KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Dua Bulan


__ADS_3

Matahari mulai terbenam, petang menyapa bersamaan dengan suara azan magrib yang berkumandang. Menyerukan para mahluk, sejenak bersujud pada sang pemilik hidup. Malam yang sunyi dan sepi, hanya suara hewan malam yang terdengar bersahutan. Suara yang begitu menggetarkan hati, menenangkan hati yang penuh gelisah. Jiwanya yang terus mengeluh, lupa kata syukur akan nikmat yang terlampau besar.


Jam berputar begitu lambat, bahkan Abra merasa waktu seolah berhenti. Hampir dua jam Abra berdiri di balkon kamarnya. Namun Abra merasa sudah berjam-jam. Entah kedua kakinya yang mulai melemah? Atau waktu yang memang berputar begitu lambat. Sampai Abra merasa begitu lama dan kedua kakinya merasa pegal berdiri di menantang langit malam yang gelap.


Abra mulai merasa lemah dalam dirinya. Semua karena kesalahan yang tak seharusnya dilakukan Abra. Melupakan Embun mungkin dilakukan Abra, tapi menjauh dari Rafan dan melupakan senyum putra kecilnya. Membuat Abra tak pantas disebut ayah. Alasan lemah dan kecewa semua orang pada Abra. Bocah kecil yang masih berusia satu tahun. Tak pantas teracuhkan, hanya karena khilaf semata.


Huuufff


Terdengar helaan napas Abra, kedua tangannya menopang pada teralis besi pembatas. Dua matanya tak lagi menantang langit, Abra tertunduk lesu. Abra menyadari betapa besar kesalahannya. Abra menerima hukuman yang tak mampu ditanggungnya. Hukuman yang membuatnya menyadari, Embun dan Rafan adalah napas dan hidupnya. Abra terdiam membisu, mengingat malam dia harus berpisah dari Embun. Malam paling menakutkan bagi Abra, ketika dengan kedua tangannya Abra harus melepas Embun dan Rafan. Abra masih teringat semua kata yang terucap dari bibir Arya malam itu.


FLASH BACK


"Abra Ahmad Abimata!" teriak Arya lantang, sontak Abra dan Fahmi berdiri.


Suara lantang Arya menggema di seluruh rumah keluarga Adijaya. Sofia yang baru saja masuk ke kamarnya, langsung keluar memeriksa keadaan. Sedangkan Iman dan Afifah yang tengah berada di dalam kamar. Memilih tidak keluar, mereka akan keluar ketika Arya melewati batas wajar. Embun dan Nur langsung berlari, menahan tubuh Arya. Amarah Arya terlihat jelas di kedua mata senjanya. Fitri tidak dapat menahan Arya, sebab Arya berhak marah. Dia ayah yang melihat putrinya terkhianati.


"Papa, tidak!" ujar Embun lirih, gelengan kepalanya isyarat Embun meminta Arya tidak melakukannya. Nur memegang erat tangan Arya, menenangkan amarah seorang ayah yang tersakiti hatinya.


"Embun, minggir dari hadapan papa. Dia laki-laki dan papa laki-laki. Dia dan papa sama-sama mencintaimu. Jadi jangan pilih salah satu diantara kami. Dia harus berani menghadapi papa. Jangan hanya diam di balik kata maaf, sakit hati papa tidak akan sembuh dengan kata maafnya!" ujar Arya tegas penuh amarah, Abra berjalan menghampiri Arya.


Fahmi menahan tubuh Abra, gelengan kepala Fahmi seolah meminta Abra untuk tetap diam. Namun Abra merasa semua baik-baik saja. Dengan tenang Abra menepis tangan Fahmi. Abra berjalan menghampiri Arya, mempertanggungjawabkan khilaf yang dilakukannya. Abra merasa harus bertanggungjawab. Tidak ada alasan Abra menghindar, karena nyatanya Abra salah.


"Bagus Abra, kamu memang laki-laki sejati. Jika kamu memang bersalah, kamu harus bertanggungjawab!" ujar Arya lantang dan kasar, Embun menoleh ke arah Abra. Nampak wajah tenang Abra, wajah yang siap menerima hukuman apapun dari Arya.


Embun menghampiri Abra, Embun merangkul lengan Abra. Membuktikan pada Arya, jika mereka baik-baik saja. Jadi tidak ada alasan Arya marah pada Abra. Nur melepaskan tangan Arya, ketika dia melihat tatapan tajam Arya. Nur takut melihat amarah Arya, dengan rasa cemas yang memenuhi hatinya. Nur berhambur memeluk Fahmi, bersembunyi dalam dekapan hangat suami tercintanya.


"Apa maksud dari sikapmu? Kenapa kamu tega melakukannya pada putriku? Aku sudah pernah mengatakan, jika kamu lelah dengan putriku. Kembalikan dia padaku, putriku masih memiliki ayah dan dia tidak akan pernah sendirian!" ujar Arya emosi, lalu menarik krah Abra. Embun menangis melihat amarah Arya, dua laki-laki yang paling penting dalam hidupnya bertengkar demi dirinya.


"Papa, aku mohon lepaskan kak Abra. Dia khilaf, aku sudah memaafkannya. Jika bukan demi diriku, maafkan kak Abra demi Rafan. Dia terlalu kecil, tidak sepantasnya dia terluka dengan perselisihan orang dewasa!" ujar Embun lirih, kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya. Embun memohon kata maaf untuk Abra.


Abra hanya diam melihat amarah Arya, tak ada alasan yang membuatnya terlihat benar. Abra tak mampu menatap mata Arya, bagaimana mungkin Abra sanggup mengucap kata maaf? Abra mengakui kesalahannya, dia tidak akan membela diri. Menanti hukuman menjadi cara Abra memperbaiki semuanya. Bahkan seandainya Arya menghajarnya sampai babak belur. Abra akan diam tanpa melawan. Asalkan Arya tidak memisahkan dirinya dengan Embun dan Rafan.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu mencintainya sayang? Kenapa kamu harus berhati sebaik ini? Dia telah mengkhianati cintamu, papa bukan laki-laki sempurna. Namun papa bukan pengkhianat seperti dia. Laki-laki yang menodai ketulusan dan kesetian seorang wanita, tidak pantas dibela!" ujar Arya menggebu, tangan kiri Arya mencengkram kra Abra dengan sangat kuat.


Nampak Abra mulai kesulitan bernapas, Abra merasa tercekik. Amarah Arya benar-benar tak bisa dikendalikan. Bahkan tangan Kanan Arya sudah terangkat, bersiap melayangkan tinju ke arah Abra. Namun dengan penuh kelembutan, Embun menggenggam erat tangan Arya. Embun mencoba menenangkan Arya, berharap hangat genggamannya menenangkan amarah Arya.


"Sayang, papa mohon lepaskan!" ujar Arya lirih, ketika dia merasa tangan Embun menggenggam erat tangannya. Arya merasa sakit yang teramat, wajah sendu putrinya semakin menyiksanya. Arya semakin marah, ketika melihat besar cinta Embun terbalas dengan pengkhianatan. Sikap pengecut seorang laki-laki yang mencari rasa nyaman pada wanita lain.


"Sayang!" ujar Arya lirih, setetes air mata kepedihan jatuh dari dua mata senjanya. Arya melepaskan cengkramannya. Arya menangkup wajah putri kecilnya. Arya hancur mendengar pengkhianatan Abra.


Uhuuukkkk


Abra langsung tersedak, setelah Arya melepaskan cengkramannya. Fahmi memberikan segelas air pada Abra. Iman dan Afifah keluar dari kamarnya. Sejak awal mereka berdua berdiri di samping. Layaknya Fitri dan Sofia yang diam mengamati. Mereka menyadari amarah Arya benar, tapi mereka akan bertindak saat Arya melewati batas. Namun selama ada Embun, tidak akan pernah Abra terluka. Embun begitu menghormati Arya, tapi dia sangat mencintai Abra. Embun akan meminta pengampunan Abra. Tanpa melukai rasa cemas seorang ayah.


"Sayang!" ujar Arya lirih, menangkup wajah Embun. Arya menarik tubuh Embun dalam pelukannya. Arya marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Putrinya terluka, tapi tak secuilpun Embun mengeluh padanya. Arya memeluk erat Embun, mencium lembut puncak kepala putri kecilnya. Arya hancur, dia melihat laki-laki sehebat Abra mengkhianati putrinya.


"Arya, tenangkan dirimu. Jangan gunakan amarahmu, sebab semua itu percuma. Abra sudah mengakui kesalahannya dan Embun sudah memaafkannya. Tidak ada kesempurnaan Arya, setiap orang pasti melakukan kesalahan. Sama halnya Abra yang khilaf dengan cinta masa lalunya. Ingatkah kamu, khilaf yang sama pernah kamu lakukan dan Embun memaafkan dirimu tanpa syarat. Setidaknya buang amarahmu demi wajah polos cucu kita. Rafan masih sangat membutuhkan Abra!" tutur Iman menenangkan Arya, Iman berdiri tepat di samping Arya dan Embun. Menepuk pelan pundak Arya yang tengah memeluk Embun putri kecilnya.


"Jika semua orang memaafkan dia demi Rafan. Kenapa dia bisa setega itu pada Rafan? Dia ayah yang meninggalkan putranya demi wanita bodoh seperti Sabrina!" sahut Arya, Iman mengedipkan kedua matanya. Isyarat dia setuju dengan perkataan Arya. Semua yang dikatan Arya benar, Abra salah dan tidak ada yang membenarkannya.


"Arya, Abra memang salah. Namun kita tidak bisa berbuat lebih, selama Embun tidak meminta pertolongan kita. Sekarang lupakan semuanya, maafkan Abra. Semua demi kebahagian Embun dan Rafan!" ujar Iman lirih, Arya diam membisu. Arya melepaskan pelukannya pada Embun.


"Papa, Embun mohon maafkan kak Abra!" ujar Embun, sembari menangkupkan tangan di depan Arya.


"Baiklah, aku akan memaafkan Abra. Aku akan melupakan pengkhianatannya, tapi ini untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada kata maaf, untuk kedua kalinya!" ujar Arya lantang, Embun mengangguk dengan bahagia. Dia langsung memeluk Arya erat, Iman bangga pada sikap lapang Arya.


"Terima kasih Arya!" ujar Iman, Arya menoleh lalu menatap Abra.


"Tunggu dulu, berapa lama kamu merasa nyaman dengan wanita itu?" ujar Arya mencari tahu, Abra langsung mendongak. Dia tidak mengerti, kenapa Arya menanyakan hal itu? Bukan hanya Abra, Embun dan yang lainnya merasa aneh dengan pertanyaan itu.


"Jawab!"


"Dua bulan papa!" ujar Abra lirih penuh rasa bersalah. Arya mengangguk mengerti, lalu dengan langkah tegas. Arya berjalan menghampiri Abra. Arya berdiri tepat di depan Abra. Nampak kecemasan di wajah semua orang. Berpikir Arya akan terpancing amarahnya mendengar jawaban Abra.

__ADS_1


"Dua bulan kamu mengacuhkan putriku, melupakan tawa cucuku. Dengan kerendahan hati, aku meminta dua bulan waktu putri dan cucuku. Aku ingin meminta waktu dua bulan mereka tanpa dirimu. Seandainya dua bulan yang lalu aku mengetahui pengkhiaatanmu. Maka dua bulan yang lalu, aku sudah membawa mereka jauh darimu. Sekarang berikan aku dua bulan hidup mereka. Akan aku bahagiakan mereka, aku akan memberikan kasih sayang yang tak pernah bisa aku kuberikan!" ujar Arya, sembari menengadahkan tangan di depan Abra. Arya meminta waktu Embun dan Rafan pada Abra.


"Papa!" sahut Abra tidak percaya, Abra langsung menggenggam erat tangan Arya. Abra menggelengkan kepalanya, berharap Arya tidak meminta Embun darinya.


"Abra, kini di depanmu berdiri seorang ayah yang bodoh dan hina. Dia telah kehilangan kesempatan membahagiakan putrinya. Bahkan saat melihat tangis putrinya, dia tidak sanggup melindunginya. Dengan penuh kerendahan hati, aku mohon kabulkan permintaanku. Hanya dua bulan, aku ingin Embun dan Rafan tinggal bersamaku!" ujar Arya lirih, dengan tangan tetap menghiba.


"Arya, kenapa kamu melakukan semua ini?" ujar Iman tidak percaya, Arya menoleh ke arah Iman.


"Agar dia menyadari, dua bulan tanpa Embun dan Rafan mampu membuatnya tersiksa. Abra akan menyadari, kebahagiannya hanya bersama Embun dan Rafan!"


"Jika memang kebahagian mereka ada saat keduanya bersama. Kenapa kamu malah memisahkan mereka?" Sahut Iman lagi.


"Agar Abra merasakan sakit yang dirasakan Embun selama dua bulan. Embun tidak akan mengkhianati Abra, tapi dia akan tinggal di rumahku. Abra masih bisa bertemu dengan Embun!"


"Arya, kamu tidak bisa melakukan itu? Tidak hak kamu memisahkan Embun dengan Abra, itu salah dan berdosa!" ujar Iman mengingatkan Arya, tapi Arya seolah tidak peduli. Arya menatap Abra yang terus menunduk.


"Aku bisa, jika Abra mengizinkan!" sahut Arya dingin. Tak peduli akan diam dan cemas Abra.


FLASH BACK OFF


Tepat malam ini, satu bulan sudah Embun tinggal bersama Arya. Satu bulan yang cukup membuat Abra tersiksa. Abra merasakan betapa sepi dan hampa hidupnya tanpa Embun dan Rafan. Waktu terasa begitu lambat berputar, Abra seolah tak sanggup menahan rindu dalam hatinya. Walau hampir setiap siang Embun datang menemui Abra. Embun sengaja membawakan makan siang untuk Abra. Bahkan setiap malam Abra masih bisa menemui Rafan. Namun tinggal di dua rumah yang berbeda. Membuat Abra merasakan sesak yang teramat. Dia tidak sanggup jauh dari Embun.


Abra mendongak menatap langit, kerlip bintang tak mampu menenangkan gelisahnya. Abra benar-benar merindukan Embun. Abra cukup sadar telah melakukan kesalahan. Namun dua bulan waktu yang diminta Arya, belum berakhir. Bahkan semenjak Embun tinggal di rumah Arya, Abra memilih tinggal di rumah keluarga Abimata. Abra tidak sanggup tinggal di rumahnya sendiri. Bayangan Embun ada di setiap sudut rumahnya. Tawa riang Rafan menggema di seluruh rumah. Abra tersiksa dengan kenangan manis yang ada di dalam rumahnya. Hanya balkon kamarnya tempat dia mencurahkan rindu dan kesalnya.


Braaakkkk


Kedua tangan Abra meninju pagar besi. Suaranya terdengar begitu nyaring, menggema di kamar Abra. Suara jeritan hati Abra yang merindukan Embun dan Rafan. Jarak yang begitu dekat, tapi seakan jurang yang siap membuatnya terkubur hidup-hidup. Nampak tetes-tetes darah dari tangannya. Darah yang menetes menggantikan air mata Abra yang tertahan. Bukti kerinduan Abra akan cinta sejatinya. Abra tak merasakan sakit, walau darahnya menetes dengan derasnya.


"Lihatlah tuan Haykal, putramu hancur karena kesalahannya sendiri. Kebahagian seolah tak ingin menyapanya. Semua karena doamu yang tak pernah ingin melihat Abra bahagia. Malam ini, kita melihat darah menetes dari tangannya. Lain hari, kita akan melihat darah menetes dari kedua matanya. Hari dimana putramu hancur tak bersisa? Hari disaat putramu kehilangan tujuan hidupnya!" ujar Indira dingin, lalu berhambur memeluk Abra yang terduduk bersandar pada pagar pembatas.


"Tenangkan dirimu Abra, bersabarlah sayang. Semua akan baik-baik saja!" ujar Indira menenangkan Abra dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku merindukan mereka, aku rindu!" ujar Abra lirih, penuh dengan penyesalan dan luka.


__ADS_2