
"Raihan, kembalikan!" teriak Kanaya dengan suara lantangnya. Suara Kanaya menggema di seluruh bagian rumah. Memecah kesunyian malam yang begitu tenang. Kanaya berteriak, sembari berlari. Teriakan dan langkahnya, begitu keras sampai terdengar hampir di seluruh rumah.
Suara Kanaya melengking, nyaring penuh dengan emosi. Namun lantang teriakkan Kanaya, tak lantas membuat Raihan berhenti berlari. Bocah 7 tahun itu terus berlari, seraya memegang ponsel milik Kanaya. Raihan tak mengrubris teriakan Kanaya. Raighan terus berlari memutar di ruang tengah. Kanaya mengejar Raihan dengan napas yang mulai terengah-engah. Raihan mungkin masih kecil, tapi Raihan berlari begitu cepat. Tenaga Kanaya terkuras, saat mengejar Raihan.
"Raihan, berhenti sekarang atau tante Kanaya akan marah padamu selamanya!" teriak Kanaya, Raihan berhenti sejenak. Lalu menjulurkan lidahnya. Seakan ingin mengejek Kanaya yang tidak bisa menangkapnya.
"Kak Rafan, tangkap Raihan!" ujar Kanaya, saat melihat Rafan keluar dari kamarnya. Rafan menoleh ke arah Raihan, bukan menangkap Raihan. Rafan memilih duduk di sofa ruang tengah.
Rafan merasa sikap usil Raihan sangat diperlukan sekarang. Sudah lama tak terdengar teriakkan Kanaya. Amarah yang berbalut sikap kekanakan-kanakan Kanaya. Rafan mulai merasa lelah melihat kedewasaan Kanaya. Rafan dan mungkin semua orang merindukan saat-saat ini. Kanaya kembali ceria, layaknya Kanaya kecilnya. Rafan merasa beban berat di pundaknya terangkat. Tatkala mendengar suara Kanaya yang menggema di rumahnya lagi. Raihan putra pertamanya mampu menggantikan kewajibannya. Mengutas senyum dan amarah di wajah Kanaya.
"Kak Rafan!" teriak Kanaya kesal, Rafan mengangkat kedua bahunya.
"Raihan hanya anak kecil, aku rasa kamu mampu menangkapnya!"
"Dia memang kecil, tapi larinya cepat seperti kelinci!" ujar Kanaya kesal, Rafan tersenyum. Raihan menatap Kanaya dengan kesal.
"Tante Kanaya lambat seperti kura-kura!" sahut Raihan lantang, merasa tidak suka disamakan dengan kelinci.
"Raihan, jaga bicaramu. Tante Kanaya lebih tua!" ujar Rafan tegas, Raihan menunduk merasa bersalah. Kanaya tersenyum penuh kemenangan. Dengan mengendap-endap Kanaya mendekat pada Raihan. Kanaya berharap bisa menangkap Raihan dan mengambil ponselnya.
"Tante Kanaya jelek!" ujar Raihan, lalu berlari lagi. Kanaya menghela napas, Kanaya kewalahan menghadapi Raihan yang sangat usil.
Abra dan Embun berdiri termenung. Tatkala mereka melihat Kanaya dan Raihan berlari memutari Rafan. Abra dan Embun baru kembali dari rumah Arya. Kebetulan Rafan dan Kanaya tidak ikut. Rafan memilih menjaga Hanna yang sedang sakit. Sedangkan Kanaya memilih tinggal mengasuh dua putra Rafan. Namun kebalikannya, Kanaya malah dibuat kewalahan dengan sikap Raihan putra pertama Rafan dan Hanna.
"Raihan, cukup tante Kanaya mengaku kalah. Tante akan membelikan apapun, tapi kembalikan ponsel tante!" ujar Kanaya dengan napas yang memburu.
Hampir lima belas menit keduanya berlari. Kanaya tak lagi memiliki tenaga mengejar Raihan. Kanaya memilih menyerah, Abra dan Embun tertegun. Bukan karena mendengar kekalahan Kanaya. Namun kecerian dan amarah yang tersirat di wajah putrinya. Teriakan yang benar-benar dirindukan oleh mereka.
Abra dan Embun saling berpegangan tangan. Keduanya merasa terharu, sekaligus bahagia. Kerinduan yang terbayar lunas, hanya dengan satu sikap usil Raihan. Abra bahkan meneteskan air mata, melihat putrinya kembali. Embun menoleh, tatkala air mata Abra jatuh membasahi tangannya. Air mata seorang ayah yang merindukan putri kecilnya. Wajah cantik Kanaya yang tak berbalut cadar, menyentuh hati terdalam Abra. Wajah teduh yang membuatnya bangga menjadi seorang ayah.
"Kak!"
"Sayang, putri kita kembali!" sahut Abra lirih, Embun mengangguk pelan. Embun menggenggam erat tangan Abra. Embun menguatkan hatinya, agar dia bisa bersikap sewajarnya. Kebahagian yang dilihatnya, tidak boleh menghancurkan senyum tulus Kanaya.
"Papa!"
__ADS_1
"Mama!" sapa Kanaya, membuyarkan lamunan Abra dan Embun.
Kanaya mencium punggung tangan Abra dan Embun bergantian. Kanaya menghampiri Abra dan Embun yang berdiri tertegun tepat di tengah-tengah ruang tamu. Sejak mendengar teriakkan Kanaya, langkah Abra dan Embun terhenti. Mereka tak percaya, akhirnya mendengar suara putrinya menggema di rumahnya. Setelah sekian lama, Kanaya memilih hidup mandiri dan jauh dari keluarganya.
"Raihan, berikan ponsel milik tante Kanaya!" ujar Abra, Raihan menggeleng menolak. Kanaya menghela napas, Raihan benar-benar menguji kesabarannnya. Tak ada satu orangpun yang ditakuti Raihan.
"Mama!" pinta Kanaya memelas, Embun menggeleng lemah. Embun berlalu meninggalkan Kanaya dan Abra.
Kanaya terdiam melihat penolakan Embun. Jelas Raihan hanya akan menurut dengan perkataan Embun. Namun Embun seolah tak peduli, merasa perselisihan Raihan dan Kanaya tidak salah. Kanaya memutuskan duduk tepat di samping Rafan. Abra memilih duduk tepat di depan Kanaya dan Rafan. Sedangkan Raihan berdiri menjauh, sembari memegang ponsel Kanaya. Barang yang begitu penting bagi Raihan.
"Kak!" ujar Kanaya, seraya menyenggol lengan Rafan.
"Raihan, katakan permintaanmu!" teriak Rafan, sesaat setelah menoleh ke arah Kanaya. Abra terkekeh melihat sikap Rafan yang seolah mendukung Raihan.
"Ayah dan anak sama!" gerutu Kanaya, Rafan tersenyum mendengar perkataan Kanaya.
"Raihan tampan, keponakan tante yang paling baik. Tolong ponselnya!" ujar Kanaya lagi, Raihan menggeleng lalu mengangguk pelan. Sikap ambigu yang membuat Kanaya bingung.
"Raihan, berikan ponsel tante Kanaya!" ujar Hanna, Raihan menggeleng sembari memeluk ponsel Kanaya dengan begitu erat. Semua orang dibuat kewalahan dengan sikap usil Raihan.
"Papa sudah membantumu!" sahut Abra, Kanaya mendengus kesal. Kanaya meletakkan kepalanya di sandaran sofa. Menatap langit rumahnya yang begitu tinggi. Kanaya merasa begitu tenang, tapi ada sedikit gelisah yang tidak bisa dikatakan oleh Kanaya.
"Papa tidak serius membantuku!" ujar Kanaya dengan mata tertutup dan posisi merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Rafan menoleh, Kanaya merasa begitu lelah.
"Raihan, kembalikan ponsel tante Kanaya!" ujar Rafan, Raihan menunduk. Kanaya mengerjapkan kedua mata indahnya. Kanaya berdiri menghadap lurus ke arah Raihan
"Tante akan mengantarmu bertemu Zahra, tapi tante tidak ikut menemui Zahra. Setuju atau tidak, itu syarat dari tante!" ujar Kanaya, Rafan dan Abra saling menoleh. Mereka merasa permintaan Raihan tidak seharusnya. Terselip sebuah penyesalan telah mendukung Raihan. Jika akhirnya permintaan Raihan membuat Kanaya harus kembali bertemu dengan Zahra.
"Raihan, kembalikan tanpa meminta apapun pada tante Kanaya!" ujar Embun, Raihan mengangguk lalu memberikan ponsel Kanaya.
Raihan berlari menuju kamarnya, satu kata Embun membuat Raihan tak berkutik. Tak ada lagi alasan bagi Raihan menahan ponsel Kanaya. Abra dan Rafan tak bersuara, semua membisu bersamaan dengan terucapnya keinginan Raihan. Kanaya memutar tubuhnya, dia berjalan menuju meja makan. Rasa haus tiba-tiba menguasainya. Embun duduk dekat dengan Abra, tangannya menggenggam erat Abra. Menatap nanar punggung Kanaya. Dalam sekejap kecerian dan kebahagian sirna. Tergantikan sepi dan sunyi yang tak bertepi.
"Kanaya, jika perlu papa bisa menyiapkan kepindahanmu ke luar negeri!" ujar Abra memecah kesunyian, Kanaya menoleh. Gelengan kepala Kanaya, jawaban tegas yang tak pernah disangka oleh Abra dan Embun.
"Tidak perlu, sejauh apapun aku pergi. Jika kelak kami berjodoh bertemu, pasti bertemu. Aku menolak menemui Zahra, bukan karena aku takut bertemu dia. Namun menjaga jarak dengan Zahra. Satu-satunya cara aku menjaga hati seorang ibu!" tutur Kanaya, lalu duduk tepat di samping Rafan.
__ADS_1
"Dik, kamu baik-baik saja!" ujar Rafan, Kanaya mengedipkan kedua matanya.
"Sangat baik!"
"Kamu yakin!" sahut Rafan, Kanaya mengangguk tanpa ragu.
"Hubungan kami kini sebatas pertemanan, tidak lebih. Dia dan Zahra akan bahagia bersama dengan kak Fahira!"
"Kanaya, maafkan papa!" ujar Abra lirih, Kanaya menggeleng lemah.
"Papa tidak bersalah, apapun yang terjadi padaku. Tidak ada hubungannya dengan papa. Sekarang Kanaya bahagia bersama kalian dan Kanaya percaya suatu saat akan ada imam terbaik. Jari jemari Kanaya masih menyisakkan sela, artinya akan ada tangan yang kelak mengisi kekosongannya!"
"Mama, Kanaya tidak akan hancur hanya karena hubungan yang berakhir. Selama Kanaya berada diantara mama dan papa. Kanaya akan terus bahagia, cinta kalian jauh lebih suci dan tulus. Cinta yang akan Kanaya butuhkan, sampai Kanaya menemukan cinta terbaik!" tutur Kanaya, lalu duduk diantara Abra dan Embun.
Kanaya menyandarkan kepalanya di pundak Abra. Sedangkan tangannya menggenggam erat tangan Embun. Lama Kanaya bersandar, sampai akhirnya dia terbangun. Tatkala Hanna mengatakan ada tamu yang sedang menunggu Abra dan Embun.
"Baiklah, Kanaya kembali ke kamar sekarang!" ujar Kanaya, lalu berdiri hendak menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti, ketika dia merasa ada yang tengah memperhatikannya.
"Kak Fahira!" ujar Kanaya terkejut, tepat di samping Fahira Haykal dan Zahra berdiri. Sontak Kanaya langsung berlari menaiki anak tangga. Kanaya menyadari, jika dirinya tengah melepas cadarnya.
"Cantik!" batin Fahira tak percaya.
"Silahkan masuk!" sapa Embun ramah, Abra dan Embun mengajak Haykal dan Fahira duduk di ruang tamu.
"Kini aku melihat punggungmu berlari semakin menjauh dariku. Isyarat, jika hubungan diantara kita memang telah berakhir. Tak ada lagi harapan bersatu, mungkin sudah saatnya aku belajar membuka hati. Sadar diri, jika semua tak lagi seperti dulu!" batin Haykal, sembari menatap nanar punggung Kanaya yang berlari menjauh.
"Maaf, kami mengganggu. Kebetulan besok perayaan ulang tahun Zahra. Kami sengaja datang mengundang semua orang!"
"Terima kasih atas undangannya, tapi sepertinya hanya Rafan dan keluarganya yang bisa datang!" sahut Abra ramah, Haykal mengangguk. Tak ada alasan Haykal memaksa, Zahra tertunduk lesu. Seakan ada yang kurang dalam pestanya.
"Baiklah, kami permisi!" ujar Haykal, Fahira mengangguk berpamitan pada Abra dan Embun. Zahra mencium punggung tangan Abra dan Embun, lalu Rafan.
"Ibu, bisakah anda meminta Kanaya untuk datang. Setidaknya demi Zahra!" pinta Fahira pada Embun.
"Saya usahakan, tapi tidak ada janji!" ujar Embun, Fahira mengangguk sembari menangkupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Keluarga yang hangat, pantas saja kak Haykal tak mampu menjauh dari mereka. Namun kini kak Haykal suamiku, bukan lagi menantu keluarga ini. Jika saat ini cinta belum ada untukku. Aku percaya, kelak akan ada cinta untukku. Kepercayaan seorang istri tidak akan terkhianati!" batin Fahira, sembari menatap Haykal yang berjalan mendahuluinya masuk ke dalam mobil.