KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keluarga Terbaik


__ADS_3

Kanaya terbangun setelah hampir dua belas jam tak sadarkan diri. Kanaya terkejut, melihat dirinya berada di sebuah kamar rumah sakit. Sejenak Kanaya mengingat kesakitannya malam itu. Tendangan terakhir yang dia rasakan dari sang buah hati. Kanaya masih merasakan betapa sakitnya malam itu. Tak ada rasa sakit yang pernah dirasakannya seperti itu. Kanaya tertegun, menyesal telah mengabaikan rasa sakit seorang ibu. Kanaya mengusap perutnya pelan, air matanya tiba-tiba menetes.


Kanaya menangis seiring tangannya yang bergetar. Kanaya telah kalah, sang buah hati tak lagi tumbuh di rahimnya. Perjuangannya berakhir tepat di usia tujuh bulan kandungannya. Kanaya tak lagi mampu melindungi putra kecilnya. Tangis yang terdengar menyayat hati. Kanaya tak lagi bisa mengusap sang buah hati. Tak lagi dia merasakan tendangan, gerakan kecil yang menemani hari-harinya selama ini.


"Sayang!" ujar Embun lirih, tangan lembutnya mengusap puncak kepala Kanaya.


"Mama, aku kalah!" ujar Kanaya lemah, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Embun menggenggam erat tangan Kanaya. Memberikan kekuatan pada Kanaya, agar kanaya mampu berdiri di atas luka yang kini menyapanya.


"Seorang ibu tak pernah kalah. Kamu harus kuat demi putramu. Mungkin dia lahir sebelum waktunya, tapi dia akan tumbuh dengan curahan kasih sayangmu dan Galuh. Kuat Kanaya, kamu harus kuat demi putramu!"


"Dimana dia?" ujar Kanaya lirih, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Galuh!" sahut Embun, Nissa mengangguk pelan.


"Dia menemani putramu, Galuh tak pernah beranjak dari ruang NICU. Galuh tak ingin meninggalkan putra kalian!"


"Aku ingin melihat putraku!" ujar Kanaya, Embun menggeleng lemah. Kanaya terus memaksa, Embun tak mampu menahan keinginan Kanaya. Meski tubuhnya lemah, Kanaya bersikeras menemui Galuh dan buah hatinya.


"Sayang, kamu masih lemah!"


"Mama, aku mohon!" pinta Kanaya menghiba, Embun menghela napas. Dengan berat hati, Embun mengiyakan permintaan Kanaya. Embun meminta perawat membantunya, Kanaya duduk di kursi roda. Embun mendorong perlahan kursi roda, nampak jelas Kanaya menahan rasa sakit. Namun keinginannya begitu besar, dia hanya ingin melihat putranya.


Embun mendorong kursi roda Kanaya melewati lorong panjang rumah sakit. Langkah Embun terasa begitu berat, seolah tak mampu melihat kekecewaan di wajah putrinya. Seorang ibu yang harus tabah melihat lemah putranya. Embun tak mampu menahan air matanya. Perlahan air mata itu menetes, membasahi pipinya. Ketegarannya kalah oleh rasa sakit Kanaya.


"Kak!"


"Sayang!" sahut Galuh tak percaya, dia melihat Kanaya sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


Galuh berjalan menghampirinya, duduk berjongkok tepat di depan Kanaya. Galuh mengusap wajah Kanaya, lalu mencium lembut tangan Kanaya. Galuh tidur di pangkuan Kanaya, Embun termenung melihat sikap Galuh. Kanaya mengusap pelan kepala Galuh, menenangkan Galuh yang gelisah. Kanaya memahami luka yang tak terucap dari bibir Galuh.


"Dimana dia?" ujar Kanaya, Galuh mendongak. Tatapannya terlihat sendu, tak ada cahaya. Semua terasa sunyi dan gelap. Galuh hancur menyadari rasa sakit Kanaya dan putranya. Sedangkan Galuh tak mampu berbuat banyak.


"Antar aku melihatnya!" ujar Kanaya, saat menyadari diam Galuh.


"Aku mohon!" ujar Kanaya lagi, ketika melihat Galuh menggelengkan kepalanya.


"Aku sanggup menahan air mataku. Putraku takkan pernah melihat lemahku. Aku akan selalu kuat demi dirinya!" ujar Kanaya menyakinkan Galuh, terlihat anggukan kepala Galuh. Kanaya tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa melihat putranya.


Galuh memapah tubuh Kanaya, Embun memilih berdiri menjauh. Melihat betapa sabarnya Galuh, kala menuntun Kanaya mendekat ke arah ruang NICU. Kanaya berjalan dengan sangat pelan, seluruh tubuhnya terasa sakit. Namun demi melihat putranya, Kanaya merasa kuat dan sangat kuat. Galuh setia menopang tubuh Kanaya. Keduanya berjalan masuk ke ruangan NICU. Tentu saja setelah meminta izin pada perawat.


"Dia tampan sepertimu!" ujar Kanaya lirih, Galuh mengangguk pelan.


"Sayang, dia memiliki mata indahmu. Mata yang membuatku terpesona!" sahut Galuh menggoda Kanaya. Embun menatap pilu Galuh dan Kanaya. Jauh dalam lubuk hati Embun tersimpan rasa sakit yang teramat melihat putrinya hancur.


"Sayang!" ujar Galuh khawatir, Kanaya mengedipkan kedua matanya. Berpikir semua baik-baik saja. Tatapan Galuh penuh kecemasan, membayangkan kehancuran Kanaya. Tatkala luka tubuhnya belumlah sembuh, tapi harus melihat putranya lemah tak berdaya.


"Aku tidak akan menangis!"


"Kita akan menjaganya, dia buah cinta kita. Anugrah terbesar dalam perjalanan hidup kita. Dia yang akan mengisi hari-hari kita dengan tawa. Percayalah sayang, dia lahir lebih cepat bukan karena lelah dalam rahimmu. Namun dia lahir, agar kita bisa memeluknya dan membesarkannya dengan cinta!" ujar Galuh, Kanaya mengangguk. Tangannya menempel di jendela kaca ruang NICU. Berharap tangannya mampu membelai sang putra yang berada di dalam inkubator.


"Kak, dia sangat kecil. Namun cinta kita besar untuknya. Dia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Kita akan menjaganya!" sahut Kanaya, lalu menyandarkan tubuhnya di dada bidang Galuh. Tak nampak air mata jatuh, Galuh dan Kanaya terlihat tegar. Semua demi sang putra yang akan menjadi pelita dalam hidup Galuh dan Kanaya.


Embun berjalan menghampiri Galuh dan Kanaya. Sejak tadi, Embun berdiri menjauh. Mengamati Galuh dan Kanaya, melihat betapa tegar dan hebatnya menantu dan putrinya. Embun terharu mendengar kedewasaan Galuh, sikap dewasa yang mampu mengimbangi sikap dingin Kanaya. Ketulusan Galuh yang nyata membuat Kanaya kecilnya luluh. Embun melihat besar cinta Galuh pada Kanaya. Cinta yang tak pernah takut memberi dan berharap sebuah balasan. Cinta yang siap merangkul, meski dirinya merasakan dingin.


"Sayang, kalian tidak sendirian. Mama akan menemani langkah kalian. Tulang mama mungkin rapuh, tubuh mama mungkin renta. Namun percayalah, mama tidak akan lemah menopang kalian. Mama akan berada di samping, bukan di depan atau di belakang kalian. Kita akan bergandeng tangan, menjaga putra kalian bersama-sama!" tutur Embun, Galuh dan Kanaya langsung menoleh.

__ADS_1


"Mama!" ujar Galuh dan Kanaya hampir bersamaan.


"Mama ada bersama kalian!" ujar Embun, lalu memeluk Kanaya. Galuh dan Kanaya mengangguk hampir bersamaan. Kanaya bersandar pada dada Embun. Sedangkan tangannya menggenggam erat tangan Galuh. Seutas senyum penuh haru terlihat di wajah Galuh. Melihat kedekatan Kanaya dan Embun yang begitu erat. Kasih sayang yang tak pernah dia rasakan selama ini.


"Terima kasih, mama selalu ada dalam langkahku!" ujar Kanaya lirih dan lemah, Embun mengedipkan kedua matanya. Mengusap lembut kepala Kanaya, lalu mencium puncak kepala Kanaya.


"Papa juga ada untuk kalian, jangan lupakan papa!" ujar Abra, lalu merangkul Galuh. Menepuk pelan pundak putra menantunya. Mereka berempat saling memeluk, menatap penuh cinta ke arah ruang NICU.


"Tunggu, masih ada aku om dokter yang tampan!" teriak Rafan, terlihat Rafan datang bersama Aulia.


"Kak Rafan!" ujar Kanaya haru, Rafan mengangguk pelan. Embun mengulurkan tangan ke arah Aulia. Embun memeluk Aulia dengan penuh cinta. Sedangkan Rafan berdiri tepat di samping Abra.


"Sayang, kami menunggumu pulang. Cinta kami untukmu!" ujar Aulia lirih, semua orang mengangguk hampir bersamaan.


"Alhamdulillah ya Rabb, Engkau memberikan hamba keluarga yang sempurna. Engkau memberikan rahmat yang begitu besar pada hamba. Memiliki keluarga yang begitu hangat dan penuh cinta. Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Terima kasih atas rasa bahagia ini!" batin Embun haru.


"Keluarga kita yang terbaik!" teriak Abra, sontak semua orang tertawa bahagia.


THE END


......................


"Kebahagian sempurna, ada saat keluarga ada bersama. Saling merangkul dalam suka dan duka. Saling mendukung dalam sehat dan sakit. Saling menjaga dalam kuat dan lemah. Saling menopang dalam kokoh dan rapuh. Saling mengisi dalam lebih dan kurang. Saling mengayomi dalam kaya dan miskin. Kesempurnaan tak pernah ada, tapi sempurna ada ketika saling menyayangi. Keluarga, bukan hanya hubungan dengan darah yang sama. Namun hubungan yang terpaut oleh hati. Jangan pernah melupakan keluarga, sebab keluarga yang pertama ada kala kita jatuh dan terpuruk"


......................


Terima kasih para pembaca setia, telah setia membaca karya receh author. Karya yang penuh kekurangan, semoga ada kesan dalam karya receh author. Maaf, jika akhir "KESUCIAN EMBUN" tidak sesuai harapan. Kelak bila ada kesempatan, author akan lanjut kisah "KANAYA dan GALUH" dalam tulisan yang berbeda. Namun itu tergantung permintaan para pembaca. Sekali lagi author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2