KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pilihan


__ADS_3

"Papa!"


"Masih pagi, Kenapa kamu berteriak? Pendengaran papa masih sangat baik!" sahut Arya, Nur mengerucutkan bibirnya. Dia kesal dan marah, sejak Embun sakit dan opname di rumah sakit. Tak seharipun Nur memiliki waktu menemani Embun.


Arya memaksa Nur mengambil alih semua pekerjaan. Belum lagi Iman yang meminta bantuannya mengawasi beberapa proyek. Statusnya sebagai pegawai perusahaan Abra, tak lantas membuatnya terhindar dari permintaan Iman dan Arya. Pagi ini Nur datang dengan banyak kekesalan. Dia sangat marah, Nur marah pada dirinya. Dia tidak bisa menemani Embun di masa sulitnya. Arya jelas menyadari amarah Nur. Seminggu sudah Nur sibuk dengan pekerjaan. Tanpa dia mendapat kesempatan istirahat.


"Papa jahat, semua pekerjaan dilimpahkan padaku. Abah Iman sama dengan papa. Dia memberikan semua pekerjaannya padaku. Kalian tidak peduli lelahku. Aku merindukan Embun, aku ingin bertemu Embun!" ujar Nur kesal, Arya tersenyum simpul. Nur tidak berhenti bicara. Dia menunjukkan kekesalannya, sampai dia lupa statu Arya.


"Kenapa kamu marah? Bukannya mengucapkan salam dan mencium tanganku. Kamu malah marah-marah tidak jelas. Semalam tidurmu tidak nyenyak? Atau Fahmi mencampakkanmu!" sahut Arya santai, Nur menghampiri Arya. Lalu menarik tangan Arya, mencium punggung tangan Arya.


Nur duduk di samping kiri Arya. Keduanya duduk menghadap meja makan yang masih kosong. Nur merasa heran, ketika dia datang Arya duduk sendiri di depan meja makan. Sebenarnya Nur datang sepagi ini, karena dia mendengar kabar tentang Arya. Nur tidak percaya akan adanya kabar burung. Sebab itu ingin datang memeriksa sendiri kebenarannya.


"Papa, mulai hari ini sampai satu minggu ke depan. Aku izin cuti kerja. Aku akan menemani Embun, tidak akan bekerja. Meski papa dan abah memaksa. Nur ingin menemani Embun!"


"Baiklah, aku bisa cuti selama yang kamu inginkan. Dengan syarat, proyek yang aku kirimkan semalam sudah selesai. Seseorang yang profesional, tidak akan meninggalkan pekerjaannya di tengah jalan!" ujar Arya santai, Nur langsung menunduk. Arya melihat rasa kecewa di wajah putri angkatnya.


Nur bukan hanya sahabat bagi Embun. Dia sudah seperti putri bagi Arya. Semenjak Arya mengenal Nur, dia sudah menyayangi Nur. Layaknya Iman yang menganggap Nur sama seperti Embun. Arya memang bersikap tegas dan cenderung keras pada Nur. Sebab Arya dan Iman ingin membuat Nur sukses dalam bisnis.


Embun dan Nur memiliki pribadi yang hampir sama. Namun jiwa dalam bisnis keduanya berbeda. Embun mampu menerima tanggungjawab tanpa belajar. Sebab Embun hanya sekadar bekerja, tidak ada niat Embun fokus menjadi seorang wanita karier. Sedangkan Nur harus belajar memegang tanggungjawab. Sebab Nur ingin menjadi orang sukses dalam bisnis. Nur ingin membuktikan bahwa seorang wanita mampu berhasil dengan kemampuannya. Tanpa melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang istri atau ibu kelak.


"Kak Arya, biarkan dia beristirahat. Memaksanya bekerja dengan hati dan pikiran yang tidak fokus. Malah akan membuat semuanya berantakan dan mungkin juga membahayakan. Bukankah kakak melarang aku bekerja terlalu keras, sebab aku manusia bukan robot yang juga membutuhkan istirahat. Kenapa sekarang malah berkata lain? Maaf jika aku harus menyela!" ujar Fitri, sembari meletakkan sebuah mangkok sayur tepat di depan Arya dan Nur.


Nur langsung mendongak, dia menatap penuh heran melihat wanita bercadar ada di rumah Arya. Nur langsung mengangguk mengiyakan, Nur merasa kabar burung yang beredar itu benar adanya. Kini dia melihat dengan kedua mata kepalanya. Istri Arya yang dikabarkan seorang dokter spesialis hebat.


"Kenapa kamu malah diam? Kamu tidak mencium tangannya. Dia istri papa, artinya diam mamamu. Namanya Fitri Hanum Fauziah, dokter spesialis kandungan yang mengoperasi Embun!" tutur Arya dingin, Nur mengangguk dengan tatapan kosong. Banyak hal yang membuatnya bingung dan tidak percaya.


"Assalammualaikum mama Fitri, saya Nur!" ujar Nur singkat, sembari mencium punggung tangan Fitri.

__ADS_1


"Dia Aulia Nur Hikmah, sahabat Embun sejak kecil. Aku menganggapnya seperti putriku sendiri!"


"Waalaikumsalam!" sahut Fitri hangat dan lembut.


"Papa benar-benar sudah menikah!" ujar Nur tidak percaya.


"Kenapa kamu heran? Apa karena papa sudah sangat tua? Papa memang sudah memiliki cucu dan sebentar lagi akan menikahkanmu. Namun jiwa kelakian papa tidak bisa diragukan. Tanyakan saja pada mama Fitri, seganas apa papa?" ujar Arya santai, Fitri langsung menepuk pelan lengan Arya. Fitri merasa malu mendengar perkataan Arya.


Nur menggelengkan kepalanya, dia kesal ketika mendengar perkataan Arya yang sedikit porno. Nur menutup kedua telinganya, dia merasa malu dengan perkataan Arya. Sedangkan Arya terkekeh melihat sikap Nur. Sejak semalam, Arya terlihat bahagia. Cinta itu memang belum ada, tapi rasa nyaman itu nyata tercipta diantara keduanya.


"Papa, aku masih sangat kecil. Tidak baik mendengarkan hal-hal yang tidak pantas!" ujar Nur lirih, Arya tersenyum lebar.


Fitri masuk ke dalam dapur, dia melanjutkan pekerjaannya. Fitri sengaja memasak makanan, sebelum Fitri pergi ke rumah sakit. Kewajibannya sebagai seorang dokter, tidak akan membuatnya melupakan tanggungjawabnya. Bahkan Fitri siap berhenti bekerja, seandainya Arya melarangnya. Fitri tak lagi berharap menjadi dokter hebat. Sebab dia sudah sangat hebat, ketika menjadi seorang istri.


"Nur!" sapa Arya lirih, Nur langsung menoleh. Nur meletakkan ponsel pintar yang sedang dipegangnya. Sapaan lirih Arya, seakan menyimpan rahasia. Nur bisa merasakan, ada sesuatu yang ingin dikatakan Arya padanya. Nur menoleh menatap Arya, ada raut wajah gelisah dalam tatapan Arya.


"Apa yang sedang papa cemaskan?"


"Kenapa papa mencemaskan semua itu? Papa bahagia dengan pernikahan ini. Mama Fitri baik dan isya allah sholeha. Papa juga menikahi mama sah secara hukum dan agama. Lantas, apa yang membuat papa cemas? Seharusnya papa bahagia!" tutur Nur, Arya menghela napas. Sejenak Arya menunduk seraya menutup mata. Nur semakin jelas melihat kecemasan Arya.


"Entahlah Nur? Papa cemas akan sesuatu yang mungkin menjadi kerikil dalam langkah papa dan mama. Ketakutan akan penolakan dan akhirnya papa harus memilih!" ujar Arya bimbang, Nur menatap Arya nanar.


Perlahan tapi pasti Nur menyadari alasan kecemasan Arya. Nur bisa merasakan ketakutan yang mengusik kebahagian Arya. Sebuah pemikiran yang sempat terlintas di benak Nur. Ketika dia mendengar kabar burung tentang pernikahan Arya. Rasa tak percaya yang diselingi rasa kecewa. Namun semua pemikiran itu hilang. Ketika Nur melihat kebahagian Arya bersama Fitri.


"Embun!" sahut Nur singkat, Arya mengangguk tanpa ragu. Ketakutan yang kini mengusik Arya. Sebuah kejujuran yang mungkin membuat Arya harus memilih antara Embun dan Fitri.


Embun telah sadarkan diri, waktu yang tepat mempertemukan Fitri dan Embun. Mengenalkan Fitri sebagai istri, sekaligus ibu sambungnya. Pengganti mama Almaira dalam Hidup Arya. Nur menghela napas, bayangan kecemasan Embun saat menyadari rasa Arya pada Via. Bermain indah dalam benaknya. Dia mengenal Embun, tidak akan Embun menghalangi kebahagian Arya. Namun kekecewaan Embun akan tetap ada. Saat dia menyadati posisi mamanya telah tergantikan.

__ADS_1


"Nur percaya Embun akan menerima mama Fitri. Dia sudah cukup dewasa, apalagi Embun sudah menjadi seorang ibu. Dia tidak akan menghalangi kebahagian papa. Embun tidak akan berpikir sedangkal itu. Dia pasti bahagia mendengar pernikahan papa. Meski awalnya rasa terkejut itu ada, tapi Embun akan menerima dengan lapang keputusan papa. Yakinlah, Embun putrimu tidak akan tega menghancurkan kebahagian ayah kandungnya!"


"Aku mungkin ayahnya, tapi kami bertemu baru beberapa bulan. Sejak kecil dia jauh dariku, sekarang saat hubungan baik ini terjalin. Aku malah mengenalkan wanita lain sebagai pengganti Almaira. Embun memang akan bahagia, tapi hatinya tetap sakit. Ketika dia mengetahui kasih sayangku terbagi!" ujar Arya lirih, Nur menggelengkan kepalanya perlahan.


"Nur percaya, Embun akan menerima mama Fitri. Sahabatku bukan anak kecil yang akan marah, ketika seseorang yang disayanginya hidup bahagia bersama orang lain. Namun seandainya Embun menolak hubungan papa dan mama Fitri. Jangan pernah papa memilih Embun, papa harus pertahankan mama Fitri. Embun putrimu, tapi dia seorang istri yang tak lagi berhak akan perlindunganmu. Sebaliknya mama Fitri, seorang putri dari sebuah keluarga yang telah papa pilih menjadi seorang istri. Dia yang lebih berhak akan kasih sayang papa, bukan Embun putri yang telah memiliki surganya sendiri!"


"Papa tidak akan sanggup, papa terlalu takut kehilangan Embun!"


"Papa takut kehilangan Embun hanya karena rasa bersalah. Namun papa harus ingat tanggungjawab yang sekarang ada di pundakmu. Mama Fitri sekarang tanggungjawab papa, bukan Embun yang nyata menjadi tanggungjawab kak Abra. Jangan pernah lakukan kesalahan yang sama. Dulu papa lebih memilih percaya orang lain daripada mama Almaira. Sehingga papa harus kehilangan kebahagian selama hampir dua puluh tahun. Jika sekarang papa bimbang memilih, papa akan hidup dalam kesedihan selama sisa hidup. Nur percaya, Embun akan merestui hubungan kalian. Dia tidak akan menghancurkan kebahagian papa. Sebab papa berhak bahagia!" tutur Nur tegas, Arya diam membisu.


Perkataan Nur tidak salah, tapi Arya tetap bimbang. Sejak bertemu dengan Embun, Arya tidak pernah membayangkan ingin menikah lagi. Namun semua berubah, ketika hatinya merasa nyaman bersama Fitri. Wanita yang menempatkan dirinya di atas kepentingannya sendiri. Terdengar helaan napas panjang Arya. Beban yang seolah terasa berat dan tak sanggup dia tanggung. Sebuah jalan yang seakan buntu tanpa jalan keluar.


"Sarapan sudah siap!" ujar Fitri lantang, sembari meletakkan masakan terakhirnya. Arya langsung menoleh ke arah Nur. Isyarat agar Nur diam, melupakan pembicaraan diantara keduanya.


"Silahkan Nur, maaf jika masakan mama tidak sesuai seleramu!" ujar Fitri ramah, Nur mengangguk perlahan. Mereka bertiga sarapan bersama tanpa ada kata yang terucap. Hanya suara piring dan sendok yang saling beradu.


"Nur, papa tunggu di ruang kerja. Ada yang harus kamu selesaikan. Fahmi akan datang sebentar lagi. Kamu lanjutkan saja sarapannya!" ujar Arya, Nur mengangguk mengerti. Arya berdiri, lalu menghampiri Fitri yang duduk tepat di sisi kanannya. Arya membungkuk, tangannya merangkul tubuh Fitri.


Cup


"Terima kasih!" ujar Arya mesra, sesaat setelah mengecup lembut puncak kepala Fitri. Nur terdiam melihat kehangatan Arya pada Fitri. Kebahagian yang nampak jelas dirasakan oleh Arya. Fitri menjadi alasan bahagia Arya saat ini.


"Kak Arya!" ujar Fitri, sembari memeluk Arya dari belakang. Fitri mengejar Arya menuju kamarnya. Tepat saat Arya ingin mengganti pakaian, Fitri masuk dan langsung memeluk Arya dari belakang.


"Ada apa?" ujar Arya cemas, sembari memegang tangan Fitri. Arya hendak memutar tubuhnya, tapi Fitri melarang. Fitri merasa nyaman bersandar pada punggung tegap Arya. Menutupi rasa sakit yang kini dirasakan Fitri.


"Jangan pernah kenalkan aku pada Embun. Jika memang kakak takut Embun menolak pernikahan kita. Aku akan berdiri di samping, tanpa banyak bicara. Asalkan kakak bahagia dengan Embun. Aku tidak butuh pengakuan, jika itu membuatmu bimbang. Aku akan diam, walau artinya aku hidup tanpa status sebagai istrimu!"

__ADS_1


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Karena aku mencintaimu, aku takut kehilangan dirimu!" ujar Fitri lirih.


__ADS_2