
"Embun Khafifah Fauziah!"
"Ibra!" Sahut Embun, sembari menoleh ke arah samping. Suara yang begitu dikenalnya, terdengar menyapa dari sisi kiri.
Embun langsung menghentikan langkah kakinya. Dengan tatapan tak percaya, Embun melihat Ibra sudah berdiri tepat di sisi kirinya. Sahabat yang kini berubah menjadi adik ipar. Saudara sambung Abra, putra kedua Haykal. Salah satu pewaris kekayaan keluarga Abimata selain Abra. Laki-laki yang pernah dengan lantang mengutarakan kata cinta pada Embun. Ketulusan yang harus meninggalkan kepahitan dalam hidup Ibra. Lantaran sebuah penolakan akan rasa yang tak pernah Embun inginkan dalam hidupnya.
"Apa kabar kakak ipar?"
"Sedang apa kamu disini?" Ujar Embun heran, Ibra tersenyum.
Embun melihat Ibra membawa tas punggung yang sedikit besar. Entah apa yang ada di dalam tas? Apapun itu, jelas ada alasan Ibra datang ke desa. Jarak yang ditempuh cukup jauh dan sulit. Tanpa bertanya, Embun bisa menebak kedatangan Ibra bukan tanpa alasan.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!"
"Alhamdulillah aku baik-baik saja!" Ujar Embun, Ibra mengangguk pelan.
"Aku datang sebagai pengawas, akan ada renovasi pabrik. Proyek akan dimulai seminggu lagi!"
"Lalu!"
"Apa?" Sahut Ibra tak mengerti.
"Pabrik ada jauh di bawah. Lalu, kenapa kamu ada di sekolah? Apa kamu lupa jalan menuju pabrik? Atau ada alasan lain yang tersimpan di balik tas punggungmu!" Ujar Embun terus terang, Ibra diam sembari menatap lekat Embun. Kepekaan Embun membuat Ibra terdiam. Ada rasa yang sedikit mengusik Ibra. Rasa yang sudah mulai dikubur oleh Ibra. Namun tanpa peringatan, rasa itu mulai mengusik.
"Kepekaanmu tidak pernah berubah!" Ujar Ibra, Embun menghela napas.
Embun berjalan meninggalkan Ibra. Pertanyaan yang tak menemukan jawaban, membuat Embun jengah. Tanpa lagi menunggu Ibra, Embun berjalan menuju ruang guru. Embun merasa kesal, menunggu kejelasan dari pertanyaan yang sederhana. Ibra langsung berlari, mengejar langkah lebar Embun.
"Baiklah aku akan bicara!" Teriak Ibra sembari mengejar Embun. Tak ada sahutan, Embun terus melangkah menjauh dari Ibra. Embun tak lagi peduli akan jawaban Ibra.
"Embun!"
"Apa lagi Ibrahim?" Sahut Embun kesal, Ibra tersenyum. Dia berdiri tepat di samping Embun. Ibra meletakkan tas punggung yang dibawanya tepat di depan Embun.
"Kenapa?" Sahut Embun sinis, Ibra menoleh ke arah tasnya. Isyarat mata Ibra, seolah ingin meminta Ibra membuka tas itu.
"Tidak, itu milikmu. Buka sendiri, jika tidak suka. Jangan pernah membukanya!"
__ADS_1
"Embun yang sama!" Sahut Ibra dingin.
"Lalu, kenapa masih bertanya?" Ujar Embun
"Aku khusus datang, untuk memberikan ini padamu. Menjadi pengawas hanya alasan saja, agar aku bisa datang ke desa tempatmu dibesarkan!" Ujar Ibra, lalu membuka tas yang tadi dipegangnya.
Embun mengintip isi tas yang dibawa Ibra. Nampak beberapa buku bacaan, buku tulis dan alat-alat tulis. Embun mengeryitkan dahinya tidak mengerti. Meski dia mengenal pribadi Ibra yang dermawan. Embun melihat sosok yang berbeda dari Abra suaminya. Tangan dingin Abra dalam dunia bisnis, tak bisa diragukan lagi. Sebaliknya tangan hangat Ibra, tak perlu dipertanyakan lagi. Keduanya memiliki kemampuan dalam dunia dan cara yang berbeda.
"Aku sengaja mengumpulkan semua ini. Aku sempat melihat penggalangan dana sekolah ini. Buku bacaan ini tidak baru, tapi aku rasa masih layak untuk dibaca!" Ujar Ibra, Embun mengangguk pelan.
Kedua tangan Embun mengambil satu buku. Dengan senyum penuh rasa haru, Embun menatap sampul buku yang dipegangnya. Lalu, dengan setetes bening air mata. Embun mendekap erat buku bergambar kartun. Embun terenyuh menerima hadiah kecil dari Ibra. Meski bukan buku baru, tapi buku yang dibawa Ibra. Mampu menggantikan puluhan buku yang masih ada dalam angan Embun.
"Terima kasih!" Ujar Embun lirih, Ibra menoleh ke arah lain. Dia melihat jelas air mata haru Embun. Sengaja Ibra mengalihkan pandangannya. Embun pribadi tangguh, dia tidak akan suka. Jika ada yang melihat rapuhnya. Sebaliknya, Ibra berhati lembut. Melihat rapuh Embun, akan dengan mudah membangkitkan rasa cinta yang mulai terkubur.
"Aku hanya mampu memberikan ini. Soal penggalangan dana, untuk renovasi sekolah. Aku masih mengajukan pada yayasan yang dikelola kakek. Berdoalah, semoga segera bisa terlaksana!" Ujar Ibra, Embun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Jangan melibatkan keluarga Abimata. Apa yang kamu berikan hari ini? Cukup membuat anak-anak tersenyum. Renovasi sekolah akan dimulai satu minggu lagi. Aku sudah mendapatkan dana yang kami butuhkan!"
"Apa kak Abra yang memberikannya?"
"Dariman kamu mendapatkannya? Renovasi sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit!"
"Tidak perlu kamu tahu, intinya sekolah akan direnovasi. Setidaknya sebelum aku pergi dari desa ini. Aku tidak perlu khawatir akan anak-anak. Tidak akan ada lagi bahaya yang mengancam mereka!" Ujar Embun lirih, sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian sekolah.
Sekolah dasar yang berdiri jauh sebelum Embun lahir. Tempat Embun menimba ilmu di kala sekolah dasar. Satu-satunya sekolah yang ada di desa kelahiran Embun. Semenjak Embun menikah dengan Abra. Banyak hal yang ingin dilakukan Embun demi desa kecilnya. Salah satunya merenovasi sekolah yang mulai rapuh termakan usia.
"Dua minggu lagi Embun, dua minggu lagi kamu resmi menjadi istri kak Abra. Kamu akan menjadi kakak iparku yang sesungguhnya!"
"Hmmmm!"
"Embun!" Sapa Ibra lirih, Embun menoleh ke arah Ibra.
Namun tatapan Ibra jauh ke langit biru. Nampak raut wajah gelisah di wajahnya. Gelisah yang bisa terlihat dari gemetar tangan Ibra. Embun menghela napas, lalu mengikuti arah pandang Ibra. Mengunci langit biru yang begitu terang. Sinar teriknya tak lagi hangat, tapi terasa panas membakar jiwa yang dingin.
"Apa kamu bahagia?" Ujar Ibra, Embun mengangguk pelan. Ibra tak menoleh ke arah Embun, tapi dia merasakan gerakan kepala Embun. Anggukan kepala yang membuat hati Ibra teriris.
__ADS_1
"Diakah imam pilihanmu?" Ujar Ibra lagi, Embun terdiam lalu mengangguk pelan.
"Dia cintamu atau pilihan abah?" Ujar Ibra lirih, Embun menunduk ke bumi. Tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ibra.
"Ibrahim Dwi Abimata!"
"Ada apa?" Sahut Ibra. Sedangkan Embun menunjuk ke arah gunung yang berada jauh di depan mereka.
"Layaknya gunung yang tak bisa memilih dimana dia akan berdiri? Seperti itulah cintaku yang tak berhak memilih dihati mana dia berlabuh. Entah Abra itu cintaku atau pilihan panutanku? Namun aku bisa menyakinkan dirimu, Abra laki-laki yang kini menjadi satu-satunya iman dalam hidupku!"
"Jelas kamu belum mencintainya!"
"Gunung tak perlu mencintai, jika ingin melindungi makhluk yang hidup di dalamnya. Aku layaknya gunung yang menjulang tinggi itu. Aku kokoh dan teguh, saat pohon-pohon itu tumbuh subur nan kuat. Aku rapuh dan lemah, ketika panutanku menangis dan bersedih. Air mata abah mampu melumpuhkan tulangku. Bak tangis langit yang mampu meruntuhkan setinggi apapun gunung itu berdiri!"
"Seandainya aku datang satu detik lebih awal dari kak Abra!" Ujar Ibra berharap, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Beruntungnya kamu datang satu detik setelah Abra. Jika tidak, aku akan merasa menyesal seumur hidupku!"
"Maksudmu?"
"Karena kamu akan jauh lebih terluka dibandingkan aku!"
"Sebab!"
"Penolakan orang tuamu padaku, akan membuatmu bimbang dan dilema. Pernikahan sebuah awal kebahagian, bukan awal sebuah pertikaian!"
"Bukankah kak Abra sama denganku!" Ujar Ibra, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Abra berbeda, dia begitu tangguh dan teguh. Kini padanya aku bersandar, bukan pada janji yang tak pernah bisa kamu tepati!"
"Maaf!" Ujar Ibra.
"Semua hanya masa lalu, Abra masa depanku. Bersamanya akan kujalani sisa hidupku. Bahagia atau air mata, biarlah menjadi rahasia Illahi. Aku akan mengabdi pada satu nama. Abra Achmad Abimata!"
"Dia selalu beruntung dalam segala hal!" Gumam Ibra, Embun mengangguk pelan.
"Dia tubuh yang keras, tapi berhati lembut. Abra pantas bahagia, entah bersamaku atau orang lain?" Ujar Embun lantang.
__ADS_1
"Haruskah aku mendoakan kebahagianmu bersama kak Abra? Saat kebahagian dan senyumku musnah tak bersisa. Mampukah aku menatap senyummu bersama kak Abra? Jika saat menatapmu, aku teringat akan sakitku. Sanggupkah aku bertemu setiap hari denganmu? Sedangkan setiap detik napasku, masih terus memanggil namamu. Kenapa Embun? Kenapa suci dan bening hatimu? Malah menjadi racun mematikan jiwaku. Sebab sucimu tak lagi bening, semua ternoda oleh cinta tulus kakak kandungku!" Batin Ibra pilu.