
"Abra, dimana Embun? Kenapa aku tidak melihatnya ikut makan malam?" ujar Arya, Abra menoleh ke arah kamarnya.
Malam baru saja menyapa, suara azan isya baru saja berkumandang. Namun entah kenapa Embun langsung tidur setelah sholat isya? Abra sempat menanyakan kondisi Embun. Namun seperti biasa, Embun mengatakan dirinya baik-baik saja. Arya menyadari ada yang salah dengan putrinya. Malam ini, pertama kalinya Embun meninggalkan dirinya sendirian di meja makan. Embun tidak ikut makan malam bersamanya. Sebab itu Arya merasa cemas, sekaligus heran akan sikap Embun.
"Embun pergi ke kamar setelah sholat isya. Namun papa tenang saja, dia baik-baik saja. Embun mungkin lelah, setelah seharian keluar. Dia tidak lagi sekuat dulu, Embun mudah lelah!"
"Kamu tidak berbohong!" ujar Arya tidak percaya, Abra mengangguk menegaskan.
"Embun baik-baik saja, dia hanya kelelahan!" sahut Abra, Arya menatap lekat Abra.
Hati nuraninya berkata lain. Meskipun tatapan Abra sedikit menyakinkan keraguannya. Namun Arya merasakan sesuatu yang berbeda. Apapun yang Embun sembunyikan? Akan dengan mudah diketahui Arya, sebab rumah sakit tempat Embun memeriksakan kandungan. Tak lain milik keluarga Adijaya, artinya tidak akan ada yang bisa menolak mengatakan rahasia yang Embun sembunyikan.
"Baiklah Abra, papa percaya perkataanmu. Namun saat papa mengetahui yang sebenarnya dan kamu terbukti berbohong. Papa akan membuatmu mengenal siapa papa sebenarnya? Embun putri satu-satunya papa, demi dia papa bisa melakukan apapun. Sejak lahir sampai dewasa, papa tidak bisa melindunginya. Sekarang papa akan menebus semua itu dengan segala cara. Walau harus membuatnya jauh darimu!" ujar Arya tegas, Abra langsung tertunduk membisu. Ketegasan yang dikatakan Arya, nyata membuat Abra takut. Bukan karena amarah atau pukulan yang akan diterimanya. Namun ancaman dijauhkan dari Embun, seolah cara dia terbunuh dengan perlahan.
"Arya kamu jangan lupa, Abra itu suami Embun. Dia memang putrimu, tapi Abra jauh lebih berhak atas diri Embun. Tidak seharusnya kamu mengatakan itu. Sebagai seorang ayah, kamu wajar mencemaskan kondisi Embun. Namun kamu harus menyadari, Embun tak lagi sendiri. Dia telah menemukan imam dunia akhiratnya. Kita hanya pengawas, tak lagi berhak menentukan jalan terbaik bagi Embun!" tutur Iman lantang, Abra menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Arya menoleh ke arah Iman, dengan tatapan tajam. Arya seolah ingin menolak perkataan Iman.
"Aku tidak akan keras, seandainya Abra tidak lemah. Meski sekarang dia suaminya, tapi Embun memiliki ayah yang selalu siap menjaganya. Namun seandainya Abra mampu memenuhi tanggungjawabnya. Maka aku akan menyerahkan hidup putriku ditangannya!" sahut Arya dingin, Iman tersenyum simpul.
"Arya, jangan sampai kasih sayangmu malah menjauhkanmu dari Embun. Ingat saat aku mengatakan, Embun itu titisan Almaira. Baik wajah, sikap dan watak hampir sama dengan Almaira. Jika kamu masih mengingat, bagaimana Almaira menjauh darimu? Kala kamu membalas orang yang menyakitinya tanpa ampun!" ujar Iman mengingatkan, Arya langsung menunduk. Iman menepuk pelan pundak Arya.
"Arya, lindungi putri kita dengan kasih sayang. Aku mendukung keputusanmu, memberi pelajaran pada Daniel dan Clara. Bukan hanya karena Embun putriku. Niat mereka yang hampir mencelakai Embun dan bayinya. Sudah mencerminkan betapa bengis dan kejam hati Clara. Namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku. Apa pendapat Embun jika mengetahui keputusan besarmu pada Daniel dan Clara?" ujar Iman, Arya menggeleng lemah. Arya mulai ragu akan ketegasannya pada Clara.
"Abra, apa pendapatmu tentang masalah Clara dan Daniel?"
"Abra tidak bisa memutuskan, bagaimana sikap Embun? Papa melakukan semua itu dengan pemikiran yang matang. Namun pendapat abah Iman tidak salah. Embun tidak akan suka, jika papa menyakiti orang lain demi dirinya!"
"Abra, kamu benar. Embun tidak akan suka, jika dia mengetahui aku menghancurkan orang lain!" ujar Arya, Iman mengangguk pelan.
__ADS_1
Arya diam memikirkan sesuatu. Dia bingung harus bersikap seperti apa? Embun putri yang ingin dilindunginya. Dia tidak ingin kasih sayang dan perhatiannya. Malah membuat Embun jauh darinya. Sejenak rasa takut Arya menyergap dalam hatinya. Dia takut Embun membencinya.
"Tenang Arya, aku akan menjelaskan pada Embun. Dia akan memahami keputusanmu!"
"Terima kasih Iman, aku mengandalkanmu!" sahut Arya, Abra diam menatap penuh rasa haru.
Dua ayah yang begitu menyayangi Embun. Seolah keduanya tak ingin ada luka dalam hidup Embun. Bahkan mungkin Abra bisa kehilangan Embun, karena rasa sayang Iman dan Arya. Tentu saja bila Abra tidak sanggup menjaga Embun dengan sepenuh hati.
"Kamu begitu beruntung sayang. Dua ayah yang siap menjaga dan melindungi. Mengorbankan segalanya demi kebahagianmu!" batin Abra.
"Abra, sepertinya ada tamu!" ujar Arya membuyarkan lamunan Abra. Seketika Abra terhenyak kaget, ketika Arya memanggilnya. Abra berjalan perlahan menuju ruang tamu. Nampak beberapa orang tengah menunggunya.
"Anda!"
"Apa kabar Abra? Aku harap kedatanganku tidak mengganggu waktumu!" ujar Gunawan, Abra menggelengkan kepalanya perlahan. Nampak Clara berdiri tepat di samping Gunawan.
"Silahkan duduk, aku akan meminta seseorang membuatkan minuman!" ujar Abra hangat, Gunawan mengangguk sembari menarik tangan Clara untuk duduk.
"Terima kasih Abra!" ujar Gunawan ramah, Abra berdiri memanggil seseorang.
"Ada urusan apa kalian datang ke rumah putriku?" ujar Arya sinis, Gunawan dan Clara langsung berdiri menatap Arya.
"Arya, kakak hanya ingin meminta maaf pada Embun. Sikap Clara memang salah, dia sudah sangat keterlaluan. Namun mengingat persaudaraan diantara kita. Tidak bisakah, kami mendapat kata maaf dari Embun!" tutur Gunawan ramah, Arya tersenyum sinis.
Arya langsung duduk di depan Gunawan dan Clara. Arya merasa tak percaya, mendengar permintaan maaf dari Gunawan. Orang angkuh yang takkan pernah bisa mengucap kata maaf. Clara terus menunduk, antara malu dan takut menghadapi Arya.
"Arya, jaga emosimu. Mereka tamu yang harus dihargai. Semarah apapun kamu, jangan sampai bersikap kasar pada tamu!" ujar Iman lirih, Gunawan tak lagi mampu mengangkat kepalanya. Iman duduk tepat di depan Gunawan. Seorang penerus Adijaya tengah menatap Gunawan dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Tuan Iman!" sapa Gunawan lirih, Iman tersenyum simpul.
"Panggil aku Iman, usia kita hampir sama!" ujar Iman, Gunawan tak berkutik. Suara dingin Iman jelas menunjukkan amarah yang tertahan.
"Clara, kenapa kamu menunduk? Kemana keberanianmu yang kamu miliki? Ketika kamu ingin membuat putriku celaka!" ujar Iman dingin, Clara mendongak menatap Iman.
"Aku tidak bermaksud menyakiti Embun!" ujar Clara lirih, Iman menatap lekat Clara.
"Lalu, apa niatmu?" sahut Iman dingin.
"Iman, Clara memang salah. Sebab itu kami datang untuk meminta maaf. Aku mohon maafkan Clara, lupakan semua yang telah terjadi!" ujar Gunawan, Iman menggelengkan kepalanya lemah.
"Gunawan, seandainya posisi kita dibalik. Apa sikapmu pada orang yang hampir saja membunuh putrimu? Mungkinkah kamu memaafkannya begitu saja. Melupakan rasa marah yang ada di hatimu. Merangkul orang yang berniat jahat. Bukan hanya pada putrimu, tapi cucu yang bahkan belum terlahir!" ujar Iman tegas, Clara dan Gunawan langsung menunduk.
"Iman, kenapa sekarang kamu yang paling marah?" ujar Arya tidak percaya.
"Jika kamu bisa melakukan segala hal demi rasa terhina Embun. Maka aku ayah yang membesarkannya. Jauh lebih sanggup melawan semua orang demi melindungi Embun dari bahaya!"
"Apa maksudmu Iman? Jangan katakan, kamu melakukan hal yang sama dengan Arya!"
"Apa yang aku lakukan tidak akan pernah bisa kalian bayangkan?" sahut Iman, lalu berdiri meninggalkan Gunawan dan Clara. Arya menatap tidak percaya, dia melihat ayah tangguh yang melindungi putrinya.
"Satu hal lagi!" ujar Iman setelah beberapa langkahnya. Gunawan dan Clara mendongak, mengunci raut wajah Iman yang penuh ketegasan.
"Kelak sebelum kalian ingin menyakiti Embun. Ingatlah, Embun mungkin tumbuh besar tanpa seorang ibu. Namun dia hidup dan berdiri bersama dua orang ayah yang sanggup melakukan segala hal!" ujar Iman lantang dan tegas.
"Abah!" ujar Embun lirih.
__ADS_1