
Terlihat seorang wanita berdiri diantara persawahan yang terbentang luas. Wanita berhijab yang terlihat menawan dengan menggunakan gamis panjang. Dia sedang menatap sang mentari pagi. Sang fajar terbit membawa kehangatan dan semangat baru. Hanna Adinda Zahira, wanita cantik yang diam mengangumi kehangatan sang fajar. Suasana desa yang tenang, sejenak menghapus sepi dan rindu yang menyergap dalam hatinya. Hanna seolah menemukan ketenangan di balik hangat cahaya sang fajar.
Suara burung pipit, mengalun indah bak simfoni lagu yang merdu. Gesekan daun kelapa kala tertiup angin, menjadi pelengkap irama merdu pagi. Hanna terdiam menatap sang fajar, mencari hangat bagi hatinya yang dingin. Gemericik suara air yang mengalir, seirama dengan suara rindu yang ada di hatinya. Keindahan alam yang tersuguh di tengah persawahan. Mengajarkan Hanna arti sebuah hubungan. Hanna mencoba memahami makna yang tersaji dari alam.
Sejak semalam Hanna tak mampu memejamkan kedua matanya. Hatinya gelisah memikirkan rindu yang menguasainya. Kerinduan akan sosok imam yang tak lagi mengunjunginya. Rasa rindu yang membuat dadanya terasa sesak. Dalam siksa rindu yang mampu membuatnya tiada. Akhirnya Hanna memutuskan pergi ke persawahan yang ada di desa. Kala sang fajar belum menyapa, Hanna sudah duduk di gubuk kecil di sisi jalan setapak desa. Hanna pergi tanpa pamit pada Aira. Sebab saat Hanna pergi, Aira sedang sholat subuh.
Hampir satu bulan lebih Hanna berada di desa ini. Jauh dari keramaian kota, sebuah desa kecil yang penuh dengan keramahan. Desa tempat Hanna dan Aira melakukan KKN. Desa kecil yang tenang dan damai, tapi tak setenang hati Hanna yang tengah merindukan Rafan. Sang pemilik hati yang tak lagi menyapa hampir satu bulan. Tak ada suara hangat yang begitu dirindukan Hanna. Rencana sebuah pernikahan setelah dua bulan. Seolah hanya angan dan takkan pernah terlaksana. Mengingat Rafan yang tak pernah datang mengunjunginya.
Jangankan bertemu dan saling menatap, menghubungi Hanna lewat telponpun tidak. Rafan bak hilang ditelan bumi, tak ada kabar dari Rafan. Sekadar mengatakan dirinya baik-baik saja. Malam indah kala itu, menjadi malam membahagiankan. Sekaligus malam terakhir Hanna menatap wajah Rafan. Tak lagi dua mata indahnya, menatap wajah tampan Rafan. Rasa rindu yang mulai menyakitkan bagi Hanna.
Hanna dan Aira memilih jurusan yang sama. Keduanya bak dua saudara kembar, usia mereka tak terpaut jauh. Sejak sekolah dasar, Hanna dan Aira selalu bersama. Hanya saat putih abu-abu, Hanna dan Aira terpisah. Hanna masuk sekolah formal bersama dengan Hanif. Sedangkan Aira memilih masuk ke pondok pesantren, satu tahun sebelum dia lulus dari SMP. Sama seperti hari ini, Hanna dan Aira memilih KKN di desa yang sama. Mereka pergi dengan beberapa temannya. Hanna meminta dosen di kampusnya, agar dia bisa KKN di desa ayah kandungnya. Hanna ingin pergi mengunjungi keluarga dari ayahnya. Desa yang akhirnya membawa kebahagian dan ketenangan dalam hatinya. Hanna menemukan arti hidup selama tinggal di desa asal ayahnya.
Keluarga Hana berasal dari desa terpencil. Jauh dari kota tempat tinggal Hana saat ini. Butuh sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai di kota. Hanna baru pertama kalinya datang ke desa ini. Sejak kedua orang tuanya meninggal. Fahmi dan Nur tidak pernah membawa Hanna datang ke desa. Sampai akhirnya Hanna datang ke desa dengan alasan yang berbeda. Dia tidak pernah menyangka, jika sang ayah berasal dari desa yang cukup jauh dari kota.
Namun rasa lelah Hanna terbayar lunas. Dia melihat betapa indahnya pemandangan desa. Sangat alami dan sejuk, sawah dan pegunungan yang terbentang di sekitar desa. Keramahan warga desa, menyimpan kehangatan tersendiri di hati Hanna. Awalnya Hanna tidak betah, Hanna ingin segera pulang ke kota. Namun lama-kelamaan Hanna merasa nyaman dan tenang. Jangankan dua bulan, Hanna ingin berada selamanya di desa. Hanna seolah enggan meninggalkan desa ini. Dia terlanjur jatuh hati pada keindahan dan alaminya pemandangan desa. Namun kerinduan akan sosok Rafan, membuat Hanna rapuh dan lemah. Hanna tak mampu jauh dari bayangan Rafan. Rasa rindu yang salah, tapi inilah cinta yang tidak pernah salah.
Lama Hanna termenung menatap hangat sang mentari pagi. Fajar telah berlalu, dingin kabut telah pergi, Embun pagi menguap menghilang. Kini tinggallah sang mentari yang hangat. Menyapa setiap makhluk bernyawa yang mendambakan hangatnya, di kala pagi menyapa. Sama halnya Hanna yang berharap sang mentari menghangatkan hatinya yang dingin. Hati yang mulai terasa sepi, menahan rindu yang mengusik ketenangan jiwanya. Hanna menengadah ke arah langit, menanti cahaya dan hangat mentari menerpa wajahnya. Ketenanhan dan keindahan yang tak pernah Hanna temukan di kota.
"Alhamdulillah, aku masih bisa menatap cahayamu. Sinar hangatmu menyapa hatiku. Ketenangan yang kamu hadirkan dalam gelisah hatiku. Menyadarkan diriku, aku harus bertahan dan tak boleh kalah oleh rindu ini. Aku harus kuat, menahan kerinduan ini. Semua demi penyatuan indah yang abadi. Aku percaya, hadirnya sang mentari membawa makna indah. Seperti aku percaya, akan ada bahagia yang tersimpan di balik rindu yang menyakitkan ini. Rasaku untuknya memang besar, tapi imanku pada-MU jauh lebih besar. Demi rasa indah ciptaan-MU, hamba akan menahan rasa rindu padanya. Menyerahkan semua rasa padanya dalam sujud dan doaku. Hanya pada-MU hamba berserah dan meminta pertolongan. Hamba percaya, perpisahan terjadi demi sebuah pertemuan yang indah. Kini hanya satu doa dalam sujud hamba. Sejauh mata ini tak mampu menatapnya. Sejauh itu pula, hamba memohon perlindunganmu untuknya. Berikan kesehatan dan jauhkan dirinya dari bahaya. Dia segalanya dalam hidup hamba dan hanya pada-MU hamba menyerahkan sehat dan sakitnya. Amiin!" batin Hanna penuh harap.
"Sampai kapan kamu duduk termenung di sini? Sebentar lagi jam 07.00 WIB, kita harus bersiap untuk acara perpisahan. Kita harus mengucapkan salam perpisahan pada warga desa!" ujar Aira, Hanna menoleh dengan raut wajah tak percaya. Dia tidak menyangka Aira berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Sejak kapan kakak berdiri di sini?"
"Sejak kamu melamun dan lupa akan sekitarmu. Kamu begitu merindukannya!" ujar Aira, Hanna mengangguk pelan. Ada rasa sedih yang terpancar di wajah Hanna. Rasa rindu yang tak mampu ditahan Hanna. Rasa rindu yang kini menyiksa batinnya.
"Kenapa tidak menghubunginya? Bukankah kamu memiliki nomer ponselnya!"
"Dia pasti sibuk, aku tidak ingin mengganggunya!" sahut Hanna sembari menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sudahlah Hanna, Rafan pasti memiliki alasan kuat. Sebaiknya kita segera bersiap, nanti sore kita kembali ke kota!" ujar Aira mencoba menenangkan Hanna. Dengan langkah gontai, Hanna menghampiri Aira.
"Hanna!" sapa Aira lirih, tepat sesaat setelah Hanna merangkul tangan Aira. Hanna bergelayut manja pada lengan Aira. Menyandarkan rindu yang ada di hatinya. Pada teman yang lebih mirip sebagai seorang saudara.
"Rindu itu memang berat, tapi rasa rindu itu harus. Sebab rindu awal sebuah rasa. Jika rindumu memiliki kepercayaan. Maka kamu akan percaya, jika Rafan tetap memegang teguh janjinya. Kamu tidak akan meragukan kesetian Rafan. Selalu yakin akan rasa yang ada diantara kalian. Namun saat rindumu hanya emosi tanpa dasar. Kamu akan terjerumus dalam rindu yang penuh dengan ketakutan. Rasa cemburu akan menguasai hatimu. Rindu yang akan membuat hubungan kalian semakin jauh. Aku hanya ingin mengingatkan padamu. Jangan pernah mengangungkan cinta pada Rafan yang akhirnya membuatmu lupa akan cinta pada-NYA. Sebaliknya cintailah Rafan dengan iman kepada-NYA, agar hatimu tenang dan percaya semua yang terjadi itu yang terbaik. Sekarang hapus air matamu, ucapkan bismillah dalam hatimu. Percayalah, nanti malam rindumu akan menemukan akhirnya!"
"Ada apa?"
"Kenapa kak Rafan harus sempurna? Jika dia tidak tampan dan pintar. Mungkin aku tidak akan ketakutan dan cemburu tidak jelas. Seandainya kak Rafan itu biasa-biasa saja, rinduku pasti dipenuhi rasa percaya. Sayangnya, kak Rafan calon imamku terlalu tampan. Pesonanya mampu menghancurkan iman kaum hawa!" tutur Hanna lirih, sembari bergelayut manja pada lengan Aira.
"Kamu benar, Rafan terlalu tampan. Pesonanya dengan mudah membuat kaum hawa luluh. Namun Rafan bukan laki-laki biasa, dia akan teguh menyimpan rasanya. Hanya untuk imam dunia akhiratnya!"
"Kak Aira, tidak tertarik pada kak Rafan!"
__ADS_1
"Aku tertarik, sangat tertarik. Namun pesona Rafan tak pernah mengetuk hatiku. Ada satu nama yang mengisi hatiku. Nama yang takkan pernah menjadi bagian hidupku!"
"Maksud kak Aira!"
"Aku menyimpan cinta untuk satu nama, tapi menjaga kehormatanku untuk imam dunia akhiratku. Kelak cintaku harus kalah, ketika calon imamku mengkhitbahku pada orang tuaku. Cinta yang aku simpan dan kupasrahkan pada-NYA. Cinta yang takkan pernah aku perjuangkan. Sebab aku mencintainya karena-NYA dan hanya pada-NYA aku menyerahkan akhir rasa cinta ini!"
"Kak Aira, kakak sangat mencintainya!" ujar Hanna lirih, Aira mengangguk tanpa ragu.
"Kakak tidak merindukannya, tidak pernahkah kakak merasa sakit. Kala mengingat cinta kakak tak bersatu!"
"Aku merindukannya dalam doa dan sujud. Aku mencintainya di sepertiga malamku. Aku tidak pernah sakit atau kecewa, ketika menyadari cintaku takkan pernah bersatu dengannya. Sebab DIA jauh lebih mengetahui yang terbaik untuk kami berdua. Selama dia ada dalam penjagaan-NYA, selama itu aku akan terus mencintainya dalam sujud. Doa yang aku panjatkan untuknya, bukti ketulusan hatiku. Tidak ada lagi yang aku harapkan, sehat dan bahagia sudah cukup membuatku bahagia!"
"Kakak hebat, mencintai tanpa mengharap!" sahut Hanna lirih, Aira mengangguk pelan. Aira tersenyum di balik cadar.
"Sebab cinta itu suara hati yang penuh ketulusan dan tak harus berbalas!" ujar Aira tegas.
"Alhamdulillah, kak Aira saudara kak Rafan. Jika tidak…!"
"Jika tidak…?" ujar Aira tak mengerti.
"Jika tidak, kak Rafan pasti lebih memilih kak Aira yang baik dan penuh ketulusan. Kak Aira sosok wanita lembut yang didambakan semua laki-laki!" sahut Hanna, Aira menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kamu salah Hanna, Rafan tidak membutuhkan wanita lembut dan tulus sepertiku. Dia membutuhkan seorang makmum pelengkap dalam hidupnya. Makmum yang akan mengisi kosong hatinya dengan cinta. Makmum yang akan menyinari gelap hatinya dengan keceriaan. Makmum yang akan membawa hangat dalam sikap dinginnya dengan kepolosan. Makmum itu kamu, wanita yang mencintai Rafan tanpa takut mengakui isi hatinya. Sebab kepolosanmu membuat jarak diantara kalian menghilang. Percayalah Hanna, tidak ada yang sempurna. Namun suara hati tidak pernah salah. Hatimu telah memilih Rafan dan hatinya telah yakin padamu. Jalan terjal akan membuat luka dalam setiap langkah. Namun jangan pernah biarkan tangan kalian berdua terlepas. Kuatkan genggaman dengan kepercayaan dan kesetiaan. Kelak akan ada masa, dimana hanya ada bahagia yang menyapa!" tutur Aira, Hanna memeluk Aira dengan sangat erat.
"Aku menyayangimu kak!" teriak Hanna bahagia.