KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Berita Bahagia


__ADS_3

"Mama Fitri, kenapa tidak menghubungi Embun lebih dulu? Seandainya Embun tahu mama akan datang. Embun tidak akan keluar rumah!" ujar Embun lirih dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa sayang? Mama tidak keberatan menunggu. Mama jadi punya kesempatan memasak, untuk makan malam!" sahut Fitri hangat penuh cinta.


Embun menarik tangan Fitri, mencium lembut punggung tangan Fitri. Embun memeluk erat Fitri, hangat kasih sayang Fitri membuat Embun bahagia. Fitri membalas hangat pelukan Embun. Rasa sayangnya pada Embun, tidak pernah ingin balasan. Rasa tulus seorang ibu yang menyayangi putri cantiknya.


"Dimana Abra dan Rafan? Kenapa mereka tidak datang bersamamu?"


"Kak Abra ada di luar, dia sedang bicara dengan papa Arya. Sedangkan Rafan sudah tertidur, Via sedang menidurkan Rafan di kamar Embun!" ujar Embun, Fitri mengangguk mengerti. Fitri menyiapkan makan malam yang baru saja dibuatnya. Embun membantu Fitri menatap masakan di atas meja makan.


"Embun sayang, mama sengaja membuatkan makanan kesukaanmu. Mama harap kamu menyukainya!"


"Tentu, Embun pasti menyukainya!" sahut Embun riang, Fitri menatap haru putri yang sangat disayanginya.


Embun merasakan hangat kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang tak pernah dia rasakan dari ibu kandung. Kepergian Almaira membawa separuh jiwanya, sebaliknya kedatangan Fitri seakan mengembalikan separuh jiwanya. Embun begitu menyayangi Fitri, ketulusan Fitri membuat Embun nyaman dan bahagia. Bukan hanya Embun, Nur sangat menghormati Fitri. Tutur kata dan nasehat Fitri, menjadikan Nur pribadi yang baru.


"Makanlah, mama akan memanggil papa dan Abra!" ujar Fitri, Embun mengangguk pelan.


Fitri keluar mencari Abra dan Arya, biasanya Abra dan Arya akan bicara di ruang kerja. Maklum menantu dan mertua sama-sama pembisnis. Hanya pekerjaan yang membuat mereka cocok satu dengan yang lain. Hubungan ayah dan putra menantunya yang begitu hangat, semua demi satu nama dan satu cinta.


"Embun, papa dan Abra tidak makan malam. Mereka akan makan bersama dengan Fahmi. Sekarang kamu makan lebih dulu, kamu tidak boleh lapar. Rafan butuh ASI darimu!" ujar Fitri hangat.


Fitri mengambilkan nasi dan lauk untuk Embun. Fitri begitu tulus menyayangi Embun, tak nampak jarak antara anak dan ibu sambungnya. Sebaliknya Embun merasa nyaman dengan kasih sayang Fitri. Ketulusan Fitri membuat Embun merasakan hangat kasih sayang seorang ibu. Terkadang Embun menangis, mengingat sosok Almaira dalam diri Fitri.

__ADS_1


"Kenapa mama tidak makan bersamaku? Aku malas kalau makan sendirian!" ujar Embun, Fitri menggeleng pelan.


"Kenapa?" ujar Embun, seraya mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


"Mama menunggu papamu!" sahut Fitri, Embun tersenyum simpul.


Lagi dan lagi Embun melihat besar cinta Fitri pada Arya dan dirinya. Embun merasakan ketulusan seorang istri, cinta yang penuh bakti dan menghargai. Sebuah rasa yang tak hanya berlandaskan napsu. Namun cinta yang menyimpan sejuta cinta dan kasih sayang. Embun bahagia menyadari ayahnya mendapatkan istri setulus Fitri. Arya mendapatkan kebahagian yang seharusnya didapatkan Arya sejak dulu.


"Sayang, kenapa kamu belum makan? Tidak perlu menunggu mereka. Kamu tidak boleh terlambat makan, ingat Rafan perlu ASI!" ujar Fitri, sembari mengelus lembut kepala Embun. Nampak Embun menggelengkan kepalanya pelan. Fitri menghela napas, seolah mengerti arti penolakan Embun.


"Jika mama bisa menunggu papa, kenapa aku tidak boleh menunggu kak Abra? Kita akan makan malam bersama, Rafan sudah tidur. Dia tidak akan cepat haus!" ujar Embun, Fitri menatap lekat Embun. Lalu, Fitri menarik tangan Embun. Menggenggam erat tangan putri yang sangat disayangi oleh dirinya dan Arya. Bahkan demi Embun, Fitri mampu mengorbankan kebahagiaannya.


"Sayang, mama dan kamu berbeda. Kamu memiliki tanggungjawab pada Rafan. Sedangkan mama tidak memiliki tanggungjawab sebesar dirimu. Abra tidak akan marah atau keberatan, seandainya kamu makan lebih dulu. Bahkan mungkin Abra akan marah, seandainya kamu sakit kareba menunggunya. Sedangkan mama, tidak nyaman bila makan tanpa papa. Bagi mama, kenyang mama itu. Jika melihat papa makan dengan lahap. Jadi, jangan pernah menyamakan tanggungjawab dengan mama. Tanggungjawabmu lebih penting, daripada bakti mama pada papa!" tutur Fitri, sembari menepuk pelan punggung tangan Embun.


"Iya sayang!" sahut Fitri mendengar panggilan Embun yang sedikit aneh. Ada rasa aneh menelisik ke dalam hatinya. Mendengar panggilan Embun yang menyiratkan sesuatu.


"Seandainya mama harus memilih, mama akan memilih yang mana? Melahirkan keturunan papa? Atau mengejar karir mama yang cemerlang?"


"Kenapa kamu menanyakan itu? Tentu mama akan melahirkan putra untuk papa. Karir tidak lebih berarti, daripada kebahagian papa. Jadi tidak akan pernah mama memilih sukses. Seandainya itu menyakiti hati papamu!" ujar Fitri lantang dan tegas.


"Lantas, kenapa mama ingin menunda kehamilan? Bahkan mungkin mama berpikir ingin menggugurkan janin yang ada di rahim mama!" ujar Embun lirih, Fitri langsung menatap Embun dengan perasaan terkejut. Embun menunduk, dia merasa Fitri mulai memahami arah pembicaraannya.


"Jika mama hanya akan kenyang, bila melihat papa kenyang. Lalu, kenapa mama memilih menyakiti papa dibandingkan membahagiakan papa? Entah apa yang membuat mama tidak ingin melahirkan penerus keluarga Adiputra? Padahal rasa sayang mama pada papa begitu besar. Ketulusan dan pengabdian seorang istri yang hanya ingin melihat kebahagian suaminya. Mama, Embun memang bukan anak kandung mama. Embun hanya anak sambung yang tidak berhak ikut campur. Namun seandainya Embun boleh berharap, jangan merenggut hak papa untuk kedua kalinya. Papa berhak mengenal dan membesarkan putranya. Dengan alasan apapun? Jangan pernah pisahkan papa dengan putranya!" tutur Embun lirih, lalu menunduk. Fitri menatap lekat Embun, Fitri menggelengkan kepalanya pelan. Perkataan Embun tidak salah, tapi ada yang salah dalam pengertiannya.

__ADS_1


"Embun sayang, kamu salah paham. Memang benar mama pernah berpikir seperti itu. Namun setelah mendengar penjelasan papamu, mama membatalkan semuanya. Jangan pernah berpikir mama akan menyakiti papamu. Mama tidak sanggup melihat sakitnya, apalagi sampai membuatnya bersedih dan kecewa!"


"Lalu, kenapa mama sampai berpikir sedangkal itu? Apa alasan mama memilih jalan salah?"


"Kamu sayang, kamu alasan mama tidak ingin memiliki putra. Mama tidak ingin kehadirannya menjadi dukamu. Kamu segalanya bagi mama dan papa. Mama takut, jika setelah dia lahir. Mama akan kehilanganmu. Apalagi papa sangat menyayangimu, mama tidak ingin papa melupakanmu!" ujar Fitri ragu.


"Kenapa mama berpikir seperti itu? Tidak pernah Embun takut kehilangan kasih sayang kalian. Embun sudah cukup dewasa, tidak akan Embun cemburu pada adik Embun sendiri. Jangan pernah berkorban sebesar itu, Embun takut tidak sanggup menanggungnya!"


"Kamu tidak kecewa!" ujar Fitri lirih, Embun menggelengkan kepalanya.


"Papa berhak memiliki keluarga bahagianya. Kasih sayang kalian sudah cukup untuk Embun. Tidak akan Embun berharap lebih. Satu hal lagi, Embun percaya papa dan mama tidak akan pernah melupakan Embun. Selamanya Embun putri mama dan papa. Ada atau tidak buah cinta diantara mama dan papa. Embun tetap akan menjadi putri kalian. Jadi jangan pernah mengorbankan kebahagian demi Embun. Seperti mama yang akan kenyang, ketika melihat lahap makan papa. Seperti itu pula kebahagian Embun ada, saat melihat mama dan papa bahagia!"


"Terima kasih sayang!" ujar Fitri haru, Fitri merasakan cinta tulus yang diberikan Embun padanya.


"Aku sayang mama!" ujar Embun lantang, sembari memeluk Fitri dari belakang.


"Mama juga sayang Embun!" sahut Fitri lirih, Embun menganggukkan kepalanya. Embun menyandarkan kepalanya di pundak Fitri.


"Aku juga sayang mama Fitri!" teriak Nur lantang, Embun dan Fitri menoleh ke arah Nur. Nampak Nur berlari menghampiri Embun dan Fitri.


"Mama sayang kalian berdua!" sahut Fitri, lalu memeluk Embun dan Nur bersamaan.


"Jadi, kapan mama akan mengatakan pada papa tentang adik kecilku?" ujar Embun, Nur langsung menoleh. Fitri menunduk malu.

__ADS_1


"Mama Fitri Hamil, papa Arya luar biasa!" teriak Nur lantang, Fitri langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya.


__ADS_2