
"Selamat pagi, maaf saya terlambat!" sapa Haykal Anzari Ansa, pemimpin perusahaan besar dan sukses.
Semua staf langsung berdiri, kepala mereka membungkuk menyapa sang pemimpin. Pertama kalinya setelah lima tahun berlalu, Haykal datang memimpin rapat di perusahaan. Sebuah perusahaan yang berkembang dengan sangat pesat selama lima tahun terakhir. Fandy asisten pribadinya yang membuat bisnis Haykal mencapai kesuksesan. Namun kesuksesan ini tak luput dari pengawasan dan campur tangan Haykal di balik layar. Hari ini, setelah lima tahun berada di balik layar. Haykal memutuskan kembali memimpin perusahaan. Lebih tepatnya menginjakkan kaki di negara yang menyimpan cintanya. Negara tempat tinggal Kanaya sang pujaan hati.
"Selamat pagi tuan Haykal!" sahut Fandy, mewakili para pemimpin bagian di perusahaan Haykal. Dengan anggukan kepala, Haykal mengiyakan perkataan Fandy. Lalu dengan ramah, Haykal meminta semua staf untuk duduk kembali.
"Sekarang kita mulai rapat pagi ini!" ujar Haykal dingin dan tegas. Haykal menatap layar laptop yang ada di depannya. Tumpukkan berkas yang ada di sampingnya belum tersentuh. Ada sesuatu yang membuat perhatian Haykal terpusat di layar laptop. Sesuatu yang membuat Haykal bahagia, sekaligus sakit dan takut.
"Fandy, kapan rapat dengan perusahaan ini?" ujar Haykal lirih, lalu menunjukkan jadwal yang ada di layar laptopnya.
Fandy melihat ke arah laptop, lalu Fandy memeriksa jadwal yang ada di ponsel pintarnya. Terlihat anggukan kepala Fandy, seakan dia sudah menemukan jawaban dari pertanyaan Haykal. Sedangkan Haykal terdiam terpaku, nama perusahaan yang membuatnya takut dan kalut. Namun perusahaan itu yang akan menuntunnya bertemu dengan keluarganya dulu. Keluarga yang dengan hangat menyambutnya dan dengan penuh keikhlasan memaafkan kebodohannya. Keputusan bodoh yang membuatnya menyesal selama lima tahun terakhir.
"Tuan Haykal!" sapa Fandy yang langsung membuyarkan lamunan Haykal. Seketika Haykal menoleh dengan tatapan kaget. Fandy langsung menunduk, dia merasa bersalah telah membuat Haykal terkejut dengan panggilannya. Meski suaranya sangat lirih, tapi jelas Haykal tengah termenung memikirkan sesuatu.
"Ada apa?"
"Rapatnya akan diadakan saat makan siang. Rapat akan diadakan di sebuah restoran. Kebetulan restoran itu dekat dengan lokasi proyek. Setelah rapat, biasanya saya akan langsung meninjau lokasi proyek. Agar saya bisa menimbang rencana ke depan!" tutur Fandy menjelaskan, Haykal mengangguk mengerti.
"Hari ini, biarkan aku yang datang. Aku ingin melihat prospek yang mereka tawarkan. Seandainya proyek ini menguntungkan, aku akan menerima kerjasama ini. Jika tidak, aku akan langsung menolaknya!"
"Baik tuan Haykal, saya percaya dengan kebijaksanaan tuan. Selama ini, saya tidak pernah kecewa dengan cara kerja perusahaan itu. Apalagi setelah kepemimpinan beralih. Kemampuan perusahaan itu dalam menganalisa dan pemasaran, tidak perlu diragukan lagi. Dalam waktu singkat semua berjalan dengan sangat baik!" ujar Fandy antusias, Haykal menoleh dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Kepemimpinannya diganti, siapa yang menggantikannya?" batin Haykal terkejut, sembari menoleh ke arah Fandy.
"Baiklah, aku akan menemui mereka sendiri. Tolong kamu jemput Zahra di sekolah. Aku tidak percaya pada siapapun? Kecuali padamu, Zahra sangat berharga dan kamu jelas mengetahui itu!" ujar Haykal tegas, Fandy mengangguk mengiyakan.
Rapat akhirnya dimulai, satu per satu kepala bagian melaporkan kinerja timnya. Haykal mendengarkan dan sesekali mengkoreksi kinerja stafnya. Haykal sangat teliti dalam bisnis. Wibawanya terpancar nyata, membuat semua orang tertunduk. Haykal tak pernah bermain dalam bekerja. Dia tidak akan mentolelir kesalahan sekecil apapun.
"Baiklah, rapat selesai. Kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing!" perintah Haykal, semua mengangguk mengiyakan. Satu per satu mereka keluar dari ruangan rapat. Haykal menatap kembali layar laptopnya. Menatap lekat nama perusahaan yang akan dia temui.
Fandy menyadari arti diam Haykal. Dia satu-satunya orang yang mengetahui alasan kepergian Haykal beberapa tahun yang lalu. Fandy jugalah yang mengetahui, alasan terbesar Haykal kembali. Bahkan tatapan Haykal, menyiratkan rasa sakit yang bisa dirasakan oleh Fandy. Kerinduan yang berbalut dengan ketakutan. Membuat Haykal ragu dalam melangkah.
"Tuan Haykal, jika memang hati tuan belum siap. Tuan bisa menemui mereka lain hari!" ujar Fandy lirih, Haykal menggelengkan kepalanya pelan.
"Hari ini atau besok, bukan masalah siap atau tidak? Meski aku menunda bertemu dengan mereka. Rasa takut akan amarah dan kebencian, tak lantas hilang dari hatiku!"
"Fandy, bagaimana kabarnya? Dimana dia sekarang?" ujar Haykal, Fandy membisu. Diam Fandy langsung membuat Haykal terkejut. Dia menoleh, tatapan Haykal penuh harap. Namun diam Fandy tak bisa ditutupi. Haykal semakin gelisah, saat melihat Fandy tak bicara sepatah katapun.
"Kenapa?"
"Maafkan saya tuan, semenjak tuan pergi dari negara ini. Tak ada lagi kabar tentangnya. Dia menghilang bak tertelan bumi. Keluarga Abimata menutupi kepergiannya. Bahkan di pesantren, tak lagi ada dia menjadi salah satu santri. Dia menghilang bersama dengan kepergian tuan. Sejak saat itu, saya tidak pernah mendengar kabarnya. Hanya saya pernah mendengar, tuan Abra tidak lagi memegang perusahaan. Rumor yang beredar, tuan Abra Abimata sakit. Tubuhnya melemah semenjak kepergian putri dan ayahnya!"
"Kamu berbohong!" ujar Haykal lirih, Fandy menggeleng lemah. Haykal menunduk, tangannya mengepal. Kenyataan pahit membuatnya seketika hancur. Haykal merasa tak berdaya, merutuki kebodohannya yang sudah sangat terlambat disesali.
__ADS_1
Braaakkkk
"Sebesar itukah kehancuran yang aku tinggalkan?" ujar Haykal, sesaat setelah dia memukul meja yang ada di depannya. Haykal tertunduk lesu, dia merasa laki-laki paling bodoh dan kejam. Keputusannya tidak hanya menghancurkan hidupnya, tapi menjadi alasan kehancuran keluarga yang sangat disayanginya.
"Dimana Rafan dan yang lain?" ujar Haykal lirih, terdengar isak tangis di sela katanya. Fandy menunduk, mengalihkan pandangannya dari Haykal. Fandy tidak ingin melihat air mata Haykal. Sebuah air mata penyesalan yang membuat tuan besarnya rapuh dan hancur.
"Tuan Rafan yang kini menjadi tulang punggung keluarga Abimata. Nyonya Embun memilih menjadi ibu rumahtangga seutuhnya. Beliau merawat tuan Abra yang semakin melemah setiap harinya. Sedangkan istri tuan Rafan, mengelola restoran yang akan anda kunjungi!" ujar Fandy, Haykal terus menunduk. Menyembunyikan air mata penyesalannya.
"Keluarga besar mama!"
"Tuan Arya tak lagi memegang kendali akan perusahaannya. Nona Aira yang mengelola bisnis ayahnya. Tuan Arya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama nyonya Embun dan cicitnya. Kondisi kesehatan tuan Arya tidak jauh beda dengan tuan Abra. Namun tuan Arya lebih tegar, dia menjadi perisai sang putri yang mulai lemah. Apalagi semenjak kepergian tuan Iman. Senyum nyonya Embun menghilang. Tawanya hanya saat bersama cucu dan keponakannya!"
"Banyak yang terjadi dan semua dimulai dengan kepergianku. Aku pengecut yang pergi, ketika semuanya terasa berat. Aku pengkhianat yang mengikari janjiku sendiri. Kini aku kembali hanya demi satu kata maaf!" ujar Haykal penuh rasa bersalah.
"Tuan Haykal, masihkah anda berniat menemui mereka!"
"Aku harus pergi, luka yang aku tinggalkan selama lima tahun. Takkan pernah aku sembuhkan dengan sekali kehadiranku. Jika mereka menganggapku tiada, aku ikhlas. Namun aku tetap harus berusaha, mengembalikan senyum dan tawa yang pernah kurenggut dengan paksa. Aku akan meminta maaf, meski aku harus mencium kaki mereka. Aku akan melakukannya, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang!"
"Tuan Haykal, semua ini bukan sepenuhnya salahmu!"
"Memang bukan sepenuhnya kesalahanku, tapi aku yang menjadi awal luka mereka!" ujar Haykal lirih, Fandy menunduk terdiam.
__ADS_1
"Aku berangkat sekarang, kirimkan aku alamat restorannya!" ujar Haykal tegas, lalu berdiri keluar dari ruang rapat.
"Aku datang hanya demi maaf kalian. Aku tak lagi berharap lebih, kebodohanku yang membuatku jauh dari bahagia. Dan aku tak pantas mendapatkan kebahagian itu lagi!" batin Haykal.