
"Kak, sejak tadi aku perhatikan kakak sedang bingung. Ada masalah di kantor?" ujar Fitri, Arya menggelengkan kepalanya.
Arya duduk terdiam di dalam ruang kerjanya. Senja hampir pergi, petang mulai menyapa. Namun Arya sengaja mematikan lampu ruang kerjanya. Arya memilih duduk di dalam gelap. Hampir dua jam, Arya duduk melamun di ruang kerjanya. Beberapa kali Fitri tak sengaja melewati ruang kerja Arya. Namun posisi Arya tetap sama, akhirnya Fitri memutuskan masuk ke dalam. Ketika melihat Arya tidak bergeming dari tempat duduknya. Fitri mulai merasa cemas, mengingat Arya yang duduk dalam gelap. Seakan Arya tengah memikirkan masalah yang begitu berat.
"Kak!" sapa Fitri, sembari berjalan menghanpiri Arya. Sikap dingin Arya, membuat Fitri semakin cemas. Fitri berdiri tepat di samping Arya.
"Aaaa!" teriak Fitri histeris, ketika dia merasakan tangan Arya menarik tubuhnya.
Tanpa bicara atau menoleh, Arya langsung menarik tangan Fitri. Mendudukkan Fitri tepat di atas pangkuannya. Fitri terkejut melihat Arya yang memaksanya duduk di atas pangkuannya. Fitri meronta ingin turun, tapi Arya menahan tubuh Fitri. Arya memeluk erat tubuh Fitri, lalu menyandarkan kepalanya di punggung Fitri. Arya seolah butuh sandaran, Fitri yang merasakan kepala Arya tengah bersandar pada punggungnya. Langsung terdiam dan memilih duduk di pangkuan Arya. Walau sesungguhnya Fitri malu, merasa tubuhnya berat dan akan membuat Arya lelah.
Lama Arya menyandarkan kepalanya di pundak Fitri. Tanpa ada suara, hanya suara naik turun napas Arya dan Fitri. Sunyi seketika terasa di dalam ruangan Arya. Fitri semakin gelisah melihat perubahan sikap Arya. Seandainya Fitri bisa, ingin rasanya dia mengambil beban masalah dari pundak Arya. Agar kedua mata indahnya tidak melihat kegelisahan suami tercintanya. Mungkin tulang Fitri tak sekuat tulang Arya, tapi dia yakin mampu menerima beban seberat apapun. Selama itu bukan luka dan air mata suaminya. Fitri sanggup mengorbankan segalanya.
Assollatuwassalammualaik
Sayub terdengar murrotal dari mushola tak jauh dari rumah Arya. Sontak Fitri tersadar, hampir lima belas menit dirinya duduk terdiam di atas pangkuan Arya. Nampak Arya yang masih dengan posisi yang sama. Fitri memegang erat tangan Arya. Menyadarkan Arya, jika petang akan menyapa dan magrib akan segera tiba. Arya mengangkat wajahnya, lagi dan lagi tak ada suara dari bibir Arya. Tatapan Arya datar tanpa ekspresi. Fitri merasa bingung, kecemasannya kini berganti rasa takut akan jauh dari Arya.
"Tunggu!" ujar Fitri lantang, sembari menahan tangan Arya. Fitri menghentikan langkah Arya, Fitri tidak sanggup lagi melihat dingin sikap Arya. Dia ingin tahu alasan diam dan bingung suami tercintanya.
"Ada apa? Sebentar lagi maghrib, lebih baik kita bersiap untuk sholat berjamaah!" ujar Arya lirih, Fitri menggelengkan kepalanya pelan. Ada sesuatu yang harus Fitri ketahui. Alasan dari diam Arya dan sikap dingin suaminya.
"Kenapa kakak diam saja? Kakak mengacuhkanku, seolah ada masalah yang sedang kakak pikirkan. Jika mungkin, bisa tidak kakak mengatakannya padaku. Meski aku tidak bisa membantu, setidaknya kakak bisa sedikit lega. Telah membagi sedikit beban padaku!"
"Tidak ada masalah, aku baik-baik saja!"
"Kakak bohong, jelas kakak menyimpan sesuatu. Sejak tadi, aku perhatikan kakak melamun. Aku istrimu kak, sakit dan dukamu bisa kurasakan. Meski aku tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menjadi pelampiasan amarahmu. Aku tidak bisa diam melihatmu menanggung beban begitu berat. Aku mohon, katakan padaku!"
"Sayang, aku baik-baik saja!"
"Kak Arya, sebesar itukah rasa tidak percayamu padaku. Sampai kakak tidak ingin membagi masalah denganku!" ujar Fitri lirih, dengan langkah pelan dan wajah menunduk. Fitri berjalan menjauh dari Arya. Tak lagi Fitri berharap mengetahui masalah yang tengah dipikirkan Arya. Fitri seolah sadar diri, jika Arya belum sepenuhnya percaya padanya.
__ADS_1
"Sayang!" ujar Arya, sembari menahan tangan Fitri.
"Sebentar lagi azan magrib, aku harus bersiap!" ujar Fitri, lalu menepis tangan Arya perlahan.
Arya hanya diam terpaku, penolakan Fitri wujud kekecewaannya pada Arya. Apapun yang tengah dipikirkan Arya? Tidak sepantasnya Arya menutupinya dari Fitri. Kecuali masalah itu mampu diselesaikan oleh Arya sendiri. Sedangkan nampak jelas, Arya bingung mencari jawaban dari masalahnya. Kegelisahan yang terlihat oleh Fitri dan menjadi awal rasa cemasnya.
"Besok hari ulang tahun Embun!" ujar Arya lantang, Fitri langsung menghentikan langkahnya.
Fitri yang sedang berdiri tepat di depan pintu. Seketika menoleh ke arah Arya. Fitri terkejut sekaligus heran. Melihat Arya tertunduk lesu, setelah mengatakan alasan kegelisahannya. Fitri merasa perkataan Arya menyimpan banyak rahasia. Bukan sekadar hari ulang tahun Embun.
"Entah aku harus percaya atau tidak? Jika memang alasan kegelisahanmu hanya tentang ulang tahun Embun. Aku rasa bisa membantu kakak menyiapkan kado. Ingat kak, Embun bukan hanya putrimu seorang. Kini dia putriku juga, aku berhak mengetahuinya. Kenapa kakak seolah sengaja menutupinya dariku? Apa kakak masih ragu akan ketulusanku pada Embun putrimu?"
"Sayang, kamu salah paham. Tidak ada niatku menyimpan kabar bahagia ini. Ada sesuatu yang sulit aku katakan. Bukan karena aku tidak percaya, tapi aku takut melukai hatimu. Embun putriku, tapi kamu istri pilihanku. Aku takut harus menjaga hati salah satu diantara kalian!"
"Kenapa kakak berpikir aku akan terluka? Aku tidak akan marah atau melarang kakak merayakan ulang tahun Embun. Jika perlu aku yang akan menyiapkan segalanya. Kakak katakan saja, konsep acara kakak inginkan!" ujar Fitri antusias, Arya menunduk seraya menggelengkan kepalanya. Fitri semakin heran, sikap aneh Arya membuat Fitri kalut. Seolah masalah Arya sangatlah besar.
"Kak, apa yang membuat begitu cemas? Sekali lagi aku tidak akan terluka. Ketika aku menggenggam tanganmu sebagai imam dunia akhirat. Saat itu juga, aku telah menganggap Embun bagian dari hidupku. Tidak akan ada hati yang terluka, baik aku atau Embun. Jika memang ulang tahun Embun akan menyakitiku. Percayalah kak, aku mampu menahan luka itu. Asalkan kakak bahagia bersama Embun!"
"Sayang!" ujar Arya, lalu menarik tubuh Fitri dalam dekapannya.
Arya merangkul Fitri dengan sangat erat. Seakan Arya tidak ingin jauh atau kehilangan Fitri. Pengertian yang Fitri katakan, membuat Arya semakin merasa bersalah. Fitri mungkin menerima Embun, tapi hubungan Embun dengan Almaira tidak akan mudah terhapuskan. Arya memeluk erat sangat erat, bahkan sesekali Arya mencium wajah Fitri yang tertutup cadar.
"Sayang, besok hari ulang tahun Embun. Sekaligus peringataan kematian Almaira Adijaya. Ibu yang menukarkan nyawanya demi putriku Embun. Alasan putriku tidak pernah ingin merayakan ulang tahunnya. Embun hanya ingin bersama keluarganya. Mengingat kematian Almaira, tanpa ada pesta!" bisik Arya tepat di telinga Fitri.
Duaaaarrr
Bak suara petir menyambar tubuhnya. Fitri terkejut mendengar kebenaran yang tersimpan di balik gelisah Arya. Alasan Arya begitu takut bicara jujur padanya. Fitri merasa kaget, sekaligus tidak percaya. Jika putri cantiknya, menyimpan duka yang begitu besar. Kenyataan dia terlahir tanpa mengenal ibu kandungnya. Di hari yang sama Embun putrinya bahagia menatap dunia dan menangis kehilangan ibu yang melahirkannya. Fitri terdiam membisu, dia tak mampu mengatakan apapun. Tubuhnya terasa lemas, entah karena kasihan pada Embun atau tersisih mendengar nama Almaira akan terus diingat?
"Sayang, maaf jika kebenaran ini menyakitimu!" bisik Arya lirih, Fitri tak bergeming. Dia tetap membisu, menahan air mata yang siap jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Arya menyandarkan kepalanya di pundak Fitri. Arya merasa bersalah telah menyebut nama Almaira di depan Fitri. Bagaimanapun Fitri akan terluka, ketika menyadari Arya masih mengingat Almaira. Arya tidak bisa menyimpan lagi kenyataan. Jika Embun terlahir sebagai hadiah terbaik dari Almaira.
"Pantas kak Arya cemas, ternyata hari bahagia Embun menjadi hari paling menyedihkan baginya. Kelahiran putrinya yang disambut dengan kepergian sang istri. Entah ada rahasia besar apa lagi? Namun aku merasakan, kak Arya menyimpan rasa bersalah yang begitu besar. Rasa bersalah yang membuatnya takut kehilangan Embun. Sebuah ketakutan yang akhirnya melukaiku, walau semua itu tak pernah kak Arya inginkan. Jujur kak Arya, aku bingung dengan perasaanku saat ini. Aku bahagia melihat kepedulianmu padaku. Kakak begitu takut aku terluka, ketika mendengar nama almarhumah ibu kandung Embun putri kita. Namun di sisi lain, aku juga sedih melihat ketakutan dan rasa tidak percayamu. Ketakutan akan lukaku yang malah membuatku tersisih. Ketidakpercayaanmu, jika aku bukan orang lain. Aku istrimu dunia akhirat, ibu yang sangat menyayangi putrimu. Seakan akulah yang melahirkan Embun. Kak Arya, jika kakak tidak bisa memutuskan aku harus berada di sisi mana? Aku sendiri yang akan memutuskan. Aku akan menjadi ibu bagi putriku dan istri kedua yang tak mempermasalahkan tentang istri pertama. Aku yakin mampu menjadi kedua-duanya, karena rasa cinta dan kasih sayangku padamu serta Embun tulus. Tanpa paksaan dan tak mengharap balasan!" batin Fitri, sembari memeluk tubuh tegap Arya.
"Kak Arya, aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu minta maaf. Kak Almaira bukan sekadar istri pertamamu, tapi dia seorang kakak yang melahirkan putri secantik Embun untukku. Aku tidak akan membiarkan pengorbanan kak Almaira sia-sia. Embun putriku dan akan selalu menjadi putriku. Jika besok aku tidak bisa merayakan ulang tahunnya. Biarkan aku mengucapkan selamat lebih dulu. Aku akan menjadi bagian hidup Embun, mewakili kak Almaira. Bukan ibu yang ingin menggantikan kak Almaira!"
"Sayang!" ujar Arya lirih, Fitri membalikkan badannya.
"Kak, Aku tidak marah atau sedih. Aku percaya di hatimu, ada dua tempat berbeda untukku dan kak Almaira. Cintamu pada kak Almaira tidak salah dan takkan pernah salah. Jangan pernah merasa tidak nyaman. Aku tidak akan terluka!" ujar Fitri, semberi menangkup mesra wajah Arya.
Cup
Kecupan hangat mendarat di bibir Fitri. Arya merasa bahagia, sebab itu dia langsung mengecup lembut bibir mungil Fitri. Arya menyari akan kesalahannya. Arya akan menebus kesalahannya dengan cara apapun?
"Kak Arya, sudah azan magrib. Kita sholat magrib sekarang. Setelah sholat magrib dan isya, aku ingin kakak mengantarku ke rumah Embun!"
"Untuk apa sayang?" ujar Arya heran, Fitri melepas pelukan Arya. Seutas senyum nampak di wajah Fitri.
"Jika Embun kehilangan kak Almaira tepat setelah dia lahir. Maka aku akan menjadi ibu sambungnya, tepat sebelum dia terlahir. Aku akan menyambut putriku dengan kedua tanganku. Embun bukan hanya putri kak Almaira, tapi dia tawa bahagiaku. Embun segalanya dalam hidupku, putri yang mengajarkanku bahagianya menjadi seorang ibu!"
"Aku bahagia memilikimu!" ujar Arya, lalu mengecup lembut kening Fitri. Arya memeluk erat tubuh mungil Fitri.
"Terima kasih Fitri, kamu begitu tulus menyayangi putriku. Aku salah telah berpikir, kamu akan terluka. Ketika mendengar nama Almaira masih terucap. Walau sesungguhnya kamu pasti terluka, tapi demi diriku kamu menahan air mata beningmu. Agar tidak menetes dan membuatku cemas dengan kesedihanmu. Terima kasih sayang, kamu membuatku sadar. Jika hatiku tidak salah memilihmu, kamu lembut penuh kasih sayang. Aku mencintaimu Fitri Hanum Fauziyah, istri cantik dan sholeha dalam hidupku!" batin Arya haru.
"Kak Arya, waktu maghrib akan habis. Sampai kapan kakak memelukku?" ujar Fitri tegas, membuyarkan lamunan Arya. Hangat yang tercipta, seketika berakhir tanpa kata.
"Kamu merusak suasana!" ujar Arya kesal, Fitri tersenyum sembari menatap punggung Arya yang pergi menjauh.
"Kak Arya, seandainya aku hamil. Apa kakak bahagia?" ujar Fitri lirih, Arya langsung menoleh.
__ADS_1