
"Kanaya, lama tidak bertemu!"
Deg
"Kak Haykal!" sahut Kanaya lirih, sesaat setelah Kanaya memutar tubuhnya.
Detak jantung Kanaya terhenti, suara Haykal nyata terdengar bak sebuah petir. Kanaya tak pernah menyangka, jauh dalam hatinya masih ada nama Haykal. Meski semua itu nyata salah dan tak pantas lagi. Kanaya bingung, pertemanan yang dia tawarkan pada Haykal. Nyata tak pernah dan takkan mampu diberikan. Takkan ada ketulusan dari hubungan itu. Menjauh menjadi cara Kanaya melupakan Haykal. Namun takdir berkata lain, pertemuan itu terjadi. Di tempat dan waktu yang tak pernah dia sangka.
Di sinilah Kanaya berdiri, sebuah rumah sakit besar di kotanya. Kanaya datang untuk memeriksakan kondisinya. Namun entah Haykal, apa yang tengah dia lakukan di rumah sakit? Setelah pernikahan Kanaya, Haykal menghilang tanpa jejak. Tak ada suara atau beritanya. Kanaya hampir lupa suara Haykal, tapi jantung Kanaya tetap berdetak hebat. Tatkala suara Haykal terdengar, suara yang mungkin dirindukannya. Namun tak lagi pantas dan berhak dirindukannya.
"Kenapa kamu terkejut? Aku memang Haykal, laki-laki bodoh yang melepaskanmu begitu saja!" ujar Haykal dengan senyum simpulnya. Senyum yang menggoda Kanaya, seakan Haykal bahagia melihat keterkejutab Kanaya. Sebaliknya Kanaya hanya bisa terpaku, menatap Haykal yang pernah ada dalam hidupnya.
"Kak Haykal, jangan berkata seperti itu. Semua telah terjadi, kita sudah menemukan jalan masing-masing!"
"Kamu benar Kanaya, semua sudah terjadi. Bahkan setelah perpisahan ini, aku baru mendengarmu memanggil namaku. Jujur Kanaya, aku bahagia akhirnya kamu memanggilku!" ujar Haykal, Kanaya menunduk terdiam. Haykal melihat jelas rasa canggung Kanaya. Haykal merasa sakit, ketika Kanaya seakan menjaga jarak dengannya. Meski sikap Kanaya memang benar dan pantas.
"Kak Haykal, sedang apa di rumah sakit? Siapa yang sakit?" ujar Kanaya terbata-bata. Kanaya mencoba mencairkan suasana. Kanaya memecah kesunyian yang tiba-tiba tercipta. Haykal menghela napas, tatkala dia mendengar perkataan Kanaya. Sebuah pertanyaan yang membuatnya takut dan bingung menjawabnya.
"Kanaya!"
"Hmmm!" sahut Kanaya santai, Haykal langsung menoleh ke arah Kanaya. Kedua mata Kanaya menghipnotis Haykal. Menghentikan aliran darahnya, Haykal tak mampu menahan gejolak di hatinya. Tangannya bergetar, hendak menyentuh wajah Kanaya. Namun semua terhenti di udara, ketika Haykal melihat Kanaya berjalan mundur dan menghindar dari sentuhannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, sampai detik ini aku tidak bisa melupakanmu!" ujar Haykal, Kanaya menunduk. Ada rasa canggung, saat mendengar kejujuran Haykal. Kanaya merasa salah dengan pertemuan mereka.
"Diammu Kanaya, diam yang semakin membuatku percaya. Jika asa diantara kita benar-benar pupus. Tak lagi pantas aku berharap, kamu akan ada di sisa umurku. Kanaya, kamu selalu ada di hatiku. Namun semua tak lagi pantas. Tatkala aku menyadari, ada dia di sampingmu dan ada Fahira di sampingku. Fahira ibu dari anak-anakku, wanita yang mencintaiku dan tak pantas aku sakiti. Kanaya, namamu ada dalam hatiku. Namun asa bersamamu, tak lagi ada dalam benak dan hidupku. Sejak aku melihatnya menggenggam tanganmu. Sejak saat itu, aku belajar melupakanmu dan menerima Fahira sebagai istriku. Meski cintaku tak sepenuhnya untuk Fahira. Namun kesetiaanku hanya akan ada untuknya!" batin Haykal, sembari sesekali menoleh ke arah Kanaya yang tertunduk.
"Kanaya, ini hasil laboratorium milikmu!" ujar Rafan, sembari menyodorkan sebuah amplop kecil ke arah Kanaya.
"Haykal!" sapa Rafan, tatkala melihat Haykal ada di samping Kanaya. Haykal mengedipkan kedua matanya. Rafan memeluk Haykal, dua sahabat yang selalu bersama dalam suka dan duka.
"Apa kabar Haykal? Selamat Haykal, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah!" ujar Rafan, sesaat setelah melepaskan pelukannya. Kanaya mendongak, ada tatapan tak percaya. Sebuah berita yang mengusik ketenangan hatinya. Sebuah kabar gembira yang meninggalkan rasa ngilu di dalam hatinya.
"Kamu mengetahuinya!" ujar Haykal heran, Rafan mengeryitkan dahinya. Seakan perkataan Haykal tidak masuk akal. Sedangkan Kanaya hanya bisa diam membisu. Tak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya. Sekadar ucapan selamat atas kebagian Haykal, tapi nyata Kanaya tak mampu mengatakannya.
"Kamu lupa kalau aku dokter!" sahut Rafan santai, Haykal mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih!" sahut Haykal, Rafan tersenyum bahagia melihat hubungan baik antara Haykal dan Kanaya.
"Oh iya Haykal, sepuluh menit lagi operasi Fahira. Lebih baik kamu pergi ke sana. Fahira pasti butuh dukunganmu!" ujar Rafan, Haykal mengangguk. Kanaya menunduk, bukan sedih akan berita bahagia Haykal. Kanaya hanya bingung harus bersikap seperti bagaimana?
"Baiklah Rafan, aku pergi ke sana!" ujar Haykal, sembari melirik ke arah Kanaya.
"Kanaya, aku pergi dulu!" pamit Haykal, Kanaya mengangkat wajahnya. Haykal menatap dua bola mata Kanaya yang sejenak meneduhkan hatinya.
__ADS_1
"Silahkan, sekali lagi selamat kak Haykal. Insya Allah aku akan datang menjenguk kak Fahira bersama suamiku!" sahut Kanaya lirih, Haykal terpaku.
"Akhirnya Kanaya, kamu mengatakan kata itu tepat di depanku. Suamiku, status yang pernah melekat dalam diriku dan kini menjadi milik laki-laki lain. Suamiku, kata yang seolah menegaskan hanya dia yang berhak atas dan hanya dirimu yang berhak atas dirinya. Ironis Kanaya, di saat aku menanti kelahiran putra kandungku. Menanti cahaya bahagia dalam hidupku. Di sisi lain, ada cahaya yang meredup dalam hatiku. Penegasan status yang kamu katakan, membuatku tersadar. Semua benar-benar berakhir!" batin Haykal, tatkala mendengar janji pertemuannya dengan Fahira bersama Galuh.
"Aku tunggu!" sahut Haykal kikuk, Kanaya tersenyum di balik cadarnya. Rafan merangkul tubuh Kanaya. Rafan seakan memahami kesakitan Kanaya. Dengan satu anggukan, Kanaya sudah bisa memahami kata yang ingin diucapkan Rafan.
"Dik, bacalah itu!" ujar Rafan, seraya menatap tajam ke arah amplop yang ada dalam tangan Kanaya. Sontak Kanaya tersadar, dia langsung membuka hasil laporan yang ada di tangannya.
Beberapa menit kemudian, tubuh Kanaya bergetar. Setetes bening air mata jatuh tepat di pelupuk matanya. Air mata yang membasahi cadar yang tengah dikenakannya. Kanaya tak percaya dengan hasil laporannya. Berkali-kali Kanaya menoleh ke arah Rafan, berharap Rafan memberikan jawaban yang paling benar. Berkali-kali pula, Kanaya hanya melihat anggukan kepala Rafan. Isyarat Rafan mengiyakan perkataan Kanaya.
"Tidak mungkin!"
"Siapa yang mengatakan tidak mungkin? Semua mungkin bagi-NYA, tidak ada hal mustahil. Kista yang ada di rahimmu, kalah oleh ketulusan Galuh. Ketakutanmu akan kelemahan yang kamu pikirkan selama ini. Tak lantas membuatmu tidak bisa hamil. Sekarang, kamu hamil putramu dan Galuh. Buah cinta tulus Galuh dan keikhlasanmu menjadi seorang istri!"
"Kak Rafan!"
"Iya adikku sayang, kamu hamil. Kista dalam rahimmu mungkin akan membuatmu kesakitan. Namun percayalah, kakak akan ada di sampingmu. Kakak tidak akan membiarkanmu kesakitan!"
"Aku hamil kak, aku hamil!" ujar Kanaya bahagia, dengan suara terbata dan haru.
"Jalan takdir Kanaya, hari ini putra Haykal akan lahir. Tujuh bulan ke depan putrimu akan lahir. Haykal bahagia dengan keluarga kecilnya dan kamu bahagia dengan keluarga kecilmu. Pertemuan kalian bukan alasan perpisahan kalian. Namun awal menemukan kebahagian sejati!" tutur Rafan hangat, lalu mengecup puncak kepala Kanaya. Hangat seorang kakak yang tercurah tanpa bisa ditutupi.
__ADS_1
"Aku hamil!" ujar Kanaya lirih.