
"Sayang, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit. Tubuhmu semakin lemah, sejak semalam kamu muntah dan sampai detik ini kamu belum makan apa-apa?" ujar Abra lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Embun meringkuk di dalam selimut. Nampak jelas tubuh Embun bergetar.
Abra gusar melihat kondisi Embun yang tiba-tiba menurun. Sejak semalam, Embun terus muntah dan mual. Tak ada satupun makanan yang bisa dimakan Embun. Abra semakin cemas, ketika tepat tengah malam tubuh Embun menggigil. Abra kebingungan melihat kondisi Embun yang memburuk. Namun sejak semalam, Abra sudah berusaha membujuk Embun. Namun Embun tetap teguh tidak ingin pergi ke rumah sakit. Jangankan pergi ke rumah sakit, sekadar meminum obat penurun demam. Embun menolak dengan segala cara. Bahkan Abra sempat berselisih paham dengan Embun.
"Aku hanya ingin tidur!" sahut Embun santai, meski tubuhnya kedinginan. Embun terus meringkuk di dalam selimut. Abra mengusap wajahnya gusar. Kebetulan hari ini minggu, jadi Abra tidak perlu pergi ke kantor.
"Ayolah sayang, setidaknya kita memeriksakan kondisimu. Kamu sedang hamil, takut terjadi sesuatu pada bayi kita!" ujar Abra, Embun terus menggeleng lemah. Menolak permintaan Abra, sebab Embun memang tidak menyukai rumah sakit atau obat.
"Aku hanya ingin tidur!" ujar Embun lantang, lalu membalikkan badan. Abra menghela napas panjang, dia mulai menyerah dengan sikap keras kepala Embun.
Akhirnya Abra keluar dari kamarnya. Abra berjalan menuju dapur, dia meminta bik Siti membuatkan bubur ayam untuk Embun. Barangkali setelah istirahat, Embun bersedia makan satu atau dua sendok bubur. Setelah menemui bik Siti, Abra pergi ke ruang tengah. Dia menghubungi abah Iman dan meminta abah Iman mengajak serta dokter Afifah. Setidaknya jika Embun menolak pergi ke rumah sakit. Embun masih bisa diperiksa di rumah, apalagi dokter yang akan memeriksanya bukan orang lain.
"Dimana Embun? Bagaimana kondisinya?" ujar Arya cemas, Abra bingung melihat kedatangan Arya. Sebaliknya Iman yang berdiri berjejer dengan Afifah hanya tersenyum. Kebingungan Abra tidak salah, sebab bukan Abra yang menghubungi Arya. Melainkan Arya yang kebetulan ada di rumah Iman, ketika Abra menghubungi Iman.
"Papa!" sapa Abra lirih, Arya menoleh ke kanan dan ke kiri. Arya mengacuhkan sapaan Abra. Dia hanya ingin melihat kondisi Embun.
"Arya, tenangkan dirimu. Embun hanya demam, dia tidak sakit parah!" ujar Iman, Arya menoleh sejenak. Lalu menatap Abra, seolah dia bertanya dimana kamar Embun?
"Itu!" ujar Abra menunjuk sebuah kamar yang ada di lantai satu. Sebuah kamar yang berada tepat di samping sebelah mushola kecil.
Sengaja kamar Embun berada di lantai bawah, agar tidak merepotkan Embun bila naik turun tangga. Namun Embun terkadang tidur di kamar atas. Saat dia butuh ketenangan, sebab ketenangan Embun hanya saat melihat langit malam. Layaknya malam-malamnya di desa. Penuh ketenangan dan kedamaian dengan suara hewan malam.
"Boleh!" ujar Arya, seolah meminta izin masuk ke dalam kamar Embun.
"Silahkan pa, tapi Embun baru saja tertidur. Dia masih sangat lemah, dia belum makan apapun?"
"Kenapa tidak kamu paksa?" ujar Arya emosi, Iman tersenyum simpul melihat kegelisahan Arya.
"Arya, tenangkan dirimu. Embun baik-baik saja!"
"Iman, Embun sedang sakit!" ujar Arya tegang, Iman hanya tersenyum.
"Abra, biarkan Arya mencoba membujuk Embun. Dia akan tahu, seteguh apa Embun? Lagipula keras kepalanya diwariskan oleh Arya!"
"Apa maksudmu?" ujar Arya tidak mengerti.
"Masuklah Arya, kamu akan mengetahui sekeras apa hati Embun?" sahut Iman santai, Arya terdiam memikirkan perkataan Iman. Seolah ada keraguan dalam dirinya, tentang sikap keras kepala Embun.
"Kenapa ragu? Masuklah ke kamar, buktikan kalau kamu bisa menjadi ayah yang baik!" ujar Iman, Arya mengangguk pelan.
Arya berjalan perlahan menuju kamar Embun. Perlahan dia masuk ke dalam kamar putrinya. Tepat di samping Embun, Arya melihat napas Embun yang memburu. Tubuh Embun bergetar hebat, meringkuk di balik selimut tebal. Arya tertunduk lesu, melihat tubuh putrinya yang menggigil. Tangan dan kakinya lemah, kekuatannya tiba-tiba menghilang. Arya benar-benar tidak berdaya melihat lemah Embun.
"Iman, bujuk Embun. Dia benar-benar sakit!" ujar Arya cemas, Iman menggelengkan kepalanya lemah. Afifah hanya diam melihat dua ayah yang bertolak belakang.
"Iman, bujuk Embun sekarang. Sejak tadi aku sudah menunggu. Kapan aku bisa memeriksa Embun?" ujar Afifah, sembari menepuk pelan tangan Iman.
"Belum saatnya dokter Afifah!" sahut Iman santai, Abra menghela napas.
"Abah, kondisi Embun benar-benar tidak baik!"
"Tenang, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Kita tunggu dia datang menemui Embun. Setelah itu, percayalah Embun akan baik-baik saja!" ujar Iman, Arya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia duduk tepat di depan Iman. Kecemasannya berbanding terbalik dengan ketenangan Iman. Maklum saja, selama ini Iman yang membesarkan Embun. Jelas dia yang lebih tahu, bagaimana cara menghadapi Embun?
"Assalammualaikum!"
"Waalaikumsalam, masuklah Nur!" sahut Iman ramah, Nur melangkah perlahan menuju ruang tengah.
"Abah, dimana Embun? Bagaimana kondisinya?" ujar Nur cemas, Iman menoleh ke arah kamar Embun.
"Dia sedang menunggumu!" sahut Iman santai, Arya menatap Nur lekat. Ada rasa kagum melihat kesopanan Nur.
__ADS_1
"Dokter Afifah, bagaimana kondisi Embun?"
"Entahlah Nur, sejak tadi aku hanya duduk di sini. Aku belum sempat memeriksa kondisinya!" sahut Afifah, Nur mengangguk pelan.
"Dokter Afifah, tolong siapkan obat yang tidak berbahaya bagi kehamilannya. Sebentar lagi saya akan memberikannya pada Embun. Setelah kondisinya membaik, dokter Afifah bisa memeriksa Embun!" ujar Nur sopan, Afifah menoleh ke arah Iman.
"Ikuti saja perkataannya, dia yang mampu menaklukkan keras kepala Embun!" ujar Iman, Afifah mengangguk pelan. Lalu memberikan obat demam pada Nur.
"Abah, Nur permisi ke kamar Embun!"
"Pergilah!" sahut Iman santai, Abra mengikuti langkah Embun. Dia meminta bik Siti memberikan bubur ayam pada Nur. Sedangkan Arya menatap lekat sosok Nur. Sahabat Embun yang tiba-tiba mengusik hatinya.
"Jaga pandanganmu Arya, jangan sampai kamu khilaf!"
"Tidak mungkin, dia seusia dengan Embun!" sahut Arya lirih.
"Tatapanmu berbicara lain, ada kekaguman dalam binar matamu. Nur mungkin sahabat Embun, tapi cinta tidak memandang status dan usia. Lagipula, Nur wanita yang baik. Jauh lebih baik daripada Sofia Adijaya adik kandungku!"
"Sudahlah kak Iman, jangan bercanda. Dia masih terlalu muda. Masa depannya masih sangat panjang. Lagipula sangat mustahil kami bersama, dia sudah seperti putriku!"
"Namun Nur layaknya ibu pengganti bagi Embun. Hanya kasih sayang Nur yang bisa membuat Embun sembuh. Nur satu-satunya sahabat yang akan berganti menjadi ibu. Ketika Embun sakit dan sangat membutuhkan belaian seorang ibu!"
"Aku mohon hentikan, aku menatapnya hanya karena dia sahabat Embun!"
"Seandainya kekaguman itu ada, tidak ada yang salah Arya. Kamu sendiri dan Nur juga masih sendiri. Satu hal lagi yang paling penting. Nur bisa menjadi sahabat, sekaligus Ibu yang menyayangi Embun!"
"Tunggu Iman, sejak tadi aku merasa kamu terus memuji Nur. Aku merasa curiga, jangan-jangan kamu yang ada rasa pada Nur!" ujar Afifah dingin, Iman tersenyum mendengar perkataan Afifah.
"Hampir saja aku menikah dengan Nur, tapi sayangnya aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri. Lagipula, sejak dulu sampai sekarang. Hatiku hanya memilih satu nama!"
"Iman, kamu akan menikah dengan Nur!"
"Sama saja Iman, kamu akan menikah dengan wanita yang pantas menjadi putrimu!" ujar Afifah kesal, diselimuti rasa cemburu.
"Nur dan Embun tidak seusia, mereka berbeda lima tahun. Embun bisa satu kelas dengan Nur, karena Embun lompat kelas. Satu hal lagi, Nur pernah berhenti sekolah beberapa tahun. Sebab itu dia bisa satu angkatan dengan Embun!" ujar Iman menerangkan.
"Lalu!"
"Apanya?"
"Kenapa kamu bisa berencana menikah dengan Nur?" ujar Afifah kesal, Arya hanya diam menyimak perdebatan Afifah dan Iman. Arya mulai tertarik dengan kisah hidup Nur.
"Orang tuanya yang memintaku menikah dengan Nur. Namun aku langsung menolaknya, sebab aku sudah mengenal Nur sejak kecil. Berbeda dengan tatapan kagum Arya, lihat saja binar di matanya. Arya terpesona hanya dengan sekali pandang pada Nur!"
"Kenapa malah aku yang disalahkan?" ujar Arya, Iman tersenyum.
"Sebab kedua bola matamu menunjukkan kekagumanmu pada putriku Nur. Apalagi kasih sayang Nur pada Embun. Semakin membuatmu yakin akan sosok Nur. Namun aku ragu, apa kamu bisa mengatakan cinta pada Nur? Sedangkan kamu tak lebih dari seorang pengecut yang takut patah hati!" ujar Iman, Arya menggelengkan kepalanya lemah.
"Terserah, aku mengaku kalah!" ujar Arya final, lalu fokus kembali pada ponselnya.
"Kak Abra, aku harus menemui seseorang. Embun sudah makan dan meminum obatnya. Setelah aku selesai, aku akan datang lagi. Jika ada apa-apa? Kakak bisa menghubungiku!" ujar Nur lirih, Abra mengangguk pelan.
"Arya!" panggil Iman, Arya langsung mendongak.
"Apa?" sahut Arya dingin, Iman menoleh ke arah Nur. Isyarat matanya seakan meminta Arya menoleh ke arah Nur.
"Nur!" sapa Iman lantang, Nur menoleh lalu berjalan menghampiri Iman.
"Jangan mulai lagi!" ujar Arya kesal.
__ADS_1
"Ada apa Abah?"
"Bagaimana Embun? Dia sudah selesai minum obat!" ujar Iman, Nur mengangguk pelan.
"Lalu, kamu akan kemana?"
"Nur ada janji dengan seseorang!" ujar Nur sopan, Arya menunduk berpura-pura tidak peduli.
"Laki-laki!"
"Perempuan Abah, dia teman di kampus!" ujar Nur santai, Iman mengangguk mengerti.
"Arya, kenapa tidak kamu antar Nur? Dia sudah merawat Embun. Setidaknya sebagai ungkapan rasa terima kasih!" ujar Iman menggoda, Arya dan Nur saling menoleh. Abra yang baru saja datang, bingung mendengar permintaan Iman.
"Baiklah, sebentar aku hubungi supirku. Biarkan dia yang mengantar!" ujar Arya kikuk, Afifah tersenyum melihat sikap Arya yang tiba-tiba canggung.
"Terima kasih abah, Nur membawa sepeda motor!" ujar Nur, lalu pamit pergi. Nur merasakan ada hal yang aneh dengan tatapan Arya. Namun Nur langsung mengalihkan pandangannya.
"Tunggu Nur!" teriak Iman, ketika melihat Nur berjalan menjauh. Sontak Nur menghentikan langkahnya.
"Ada apa Abah?" sahut Nur, sembari menoleh ke arah Iman.
"Jika ada laki-laki yang memintamu pada orang tuamu. Akankah kamu menerima pinangannya? Meski usia kalian berbeda jauh!"
"Kak Iman!" sahut Arya lantang, sontak Nur menoleh ke arah Arya.
"Maksud abah?"
"Jika ada yang memintamu menjadi istrinya. Namun usia kalian jauh berbeda, apa jawabanmu?" ujar Iman menegaskan, Arya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kak Iman, aku mohon hentikan!" ujar Arya lirih.
"Selama dia laki-laki baik dan ayah merestui. Insya allah, Nur bersedia menjadi istrinya!"
"Meski dia jauh lebih tua!" ujar Iman, Nur mengangguk pelan.
"Usia dan status tidak penting dihadapan jodoh. Ketetapan-NYA jauh lebih berkuasa akan jalan hidupku. Nur percaya, siapapun laki-laki yang mengetuk pintu rumah Nur? Dia jodoh terbaik dari yang baik untuk Nur. Lebih muda atau lebih tua, bukan menjadi dasar sebuah hubungan. Namun pengertian akan kekurangan dan saling menerima kelebihan. Itu yang jauh lebih penting dari sekadar perbedaan usia. Sejatinya pernikahan itu menyatukan dua hati dan jiwa yang berbeda. Usia hanya satu alasan, sebab pasti ada perbedaan lain yang mengiringinya!"
"Jadi kamu bersedia, jika ada yang datang meminangmu!" ujar Iman, Nur mengangguk.
"Kapan orang tuamu siap menerima lamaran?"
"Kapanpun Abah? Selama dia datang dengan niat baik!" ujar Nur lantang, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Kak, aku mohon cukup bercandanya!"
"Apa mungkin laki-laki yang akan meminangku itu tuan Arya?" batin Nur penasaran.
"Abah, Nur permisi!"
"Hati-hati!" sahut Iman, Nur mengangguk pelan.
"Abah, siapa yang akan melamar Nur?" ujar Abra penasaran.
"Arya!" sahut Iman santai.
"Tidak mungkin!"
"Jangan percaya Abra, dia sedang mengigau!" sahut Arya kesal, Iman tertawa melihat kekesalan Arya.
__ADS_1