KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Dua mangkok bakso


__ADS_3

"Kak, aku lapar!" Rengek Embun, sembari mendongak ke arah Abra.


Embun mengajak Abra pergi ke tepi pantai. Entah kenapa Embun sangat ingin melihat laut. Abra mengikuti kemanapun Embun menginginkannya? Selama Embun merasa tenang dan bahagia. Seperti saat ini, Embun tersenyum penuh kebahagian. Embun langsung bersandar pada tubuh Abra. Sedangkan Abra memeluk tubuh Embun dari belakang. Keduanya menatap laut bersama. Merasakan hembus angin yang begitu dingin menusuk ke dalam tulang. Menatap langit yang dihiasi bintang. Keindahan yang hanya bisa dinikmati di luar ruangan. Menyatu dengan alam sudah menjadi kebiasaan Embun.


"Tapi, tidak ada restoran di sini!" Ujar Abra, sesaat setelah menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aku lapar!" Rengek Embun, Abra kebingungan menghadapi sikap Embun yang selalu berubah-ubah. Satu kata dari Embun harus terlaksana. Jika tidak, Embun akan bertahan dengan wajah yang ditekuk selama beberapa hari.


"Kita pergi ke restoran, di sana kita bisa memesan makanan!" Ujar Abra, Embun diam membisu. Sontak Abra menghela napas, dia bisa menduga. Jika Embun tengah dalam mode tidak setuju. Akan sangat fatal, jika Abra memaksa Embun menerima sarannya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Ujar Abra lembut penuh kasih sayang. Abra berharap Embun mengatakan keinginannya. Agar Abra tidak salah menebak. Abra terlalu bingung, menghadapi rengekan Embun.


"Itu!" Ujar Embun lantang, jari telunjuknya menunjuk sebuah gerobak sederhana.


Abra menoleh ke arah yang ditunjuk Embun. Seketika Abra diam, lagi dan lagi plihan Embun bertentangan dengan penilaiannya. Sejenak Abra berpikir, haruskah dia mengiyakan atau menolak permintaan Embun. Abra bimbang dalam memutuskan. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi.


"Sayang, kamu yakin!"


"Yakin!"


"Itu tidak sehat dan kurang bersih!" Ujar Abra, Embun menunduk. Lalu dengan cepat, Abra menarik tangan Embun. Menggandeng mesra Embun, mendekat ke tempat gerobak tadi berhenti.


Abra melihat senyum sumringah Embun. Senyum penuh kebahagian, senyum yang begitu tulus lahir dari hati Embun. Abra tersenyum melihat wanita pengusik hatinya begitu bahagia. Abra melihat Embun langsung memesan makanan. Tanpa bertanya pada Abra atau sekadar menawari Abra. Embun melupakan sejenak kehadiran Abra.


"Sayang, kenapa kamu begitu menginginkan makanan ini? Jika memang kamu menginginkannya, aku bisa meminta koki restoran membuatkannya!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.


Embun melahap habis satu mangkok penuh bakso urat kesukaannya. Makanan kesukaan Embun sejak kecil. Makanan sederhana yang menurut Abra tidak sehat. Bukan menghina atau merendahkan orang lain. Gaya hidup Abra berbeda dengan Embun. Tak pernah sekalipun Abra membeli makanan di pinggir jalan. Abra tidak terlalu suka makanan yang mengandung banyak MSG. Sebaliknya Embun begitu menyukai makanan pinggir jalan. Dua kehidupan yang berbeda, tapi mencoba hidup dalam satu cinta yang sama.


"Bakso selalu menjadi makanan favoritku. Hampir setiap hari, aku dan Nur membeli bakso. Itupun jika Abah memberikan uang saku lebih!" Ujar Embun santai, Abra mengangguk mengerti. Abra mencoba mengerti keinginan sederhana Embun.

__ADS_1


"Kak!"


"Apa sayang?" Ujar Abra lirih, seraya mengusap bibir Embun.


Abra melihat ada bekas kuah bakso di sudut bibir Embun. Abra langsung membersihkannya dengan tissu kering. Embun sejenak terdiam, kehangatan Abra menelisik jauh ke dalam hatinya. Hati Embun terenyuh, kala tangan Abra mengusap lembut bibirnya. Sikap santai yang mampu menggetarkan hati terdalam Embun.


"Kenapa malah diam?" Ujar Abra membuyarkan lamunan Embun. Sontak Embun tersentak kaget, dia merasa malu saat menyadari diamnya.


"Boleh satu mangkok lagi!" Ujar Embun, sembari mengangkat mangkok kosong di depan Abra.


Abra langsung diam menatap lekat Embun. Abra tidak keberatan menghabiskan banyak uang untuk kepuasan Embun. Namun membeli semangkok bakso, jelas membuat Abra khawatir. Kondisi fisik Embun sedang tidak baik-baik saja. Jika Embun terus memakan makanan yang belum tentu bersih. Abra takut membuat sakit Embun semakin parah.


Lama Abra terdiam, bimbang mengiyakan atau langsung menolak permintaan Embun. Namun Embun tetaplah Embun, dengan wajah memelasnya. Embun meluluhkan hati Abra, dengan berat hati akhirnya Abra mengiyakan. Bahkan Abra hanya bisa diam, melihat Embun menambahkan saos dan sambal sangat banyak pada bakso yang ada di tangannya. Abra hanya bisa berharap, Embun akan baik-baik saja setelah ini.


"Sayang, perlahan makannya. Aku tidak akan meninggalkanmu!" Ujar Abra, sembari mengusap sisa saos yang ada di ujung bibir Embun.


"Kamu begitu menyukainya!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Lalu Meneruskan kembali memakan bakso dari mangkok yang kedua.


"Sayang!" Ujar Abra, Embun mendongak. Embun menatap Abra, jelas Embun melihat raut tak percaya di mata Abra.


"Kakak heran melihatku begitu lahap, meski hanya semangkong bakso yang aku makan. Sebaliknya kakak bingung, ketika aku tidak pernah begitu lahap memakan makanan mahal yang dihidangkan di rumah!" Ujar Embun, Abra mengangguk pelan.


"Jawabanku sederhana!"


"Apa itu sayang?"


"Lidahku terlalu kaku, ketika memakan makanan mahal!" Sahut Embun santai, Abra menggelengkan kepalanya. Dia melihat Embun tengah menggodanya. Tidak ada rasa kesal, sebaliknya Abra bahagia melihat Embun begitu hangat padanya.


"Minum sayang!" Ujar Abra, lalu menyodorkan sebotol air meneral.

__ADS_1


Abra benar-benar tidak percaya, dua mangkok bakso habis dalam waktu sekejap. Nampak raut wajah bahagia Embun. Tak ada lagi wajah pucat menghiasi wajah cantik Embun. Setelah membayar dua mangkok bakso. Abra dan Embun berjalan menuju mobil. Bahkan Abra memberikan lebih pada tukang bakso. Abra berterima kasih secara tidak langsung. Sebab berkat bakso itu, Abra bisa melihat kebahagian Embun.


"Kak!"


"Kenapa lagi sekarang? Cukup kamu memelas meminta makan di pinggir jalan. Aku tidak sanggup lagi menahan rasa khawatir!" Batin Abra cemas.


"Hmmm!"


"Aku kedinginan, dekap aku!" Ujar Embun polos, tubuh Abra membeku. Antara percaya dan tidak, ketika mendengar Embun mengatakan semua itu. Hangat yang selalu dinanti Abra. Kini dengan lantang Embun memintanya.


"Kenapa malah diam?" Ujar Embun kesal dan kecewa.


Abra langsung tersadar, dengan sigap Abra menggendong Embun. Mendekap Embun terlalu biasa bagi Abra. Sebaliknya Embun yang berada dalam gendongan Abra. Langsung mengalungkan tangannya di leher Abra. Embun menyandarkan kepalanya di dada Abra. Embun mendengarkan detak jantung Abra yang terus memanggil namanya.


"Kak, terima kasih telah menerima wanita desa sepertiku. Terima kasih atas semua kesabaranmu. Aku bukan wanita sempurna, tapi aku ingin sempurna demi dirimu. Sebab aku tidak ingin kebersamaan kita menjadi aib bagimu. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan, demi membalas kebaikanmu!" Ujar Embun lirih.


"Sayang, apa yang kamu katakan? Hanya kamu yang pantas berada di sampingku. Hanya kamu yang membuatku mengerti arti mencintai!" Ujar Abra, Embun mengangguk. Embun mengalungkan tangannya begitu erat. Embun menenggelamkan kepalanya dalam dada Abra.


"Kak, malam ini aku bahagia!" Ujar Embun lirih, Abra mengangguk lalu mengecup lembut puncak kepala Embun.


"Sayang!" Panggil Abra, Embun diam tak menyahuti.


Lalu terdengar dengkuran halus dari bibir mungil Embun. Abra tersenyum saat mengetahui Embun tertidur dalam gendongannya. Abra merasakan kebahagian yang tak terkira. Kala dia melihat nyaman Embun dalam dekapannya. Jika boleh meminta, Abra tidak ingin waktu cepat berlalu. Agar dia bisa terus merasakan hangat Embun.


"Aku bahagia sayang, bukan karena aku merasakan hangatmu. Aku bahagia sekaligus lega, saat aku melihatmu makan dengan lahapnya. Bukan hanya satu mangko, bahkan dua mangkok bakso habis kamu makan. Setidaknya, kini aku tenang. Setelah beberapa hari ini, aku melihatmu enggan memakan apapun. Sekarang, aku malah mendengar dengkuran halusmu. Suara merdu penuh ketenangan yang membuatku yakin. Jika kamu baik-baik saja. Setelah hampir seminggu, aku hanya mendengar gelisah dalam tidurmu!" Batin Abra.


Cup


"Aku mencintaimu, Embunku dan tenangku!" Ujar Abra lirih.

__ADS_1


__ADS_2