
Matahari mulai beranjak tinggi, sinarnya terasa panas tak lagi sehangat sang fajar. Kanaya berangkat menuju sekolah menggunakan angkutan umum. Bukan Kanaya tak memiliki mobil sendiri. Namun hukuman dari Embun belum selesai. Selama tiga bulan ke depan, Kanaya tidak bisa menggunakan fasilitas apapun. Terkadang Kanaya berangkat bersama Rafan atau Daffa. Sahabat yang tinggal tepat di depan rumahnya. Keduanya tinggal di perumahan yang sama. Persahabatan yang baru saja terjalin, tapi seolah telah lama terikat. Persahabatan yang tak pernah akan Kanaya ganti dengan hubungan yang lain.
Seandainya Kanaya tidak dihukum oleh Embun. Kanaya lebih senang enggunakan sepeda motor. Kanaya merasa tertantang, bisa menyalip di padatnya jalan raya. Jiwa pembalap yang sudah mendarah daging dalam diri Kanaya. Selain itu, Kanaya bisa sampai kamanapun dengan cepat? Sepeda motor lebih luwes daripada mobil. Satu lagi kesederhanaan Kanaya di balik segala kemewahan dimilikinya. Kanaya memiliki jiwa sosial tinggi, serta kesederhanaan dari Embun. Kanaya tak pernah silau akan harta Abra. Sebaliknya Kanaya selalu menyisihkan sebagian uang jajannya. Sikap dermawan yang membuat Embun bangga akan keikhlasan Kanaya pada sesama.
Abil Daffa muwaffaq, pemuda tampan yang menjadi idola di sekolah dan lingkunganya. Namun tak terlihat mempesona di depan Kanaya. Daffa begitu mereka memanggilnya, pemuda tampan yang menjadi sahabat terdekat Kanaya. Sifat mereka hampir sama, ceria dan kocak. Sikap Kanaya yang blak-blakan sebelas dua belas dengan sikap Daffa yang usil. Mereka berteman sejak Kanaya masuk di sekolah Daffa. Pertemanan yang semakin erat, ketika Kanaya mengetahui . Daffa tidak lain tetangga depan rumahnya. Pertemanan yang diketahui oleh Embun dan Abra. Bahkan kedua orang tua Daffa, sangat menyayangi Kanaya. Selayaknya putri mereka sendiri.
Sesampainya di Sekolah, Kanaya langsung pergi membagikan makanan pada seluruh pesuruh sekolah. Kanaya sengaja dia membawa makanan dari rumah. Kebiasaan Kanaya yang mendapat dukungan penuh Embun dan Abra. Hanya Rafan yang tak pernah mengetahui kebaikan hati Kanaya adiknya. Kanaya sengaja tidak membeli di kantin Sekolah. Melainkan membawa dari rumah, karena menurut Kanaya itu lebih hemat dan sehat. Biasanya Kanaya menitipkan pada orang yang pertama terlihat. Kanaya tidak mungkin pergi berkeliling membagikan makanan. Sebab Kanaya harus masuk ke ruang kelasnya. Alasan Embun tidak mengambil seluruh tabungan Kanaya. Sebab Embun menyadari, banyak orang yang membutuhkan bantuan Kanaya.
"Kanaya!" teriak Daffa lantang, seketika Kanaya menoleh. Terlihat Daffa sedang dirangkul oleh Cindy salah satu murid populer. Kanaya terus melangkah, tak sedikitpun Kanaya peduli dengan panggilan Daffa. Kanaya enggan melihat Daffa yang tengah bermesraan dengan Cindy.
Secara materi mereka sebelas dua belas. Namun sesungguhnya Kanaya masih jauh di atas mereka. Tubuh indah Kanaya tertutup sempurna, meninggalkan kesan sopan dan santun. Sebaliknya penampilan Cindy bak model papan atas, terkesan seksi daripada anggun. Kanaya mengacuhkan panggilan Daffa. Semenjak Daffa berpacaran dengan Cindy, hubungan keduanya sedikit memburuk. Meski Kanaya tak pernah melarang Daffa berpacaran dengan Cindy. Namun demi menjauh dari fitnah, Kanaya memilih menjaga jarak. Kanaya tidak suka dengan sikap sombong Cindy yang selalu menganggap orang lain rendah. Sebab itu, Kanaya selalu menegaskan pada Daffa. Dekat dengan Cindy, artinya jauh dengannya. Daffa sesungguhnya ingin putus dengan Cindy. Namun Daffa takut, Kanaya menyadari rasa cintanya.
"Kanaya!" Teriak Daffa, sembari berlari mengejar Kanaya Daffa menghempaskan tangan Cindy kasar. Daffa hanya ingin mengejar Kanaya. Daffa tidak peduli akan keberadaan Cindy di sampingnya.
__ADS_1
Daffa berlari mengejar Kanaya yang kesal, ketika melihat Daffa bersama Cindy. Kanaya tidak cemburu, hanya malas meladeni ocehan dari Cindy. Kanaya sangat malas melihat Cindy yang selalu cari perhatian pada Daffa. Sedangkan Daffa layaknya playboy yang selalu nyaman di dekat Cindy. Meski apa yang dilihat Kanaya itu tidak sepenuhnya benar? Daffa menyimpan ketulusannya hanya untuk Kanaya. Daffa hanya bermain-main dengan Cindy atau gadis lainnya. Sesuatu yang mungkin sangat dibenci oleh Kanaya. Mempermainkan perasaan seorang wanita itu tidaklah benar.
"Apa?" sahut Kanaya singkat, Daffa berjalan di depan Kanaya. Dia berjalan mundur seiring Kanaya yang berjalan maju. Semarah apapun Kanaya, dia akan kalah oleh bujuk rayu Daffa. Pemuda yang mampu membuat Kanaya bergantung dan nyaman, tapi sebatas teman tidak lebih.
"Kenapa selalu berangkat lebih dulu? Aku datang ke rumahmu, tapi menurut bik Salma kamu sudah berangkat. Memangnya kenapa kamu berangkat lebih dulu?" ujar Daffa penasaran, Kanaya mengangkat kedua tangannya santai. Kanaya seolah terbiasa berangkat sendiri. Kanaya akan memilih menjauh, ketika ada tangan yang merangkul mesra tangan Daffa.
Terlihat Cindy mendekat dengan langkah kesal. Kanaya berjalan menjauh, tapi langkahnya tertahan oleh Daffa. Dengan santainya Daffa merentangkan kedua tangannya tepat di depan Kanaya. Daffa terlihat menghalangi langkah Kanaya. Sebuah permintaan yang sedikit memaksa, agar Kanaya tetap berada di samping Daffa. Dengan tatapan tajam Daffa seolah menunggu sebuah jawaban. Bukan pergi tanpa mengatakan apapun? Kanayamenghela napas panjang. Dia merasa risih berada di dekat Cindy dan Daffa. Secepat mungkin Kanaya ingin menjauh. Kanaya tidak ingin menjadi yang ketiga, diantara dua orang yang sedang bermain dengan kata cinta.
"Jelas aku berangkat lebih dulu. Bukankah kamu sudah mengetahui alasan sebenarnya. Sejak dulu sampai sekarang, aku tidak suka berada satu mobil dengan pacarmu. Bukankah sejak pagi dia sudah ada di rumahmu. Memangnya, apa yang dia lakukan di rumah pagi-pagi sekali? Apa di rumahnya tidak ada pekerjaan? Atau ART di rumahnya tidak membuatkannya sarapan. Sampai-sampai dia datang ke rumahmu untuk sarapan!" Ujar Kanaya kesal dan sinis, Daffa terkekeh melihat amarah Kanaya. Sebaliknya Cindy meradang mendengar sindiran Kanaya. Cindy menghampiri Daffa yang sedang berdiri di depan Kanaya. Cindy merangkul mesra lengan Daffa. Seakan Cindy ingin menunjukkan pada Kanaya. Hanya dia yang kini dekat dengan Daffa.
"Kanaya, jangan pedulikan dia. Kita pergi ke kantin, aku belum sarapan. Temani aku makan, nanti aku temani kamu dihukum!" Ujar Daffa santai, Kanaya mengeryitkan keningnya heran. Perkataan Daffa seakan sebuah doa. Agar Kanaya dihukum, sungguh teman yang tak berbudi.
"Kamu kehilangan akal Daffa, di sampingmu ada wanita secantik Cindy. Kamu malah sibuk mengajakku pergi. Lebih baik kamu mengajaknya saja. Jangankan menemanimu makan, seharian berada di sampingmu. Aku yakin Cindy bersedia. Dalam otaknya hanya ada dirimu dan dirimu. Sudahlah kalian lanjutkan saja, aku pergi dulu. Jika sudah puas bersamanya, baru kamu mencariku. Sekarang minggir, aku ingin lewat!" ujar Kanaya tanpa jeda, Daffa tersenyum mendengar perkataan Kanaya. Nampak Daffa mengangguk pelan, seolah Daffa mengiyakan perkataan Kanaya. Namun anehnya Daffa tidak beranjak dari hadapan Kanaya. Malah terlihat Daffa menoleh pada Cindy.
__ADS_1
"Pergilah ke kelas, aku akan menemui nanti. Sekarang, aku akan pergi dengan Kanaya. Jadi jangan ganggu aku, Kanaya hanya ingin berdua denganku!" ujar Daffa lantang dan tegas, sontak Kanaya melotot. Kanaya tidak percaya, Daffa bisa berbuat seperti itu. Dengan santainya Daffa meminta Cindy pergi, ketika Daffa sudah tidak membutuhkannya lagi.
Buuuuugggghhh
"Daffa, jangan keterlaluan kamu. Dia itu Cindy, bukan barang yang kamu singkirkan ketika sudah bosan. Cindy tulus mencintaimu, jangan pernah permainkan hatinya. Ingat Daffa, kamu terlahir dari rahim seorang wanita. Jadi hargailah Cindy, selayaknya kamu menghargai ibumu. Satu hal lagi, aku tidak ingin berteman. Dengan orang yang suka mempermainkan hati seorang wanita. Terlebih wanita itu sangat menyayangimu!" ujar Kanaya kesal dan marah, sesaat setelah dia memukul pundak Daffa dengan sangat keras.
"Tunggu Kanaya, kenapa kamu marah?" sahut Daffa, sembari berjalan mengerjar Kanaya. Daffa tak merasa bersalah, dia hanya meminta Cindy pergi. Agar Daffa bisa pergi bersamanya.
"Apa lagi Daffa?" sahut Kanaya kesal.
"Kenapa kamu marah? Bukankah kamu yang memintaku tidak mengajak Cindy. Kamu hanya akan pergi denganku, jika Cindy tidak ada. Sekarang katakan, dimana salahku?" ujar Daffa membela diri.
"Di sini kesalahanmu, karena hatimu tidak pernah menghargai cinta. Kamu hanya ingin mempermainkan cinta dan tak pernah menganggap ketulusan orang lain. Termasuk ketulusan Cindy yang sangat menyayangimu!" ujar Kanaya, lalu berlalu menjauh. Kanaya tidak lagi peduli panggilan Daffa. Dia hanya ingin menjauh dari Daffa dan Cindy.
__ADS_1
"Kamu salah Kanaya, aku sangat menghargai cinta. Sebab itulah aku menyimpan suci cinta ini hanya untukmu. Hatiku tulus Kanaya, tulus menyayangimu bukan wanita lain. Kanaya Fauziah Abimata, bukan wajah atau status sosialmu yang membuatku tertarik dan jatuh hati padamu. Namun ketulusan dan ringan tanganmu yang membuatku tersadar. Ada hati yang bersih tersimpan jauh dalam jiwamu. Meski sekarang rasa cinta itu tidak mungkin untukku. Setidaknya aku masih bjsa melihatmu. Pertemanan yang kamu tawarkan, tidak akan aku nodai dengan cinta sepihak ini. Kanaya satu doaku, semoga tawamu terus melekat di wajah cantikmu!" batin Daffa, sembari menatap punggung Kanaya yang menjauh.