS_1


"Haykal, bersiaplah menikah dengan Kanaya malam ini!"


__ADS_2