
"Nur!"
"Akhirnya kamu datang, hampir saja aku pulang. Satu jam lebih aku menunggu, membosankan!" cerocos Nur kesal, Embun tersenyum melihat kekesalan Sahabatnya.
Seharusnya Embun sudah sampai di pusat perbelanjaan, satu jam yang lalu. Namun kejadian tidak terduga yang terjadi dengan Abra. Membuat Embun harus merayu suaminya yang terlanjur tersinggung. Walau sampai kapanpun? Abra tidak akan bisa marah pada Embun. Namun melihat Embun menghiba dan memelas. Bahkan Embum tidak segan merayu, membuat Abra bahagia. Kehangatan yang akan sulit didapatkan di lain hari. Bagi Abra, tidak ada salahnya mengggunakan kesempatan sebaik mungkin. Akhirnya drama berakhir dengan Embun pergi bersama Abra.
"Ada sedikit masalah, tapi sudah selesai. Sekarang kita belanja sepuasnya, beberapa gamisku sudah mulai sesak. Mungkin aku sedikit gemuk!" ujar Embun kesal, Nur tertawa sembari menutup mulutnya.
Sejak hamil, Embun memang jarang mengkonsumsi makanan berat. Namun sebagai pencinta buah-buahan, Embun tidak berhenti mengunyah. Meski dalam kondisi mual, sampai akhirnya Embun terlihat sedikit berisi. Nur memang melihat perubahan bentuk tubuh Embun. Namun dia tidak pernah mempermasalahkannya. Sebab Nur berpikir, Embun terlihat berisi karena bahagia. Walau ujian dan rintangan, seolah tidak ada habisnya.
"Kamu tidak gemuk, lebih berisi!" ujar Abra, sembari memeluk Embun. Nur melongo melihat kehangatan Abra dan Embun.
"Kenapa dia ikut? Segitu tidak percayanya, sampai dia harus mengawal kemana Embun pergi?" batin Nur kesal, melihat Abra tengah memeluk Embun.
"Tuan Abra yang terhormat, bukankah seharusnya anda ada di kantor!"
"Kenapa memangnya? Hari ini aku cuti, agar aku bisa mengawal kalian belanja!" ujar Abra dingin, Nur mengangguk meski dalam hati dia sangat kesal.
"Biarkan saja, takutnya kalau aku pergi sendiri. Nanti kak Abra mikir yang aneh-aneh!"
"Hmmm, baiklah. Apa katamu? Aku ikut saja, selama tuan Abra tidak merasa keberatan!"
"Aku juga tidak keberatan ikut denganmu!" sahut Ibra, Nur menoleh tepat setelah mendengar suara Ibra.
"Kamu!"
"Hmmm!" sahut Ibra, sembari menganggukkan kepalanya.
"Apa hari ini perusahaan Abimata group tutup. Sampai dua bos besarnya berada di sini!" ujar Nur dingin, Embun mengangkat kedua bahunya pelan.
"Aku hanya mengizinkan kak Abra ikut, tapi tidak Ibra. Tanyakan padanya, kenapa dia ada di sini juga?" ujar Embun, saat melihat Nur menatapnya dingin.
"Dua penerus Abimata yang sedikit aneh!" gerutu Nur, lalu berjalan lebih dulu. Nur sangat kesal, ketika melihat Ibra juga ikut. Pertemanan keduanya terasa canggung, setelah Ibra mengatakan cinta padanya. Sejak saat itu, Nur merasa tidak nyaman. Jika bertemu dengan Ibra, meski hanya sebagai teman.
__ADS_1
"Nur, tunggu aku!" teriak Embun, sembari berlari mengejar Nur. Embun langsung merangkul Nur, Embun bergelayut manja di lengan Nur.
"Maaf!" bisik Embun, Nur mengeryitkan dahinya. Seolah dia tidak mengerti, kata maaf untuk apa?
"Kak Abra, dia ikut karena aku telah melukai hatinya. Sedangkan Ibra ikut, karena dia ingin jalan bersamamu. Jadi kata maafku, untuk mereka yang memaksa ikut!"
"Hmmm!" Sahut Nur dingin, Embun tersenyum. Dia jelas tahu, Nur tidak akan marah padanya.
"Kita pergi mencari gamis, setelah itu baru seragam!" ujar Nur, Embun mengangguk pelan.
"Tunggu, kenapa kalian mencari seragam? Memangnya masih ingin sekolah!"
"Diam kamu!" ujar Nur dingin pada Ibra, Abra menarik tangan Ibra.
"Sejak tadi dia tidak bersahabat. Jadi jangan sekali-kali mengganggunya!" ujar Abra mengingatkan, dengan nada menggoda Ibra.
"Kalau marah, dia tambah cantik!" ujar Ibra, Nur langsung menoleh. Sontak Ibra menutup mulutnya dengan tangan.
Nur dan Embun terus berjalan, sampai akhinya mereka masuk ke dalam sebuah toko gamis. Toko yang khusus menjual bermacam-macam baju muslim dan peralatan sholat. Embun dan Nur saling memandang. Seakan ada sebuah rencana besar dalam benak mereka.
"Kak Abra yang memaksa menggunakan kartu ATM itu. Jadi jangan protes, jika aku menggunakannya terlalu banyak!"
"Silahkan, aku tidak takut jatuh miskin. Selama kamu bersedia ada di sisiku!"
"Ayolah kak, jangan sekarang merayunya. Aku masih jomblo, hatiku merana melihat kemesraan kalian!" ujar Ibra, Nur melirik ke arah Ibra.
"Jika merana, segera menikah. Agar tidak terjadi fitnah!" ujar Nur dingin.
"Kapan kita menikah? Aku siap, kapanpun kamu mengatakan iya?"
"Kenapa malah aku?"
"Karena aku ingin menikah denganmu!"
__ADS_1
"Lupakan, bekerjalah dengan benar. Baru kamu bisa meminangku!" ujar Nur dingin, menghindar dari pembicaraan yang jelas menemukan jawabannya.
"Embun, kita ambil semua dari sini saja. Jadi tidak perlu berkeliling. Takutnya kamu lelah!"
"Baiklah, katakan yang ingin kamu beli!" sahut Embun, Nur mengacungkan jempol.
Nur memesan beberapa baju koko dan sarung anak. Nur juga memesan beberapa gamis anak. Abra sempat heran, melihat banyak barang yang dibeli Nur. Bukan gamis dewasa, melainkan anak-anak. Abra dan Ibra saling menoleh, keduanya merasa aneh dengan banyak belanjaan Nur dan Embun.
"Semua sudah selesai, tuan Abra silahkan dibayar!"
"Tunggu, bukankah kalian ingin membeli gamis. Kenapa malah baju untuk anak-anak?"
"Memang kami membeli gamis, itu ada tiga milik Embun dan satu milikku!"
"Kenapa kak Abra? Kakak keberatan membayar semua ini!"
"Sayang, aku sudah katakan. Belanjalah sepuasmu. Aku bekerja untukmu!"
"Terima kasih!" ujar Embun riang, Nur menggeleng tak percaya melihat sikap Embun yang kadang tegas dan kadang lembut di depan Abra.
"Sudahlah, para laki-laki. Tolong bawakan semua belanjaan ini!"
"Kamu tidak salah, kami CEO tampan perusahaan besar. Harus membawa barang belanjaan seperti wanita. Tidak akan!" ujar Ibra, Nur menatap tajam Ibra.
"Lalu, kenapa kamu ikut? Satu hal lagi tuan Ibra yang terhormat. Para laki-laki harus merasakan lelah dan capeknya belanja. Agar mereka menghargai para wanita. Tidak hanya menyalahkan, ketika uang belanja habis. Setidaknya para laki-laki, akan mulai menghargai wanita yang setia!"
"Iya kucing manisku, aku akan ikut belanja denganmu. Aku tidak akan bertanya, meski uang bulananmu habis!"
"Mimpi!"
"Sekarang mungkin mimpi, kelak akan kupastikan semua itu terwujud. Ibrahim Dwi Abimata, sekali mencintai akan berjuang sampai mati!" ujar Ibra lantang, sontak Nur menutup mulut Ibra. Nur tidak suka mendengar perkataan Ibra. Abra dan Embun terdiam, melihat kekhawatiran Nur pada Ibra. Rasa cinta yang nyata ada, tapi sengaja dibantah agar tidak terkuak.
"Jaga bicaramu, tidak pantas kamu bersumpah seperti itu. Ingat Ibra, aku sudah katakan. Rasa diantara kita tidak mungkin. Memaksa semua itu, hanya akan melukai hati kita. Pertemanan indah kita telah musnah, hanya dengan ungkapan rasamu. Aku tidak ingin tali silaturahmi kita putus. Hanya karena keteguhanmu. Percayalah, akan ada banyak wanita yang siap menjadi pasanganmu!"
__ADS_1
"Tapi hati ini, memilihmu!" ujar Ibra, seraya menarik tangan Nur dari mulutnya dan meletakkannya tepat di dadanya.