
Malam semakin gelap, suara hewan malam bak simfoni lagu yang indah terdengar telinga. Hampir lima belas menit lebih, mobil iring-iringan Iman membelah jalanan kota. Tepat pukul 20.00 WIB, rombongan tiba di rumah Afifah. Sebuah rumah sederhana, jika dibandingkan dengan rumah keluarga Embun. Namun tata letak dan arsiktertur bangunan yang indah. Membuat rumah nampak mewah dan megah. Halaman yang penuh dengan tanaman bunga dan beberapa pohon yang mulai berbuah. Semakin menambahkan keasrian rumah Afifah.
"Selamat datang, silahkan masuk!" sapa Hadi, kakak sepupu Afifah yang tak lain ayah dari Via.
"Assalammualaikum!" ujar semua orang kompak, bersamaan dengan langkah kaki pertama mereka masuk ke dalam rumah Afifah.
"Waalaikumsalam!" terdengar sahutan dari dalam rumah Afifah.
Iman dan rombongan masuk ke dalam rumah. Nampak karpet terbentang lebar, sebagai alas para tamu duduk. Embun dan Nur membawa hadiah lamaran untuk Afifah. Dua putri yang sangat dekat dengan Iman. Setelah semua orang duduk, nampak Via masuk memanggil Afifah. Iman terus menunduk, perasaannya gelisah tak berarah. Seakan ini pertama kalinya dia datang melamar Afifah.
"Assalammualaikum!" ujar Afifah lirih, Iman mendongak dengan tatapan tak percaya. Afifah bak seorang putri. Afifah terlihat cantik dengan gamis berwarna silver. Iman menatap Afifah tanpa mengedipkan kedua matanya.
"Waalaikumsalam!" sahut Embun dan yang lain bersamaan. Iman langsung tersentak kaget, lamunannya berakhir mendengar sahutan Embun dan yang lainnya. Iman tertunduk malu, saat menyadari dirinya terkesima dengan penampilan Afifah.
Acara akhirnya dimulai, Arya mewakili Iman mengutarakan niatnya. Dewangga tidak bisa hadir, mengingat kondisinya yang mulai sakit-sakitan. Hanya Arya yang mampu menjadi wali, sekaligus adik yang pantas mewakilinya. Niat sudah terucap dan diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Afifah. Iman mengucap syukur dalam hati. Saat semua acara berjalan dengan sangat lancar.
"Silahkan menyantap hidangan yang disediakan. Maaf jika hidangannya ala kadarnya!" ujar Hadi, Iman mengangguk memahami maksud baik Hadi.
Semua orang mengambil makanan yang sudah disediakan. Entah kenapa Iman dan Arya kompak tidak mengambil makanan? Keduanya merasa kenyang, setelah terlepas dari ketegangaan acara lamaran. Arya takut melakukan kesalahan, sedangkan Iman takut menerima penolakan. Meski semua itu hanya rasa takut tanpa alasan.
"Silahkan, ini ada kue basah!" ujar Via menyodorkan beberapa macam kue basah.
Iman seketika menoleh ke arah Arya yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya. Namun Arya tak menggubris isyarat dari Iman. Arya tetap fokus pada ponsel yang ada di tangannya. Sedangkan Via langsung berdiri begitu selesai meletakkan piring berisi kue basah di depan Iman.
"Via!" ujar Iman ramah, Via langsung menoleh bersamaan dengan Arya yang mendongak. Tatapan keduanya bertemu di udara. Sebuah tatapan penuh tanya dan hanya mereka mengetahui jawabannya.
"Terima kasih!" ujar Iman, Via mengangguk pelan. Arya terdiam menatap Via, ada rasa aneh yang mulai menelisik hatinya.
"Kenapa kamu tidak menyapanya? Saat pertama kali kamu melihatnya. Kamu langsung melamarnya. Sekarang kita ada di rumahnya, kenapa tidak melamarnya sekarang?"
"Ada banyak hal yang takkan sesuai dengan harapan. Aku tidak ingin memaksakan sesuatu, apalagi tentang hubunganku dengan dia!" sahut Arya lirih, lalu fokus pada ponselnya.
__ADS_1
"Papa!" ujar Embun, lalu duduk diantara Arya dan Iman.
"Kamu masih marah pada Abra?" ujar Arya, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu, kenapa kamu menghampiri kami?" ujar Iman santai, Embun mendongak menatap Iman.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa aku sudah tidak boleh dekat dengan papa dan abah?" ujar Embun lirih, Iman tersenyum melihat suara Embun.
"Sampai kapanpun? Tidak ada yang berhak menghalangi kamu menghampiri kami. Jangan pernah berpikir seperti itu. Kamu segalanya bagi kami!" ujar Iman, Embun mengangguk mengerti.
"Papa!"
"Iya sayang!" sahut Arya lirih, nampak Embun menatap Via yang terus melayani para tamu undangan.
"Kenapa bersikap dingin pada dokter Via?" sahut Embun lirih, Iman dan Arya saling pandang. Mereka merasa heran mendengar perkataan Embun.
"Siapa yang mengatakan papa dingin pada dokter Via?"
"Sayang, sejak tadi papa sibuk. Besok pagi, papa harus ke liar kota. Setidaknya selama seminggu ke depan. Papa akan jauh darimu!" ujar Arya menjelaskan.
"Dokter Via menghampiri papa dengan penuh hangat. Jelas dia khawatir melihat papa dan abah tidak makan malam. Mungkin bagi kalian para laki-laki, sepiring kue basah ini biasa saja tanpa makna. Namun bagi kami para perempuan, ini begitu berharga. Sebab datang pada papa dan abah. Membutuhkan jiwa besar dan harga diri yang tinggi. Sebab ada rasa yang membuat semuanya terlihat berbeda!"
"Maksudmu apa sayang?"
"Dokter Via datang menunjukkan kepeduliannya pada papa dan abah. Meski jelas papa pernah menyatakan rasa padanya. Seorang perempuan akan malu menghampiri laki-laki yang pernah menyatakan cinta. Sebab mereka tidak ingin dianggap sedang mengejar cinta papa!" sahut Abra, Iman dan Abra mengangguk mengerti. Meski otak mereka belum sepenuhnya memahami perkataan Abra dan Embun.
"Sudahlah, intinya papa sejak tadi bersikap biasa-biasa saja!" ujar Arya final, Embun menyandarkan kepalanya pada lengan Arya.
"Sayang, kamu belum makan!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Abah!" bisik Embun, Iman mendekatkan telinganya ke arah Embun.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tadi di halaman dokter Afifah ada pohon mangga. Ada beberapa buah mangga muda yang nampak begitu pendek. Jika mungkin, bisakah abah membantuku meminta satu atau dua buah mangga muda pada dokter Afifah!" bisik Embun, sontak Arya, Iman dan Abra terhenyak kaget.
"Sayang, kamu belum makan!" ujar Abra, Embun langsung menunduk. Sesekali nampak Embun mengelus perutnya yang terasa kembung.
"Embun, jangan bersikap seperti anak kecil. Ini sudah malam dan kamu belum makan. Abah tidak keberatan meminta buah mangga. Abah hanya takut kamu sakit!"
"Abahmu benar, kecuali kamu makan terlebih dulu!" ujar Arya, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Ujung-ujungnya kita pasti kalah!" ujar Abra dingin, Embun diam tidak peduli kekesalan Abra.
"Embun, ini aku bawakan segelas susu dan air putih hangat!" ujar Via, Embun langsung terjaga. Dia melihat Via sudah ada di dekatnya.
"Dokter Via, kenapa harus repot-repot?"
"Minumlah air hangat ini, agar kembungmu hilang. Setelah itu minum susu ibu hamil ini. Agar staminamu tetap terjaga!" ujar Via ramah, seraya menyodorkan minuman ke arah Embun. Dalam sekali teguk, air putih hangat habis diminum oleh Embun. Lalu dilanjutkan dengan meminum segelas susu hangat buatan Via.
"Terima kasih dokter Via!" ujar Embun, Via mengangguk pelan.
"Jaga kesehatanmu, demi janin yang ada di rahimmu!" ujar Via, Embun menatap heran.
"Tante Afifah yang mengatakannya. Jadi tidak perlu merasa heran!" ujar Via, Embun langsung mengangguk mengiyakan.
"Dia terlihat begitu hangat!" batin Embun.
"Via!" sapa Iman, Via memutar tubuhnya 180° menatap lurus ke arah Iman.
"Embun ingin buah mangga muda yang ada di halaman depan!" ujar Iman, Via mengangguk pelan.
"Tunggulah sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu!" ujar Via hangat, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1