
Rintik hujan mulai menyapa bumi, tak lagi nampak senja menyapa. Langit mendung menahan deras air matanya. Angin berhembus kencang, melengkapi hawa yang terasa dingin menusuk kulit. Gerimis yang selalu terlihat menyenangkan bagi Embun. Namun entah kenapa gerimis seolah menjadi pertanda air mata yang tertahan?
Embun menatap langit sore yang gelap. Langit yang tak lagi hangat menyapa alam. Kedua tangan Embun mengusap lembut perutnya yang semakin membesar. Kurang dari satu bulan, sang buah hati akan lahir manatap dunia. Kurang dari satu bulan, Embun harus bersabar menahan rasa sakit yang mulai menggerogotinya. Meski sesekali jelas terlihat rintihan Embun. Rasa sakit yang teramat dan tak lagi bisa ditutupi Embun.
"Kamu akan lahir dengan selamat. Itu janji mama, dalam setiap sujud hanya ada doa untukmu. Mama menggantungkan harapan pada kuasa-NYA. Mama yakin, suara hati mama akan membuatmu lahir dengan sehat. Kamu akan menatap dunia yang indah penuh dengan warna!" Batin Embun, seraya menguasap lembut perutnya yang semakin membesar.
"Sayang, di luar dingin!" ujar Abra, tangannya memeluk Embun dari belakang. Abra membawa selimut kecil, sekadar menutupi tubuh Embun dari dingin yang mulai menyapa.
Hampir setengah jam, Embun berdiri di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Sengaja Abra membiarkan Embun. Bukan tidak peduli, tapi Abra merasa Embun butuh waktu sendirian. Waktu dimana Embun mencari ketenangan dalam sepi? Abra tidak ingin membuat Embun gelisah. Rasa cemas sebelum melahirkan, sudah cukup menyita pikiran Embun.
"Kak Abra sudah pulang? Maaf aku tidak menyambutmu, kepalaku sedikit pusing!" ujar Embun, Abra mengangguk sembari tetap memeluk Embun.
Embun langsung menyandarkan tubuhnya pada Abra. Embun merasa butuh sandaran saat ini. Tak ada lagi ketengan di balik gerimis yang turun membasahi bumi. Kegelisahan hati Embun, terasa begitu besar. Mengalahkan rasa sakit yang hampir setiap hari dirasakannya. Embun seolah berperang dengan waktu. Doa dan sujud sebagai senjata dalam setiap langkah. Menanti hari paling bahagia dalam hidupnya.
"Sayang, kamu akan baik-baik saja. Aku akan meminta perawatan terbaik. Jika perlu aku akan mendatangkan dokter kandungan yang hebat. Akan kulalukan segala cara, demi melihat kesembuhanmu!" bisik Abra, Embun mengangguk pelan. Mengiyakan perkataan Abra yang sesungguhnya diragukan oleh Embun.
"Kita hanya berharap, pada-NYA semua aku pasrahkan!"
"Percayalah, kamu akan baik-baik saja!"
"Kak Abra, aku selalu percaya semua akan baik-baik saja. Apapun yang akan terjadi? Semua yang terbaik diantara yang baik. Hanya saja, sebagai seorang manusia biasa. Terkadang amarah dan rasa kurang bersyukur. Membuatku merasa semua ini tidak adil. Jujur kak, saat ini aku tidak mencemaskan kondisiku. Aku hanya butuh penguat, agar keluhanku menjadi ikhlas dalam hidupku!" ujar Embun, Abra diam membisu. Mungkin perkataan Embun terdengar sederhana. Namun semua terasa begitu sakit dan berat. Ketika Abra menyadari fakta di balik alasan perkataan Embun.
__ADS_1
"Aku besok ke luar kota. Aku akan menemui dokter Fitri. Tante Afifah merekomendasikan beliau. Dokter Kandungan hebat yang memilih menetap di desa terpencil!"
"Tunggu kak, dokter Afifah yang memintamu. Artinya dia sudah mengetahui kondisiku!" ujar Embun kaget, Abra mengangguk pelan.
"Bukan hanya Dokter Afifah, papa dan abah sudah mengetahui semuanya!" ujar Abra lirih, penuh dengan rasa takut.
Sejak awal Embun melarang Abra atau Nur mengatakan kondisinya pada siapapun? Terutama pada Arya dan Iman. Embun tidak ingin mereka cemas dengan kondisinya. Embun percaya kondisinya baik-baik saja. Sebab itu tidak perlu ada yang mencemaskan dirinya.
"Kenapa kakak memberitahu mereka? Aku baik-baik saja. Tidak perlu kakak membuat mereka cemas. Seharusnya kakak membiarkan mereka bahagia menanti kelahiran cucu pertamanya. Tidak perlu mencemaskan kondisiku!"
"Abra tidak salah, Abah yang memaksa Abra untuk jujur. Abah curiga setiap kali melihatmu membungkuk sembari memegang perutmu. Sekilas Abra mendengar rintihanmu, raut wajah pucatmu. Jelas menampakkan kondisimu tidak baik-baik saja. Sebab itu Abra mencari tahu pada Afifah. Dia memilih tutup mulut dan memintaku bertanya langsung padamu. Semua itu yang membuatku yakin, kondisimu tidak baik-baik saja!" sahut Iman lantang, sontak Embun melepaskan pelukan Abra. Nampak Iman berdiri tepat di depan pintu kamar Embun dan Abra.
"Abah!" panggil Embun lirih, Iman masuk ke dalam kamar Embun. Sesaat setelah dia meminta izin pada Embun dan Abra.
"Jika kamu masih memanggilku abah. Lantas kenapa kamu merahasiakan semua ini dari Abah dan papamu Arya. Kami bukan orang lain, kami berdua ayahmu. Walau usia kami sudah sangat tua. Namun kasih sayang kami tidak lemah. Kami akan kuat mendengar kondisimu. Kami akan menjadi penopang yang selalu ada di belakangmu. Tawa dan tangismu bukan beban yang harus kami keluhkan. Sebab apapun kondisimu? Semua itu yang terbaik dan ada hikmah di balik semua itu!"
"Abah!" ujar Embun, lalu memeluk tubuh Iman erat.
"Sayang, kamu akan menjadi seorang ibu. Kelak kamu akan memahami kecemasan kami. Jangan tolak kekhawatiran kami. Ini hak kami setelah kamu menikah. Sama halnya Abra yang mencemaskan dirimu dan putra kalian. Abah dan papa Arya mencemaskan putri kami!" tutur Iman, Embun mengangguk, Abra menunduk membisu.
Ada rasa tenang yang seketika hadir menyapa hatinya. Melihat raut wajah tenang Embun. Abra merasa bahagia, setidaknya tak ada lagi gelisah dalam benak Embun. Dua ayah yang akan selalu menemani Embun dalam setiap langkah. Penopang yang akan menjaga, tanpa melangkahi status Abra sebagai suami Embun.
__ADS_1
"Sayang, kamu bisa tenang sekarang. Ada abah dan papa yang akan menemanimu. Besok pagi, aku akan menemui dokter Fitri. Dengan cara apapun, aku akan memintanya datang!" ujar Abra lantang, Embun menoleh sembari mengedipkan kedua mata indahnya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Abra. Sedangkan tangan kiri Embun, memeluk Iman dengan hangat.
"Terima kasih, tiga laki-laki hebat!" ujar Embun lirih dan lemah, Iman langsung menunduk. Dia merasa ada yang salah dengan Embun.
"Sayang, kamu baik-baik saja!" ujar Abra cemas, sesaat setelah dia merasakan genggaman tangan Embun yang begitu erat. Abra bahkan merasakan sakit, saat Embun menggenggamnya sangat erat.
"Embun, kamu kenapa?" ujar Iman cemas, Iman merasakan tubuh Embun yang mulai lemas. Embun seolah tak lagi mampu berdiri, dia menyandarkan tubuhnya pada Iman.
"Embun!" teriak Arya, bersamaan dengan tumbangnya Embun. Iman langsung menahan kepala Embun. Abra terkejut, saat menyadari tangan Embun mulai melemah.
Arya berlari menghampiri Embun, dia melihat raut wajah pucat putrinya. Sontak Arya menangkup wajah Embun. Keheningan berubah menjadi kecemasan yang tak bisa lagi ditutupi. Arya langsung menggendong Embun, meletakkan tubuh lemah Embun di atas tempat tidur. Abra menghubungi rumah sakit, sedangkan Iman tertegun menatap putrinya yang tumbang tak sadarkan diri.
"Sejak kecil papa tidak pernah memiliki kesempatan menggendongmu. Sekarang kesempatan itu nyata ada. Namun bukan tawa yang kamu tunjukkan pada papa. Wajah pucat dan lemah yang seolah ingin mengatakan kegagalan papa menjagamu. Embun, kamu akan baik-baik saja. Papa akan memastikan keselamatanmu. Jika seandainya papa harus menukar sehat papa dengan sakitmu. Papa sanggup sayang, asalkan papa tidak lagi mendengar rintihanmu!" batin Arya, sembari mengusap wajah Embun. Keringat dingin mengalir di pelipis Embun. Arya mengusapnya penuh dengan kelembutan. Arya membungkuk mengecup kening Embun. Tetesan air mata Arya membasahi kening Embun.
"Maafkan papa sayang!" ujar Arya lirih, lalu menoleh ke arah Abra dan berganti menatap Iman. Nampak jelas Iman terpukul, ketegaran yang sempat terucap. Nyata lenyap berganti kecemasan dan ketakutan. Tatkala dua mata Iman menatap wajah pucat Embun. Rintihan Embun menghunus tajam hatinya.
"Iman, bukan saatnya kamu rapuh. Bangun dan temani putri kita. Aku akan pergi menemui dokter yang dimaksud Abra? Aku akan membawanya kemari dengan cara apapun. Walau aku harus berlutut memohon padanya!"
"Embun!" ujar Iman, lalu berdiri dengan tubuh sempoyongan.
"Abra, dimana dia tinggal? Papa akan berangkat sekarang. Beberapa orang akan mengawal kalian!"
__ADS_1
"Ambulans segera datang, papa hati-hati di jalan!" ujar Abra pada Arya, Iman duduk di sebelah Embun. Tangannya menggenggam erat Embun, lantunan ayat suci Al-quran terdengar merdu dari bibir Iman.
"Hanya doa yang abah berikan padamu. Doa yang akan melindungimu. Abah akan menjagamu, seperti selama ini abah menjagamu!" batin Iman.