
Jam terus berdetak, berputar seiring berjalannya waktu. Malam mulai menyapa, suara azan isya baru saja terdengar. Mengingatkan semua hamba, untuk sejenak bersujud pada sang pemilik hidup. Mengucap rasa syukur, atas semua nikmat yang diberikan. Menengadahkan tangan, meminta ampun akan semua kesalahan yang pernah dilakukan. Waktu yang tepat, menyerahkan hidup dan mati dalam sujud pada sang pemilik ketetapan.
Sejak sore, Aira memilih berdiam diri di kamar Kanaya. Aira tidak ingin keluar dari kamar Kanaya. Beberapa kali, Kanaya datang menemui Aira. Meminta Aira keluar dari kamar Kanaya, sebab Embun ingin meminta Aira menemui Umi dan Rizal. Namun Aira menolak dengan alasan kurang sehat. Berharap seiring berjalannya waktu, Umi dan Rizal akan pulang dari rumah Embun.
Tok Tok Tok
Suara pintu kamar Kanaya diketuk, berharap sang penghuni kamar membuka pintu. Jam masih menunjukkan pukul 20.00 WIB, malam belum terlalu larut. Sangat tidak mungkin Aira tidur di malam yang masih sangat sore. Tiga kali pintu diketuk, tapi tak sekalipun Aira menyahut atau keluar membukakan pintu. Kanaya yang berdiri sedikit menjauh, berjalan menghampiri. Tanpa mengetuk pintu, Kanaya membuka pintu. Kanaya khawatir terjadi sesuatu pada Aira.
"Assalammualaikum tante Aira!" ujar Kanaya lirih, sembari membuka pintu perlahan. Bahkan suara pintu hampir tak terdengar.
Kanaya berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia menoleh ke sekeliling, tatapan Kanaya berhenti pada satu sudut. Tepat di sisi kanan tempat tidur Kanaya. Terlihat Aira bersandar pada sisi tempat tidur. Aira tertidur dengan mukena yang masih menempel. Wajah cantik nan teduh Aira tak terhalang cadar. Tangan kiri Aira menjadi bantal, sedangkan tangan kanannya memegang tasbih. Jelas Aira tertidur setelah dia sholat dan berdzikir.
"Tante Aira!" panggil Kanaya lirih, tapi tubuh Aira tak bergeming. Kanaya semakin mendekat, terdengar dengkuran halus Aira. Kanaya sangat yakin, Aira sudah tertidur pulas. Meski Aira dibangunkan, dia tidak akan terbangun.
"Kenapa kamu lama sekali? Dimana Aira?" ujar Rizal dingin, Kanaya langsung meletakkan telunjuknya tepat di tengah-tengah bibirnya. Kanaya mengisyaratkan agar Rizal diam, supaya Aira tidak terbangun.
"Asthgfirullahhaladzim!" batin Rizal, seketika Rizal memutar tubuhnya.
Kanaya terkekeh, melihat sang guru terkejut dengan wajah cantik Aira. Rizal terkejut melihat wajah Aira yang tidak memakai cadar. Meski ini bukan pertama kalinya. Namun tetap tidak mudah bagi Rizal, menenangkan hatinya ketika melihat wajah Aira. Rizal merasa dadanya sesak, degub jantungnya begitu cepat. Rizal merasa jantungnya siap meledak. Kanaya terdiam menatap punggung sang guru yang kebingungan dengan gejolak di hatinya.
"Gus Rizal, kita bangunkan tante Aira sekarang!"
__ADS_1
"Entahlah, menurutmu!"
"Kenapa malah bertanya padaku? Gus Rizal yang harus memutuskan!" sahut Kanaya santai, Rizal menghela napas. Kanaya merasa geli melihat sikap canggung Rizal. Jelas memiliki rasa cinta, tapi takut mengatakannya.
"Aku akan tanyakan pada Umi. Aira terlihat kelelahan, sampai dia tertidur masih menggunakan mukena. Aku tidak tega, jika dia harus terbangun. Hanya karena Umi ingin menemuinya!" ujar Rizal, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya menoleh ke arah Aira, nampak jelas Aira tertidur dengan lelapnya. Sampai-sampai Aira tidak merasa sakit. Tidur dengan posisi yang salah.
"Baiklah kalau begitu. Kita keluar dan biarkan tante Aira tidur!" ujar Kanaya, lalu bangun dari posisi duduknya. Rizal mengangguk pelan, berjalan mengikuti Kanaya.
Wuuuusshh
Rizal langsung menoleh, ketika dia merasakan angin berhembus begitu kencang. Rizal menoleh ke arah pintu kamar yang menuju ke balkon. Sontak Rizal berjalan perlahan menuju balkon. Rizal berjalan melewati Aira yang tengah tertidur. Aira terlihat tidur dengan posisi kepala yang menyandar di sisi tempat tidur. Rizal menutup pintu balkon, dia tidak ingin Aira kedinginan. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Aira.
"Ya Rabb, hamba telah melakukan kesalahan besar. Dua mata yang Engkau titipkan, kini telah aku gunakan menatap wajah cantiknya. Hati yang Engkau letakkan di dekat jantungku. Tak pernah berhenti memanggil namanya. Kini tubuh ini, tak ingin jauh darinya. Ya Rabb, ampuni kesalahan hamba. Namun setidaknya malam ini, pertama kalinya dan mungkin terakhir hamba menganggumi wajahnya. Jika dosa ini terlalu besar, izinkan hamba menjadikan dia makmum dunia akhiratku. Agar dosa ini menjadi jalan pahala untukku!" batin Rizal, sembari menatap wajah cantik Aira. Rizal duduk berjongkok tepat di depan Aira. Bahkan Rizal mampu merasakan hembusan napas Aira.
Rizal langsung berjalan menjauh, dia merasa malu dengan sikapnya. Sedangkan Aira tetap dalam kondisi tertidur. Sedikitpun Aira tidak terusik dengan kedatangan Rizal. Namun seolah Aira merasakan kehadiran Rizal di depannya. Rizal berjalan keluar dari kamar Kanaya. Meninggalkan Aira yang tengah tertidur pulas.
"Sampai kapan kamu menahan rasa itu? Ingat Rizal, kesempatan tidak datang dua kali. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Jika dulu Umi menolak rasamu, karena Aira masih sangat muda. Kenapa sekarang kamu tidak memperjuangkan Aira di depan Umi? Tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi mencoba berjuang demi sebuah kesempurnaan itu mungkin. Katakan dengan lantang pada Umi, jika kamu tidak bisa jauh dari Aira. Khitbah adikku di depan ayah kandungku, sebelum ada imam lain yang mengkhitbahnya. Baru saja kamu mendengar sendiri. Betapa Aira mengingatmu dalam tidurnya? Aira bisa merasakan hadirmu, meski kedua matanya tertutup. Terakhir kali aku mengatakan padamu, malam ini atau tidak sama sekali. Sebab Aira akan pergi dalam tiga hari!" tutur Embun panjang lebar, mengagetkan Rizal.
"Kemana?"
"Entahlah? Aku sendiri tidak mengetahuinya. Aira berencana meninggalkan negara ini!" ujar Embun lirih, Rizal menoleh seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa jauh darinya!" ujar Rizal, lalu berlari menuruni tangga. Embun tersenyum bahagia, melihat Rizal mulai berani mengatakan isi hatinya.
"Kalian saling mencintai, sudah seharusnya kalian bersama!" batin Embun bahagia, lalu mengikuti langkah kaki Rizal.
Rizal berlari menuju ruang tengah, tempat dimana Umi dan anggota keluarga Embun berkumpul? Rizal tiba dengan napas memburu. Meski tangga tidak terlalu tinggi, tapi Rizal terlihat kelelahan berlari menuruni tangga. Bahkan Kanaya sempat terkekeh, melihat Rizal datang dengan napas yang memburu.
"Maafkan Rizal Umi, sekali lagi Rizal menolak jodoh yang Umi siapkan. Rizal tidak bisa membuka hati untuk orang lain. Rizal hanya mencintai satu nama, Khumaira Nabila Ikhsani. Rizal tidak bisa mencintai wanita lain!" ujar Rizal lantang dan tegas, semua orang terbelalak. Tidak terkecuali Umi yang tak percaya. Jika cinta Rizal untuk Aira masih tetap ada.
"Assalammualaikum!" sapa Arya dan Fitri ramah.
"Waalaikumsalam!" sahut semua orang serentak. Rizal menoleh ke arah Arya, dia berjalan cepat menghampiri Arya. Dengan perlahan Rizal menarik tangan Arya. Lalu dengan penuh rasa hormat, Rizal mencium punggung tangan Arya. Embun tersenyum bahagia, melihat Rizal mulai berjuang demi cintanya.
"Tuan Arya, maaf jika saya tidak sopan dan tanpa persiapan. Namun percayalah, hati dan jiwa saya siap dengan semua perasaan ini. Malam ini, dengan hati dan kepala menunduk. Saya ingin mengkhitabah putri anda, Khumaira Nabila Ikhsani menjadi calon istri saya!" ujar Rizal, sembari mencium punggung tangan Arya. Sontak Arya dan Fitri terkejut, Arya menarik tubuh Rizal.
"Gus Rizal, anda sedang bercanda!"
"Maafkan saya, jika saya tak sebenarnya tak pantas mendampingi putri anda. Namun rasa ini tak mampu lagi mengalah. Sudah lama hati ini terluka menahan rasa cinta ini. Malam ini, dengan segala resiko yang mungkin terjadi. Aku ingin mengkhitbah Aira dengan bismillahirohmannirrohim"
"Gus Rizal, aku tidak pernah berpikir anda tidak sempurna. Namun menerima pinanganmu, tanpa bertanya pada Aira. Akan membuatku merasa bersalah!" sahut Arya, Rizal mengangguk mengiyakan. Rizal menunduk lesu, dia merasa gagal mendapatkan hati Arya.
"Dengan mengucap bismillahirohmannirrohim, Aira siap menjadi calon istri beliau!" ujar Aira lantang, tepat di anak tangga terakhir.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" ujar Rizal lirih.