
"Abra!"
"Papa!" sahut Abra tak percaya, melihat Haykal datang ke rumahnya.
Hampir dua bulan lebih Abra tinggal jauh dari kediaman Abimata. Hari ini pertama kalinya Haykal datang menyapa Abra. Sejak Abra menikah dengan Emhun. Haykal seolah menjauh dan menjaga jarak dengan Embun. Haykal hanya akan menemui Abra di kantor atau janjian bertemu di luar. Namun malam ini, Haykal datang tanpa paksaan. Seakan langkah kakinya terasa ringan berjalan menuju rumah Abra.
"Papa mengganggumu!" ujar Haykal lirih, Abra menggelengkan kepalanya. Abra berjalan menghampiri Haykal, lalu mengajak Haykal masuk ke dalam rumahnya.
"Malam ini ada acara makan bersama. Dokter Afifah teman abah yang khusus memasak. Tadi aku sudah menghubungi Ibra dan mama Indira, agar bisa datang ikut makan malam bersama. Ternyata papa sudah datang, tidak perlu lagi Abra meminta mama Indira mengajak papa!"
"Abra, papa datang untuk masalah yang lain!"
"Masalah apapun itu? Kita bicarakan setelah makan malam!"
"Lebih baik papa pulang, besok saja papa datang kembali!" ujar Haykal, Abra langsung menahan tangan Haykal. Abra jelas mengetahui alasan kedatangan Haykal. Lagi dan lagi harga diri serta keangkuhan Haykal yang membuatnya malu untuk sekadar meminta tolong.
"Papa, ini rumah putramu bukan orang lain. Sekali saja makan dari putramu, tidak akan membuat harga diri papa hilang. Abra akan bicara dengan papa, setelah makan malam. Setidaknya malam ini, biarkan semua rasa tidak suka hilang. Kita duduk bersama di meja yang sama. Saling menghangatkan dan meleburkan rasa benci!"
"Tapi!" ujar Haykal ragu, Abra menangkupkan kedua tangannya. Abra menghiba pada ayah yang begitu dihormatinya.
"Masuk saja Haykal, tidak ada yang akan mencelakaimu. Setidaknya penuhi satu keinginan Abra. Dia putramu bukan musuhmu!" ujar Arya, Haykal menoleh ke arah Arya. Nampak Arya berjalan menghampiri Abra dan Haykal.
"Kamu juga datang!"
"Aku tidak akan melewatkan malam ini. Sejak lama aku merindukan putriku. Sangat bodoh, jika aku menolak undangan penuh kehangatan ini. Kamu mungkin sanggup menolak permintaan kecil Abra. Sebab selama ini dia selalu ada di sampingmu. Kelak saat kamu jauh darinya, kamu akan menyesal telah menolak permintaannya malam ini!" tutur Arya, Haykal terdiam membisu.
"Iman sudah datang!"
"Abah sedang sholat, dokter Afifah dan Embun sedang memasak. Sedangkan Nur masih dalam perjalanan. Dia diminta dokter Afifah membeli sesuatu!"
"Baiklah, papa masuk!" ujar Arya, Abra mengangguk mengiyakan.
"Arya, jangan tinggalkan aku!"
"Dasar lambat!" sahut Arya dingin pada Sofia.
"Ingat Sofia, jaga sikapmu di dalam. Jangan sampai kamu membuat kegaduhan. Walau di dalam ada kakakmu, percayalah aku tidak akan segan-segan buat perhitungan denganmu. Jika seandainya kamu mengatakan yang tidak-tidak!"
"Iya aku tahu!" ujar Sofia lirih, Abra melihat ke arah Sofia. Dia merasa heran, kenapa Arya malah membawa Sofia. Jelas Sofia selalu membuat onar. Namun Abra tidak bisa melarang Sofia masuk. Sebagai tuan rumah yang baik, Abra akan mempersilahkan tamunya masuk tanpa banyak bertanya.
"Kamu sudah datang!"
__ADS_1
"Hmmm!" sahut Arya, Iman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Iman merasa heran, saat melihat Sofia berjalan di belakang Arya.
"Kenapa dia ikut?"
"Kamu tahu sendiri adikmu, dia itu keras kepala. Sejak siang, dia ada di kantorku. Meski aku mengacuhkannya, dia tetap setia menungguku. Finalnya, saat aku akan datang kemari. Sofia menangis seperti anak kecil. Dia memaksa ikut, aku sampai pusing dibuatnya!"
"Salahmu sendiri memilih dia sebagai pasangan!" sahut Iman, Arya mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah, sampai kapan aku harus terikat dengannya?"
"Semoga sukses!" goda Iman, lalu meninggalkan Arya begitu saja.
Waktu terus berputar, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Semua makanan sudah dihidangkan, hampir seluruh undangan juga sudah hadir. Nampak Haykal duduk tepat di sebelah Indira. Abra berhasil membujuk Haykal makan malam bersama mereka. Indira datang bersama Ibra, meski sempat terkejut melihat Haykal. Namun Indira merasa bahagia, akhirnya Haykal ada diantara kebahagian Abra.
"Abra, dimana Embun?" ujar Iman, Abra menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Sebentar lagi, kepalanya masih terasa sakit!"
"Baiklah, kita makan saja dulu. Embun akan menyusul, kalau kita menunggu bumil. Kita akan kelaparan, maklum bumil tidak bisa ditebak jam makannya!" sahut Arya, Iman mengangguk setuju, semua orang langsung makan malam tanpa Embun.
Semua makan dengan begitu lahapnya. Masakan Afifah memang terasa nikmat. Arya dan Iman layaknya orang kelaparan. Keduanya merasa rindu akan makanan buatan rumah. Haykal makan dengan begitu pelan, kehangatan yang nampak di depan kedua matanya. Membuat Haykal merasa aneh, sebuah rasa yang dirinya sendiri tidak bisa memahaminya.
"Abra, kamu tidak makan!" ujar Indira, Abra diam membisu.
"Dokter Afifah!" ujar Abra lirih, ada keraguan Abra mengambil piring dari Afifah.
"Pergilah Abra, kami pernah muda. Jelas kami tahu isi hatimu. Makanlah bersama Embun, kami bisa menjaga diri!" sahut Arya, Iman mengacungkan jempol ke udara. Tanda Iman setuju dengan pemikiran Abra.
"Bukankah sebagai tuan rumah, Embun harus menghargai tamunya!" ujar Sofia sinis, Haykal mengangguk setuju dengan Sofia. Sontak saja Indira menyenggol lengan Haykal. Isyarat Indira tidak suka dengan sikap Haykal.
"Kamu tamu tak diundang, jadi Embun tidak perlu bersikap ramah padamu. Satu hal lagi Sofia, Embun sedang hamil dan kondisi belum stabil. Seharusnya sebagai seorang tante, kamu bisa memahami itu. Bukannya mendoakan kesembuhan keponakan dan calon cucumu. Malah kamu sibuk dengan perasaanmu!" ujar Afifah tegas, Arya dan Iman langsung tersenyum. Sofia nampak meradang, raut wajahnya memerah.
"Diam kamu Afifah, apa hakmu mengguruiku? Lagipula kamu siapanya Embun? Sampai kamu membelanya seperti itu!"
"Dia calon istriku, artinya dia ibu sambung Embun!" sahut Iman lantang.
"Sampai kapanpun aku tidak setuju?"
"Sampai kapanpun juga aku tidak butuh persetujuanmu?" sahut Iman lantang dan tegas.
"Sofia, jaga sikapmu. Ingat perkataanku tadi!" ujar Arya dingin, Sofia langsung duduk. Dia begitu takut dengan ancaman Arya.
__ADS_1
"Indira, maaf kamu harus melihat perdebatan ini!" ujar Iman.
"Tidak masalah, lagipula kita satu keluarga!" sahut Indira ramah, Iman mengangguk mengiyakan.
"Ibra, Haykal ada di sini. Kamu tidak ingin mengatakannya sekarang. Apalagi Nur juga ada di sini!" ujar Arya santai, Ibra langsung mendongak. Sebaliknya Nur menunduk malu. Dia tidak menyangka Arya akan mengatakan hal itu.
"Apa yang ingin kamu katakan pada papa? Kenapa ada hubungannya dengan wanita desa ini?"
"Papa, dia Nur sahabat Embun!"
"Lantas, apa itu membuatnya statusnya berubah? Dia tetap wanita desa!" ujar Haykal sinis, Nur semakin menunduk. Dia merasa malu, sekaligus sakit hati. Seandainya Nur lupa akan sopan santun. Mungkin sejak tadi dia sudah melawan.
"Haykal, kamu belum melihat permata dalam diri wanita desa ini. Pribadi yang akan membuat putramu dekat atau bahkan menjauh darimu!" ujar Afifah, sembari menepuk pelan tangan Nur.
"Wanita desa, tetap wanita desa tak berpendidikan!" ujar Haykal, Ibra langsung berdiri. Dia jelas marah pada sikap Haykal.
"Papa, dia wanita pilihan Ibra. Jangan pernah menghinanya atau!"
"Atau apa Ibra? Jawab papa!" tantang Haykal, Ibra diam menatap lekat wajah Haykal.
"Atau Nur akan membuat perusahaanmu gulung tikar!" sahut Embun lirih, Nur mendongak lalu menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu!"
"Mega proyek yang sedang anda kerjakan. Menurut anda, siapa arsitek yang membuat cetak birunya? Orang yang sedang anda cari saat ini!"
"Jelas bukan dia!" ujar Haykal lantang, Embun tersenyum sinis.
"Sayangnya, dia arsitek yang anda cari. Mega proyek itu kami yang membuat cetak birunya. Bukankah anda sedang mencari kami. Berharap kami membuat cetak biru yang baru. Sebab proyek itu terancam gagal, jika terus memaksa dengan cetak biru yang pertama!"
"Tidak mungkin!"
"Sayangnya semua itu benar Haykal. Nur arsitek yang ditunjuk oleh Adiputra Gruop. Dia mutiara desa yang kamu hina. Namun menyimpan kilau yang akan membuat dua matamu silau!" ujar Iman.
"Embun, tidak perlu berdebat!" ujar Nur lirih.
"Aku tidak berdebat, beliau harus tahu fakta sebenarnya. Jika kita memang wanita desa, tapi hidup sederhana bukan sebuah jalan hidup. Namun pilihan yang kita ambil, demi menjaga kehormatan seorang wanita. Bukan mengumbar aurat yang nyata mengenyangkan mata lapar para lelaki hidung belang!" ujar Embun dingin.
"Kamu menyindirku!"
"Maaf jika anda tersindir!" sahut Embun santai.
__ADS_1
"Iman, itu baru putriku. Dia mampu menutup mulut orang-orang berhati picik!" ujar Arya bangga.