
"Kamu sudah bangun!" Sapa Iman ramah, tepat setelah dia pulang dari mushola. Abra mengangguk, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Abra merasa malu telah bangun kesiangan.
Iman hanya tersenyum melihat raut wajah malu Abra. Meski Iman seorang pemuka agama, dia tidak akan memaksa Abra melakukan ibadah. Meski sesungguhnya itu semua wajib hukumnya. Iman lebih memilih diam dan menunggu hati Abra terketuk. Seperti pagi ini, Iman sengaja melarang Embun membangunkan Abra. Sebab Iman yakin, Abra akan bangun saat fajar hendak menyapa. Meski sedikit terlambat, tapi Abra masih bisa melaksanakan sholat subuh sendirian.
"Maaf abah, Abra terlambat bangun!" Sahut Abra, Iman mengangguk pelan.
"Sudah sholat subuh?"
"Alhamdulillah sudah, tapi Abra tidak menemukan Embun!" Ujar Abra kebingungan, Abah menoleh ke kanan dan ke kiri. Iman mencoba mencari sosok Embun, tapi hasilnya nihil. Embun tidak tampak hampir di seluruh sudut rumah. Lalu, Iman mendongak menatap jam di dinding. Sepintas nampak Iman manggut-manggut, seolah mengerti alasan Embun menghilang.
"Biasanya jam segini Embun berjalan-jalan mengelilingi desa. Terkadang Embun pergi ke ladang, mengambil beberapa sayuran. Apa tadi Embun tidak pamit?" Ujar Iman lirih, Abra diam lalu mengangguk pelan.
"Tadi Abra sempat mendengar Embun meminta izin. Abra kira Embun izin turun ke bawah. Maklum abah, tadi Abra masih ada di kamar mandi!"
"Pantas kamu tidak mendengarnya!" Ujar Iman, Abra menunduk malu.
Bangun kurang dari jam 05.00 pagi. Bukan hal mudah bagi seorang Abra. Selama ini, Abra bangun satu jam sebelum berangkat kerja. Lebih tepatnya, Abra bangun paling pagi itu pukul 07.00 pagi. Sedangkan di rumah Embun, lebih tepatnya di desa. Abra harus bisa bangun lebih pagi. Kebiasaan warga desa, bangun tepat setelah ayam jantan berkokok. Sebelum sang fajar menyapa, mereka sudah ramai beraktifitas.
"Sudah tidak perlu cemas, Embun tidak akan lama. Setengah jam lagi, biasanya dia sudah kembali. Sekarang duduk bersama abah, Embun sudah menyiapkan secangkir kopi dan singkong rebus!"
"Kopi!"
"Kapan dia menyiapkannya?" Batin Abra.
"Iya kopi, bukannya kamu suka kopi. Sepertinya Embun juga tahu, kalau kamu ada riwayat lambung!" Ujar Iman, Abra langsung menoleh dengan tatapan heran.
"Maksud abah!"
"Lihat tulisan ini, Embun melarangmu minum kopi. Sebelum kamu makan roti bakarmu!" Ujar Iman, sembari tertawa melihat kepedulian Embun pada Abra. Sebaliknya Abra merasa heran, saat Embun mengetahui sakitnya.
"Tidak perlu bingung, duduk bersama Abah sekarang!" Pinta Iman, Abra menggelengkan kepalanya perlahan.
"Abra ingin bertemu Embun!" Ujar Abra lirih, Abah Iman mengangguk mengerti.
"Berjalanlah ke sisi kiri, nanti saat ada pertigaan. Kamu ambil sisi kiri, setelah lapangan desa ada sekolah dasar. Sekolah tempat Embun mengajar. Kamu bisa menemui Embun disana. Biasanya Embun berdiri menatap fajar dari bukit di belakang sekolah!" Ujar Abah Iman, Abra mengangguk pelan.
"Assalammualaikum!" Pamit Abra, lalu mencium punggung tangan Abah Iman.
"Tunggu Abra!" Panggil Iman, saat melihat Abra berlari ke luar.
"Pakai sepeda motor, tempatnya cukup jauh!"
__ADS_1
"Tidak perlu Abah!" Sahut Abra lantang.
Dengan semangat tinggi, Abra berjalan keluar dari halaman rumah Embun. Abra langsung mengikuti arahan abah Iman. Abra terus melangkah, udara dingin desa menusuk tulang Abra. Udara yang begitu sejuk, jauh dari polusi desa. Suasana tenang, membuat hati Abra tenang. Keramahan warga desa, ketika menyapa Abra. Semakin menyadarkan Abra arti persaudaraan. Abra merasa bahagia, mendapat sambutan hangat tetangga Embun.
Abra terus melangkah, setelah sepuluh menit. Baru Abra menemukan pertigaan. Terdengar helaan lega dari bibir Abra, seakan Abra mulai merasakan lelah. Abra meneruskan perjalanannya, sampai akhirnya dia melihat sekolah dasar yang dibangun di atas tanah tinggi. Abra semakin bersemangat, dia berpikir akan segera bertemu dengan Embun.
"Kenapa tangga sekolah ini begitu tinggi?" Gerutu Abra, ketika melihat tangga menuju sekolah. Jelas sekolah sengaja dibangun di atas tanah lebih tinggi. Agar tidak mengalami longsor seperti yang lain.
"Tuan Abra!"
"Kamu!" Sahut Abra kaget, Nur mengangguk pelan.
"Tuan Abra mencari Embun!" Ujar Nur, Abra mengangguk pelan. Rumah Nur berada tidak jauh dari sekolah. Sejak pertigaan, Nur sudah melihat Abra. Sebab itu Nur mengikuti Abra. Takutnya Abra kesulitan mencari Embun.
"Dimana istriku yang nakal itu?"
"Dia ada di atas bukit, ladang abah Iman ada di sana. Embun terkadang datang, hanya ingin menyapa sang fajar!" Ujar Nur, sembari menunjuk bukit yang berada tepat di belakang sekolah.
"Terima kasih!" Sahut Abra, lalu berlari menuju bukit yang ditunjuk Nur.
"Sayang, bahagiamu memang sederhana. Namun dalam bahagiamu, aku menemukan kehangatan. Jika kamu datang sejauh ini demi fajar. Aku berlari sekencang ini, demi tetes Embun pertamaku. Terima kasih, bersedia menjadi bagian dari hidupku!" Batin Abra, kala dia melihat Embun berdiri tegak menatap fajar yang mulai menyeruak dari ufuk timur.
"Sayang!" Sapa Abra hangat, sembari memeluk Embun hangat. Embun mengangguk pelan, tak ada rasa terkejut saat melihat Abra sudah ada di belakangnya.
"Tidak, selama bisa memelukmu!"
"Sayang!" Bisik Abra, Embun menoleh ke arah Abra. Menatap wajah yang kini berada tepat di pundaknya.
"Kini aku menyadari, alasan ketakutanmu!"
"Maksud kakak!"
"Hampir setengah jam aku berjalan di jalan desa ini. Pertama kali aku melangkah di jalan desa. Aku merasakan kehangatan yang tak terkira. Ketenangan yang begitu sempurna. Warga desa yang hangat, pagi yang dingin, udara yang segar dan Embunku yang sejuk. Sebuah keindahan yang takkan mudah kamu tinggalkan begitu saja. Apalagi fajar yang begitu hangat, kesempurnaan pagi yang tak mungkin bisa kita tinggalkan!" Tutur Abra lirih, sembari tetap bersandar di pundak Embun.
"Lalu, artinya kita bisa tinggal di desa!" Ujar Embun santai, Abra mengangguk pelan.
"Jika itu yang kamu inginkan!" Sahut Abra lantang, tepat setelah Abra mengangguk.
"Kakak serius, kita bisa tetap tinggal disini. Aku tidak perlu meninggalkan abah sendirian!" Ujar Embun penuh kegembiraan.
"Kamu bahagia, sudah cukup untukku. Aku akan pergi bekerja dari sini. Jika terlalu larut, aku akan menginap di kediaman Abimata. Baru besok paginya aku pulang!" Ujar Abra lirih, seraya memeluk Embun dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kakak benar-benar serius. Kita tidak perlu tinggal di kota!"
"Iya sayang, lebih baik aku bolak-balik. Daripada aku harus melihat dukamu!"
"Terima kasih kak, kamu menjawab kegelisahanku!" Ujar Embun penuh rasa bahagia. Abra mengecup lembut pundak Embun. Hasrat penuh cinta Abra, membuatnya sanggup melawan dunia. Melewati puluhan kilometer demi bertemu dengan Embun paginya.
"Terima kasih juga untukmu. Hadirmu membuat aku hidup. Tak lagi aku napasku sesak. Kini aku mampu bernapas dengan tenang. Kamu membuatku mengenal arti bahagia!"
"Kak!"
"Ada apa?" Sahut Abra heran, ketika mendengar nada khawatir Embun.
"Bagaimana dengan keluargamu? Mereka tidak akan setuju kamu menetap di desa. Menikah denganku sudah kesalahan, dengan tinggal di desa. Artinya kakak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya!" Ujar Embun cemas.
"Pernikahan ini kita yang menjalani, tidak ada yang berhak melarang kita!"
"Tapi!"
"Percayalah, semua akan baik-baik saja!" Ujar Abra meyakinkan.
Abra menutup mata, tangannya tetap memeluk tubuh ramping Embun dengan begitu erat. Abra merasakan hembusan angin pagi yang menyegarkan. Hangat fajar mulai menyapanya. Terasa menerpa wajah tampannya. Embun menatap fajar penuh rasa kagum dan bahagia. Ada sesuatu yang membuat Embun begitu bahagia.
"Kak!"
"Hmmm!" Sahut Abra, Embun melepaskan pelukan Abra. Lalu menarik tangan Abra, sampai berdiri tepat di depannya. Kini Embun bukan menatap fajar, melainkan wajah tampan sang suami.
"Kak Abra yang tampan. Terima kasih sudah peduli pada perasaan Embun. Sungguh Embun bahagia mendengarnya. Pertama kalinya, Embun mendengar seseorang memahami keinginan terdalam hati Embun. Namun ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Tanggungjawab sebagai seorang makmum yang harus terus mengikuti langkah imamnya. Tugas sebagai tulang rusuk yang harus menguatkan, bukan melemahkan. Bakti seorang istri yang akan terus mengabdi pada suami. Demi semua itu, tidak seharusnya aku teguh tinggal disini. Meski nyaman dan tenangku hanya ada disini. Aku tetap harus pergi dari sini. Demi menemukan tenang disisimu!"
"Sayang!" Ujar Abra tidak percaya. Tatapan Abra mengunci wajah cantik Embun belahan jiwanya. Embun mengedipkan mata, mengisyaratkan semua yang dikatakannya benar adanya.
"Kak Abra, fajar yang aku lihat setiap hari di desa ini tidak hidup. Namun fajar yang berdiri di depanku nyata dan hidup. Embun akan mengiringi langkah fajar. Layaknya embun yang hadir, kala fajar menyapa. Sang fajar yang menghangatkan pagi, menciptakan sejuk embun dan meleburkan dingin kabut. Kak Abra, kamu fajar yang selama ini aku tunggu. Kehangatanmu telah menghancurkan dingin hatiku. Mengajarkanku arti pengorbanan yang sesungguhnya. Kini Embunmu siap mengikuti, dimana sang fajar menyapa?"
"Sayang, kamu serius!" Ujar Abra tidak percaya.
"Aku percaya, akan ada bahagia untukku di sampingmu. Namun Embunmu tak sederas air sungai. Tetesnya terlalu kecil dan tidak akan sanggup menghancurkan batu. Satu pintaku, terus sinari tetes embun agar bisa mengukir di atas batu. Jika sang fajar lelah menyinari Embun, jangan pergi tanpa pamit. Katakan dengan lantang, agar Embun belajar hidup tanpa sang fajar!" Tutur Embun, Abra diam membisu.
"Ajari aku mencintaimu, karena mencintaimu tidak semudah menatapmu!" Bisik Embun, sembari memeluk Abra. Embun menatap lekat fajar yang menyinari dirinya dan Abra. Hangat fajar mengusir dingin dalam hati Embun. Tubuh Abra mematung, pelukan Embun membius seluruh syaraf dan nadinya. Bukan hangat yang terasa, desiran panas mengalir deras dalam nadinya.
"Terima kasih telah memahamiku dengan mencintai kehidupanku. Kini aku menemukan sang fajar dalam sepiku. Fajar yang terus bersinar, meski terkadang kehadirannya tak disambut. Kak Abra, caramu mencintaiku telah membuatku yakin. Jika hatimu tulus menerima diriku. Dengan segala kekurangan dan kelemahanku. Sang fajar, kini aku menemukan sinar dan hangatku!" Batin Embun, sembari menempelkan kepalanya jauh dalam dekapan hangat Abra.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
Terima kasih atas like, vote dan comennya. Semoga terus berkenan membaca tulisan receh author. Terima kasih