KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keputusan Abra


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tenggat waktu yang diberikan Embun telah menemui akhir. Tepat saat ayam jantan berkokok, diiringi sang fajar menyapa. Sejak semalam, Abra tak mampu menutup kedua matanya. Abra gelisah mencari jalan keluar untuk Haykal. Sesekali Abra menatap Rafan putranya. Abra kalut memikirkan permasalahan yang terjadi. Abra merasa tak berdaya, dia harus berada di pihak yang mana.


"Kak Abra, semalam tidur dimana?" sapa Embun, ketika melihat Abra masuk ke dalam kamar. Nampak Abra sudah rapi dengan pakaian kantor. Semalam Embun sengaja menunggu Abra, tapi sampai tengah malam Abra tidak masuk ke dalam kamar.


"Aku tidur sangat larut, tadi pagi ada urusan. Jadi aku bangun lebih pagi!" ujar Abra menerangkan, Embun mengangguk mengiyakan. Tak sedikitpun Embun mempermasalahkan ketidakhadiran Abra di kamarnya. Embun memahami kebimbangan Abra, setelah kejadian semalam yang terjadi antara Haykal dan Abra.


"Baiklah kak Abra, aku tunggu kakak di meja makan!" ujar Embun, Abra menahan tangan Embun. Sejenak Abra teringat perkataan Embun semalam. Kejadian yang membuat Abra tetap terjaga. Mencari jalan tengah perselisihan antara Haykal dan Embun. Abra mengingat setiap kata yang keluar dari Embun. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Haykal.


FLASH BACK


"Nissa, kamu pasti mengetahui cara menghindar dari laporan kepolisian!" sahut Ibra.


"Tuan Haykal harus mempertanggungjawabkan semuanya di depan dewan direksi. Tuan Haykal mengembalikan dana yang sudah digunakannya. Satu lagi kak Abra, tuan Haykal akan diberhentikan sementara dari jabatannya sekarang!" ujar Nissa menerangkan, Abra menggeleng tak percaya.


"Istrimu kejam Abra!" ujar Haykal emosi.


"Kenapa kamu begitu dingin sayang?" batin Abra.


"Nissa, mungkin ada jalan lain!" ujar Abra, Nissa menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak kejam, tapi anda yang tidak pernah berubah. Kecurangan yang anda lakukan saat ini. Nyata bukan pertama kalinya, kegagalan proyek beberapa tahun yang lalu. Bukan tanpa sengaja, tapi anda membuat kontraktor menekan biaya pembangunan dan menggunakan dana untuk kepentingan pribadi!" sahut Embun lantang, Abra menoleh. Nissa langsung berdiri menghampiri Embun.


"Pulanglah, sudah larut malam. Besok pagi kita teruskan!" pinta Embun. Nissa mengangguk pelan. Nissa keluar tanpa menoleh ke arah Ibra. Sebaliknya Ibra langsung berdiri menghampiri Nissa.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu!" teriak Ibra, Nissa tidak menoleh. Dia langsung keluar dari rumah Embun.


"Ibra, diam di tempatmu. Kamu mengejar wanita yang tak pantas dikejar!" ujar Haykal sinis, sembari menahan tangan Ibra.


"Setidaknya dia jujur, tidak seperti papa yang tega melakukan kecurangan. Walau itu di perusahaannya sendiri. Aku memilih mengejar wanita itu, daripada aku tetap di sini. Mendengar semua keburukan papa. Aku tidak ingin membencimu, lebih baik aku menutup mata dan telinga. Berpikir papa tidak pernah salah!" ujar Ibra, lalu menepis pelan tangan Haykal.


"Ibra, haruskah papa bahagia mendengar perkataanmu? Atau papa hancur melihat sikap dinginmu. Meninggalkan papa demi wanita itu!" batin Haykal tak percaya, kepalanya tertunduk tak lagi sanggup menatap Abra putra kebanggannya.


"Sayang, mungkinkah papa lepas dari penjara!"


"Mungkin, setelah tuan Haykal mengembalikan seluruh dana yang sudah digunakannya. Dana itu milik perusahaan Adijaya dan tuan Haykal wajib mengembalikannya!"


"Berapa nilai kerugian yang disebabkan oleh papa?" ujar Abra lirih, Embun memberikan berkas pada Abra.


"Itu nilai dana yang menghilang tanpa jejak. Aku ingin dana itu kembali, sebelum aku berangkat ke kantor besok. Jika tidak, aku akan membuat laporan tepat jam 09.00 WIB!" ujar Embun dingin, lalu masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Abra dan Haykal dalam diam.


"Kenapa papa bisa melakukan semua ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ujar Abra lirih, menyahuti perkataan Haykal.


FLASH BACK


"Ada apa kak?" sahut Embun, saat merasakan tangan Abra menahan langkah kakinya.


"Sayang, ambil ini!" ujar Abra lirih, Abra memberikan sebuah map besar pada Embun.

__ADS_1


Embun mengambil map dari Abra. Embun merasa aneh dengan sikap Abra. Tepat di lembar pertama, detak jantung Embun berdetak begitu hebat. Ada rasa tak percaya, ketika Embun membaca isi map. Embun tak mampu menahan rasa kagetnya. Sontak Embun terduduk, dia tak percaya melihat keputusan besar yang diambil Abra.


"Kenapa kakak melakukan ini?" ujar Embun dengan suara bergetar. Abra diam membisu, melihat Embun yang bertanya dengan suara tak percaya.


"Sayang, haruskah aku diam melihat ayahku di penjara!" ujar Abra lirih, pertanyaan yang jelas Embun mengetahui jawabannya.


"Semalam aku melihat raut wajah tenang Rafan. Aku menangis dari dalam hati, aku tidak dapat menahan air mataku. Aku teringat suara papa, saat menghiba meminta bantuanku. Sebagai seorang ayah, aku merasakan kebahagian saat Rafan lahir. Kebahagian sama yang mungkin dirasakan papa melihatku lahir. Aku takut melihat sakit Rafan, ketakutan yang sama pasti dirasakan papa saat aku sakit. Aku tidak bisa tetap diam melihat kesalahan papa. Namun membiarkan papa di penjara, sungguh sayang aku tidak sanggup. Aku tidak ingin, saat aku membutuhkan bantuan Rafan. Dia malah meninggalkanku, seperti aku meninggalkan papa dalam kesulitannya. Sebab itu aku memutuskan ini, mengorbankan segala yang aku punya demi menebus rasa bersalah papa. Aku peduli kesulitan papa, tanpa mengabaikan kesalahannya. Sebaliknya aku membela papa, tanpa menyulitkanmu. Diantara papa dan kamu, aku tidak akan pernah bisa memilih!" ujar Abra lirih, Embun diam menatap lekat map yang ada di tangannya.


"Entah aku harus bangga atau hancur melihat keputusanmu? Namun dibalik semua rasa kecewaku, aku melihat ketulusanmu pada ayah yang membesarkanmu. Sangat salah, seandainya aku marah melihat sikapmu. Sebagai seorang putri, aku tentu akan melakukan hal yang sama. Jika semua ini terjadi pada papa Arya. Jujur kak Abra, aku tidak pernah membayangkan. Kamu mengambil keputusan sebesar ini. Memilih hancur tanpa sisa, daripada melihat ayahmu di penjara. Apapun keputusanmu saat ini? Aku akan menerima dengan hati lapang. Meski ada rasa kecewa, ketika kamu memutuskan tanpa bertanya padaku. Sekali lagi kak Abra, kamu membuatku merasa tak berdaya. Tersisih oleh kental darah yang mengalir dalam nadimu. Maaf, jika aku akan tetap dengan ketegasanku. Meski dengan rasa hancur dan sakit, aku akan menerima semua ini. Jika tuan Haykal tidak pernah menyadari kesalahannya. Setidaknya dia harus melihat kehancuran anaknya. Pengorbanan yang kamu berikan, tidaklah mudah. Tuan Haykal harus melihat besar kasih sayangmu!" batin Embun, sembari menatap nanar map yang ada di tangannya.


"Terima kasih kak Abra, aku akan mencabut laporanku secepat mungkin. Mengenai kerjasama antara perusahaan Adijaya dengan perusahaan tuan Haykal. Aku akan meninjaunya kembali, setelah semua proses pengembalian dana berhasil!" ujar Embun ramah, Abra diam menatap lekat Embun.


"Sayang, kamu marah dengan keputusanku menjual seluruh aset yang aku miliki!"


"Tidak, untuk apa aku marah? Semua aset yang kakak miliki sebelum kita menikah. Sepenuhnya hak kakak, tidak ada kaitannya denganku. Bahkan bertanya berapa aset yang kakak miliki?, aku tidaklah berhak!" ujar Embun tegas, sesaat setelah menggelengkan kepalanya.


"Sayang, maafkan aku!"


"Kakak tidak salah, jika bukan kakak yang menolong tuan Haykal. Lalu, siapa yang akan membantunya? Sebagai seorang anak laki-laki, kewajiban kakak melindungi dan menjaga tuan Haykal. Selamanya tidak akan pernah ada mantan anak atau ayah. Namun ada yang dinamakan mantan istri. Apapun yang terjadi diantara tuan Haykal denganku? Jangan pernah memihakku, sebagai anak menantu aku tidak bisa merawat mereka. Setidaknya sebagai seorang istri, aku tidak pernah membiarkan seorang anak terpisah dengan keluarganya!"


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Maaf, jika kamu kecewa dengan keputusanku. Aku yakin dengan kerja keras, aku akan memiliki segalanya. Aku akan berjuang dari nol, semua demi dirimu dan Rafan. Aku tidak akan membiarkan kalian kekurangan. Ini hanya sementara, aku akan mendapatkan kesuksesan kembali!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun. Dengan lembut Embun menepis tangan Abra. Seutas senyum terlihat di wajah Embun. Namun penolakan Embun jelas membuat Abra hancur.


"Aku tidak pernah takut kekurangan, aku cukup bahagia dengan adanya Rafan!" ujar Embun, Abra mengusap wajahnya kasar. Jelas nampak Embun kecewa, tapi Abra melihat Embun mencoba menutupinya.

__ADS_1


"Sayang!" sapa Abra lirih, Embun terus berjalan menjauh dari Abra.


"Aku mungkin kecewa dengan keputusanmu, tapi hatiku jauh lebih sakit mendengar keraguanmu. Dalam benakmu ternyata aku tak lebih dari istri yang takut kemiskinan. Putraku seolah takut akan kekurangan. Aku kecewa kak, sangat kecewa. Namun dalam hati, aku tulus meminta maaf padamu. Aku membuatmu berada pada posisi sulit. Aku membuatmu dalam kesulitan!" batin Embun, sembari menyeka air mata tepat di pelupuk matanya.


__ADS_2