KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Di Bawah Guyuran Hujan


__ADS_3

Sang fajar belum menyapa, kabut belum menghilang. Suara ayam berkokok menyapa sang penghuni alam. Terdengar helaan napas dari mushola kecil di sebuah rumah megah. Suara merdu yang baru terdengar melantunkan ayat-ayat suci Al-quran. Suara emas yang dimiliki oleh Hanna. Entah kenapa sejak tengah malam? Kedua matanya enggan tertutup, tak ada kantuk yang menyergap. Sekadar terpejam sebentar saja. Sampai akhirnya sayub terdengar suara azan.


Suara indah azan yang membangunkan Hanna dari kegalauan tanpa batas. Pertemuannya dengan Rafan, nyata mengusik hati dan pikirannya. Kejujuran Rafan membuatnya bimbang, akan terus melangkah menuju bahagia bersama Rafan. Melupakan kejujuran yang tanpa sengaja menorehkan luka di hati Hanna. Sebaliknya, haruskah Hanna terus berjalan menggapai bahagia. Menanti rasa cinta hadir di hati Rafan. Terus percaya dan yakin, Rafan yang terbaik dan pantas menerima rasanya.


"Alhamdulillah!" batin Hanna, sembari mencium Al-quran yang ada di tangannya. Hanna menutup Al-quran bersamaan dengan suara azan subuh berkumandang. Hanna diam bersimpuh, menanti waktu sholat subuh. Menyerahkan seluruh kegelisahannya di pangkuan sang pemilik hidup.


Hanna masih mengingat jelas, perkataan Rafan semalam. Sebuah kejujuran yang terus terbayang dalam benak Hanna. Kejujuran yang membuatnya semakin takut kehilangan Rafan. Hanna tak merasa terhina, tapi kejujuran Rafan bisa menjadi luka bagi orang-orang yang menyayanginya. Seandainya mereka berpikir, Rafan hanya ingin mempermainkannya. Namun jauh di dalam hati Hanna, tak secuilpun Hanna ragu akan ketulusan Rafan. Dia percaya, Rafan pribadi yang baik dan tulus. Meski perkataan Rafan semalam terus teringang di telinga dan benaknya.


FLASH BACK


"Hanna, ada satu hal yang harus kamu ketahui. Sebuah kejujuran yang mungkin menghancurkan hati atau bahkan melukai harga dirimu sebagai seorang wanita. Namun kejujuran dasar dari sebuah hubungan. Aku tidak ingin menyimpan kebohongan dalam hatiku. Hubungan hanya akan berjalan dengan baik, jika kejujuran menjadi landasannya. Sebaruk atau sepahit apapun kejujuran itu. Jika memang kamu merasa sanggup mendengar kejujuranku. Aku akan mengatakannya sekarang juga. Aku ingin hubungan kita diawali dengan bismillah, dijalani dengan iman dan kejujuran. Aku berharap rasa syukur menjadi pondasi penyatuan hati kita!" tutur Rafan lirih, Hanna diam membisu.


Hatinya bergejolak, debaran jantungnya terdengar bergemuruh. Hanna seakan tak mampu menahan kuat detak jantungnya. Jantung yang siap melompat dari tempatnya, meninggalkan hati yang lemah. Rasa takut kehilangan harapan yang ada dalam hati terdalam seorang wanita sederhana. Akan cintanya pada laki-laki tak sempurna, tapi memiliki hati dan iman yang nyaris sempurna.


"Jika kamu tidak ingin mendengarnya. Aku akan tetap diam, tapi tidak akan pernah ada penyatuan diantara kita. Sebab hatiku tidak ingin menyakitimu, hanya kebahagian dan ketenangan yang ingin aku berikan padamu. Walau kejujuranku menjadi alasan sakitmu saat ini. Namun percayalah, kelak hanya akan ada kebahagian diantara kita!" ujar Rafan mantap, Hanna menoleh dengan raut wajah datar. Bukan Hanna takut mendengar sebuah kejujuran, tapi Hanna terlalu lemah. Dia tak memiliki hati yang kuat. Jika Rafan mengatakan sesuatu yang membuat Hanna terluka.


"Kak Rafan, aku ingin mendengar kejujuranmu. Namun hati dan jantungku terlalu lemah. Aku merasa takut, seandainya kejujuranmu malah membuatku membencimu. Jujur kak, aku tidak ingin membencimu. Lebih baik kita tak pernah bersama. Daripada ada rasa benci di hatiku untukmu!" ujar Hanna, Rafan mengangguk mengerti.


Rafan menggenggam erat tangannya. Tak lagi ada alasan Rafan duduk di dekat Hanna. Sudah ada keputusan dari hati Hanna. Rafan takkw2a.an memulai hubungan tanpa kejujuran. Hanna tidak pantas disakiti, dia wanita yang baik dan pantas bahagia. Rafan merasa ada imam yang jauh lebih baik darinya. Jawaban abu-abu Hanna, sudah lebih dari cukup bagi Rafan. Jika Hanna tidak siap mendengar kejujuran darinya. Maka tidak akan pernah Hanna bersatu dengan Rafan. Setidaknya sampai hati Rafan yakin dan percaya Hanna yang terbaik untuknya.


"Baiklah Hanna, aku pergi dulu. Aku harus pergi ke rumah sakit. Ada pasien gawat darurat, jadi aku harus pergi sekarang!" pamit Rafan, Hanna mengangguk tanpa menoleh ke arah Rafan.


Hanna hanya bisa diam, ketika Rafan memilih pergi. Hanna tak memiliki kata yang mampu membuat Rafan berubah pikiran. Rafan pribadi yang tegas, tak ada yang mampu merubah keputusan Rafan. Apalagi semua itu demi hubungan mereka. Sebuah kejujuran yang menjadi dasar sebuah rasa. Kini malah memercikkan rasa bingung di hati Hanna. Sebuah ketakutan akan cinta yang tak terbalaskan, membuat Hanna begitu lemah. Kekaguman akan pribadi Rafan, rasa yakin dan percaya akan keimanan Rafan. Membuat Hanna takut kehilangan calon imam dunia akhiratnya.

__ADS_1


"Kak Rafan!" ujar Hanna, sembari menahan tangan Rafan. Hanna seolah tak mampu menahan hasrat yang membara di hatinya. Hanna melupakan harga dirinya, demi sebuah rasa yang begitu tulus untuk Rafan. Sebaliknya Rafan tak berkutik, ketika tangan Hanna memegangnya erat. Desiran hangat seketika mengalir dalam darahnya. Sentuhan hangat Hanna, nyata membakar tubuh Rafan. Darah Rafan mengalir deras dan terasa panas. Hanna membuat Rafan tak berdaya, sentuhan hangat Hanna meruntuhkan benteng iman yang selama ini ada dalam hidup Rafan.


"Maaf!" ujar Hanna lirih, saat dia menyadari sikapnya berlebihan.


Hanna langsung melepaskan pegangannya. Rafan mengangguk pelan, mengiyakan permintaan maaf Hanna dan menganggap sikap Hanna tidak masalah. Rafan menatap nanar wajah Hanna, menatap penuh harap akan hubungan diantara keduanya. Tanpa Rafan sadari, hati terdalam Rafan mulai berharap akan ikatan suci diantara mereka berdua.


"Katakanlah kak, aku siap mendengarnya!" ujar Hanna lirih, Rafan langsung duduk di dekat Hanna.


"Hanna, aku harap kejujuranku tak membuatmu menyesal!" ujar Rafan lirih, Hanna menggelengkan kepalanya lemah.


"Hanna, aku ingin menjalin ikatan suci denganmu. Kamu menjadi wanita pertama yang ingin aku bahagiakan, selaian mama dan Kanaya. Namun niat tulusku terhalang rasa cinta yang belum ada dalam hatiku. Sebagai seorang laki-laki, aku bisa tetap diam dan memanfaatkan hangat yang kamu tawarkan. Namun aku ingin menjadi alasan bahagiamu, bukan alasan tangismu. Jujur Hanna, rasa cinta itu memang belum ada. Namun aku yakin dan percaya, kelak akan ada bahagia dalam hubungan kita. Jika memang kamu tidak keberatan, aku akan meminangmu secepat mungkin. Namun jika kamu merasa kejujuranku melukai harga dirimu. Lebih baik pikirkan kembali hubungan kita!" tutur Rafan hangat, Hanna diam seraya meremas ujung hijabnya. Nampak jelas gelisah dalam hati Hanna.


"Aku mencintaimu kak!" sahut Hanna lirih, Rafan menoleh dengan raut wajah kaget. Seorang wanita dengan lantang dan tulus mengungkapkan isi hatinya. Meski sikap dingin Rafan yang selama ini dia terima.


FLAHS BACK OFF


"Hanya pada-MU, Ya Rabb hamba menyerahkan semua ketetapan. Engkau maha pembolak-balik hati. Hanya Engkau yang mampu menghapus gelisah dalam hati hamba yang hina. Hanya Engkau yang sanggup mengubah segalanya. Hanya pada kekuasaan-MU, hamba berserah dan menghiba. Dekatkan dia, jika memang dia yang terbaik bagi hamba. Jauhkanlah dia, jika dia bukan jodoh hamba. Hati ini tak lagi bisa berpaling darinya. Namun dalam hatinya belum tertulis namaku. Satukanlah kami, jika hubungan ini halal dan barokah bagi kami Jauhkanlah kami, jika hubungan ini haram dan mudarat bagi kami. Di waktu subuhmu hamba bersimpuh, tunjukkanlah jawaban terbaik dari semua hal yang paling baik!" batin Hanna, sembari menengadahkan tangan.


"Alhamdulillah!" ujar Hanna lirih, sembari melepaskan mukena.


Hanna merasa sedikit tenang dan siap bertemu Rafan. Namun ada satu hal terbersit dalam benak dan hatinya. Hanna teringat akan restu yang harus didapatkannya. Restu dan ridho yang akan membawanya pada bahagia yang sejati. Dengan anggukan kepala, Hanna mantap pergi mendapatkan ridho yang dibutuhkannya.


Sejak pagi buta Hana sudah pergi dari rumah. Dia keluar setelah sholat subuh. Biasanya Hana akan kembali ke kamar. Namun pagi ini dia sengaja keluar dari rumah. Hana pergi tanpa pamit pada siapapun? Terutama Fahmi dan Nur yang kebetulan belum keluar dari kamar mereka. Biasanya Fahmi dan Nur akan sholat berjamaah di dalam kamar. Namun terkadang keduanya sholat berjamaah dengan Hanna. Namun pagi ini, keduanya tidak turun. Alasan yang membuat Hanna pergi tanpa mengetuk pintu kamar Fahmi dan Nur. Hana tidak ingin ada yang tahu, kemana dia pergi? Hana ingin pergi sendiri, tanpa ada yang mengikuti. Namun Hanna sempat berpamitan pada penjaga gerbang. Takut kalau Fahmi atau Nur menanyakan dirinya.

__ADS_1


Sejak semalam, Hanna merasa tidak tenang. Salah satunya kejujuran Rafan yang membuatnya bimbang. Bukan ragu akan hubungannya dengan Rafan. Melainkan takut, jika Rafan terpaksa memilih dirinya sebagai pemilik tulang rusuknya. Kebetulan Hari ini, hari yang sama dengan kepergian orang tuanya. Hari naas yang menjadi saksi bisu kedua orang tua Hanna meninggal. Sudah lama Hana tidak pernah pergi ke makam. Fahmi sudah mengatur segalanya, bahkan Fahmi sengaja membayar lebih pada juru kunci makam. Agar dia merawat makam orang tua Hanna dengan baik. Namun entah kenapa beberapa hari terakhir? Hana ingin sekali datang ke makam. Mungkin kejujuran Rafan yang akhirnya membuatnya mantap pergi ziarah ke makan kedua orang tuanya.


Fahmi dan Nur tak pernah menutupi fakta tentang kedua orang tua Hanna. Sejak dulu, Nur selalu membawa Hanna ziarah ke makam kedua orang tuanya. Sikap lapang dada yang jarang diperlihatkan oleh orang tua angkat. Sebab ada rasa takut kehilangan di hati mereka. Hanna sudah mengenal orang tua kandungnya. Namun tak pernah Hanna mengacuhkan kasih sayang Nur dan Fahmi.


Hanna selalu datang, ketika dia sedih atau bahagia. Semenjak dia sibuk dengan kegiatan kuliah, Hanna mulai jarang ziarah ke makam orang tuanya. Namun tak pernah sekalipun Hanna lupa bersujud memohon ampun, untuk kedua orang tuanya. Dalam sujudnya hanya ada doa yang senantiasa dia panjatkan untuk orang-orang yang menyayanginya. Walau Hanna tak pernah datang ke makam. Dia tak pernah melupakan jati dirinya. Hanya doa dan sujud dalam sholatnya yang menggantikan baktinya. Demi ampunan dosa kedua orang tuanya.


Setelah sampai di makam, Hanna membersihkan makam kedua orang tuanya. Hanna meminjam sapu lidi dan parang dari juru kunci. Dengan telaten Hanna membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di atas makam. Hanna seakan lupa akan semua rasa gelisah dan penyesalannya. Hanna mulai merasa tenang, seakan kedua orang tuanya tengah mendekap hangat dirinya. Pelukan yang pernah dirasakannya, saat kecelakaan itu terjadi. Pelukan sang ibu yang membuatnya selamat dari kecelakaan maut itu.


Hanna datang bukan sebagai putri seorang Fahmi atau cucu keluarga besar Sanjaya. Dia datang sebagai seorang putri yang sederhana. Tak ada kemewahan yang melekat dalam tubuh Hanna. Hanya daster sederhana yang Hanna kenakan. Daster yang mungkin murah bagi keluarganya. Namun sangat mahal bagi seorang Adinda Hanna Zahira. Ironi kehidupan yang Hanna jalani. Kemewahan yang Hana rasakan, bak kisah cinderella. Namun Hanna tetaplah Hanna yang sederhana. Tidak ada yang akan berubah, meski dia mendapatkan kemewahan. Hanna tak pernah melupakan jati dirinya. Dia tetap Hanna yang sederhana, tanpa harta berlimpah.


Sesekali Hanna menengadah menatap langit yang muram. Sejak pagi, entah kenapa sang mentari malu menampakkan wajahnya? Tak ada sinar yang biasa menerangi pagi hari. Tak ada kehangatan yang memberikan semangat bagi seluruh makhluk. Hanna mendengar suara langit bertasbih. Kilatan petir menyambar terasa sangat dekat. Meski tak terlihat mata, tapi bisa terasa oleh Hanna. Angin bertiup sangat kencang, menerpa hijab panjangnya. Dingin angin menusuk tulang-belulang Hanna. Menyadarkan Hanna langit bersiap menumpahkan tangisnya.


Hanna mempercepat pekerjaannya. Dia harus segera pergi dari makam. Jika tidak Hanna akan kehujanan. Langit yang begitu gelap, menandakan akan turun hujan yang sangat deras. Beberapa menit kemudian, Hanna selesai. Dia bersimpuh di antara makam kedua orang tuanya. Hanna menengadahkan tangan, memohon ampun bagi kedua orang tuanya. Tahlil dan yasin terdengar dari bibir Hanna. Hanya doa yang kini mampu Hanna berikan sebagai bakti terakhir bagi mendiang kedua orang tuanya.


DUAAARRR DUAAARRR DUAAARRR


Suara gemuruh terdengar begitu dahsyat. Kilatan petir membelah langit yang gelap. Hanna tetap dalam doanya, tak terusik dengan petir yang menyambar. Rintik hujan mulai turun bersamaan dengan angin. Hanna mulai merasakan tetesan air mata langit yang jatuh tepat di atas puncak kepalanya. Hanna merasa, seolah air hujan tak lain air mata orang tuanya. Harapan sederhana seorang putri yang ingin merasakan hangat kehadiran orang tuanya.


"Kenapa tidak mengajakku? Kamu malah pergi sendirian!" ujar Rafan tiba-tiba, Hanna mendongak ke arah Rafan. Nampak Rafan membawa payung, menghalau hujan agar tak membasahi tubuh Hanna. Meski derasnya hujan telah membuat Rafan dan Hanna basah.


"Kak Rafan!" sahut Hanna, Rafan mengangguk pelan. Rafan berjongkok tepat di samping Hannaza. Jarak mereka sangat dekat, karena payung yang mereka gunakan mulai tak sanggup menahan derasnya air hujan.


"Mereka orang tuamu, kelak mereka orang tuaku juga. Jangan pernah datang sendiri, ajak aku datang bersamamu!"

__ADS_1


__ADS_2