
"Fitri!"
"Iya kak, ada yang kakak butuhkan!" sahut Fitri, seraya menoleh ke arah Arya. Fitri meletakkan pisau yang tengah dipegangnya.
Kebetulan malam ini akan ada acara makan bersama. Sebagai tasyakuran kecil-kecilan menyambut Rafan yang sudah keluar dari rumah sakit. Sengaja acara akan diadakan sangat sederhana, mengingat tuan Ardi tengah sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Afifah dan Fitri kompak mengadakan acara makan malam. Namun nanti juga akan ada santunan, untuk anak yatim piatu. Fitri dan Afifah memasak dalam porsi besar hari ini.
"Kenapa kamu harus memasak sendiri? Kita bisa pesan makanan atau memanggil koki hotel!"
"Kakak meragukan masakanku!" ujar Fitri dingin, Arya menggeleng lemah.
Arya mendekat ke arah Fitri. Tangannya langsung memeluk tubuh ramping Fitri. Kebetulan dapur dalam keadaan sepi. Para ART sibuk membakar daging kambing di belakang rumah. Afifah sedang berbelanja beberapa bahan makanan. Arya seolah tengah mencari kesempatan dalam kesempitan. Arya sengaja menghampiri Fitri, entah itu kerinduan atau kepedulian? Arya seakan tidak ingin melihat Fitri sibuk di dapur.
"Bukan itu maksudku, aku mencemaskanmu!" ujar Arya tepat di samping telinga Fitri.
"Kakak mencemaskanku atau masakkanku. Jangan salah, aku mungkin terbiasa memegang pisau bedah. Namun pisau dapur, sangat tidak asing bagiku. Jadi tetaplah diam, biarkan aku menyelesaikan tugasku. Sekarang lepaskan tanganmu, sebentar lagi kak Afifah datang!"
"Biarkan saja dia datang, aku tidak akan membiarkannya memaksamu bekerja. Kamu hanya boleh menemaniku, tidak boleh melakukan hal yang lain!" ujar Arya, Fitri menatap kesal ke arah Arya. Dengan tenaga penuh, Fitri meronta ingin melepaskan diri.
"Kak Arya, lepaskan pelukanmu. Waktu sudah terlalu siang, masakan belum ada yang matang!"
"Hmmm!" ujar Arya, seolah tidak peduli akan perkataan Fitri.
Fitri mengerucutkan bibirnya, Arya memeluk tubuh Fitri dengan erat. Arya meletakkan kepalanya di bahu Fitri. Hembusan napas Arya menyentuh pipi Fitri. Terdengar helaan napas Fitri, Arya tersenyum simpul melihat sikap Fitri. Sikap hangat yang mulai tercipta diantara Arya dan Fitri. Kasih sayang yang mulai tumbuh di hati Arya dan Fitri. Rasa yang berawal dari kekaguman dan rasa haru. Kekaguman Fitri akan sikap Arya yang menghormati seorang wanita. Sedangkan Arya merasa haru melihat ketulusan Fitri yang menyayangi Embun.
"Pengantin baru memang susah dipisahkan. Lihat mereka bermesraan tidak melihat tempat!" ujar Afifah menggoda Arya dan Fitri. Sontak Afifah menunduk malu, Arya melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu datang di waktu yang tidak tepat?" ujar Arya, Afifah tersenyum simpul.
"Kamu yang tidak melihat tempat!" sahut Afifah lirih, Fitri menggelengkan kepalanya. Melihat Arya yang seolah tak ingin jauh darinya.
Cup
__ADS_1
"Jangan terlalu lelah, jika memang dibutuhkan. Aku akan memanggil beberapa orang dari hotel!" ujar Arya, sesaat setelah mencium kening Fitri.
"Kak Arya, tolong jaga Embun. Aku dan kak Afifah sibuk di dapur. Takutnya dia kewalahan dengan Rafan!" ujar Fitri, Arya mengangguk mengiyakan.
"Aku tak dianggap!" ujar Arya, Afifah dan Fitri tersenyum. Melihat Arya yang kesal dengan sikap Fitri.
Arya keluar dari dapur, dia berjalan menuju kamar Embun. Afifah dan Fitri melanjutkan memasak, makan malam memang masih lama. Namun acara di panti asuhan dilaksanakan setelah sholat asar. Jadi Afifah dan Fitri harus berlomba dengan waktu. Semua mereka kerjakan sendiri, dibantu para ART yang ada di rumah Embun.
"Mama!" teriak Nur dengan suara khasnya.
Nur masuk ke dalam dapur membawa beberapa kantong plastik berisi buah-buahan. Ada beberapa lagi kantong palstik penuh yang dibawa Fahmi. Keduanya datang bersama-sama. Kebetulan Nur mendapat bagian menyiapkan buah yang akan diberikan pada anak yatim-piatu. Entah kenapa Nur malah datang bersama Fahmi? Afifah dan Fitri menatap dengan rasa heran dan tidak percaya. Keduanya merasa tidak ada jarak diantara Fahmi dan Nur.
"Kemana saja kamu? Kenapa baru datang?" ujar Afifah pura-pura kesal. Nur menangkupkan kedua tangannya. Isyarat Nur meminta maaf pada Afifah dan Fitri.
"Mama, aku menunggu dia. Sebab itu aku terlambat!" ujar Nur lirih, lalu berjalan menghampiri Afifah dan Fitri. Nur mencium punggung tangan mereka berdua. Nur juga memeluk erat Afifah dan Fitri.
Nur memang orang luar, dia bukan siapa-siapa Embun? Namun persahabatan yang berganti dengan persaudaraan. Nyata membuat hubungan keduanya melebihi hubungan darah. Embun dan Nur layaknya kakak dan adik, Embun yang selalu butuh perlindungan Nur. Sebaliknya Nur yang selalu siap melindungi dan membela Embun. Sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya. Sebab itu Afifah dan Fitri kini menjadi mama angkat Nur. Terlebih Arya sudah menganggap Nur sebagai putrinya. Bahkan Arya sudah meminta Nur menjadi putrinya di depan kedua orang tua Nur.
"Nyonya Fitri!" ujar Fahmi, Fitri langsung menggelengkan kepalanya. Fahmi terdiam, merasa Fitri benar-benar marah padanya.
"Panggil aku tante Fitri, aku bukan nyonya besar. Jangan tinggikan derajatku, sebab kita sama. Hanya saja aku lebih tua dan hargai aku sebatas itu saja!" pinta Fitri, Fahmi mengangguk pelan. Nur berdiri tepat di samping Fitri. Afifah merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Nur dan Fahmi.
"Tante Fitri, maaf jika saya menyela. Sebenarnya kami tidak datang berdua. Ada satu karyawan kantor yang ikut dengan kami. Dia sedang ada urusan dengan tuan Arya!"
"Ingat Nur, mama orang yang pertama marah. Jika kamu pergi berdua dengan Fahmi. Tanpa satupun mahram yang menemanimu. Hari ini mama memaafkan, kelak jika memang kalian ingin keluar. Minta salah satu dari kami menemani, agar tidak ada fitnah diantara kalian. Walau tadi kalian pergi bertiga. Namun sesungguhnya itu tetap salah, karyawan itu bukan mahrammu!" ujar Fitri tegas, Nur diam menunduk. Tangannya terlihat gemetar, perkataan Fitri membuat Nur merasa bersalah. Afifah tersenyum penuh rasa haru. Dia melihat kasih sayang Fitri yang tulus pada Embun dan kini menganggap Nur layaknya putri kandungnya.
"Fahmi!"
"Iya tante Fitri!" sahut Fahmi yang langsung mendongak menatap Fitri.
"Laki-laki sejati hanya akan mengajak seorang wanita keluar dengan status yang sah. Jika memang kamu ingin pergi bersama Nur. Segera pinang dia pada orang tuanya. Jadikan hubungan kalian halal di mata agama dan hukum. Namun seandainya hubungan kalian hanya sebatas teman. Tante harap, ini kebersamaan kalian tanpa kami mahramnya Nur!" ujar Fitri tegas dan dingin, Fahmi dan Nur menunduk. Mereka berdua melihat kasih sayang dan kepedulian Fitri.
__ADS_1
"Fitri, mereka masih sangat muda. Aku percaya Nur bisa menjaga diri. Sedangkan Fahmi bukan laki-laki yang sanggup menyakiti Nur!" sahut Afifah, Fitri mengangguk pelan.
"Memang yang kakak katakan benar. Namun saat hati mulai menyimpan rasa suka. Maka akan ada napsu yang mengiringi. Bukankah lebih baik, jika pertemuan mereka menjadi halal dan bukan zina!"
"Nur, mama Fitri tidak akan melepaskanmu. Lebih baik minta Fahmi melamarmu. Kebetulan papa Arya ada di kamar Embun. Jadi kalian bisa melakukannya sekarang. Setelah itu, kita bisa mengantarmu menuju rumah orang tuamu!" ujar Afifah dengan tersenyum, Nur menggeleng lemah.
"Kenapa mama Afifah ikut menghakimi Nur?" sahut Nur, lalu memeluk tubuh Fitri. Berharap Fitri tidak marah lagi padanya.
"Jelas aku setuju dengan Fitri. Suara penuh bahagiamu saat datang tadi. Sudah menunjukkan posisi Fahmi di hatimu. Kami memang sudah tua dan kuno. Namun kami juga pernah merasakan, betapa bahagianya saat bertemu dengan pujaan hati!"
"Mama Afifah!" teriak Nur malu, Fahmi menunduk menyimpan wajahnya yang memerah.
"Pergilah Fahmi, bantu yang lain di luar. Jika kamu terlalu lama di dapur. Tante Fitri benar-benar akan menikahkan kalian!" ujar Afifah, Fitri menggeleng lemah. Afifah tertawa melihat Nur dan Fahmi yang tersipu malu. Wajah keduanya terlihat merah seperti udang rebus.
"Baik, saya pergi ke luar. Jika membutuhkan bantuan, tinggal panggil saya!" pamit Fahmi sopan, Afifah dan Fitri mengangguk pelan. Fahmi keluar dari dapur, Nur menunduk seolah mengalihkan pandangannya dari Fahmi.
"Nur!"
"Iya mama!" sahut Nur lirih, Fitri menoleh ke arah Nur. Fitri memegang dua lengan Nur, menatap lekat dua bola mata indah Nur.
"Apapun yang mama katakan, bukan amarah tanpa sebab. Mama tidak ingin Fahmi atau siapapun meremehkanmu? Kamu pantas dihargai dan mendapatkan kebahagian. Jika orang lain tidak bisa menghargaimu, maka hargailah dirimu sendiri. Jangan pernah biarkan orang menilai rendah dirimu. Buktikan kamu wanita hebat, yang mampu menjaga martabat dan kehormatanmu!"
"Maafkan Nur!" ujar Nur, lalu memeluk Fitri.
"Mama menyayangimu, sebab itu mama mengingatkanmu di saat khilafmu!"
"Aku menyayangi mama!" ujar Nur lirih, sembari memeluk erat Fitri.
"Terima kasih, mama selalu ada mengingatkan Nur!" ujar Nur pada Afifah. Nur memeluk Afifah dan dibalas dengan pelukan hangat oleh Afifah.
"Aku menyayangi kalian!" ujar Nur lantang.
__ADS_1