KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Presentasi


__ADS_3

"Abra, ini presentasi proyek yang akan kita kerjakan. Kamu pelajari lebih dulu, supaya kamu bisa mempersentasikannya dengan baik. Nur akan ikut dalam tim, dia yang akan menerangkan detail cetak birunya!" ujar Fahmi, sembari menyerahkan sebuah berkas pada Abra.


Dengan penuh rasa bangga, Abra mengambil berkas yang diberikan Fahmi. Abra memeriksa berkas yang diberikan Fahmi. Nampak Abra mengangguk berkali-kali. Rasa bangga Abra tidak salah, Fahmi mampu diandalkan dalam segala hal. Termasuk proyek besar yang diberikan Arya pada Abra dan Fahmi. Abra menganggumi cara kerja Fahmi yang cepat dan rapi. Sejak awal Abra mendirikan perusahaannya. Dia dan Fahmi selalu bekerjasama, bukan sebagai bos dan asisten. Melainkan sebagai seorang rekan kerja yang akan saling mendukung.


"Fahmi, kali ini kamu yang presentasi. Aku akan menjadi asistenmu. Lagipula, sejak awal kamu yang mengerjakan proyek ini. Aku percaya kamu mampu menyakinkan semua orang!"


"Tapi!"


"Fahmi, memang statusku sebagai bosmu. Namun dibalik status itu, kamu bukan hanya sahabatku tapi juga saudara angkatku. Jadi bahagiamu menjadi bahagiaku, sebaliknya suksesku menjadi suksesmu. Yakinkan dirimu, jika kamu mampu menyelesaikan proyek ini!"


"Abra, proyek ini milik kita. Jadi alangkah baiknya, jika semua berjalan seperti biasa. Kamu pemilik perusahaan ini, aku sebagai asisten akan tetap bersikap selayaknya. Seperti perkataanmu, sukses ini milik kita. Jadi tidak ada bedanya, aku atau kamu yang mempresentasikan proyek ini!" sahut Fahmi tegas, Abra mengangguk sembari menopang dagunya.


Abra meletakkan berkas yang diberikan Fahmi. Nampak Abra mengutas senyum simpul di wajahnya. Abra mengagumi sikap Fahmi yang tegas. Tak ada amarah atau rasa iri dalam pikiran atau benak Abra. Jujur Abra merasa bahagia dan beruntung. Mengenal Fahmi yang selalu menopang dirinya selama ini. Fahmi sahabat yang tak pernah berpikir mengungguli Abra dan saudara angkat yang tak pernah ingin cemburu akan kesuksesan Abra. Sikap sejati seorang laki-laki yang meletakkan persaudaraan di atas segalanya.


"Baiklah, aku yang akan mempresentasikan proyek ini. Namun semua tergantung pendapatmu. Jika memang kita sanggup mengerjakan proyek ini. Maka kita akan lakukan, bukan untuk mengambil hati tuan Dirgantara. Namun membuktikan pada dunia, jika masih ada persahabatan tulus diantara kita. Takkan ada rasa iri atau cemburu dengan kesuksesan yang lain!"


"Abra, persahabatan kita terlalu murah. Jika kita tukar dengan sukses. Janji kita semasa putih abu-abu. Jauh lebih kuat, daripada sukses semu yang akan kita dapat!"


"Kamu benar Fahmi!" sahut Abra, sembari bangkit dan langsung memeluk Fahmi erat.


Tok Tok Tok


"Permisi pak Abra, rapat segera dimulai. Perwakilan perusahaan Sanjaya sudah tiba!" sahut Via sekretaris Abra.


"Dimana Nur?" sahut Fahmi, Via menoleh ke arah Fahmi.

__ADS_1


"Beliau sudah menunggu di ruang rapat!" sahut Via datar, Fahmi mengangguk mengiyakan.


"Nur, pertama kalinya seorang anak menolak membantu ayahnya. Malah dengan tegas, membantu lawan bisnisnya. Semoga hubunganmu dengan tuan Dirgantara membaik. Agar aku yakin hubungan kita tidak pernah menjadi alasan hancurnya hubungan lama!" batin Fahmi.


Abra dan Fahmi berjalan menuju ruang rapat. Langkah tegak mereka terdengar begitu tegas. Abra mantap melangkah bertemu dengan pengusaha hebat. Dirgantara bukan pembisnis biasa. Dia sebelas dua belas dengan Iman dan Arya. Hanya saja mereka berada di jalur yang berbeda.


"Maaf, saya terlambat!" ujar Abra, Fahmi langsung duduk tepat di samping Nur. Tak nampak Dirgantara diantara pada anggota rapat.


Dirgantara memilih tidak datang, dia mengirimkan perwakilannya. Dirgantara ingin menguji Fahmi dengan caranya sendiri. Sebab itu Dirgantara memilih tidak datang dan memantau jalannya rapat melalui layar laptopnya. Dirgantara tidak ingin melihat kepalsuan, dia ingin melihat ketulusan Fahmi. Agar dia bisa menyerahkan Nur pada Fahmi. Menghilangkan keraguan dalam benaknya dan berfikir Fahmi mampu membahagiakan Nur putrinya.


"Fahmi, ambil berkas ini. Silahkan presentasi!"


"Tapi Abra!" sahut Fahmi ragu, Nur menatap Abra dan Fahmi heran.


"Abra, kamu menyadarinya!" ujar Fahmi, Abra mengangguk pelan.


"Fahmi, presentasikan proyek ini. Kita akan menggapai sukses bersama!" ujar Abra, Fahmi mengangguk lalu berjalan ke depan.


"Kak Fahmi, kamu bisa!" ujar Nur lirih, Fahmi menoleh ke arah Nur. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Keduanya saling bicara dengan isyarat mata. Nampak cinta yang tulus bersemi jauh di dalam hati mereka.


"Nur, aku akan berjuang demi rasa ini. Setidaknya aku berusaha mencapai sukses. Agar aku hatiku yakin, jika aku mampu memenuhi kebutuhanmu dan menggapai bahagia bersamu!" batin Fahmi, sembari menatap mata indah Nur.


"Nur, jaga sikapmu. Ada beberapa pegawai perusahaan tuan Dirgantara. Jangan sampai sikapmu membuat tuan Dirgantara ragu akan tulus rasa diantara kalian!" ujar Abra lirih, suara teguran hangat Abra. Suara layaknya seorang kakak yang peduli akan kehormatan adiknya. Abra menunjukkan kasih sayangnya pada Nur. Bukan sebagai sahabat istrinya, tapi adik sekaligus calon makmum pembawa kebahagian sahabatnya.


"Maaf!" ujar Nur lirih, Abra mengedipkan kedua mata indahnya. Abra mengisyaratkan kedua matanya, menunjuk ke arah Fahmi. Meminta Nur memperhatikan Fahmi yang tengah mempresentasikan proyek pada perwakilan perusahaan Sanjaya.

__ADS_1


Hampir setengah jam Fahmi menerangkan detail proyek yang akan dikerjakan olehnya. Abra dan Nur memperhatikannya dengan seksama. Bahkan Nur terpesona dengan cara presentasi Fahmi. Hampir semua orang menyukai cara Fahmi memaparkan detail proyek. Abra semakin percaya, jika Fahmi mampu berdiri tanpa dirinya. Meski Abra mengetahui, Fahmi tidak ingin sukses bila tanpa Abra bersamanya. Dua sahabat yang saling menopang satu dengan yang lainnya.


"Baiklah, semua sudah mendengarkan paparan dari pak Fahmi. Sekarang saudara Nur yang akan akan menerangkan cetak birunya!" ujar Abra, Nur berjalan ke depan ruang rapat. Semua mata tertuju pada keteduhan wajah Nur. Hanya Fahmi yang langsung menunduk, ketika dia melihat dua mata indah Nur. Fahmi menjaga pandangannya, Fahmi benar-benar menghargai Nur sebagai seorang wanita.


"Saya rasa rapat hari ini selesai. Semua detail proyek sudah kami paparkan!" ujar Abra menutup rapat pagi ini.


Semua orang mengangguk setuju, mereka semua senang dengan cara kerja Abra dan Fahmi. Nur menatap bangga Fahmi, pertama kalinya Fahmi mempresentasikan proyek. Tanpa berpikir semua itu mampu mengetuk hati Dirgantara. Melainkan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya. Abra berjabat tangan dengan perwakilan perusahaan Sanjaya. Kesepakatan sudah tercapai, Abra dan Fahmi mendapatkan proyek besar pembangunan hotel milik perusahaan Dirgantara Sanjaya.


Kreekkk


"Tuan Dirgantara!" ujar Abra, Fahmi dan Nur langsung menoleh. Abra menghanpiri Dirgantara, sedangkan Fahmi dan Nur terdiam membeku. Ada rasa takut dalam hati mereka. Namun rasa cinta diantara mereka nyata ada dan takkan mampu hilang begitu saja.


"Fahmi, selamat atas kerja kerasmu. Aku menyukai cara kerjamu. Niat tulus dan kerjasama diantara kalian mengetuk pintu hatiku. Putriku sangat menyayangimu, dia ingin sukses tanpa berpikir melampauimu. Kalian akan berjuang bersama menuju kata sukses. Sesuatu yang membuatku percaya dan yakin. Kamu mampu membahagiakan putriku!"


"Tuan Dirgantara!"


"Fahmi, aku percayakan kebahagian Nur padamu!" ujar Dirgantara tegas, Abra langsung menepuk pelan pundak sahabatnya. Dia bahagia dan terharu melihat kesuksesan yang didapat sahabatnya.


"Papa, terima kasih!" ujar Nur, Dirgantara mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya.


"Papa merindukan pelukan ini. Maafkan papa yang terus menjauh dan tak pernah memahami inginmu. Maafkan papa sayang, maaf!" ujar Dirgantara seraya memeluk Nur erat.


"Pelukanmu tetap hangat, meski puluhan tahun pelukan ini tak pernah aku rasakan. Pelukan yang semakin lama dan semakin menjauh. Kini pelukan itu terass begitu hangat dan menenengkan. Papa, sejujurnya aku merindukan pelukanmu. Aku merindukan hangatmu, ayah yang tak pernah lagi membelaiku. Kini nyata ada memelukku dengan begitu hangat. Rasa rindu ini terasa pantas, ketika kini aku merasakan hangat akan pelukanmu yang berbalut rindu!" batin Nur dalam pelukan hangat Dirgantara.


"Terima kasih!" ujar Nur lirih dalam pelukan Dirgantara.

__ADS_1


__ADS_2