KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Liontin yang Patah


__ADS_3

"Embun sayang, aku merindukanmu!" teriak Nur lantang, sembari berhambur memeluk Embun. Nur memeluk erat sahabatnya. Embun hanya bisa tersenyum menatap wajah cantik Nur Aulia hikmah.


"Aaawwws!" rintih Embun, saat pelukan Nur tanpa sengaja menyentuh jahitan bekas operasi.


"Maaf!" ujar Nur, lalu melepaskan pelukannya. Embun mengedipkan kedua mata indannya. Mengiyakan permintaan maaf Nur yang tanpa sengaja menyakitinya.


Nur datang bersama Fahmi, kebetulan keduanya pergi dari rumah Arya bersama-sama. Awalnya Nur menolak ajakan Fahmi, tapi Nur terpaksa pergi dengan Fahmi. Sebab mobil Nur mengalami pecah ban. Secara otomatis Nur harus pergi menggunakan kendaraan lain. Salah satu yang mungkin, ikut bersama Fahmi dalam satu mobil yang sama.


"Kamu datang bersama Fahmi!"


"Terpaksa!" sahut Nur dingin, Embun menatap Nur dengan tatapan menggoda. Embun merasa sudah saatnya Nur membuka hati pada Fahmi. Menjelaskan hubungan yang ada, dengan kepastian akan sebuah ikatan suci.


"Nur, dia pria baik. Setidaknya beri kesempatan padanya, dia berhak bahagia dan mendapatkan kepastian. Jika memang tidak ada rasa itu. Katakan padanya untuk berhenti berharap. Seperti kamu membuat Ibra memahami arti cinta diantara kalian berdua. Membiarkan Ibra mencari cinta sejatinya!" ujar Embun, Nur diam menunduk. Jelas ada keraguan dalam hati Nur. Banyak hal yang tidak dapat dimengerti. Namun dengan iman yang dipegang teguh Nur. Dia mencoba menenangkan diri dan menyerahkan semuanya di tangan sang pemilik hidup.


"Kenapa malah membahas dia? Aku sengaja datang menemuimu, aku merindukanmu malah kamu membahas dia!"


"Nur, jelas dia berharap padamu. Tidak salah bukan, jika sebagai sahabatmu aku mendukung hubungan kalian. Sudah saatnya kamu bergantung pada seseorang. Imam yang akan menemani langkahmu. Pendamping yang setia dalam suka dan dukamu. Seandainya cinta itu memang belum ada, terima hubungan ini dengan niat beribadah. Kelak kamu akan merasakan kenyamanan dan kesempurnaan iman. Sejujurnya Nur, pernikahan tanpa cinta itu tidaklah mudah. Namun pernikahan dengan cinta, juga tidak selamanya indah. Keduanya akan merasakan kerikil dalam setiap langkahnya. Tajam atau tumpul kerikil yang terinjak, akan tetap menyakitkan. Semua tergantung kuat telapak kaki kita melangkah. Seerat apa kita saling berpegangan? Agar kita terus melangkah, menampaki jalan terjal di depan mata!"


"Kenapa aku merasa kamu ingin sekali melihatku menikah?" ujar Nur lirih, Embun mengangguk pelan. Embun menoleh ke arah Fahmi yang tengah duduk berdua dengan Abra. Keduanya nampak serius, jelas mereka tengah membicarakan sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditunda.


"Aku memang ingin melihatmu menikah. Bukan hanya karena rasa khawatirku akan keselamatanmu. Namun sebuah pernikahan akan membuatmu dihargai sebagai seorang wanita. Kecantikan yang kamu miliki, hanya akan halal untuk imam dunia akhiratmu. Tubuh indah yang kamu tutupi dengan gamis panjangmu. Sepenuhnya akan dimiliki hanya oleh pemilik tulang rusukmu. Sekuat apapun tulang punggungmu, tidak akan membuatmu sempurna sebagai pencari nafkah. Kodrat kita tercipta dari tulang rusuk laki-laki dan hanya lengkap bersama seorang imam!"


"Embun, menurutmu Fahmi yang terbaik!" ujar Nur lirih, Embun diam membisu. Nur merasa Embun sendiri tidak bisa memastikan Fahmi baik atau tidak.


"Nur, kebaikan seseorang itu tergantung dari sudut mana kamu menilainya. Jika di hatimu ada rasa tidak suka. Maka penilaianmu akan selalu terburuk diantara yang baik dan menganggap orang itu tidak baik. Sebaliknya jika ada rasa suka meski itu sedikit. Kamu akan menganggap dia yang terbaik diantara yang buruk. Jangan pernah menjadikan pendapat orang lain sebagai dasar hubunganmu. Sebab sebaik-baiknya seorang manusia, dia masih memiliki keburukan. Selamanya tidak akan bisa berpikir jernih dan obyektif!" tutur Embun, Nur mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Lalu, apa dasar hubunganmu dengan kak Abra? Tak ada cinta di awal hubungan kalian!"


"Rasa bakti dan percaya jodoh yang ditetapkan-NYA tidak pernah salah. Laki-laki yang datang mengetuk pintu rumahku. Artinya dia yang terbaik dari yang baik. Semua telah ditetapkan dan tidak bisa kita mengubahnya!" ujar Embun, Nur menarik tubuh Embun memeluknya erat.


Abra dan Fahmi diam menatap dua sahabat yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Baik Embun atau Nur akan selalu ada satu untuk yang lain. Abra dan Fahmi layaknya Embun dan Nur. Perbedaan diantara mereka, baik Abra dan Fahmi tidak bisa saling terbuka. Mereka lebih memilih memendam, sampai salah satu diantara mereka memulai bicara. Abra tidak pernah bertanya tentang perasaan Fahmi pada Nur. Sedangkan Fahmi tak pernah jelas mengatakan isi hatinya.


Fahmi seolah menjadi pribadi yang lain sejak mengenal Nur. Fahmi tak lagi memiliki kepercayaan diri akan rasa dan kelebihan dalam dirinya. Semua itu seakan kalah oleh kelebihan Nur yang nampak di mata Fahmi. Entah Fahmi takut akan sebuah penolakan? Atau sebaliknya Fahmi tak pernah ingin memulai hubungan dengan Nur? Namun apapun yang ada dalam hati terdalam Fahmi. Rasa itu nampak jelas ada, dalam setiap tatapan Fahmi pada Nur. Kepedulian itu terasa, ketika Nur dalam masalah. Hanya saja rasa itu masih belum terucap. Terhalang penilaian yang tak sesungguhnya benar.


"Apa harapanmu padaku? Juga menjadi harapanmu pada papa?" ujar Nur lirih seraya menunduk.


Nur terlalu takut menatap mata Embun. Nur tidak mungkin bisa berbohong pada Embun. Namun mengatakan hubungan Arya dengan Fitri. Semua itu seakan belum saatnya dan bukan dia yang pantas mengatakannya. Arya sendiri yang berhak mengatakan kabar baik itu pada Embun.


"Papa sudah menikah!" sahut Embun dingin, Nur langsung mendongak menatap Embun. Nampak Embun menunduk, menatap sebuah liontin yang tengah digenggamnya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu sudah mengetahuinya? Papa sudah mengatakannya padamu!" ujar Nur dengan nada gelisah sekaligus tidak percaya. Embun menggelengkan kepalanya lemah. Tatapannya mengunci liontin yang kini ada dalam genggamannya.


"Embun, apa yang sebenarnya kamu katakan?" ujar Nur tidak mengerti, suara lirih Embun terasa menyakitkan di hati Nur. Persahabatan mereka sudah sangat erat. Sampai-sampai keduanya bisa merasakan sakit satu sama lain. Bahkan air mata keduanya bisa jatuh dalam waktu bersamaan. Tanpa harus ada alasan untuk rasa sedih.


"Liontin pengganti papa dan mama dalam hidupku putus, sesaat sebelum aku dioperasi!" ujar Embun, lalu menunjukkan sebuah kalung yang tak lagi memiliki liontin. Sedangkan liontinnya pecah menjadi dua bagian.


"Embun!"


"Iya Nur, aku tak lagi memiliki hubungan ini. Sejak kecil, kalung ini melingkar di leherku. Dengan sebuah kepercayaan, jika aku masih memiliki papa dan mama dalam hidupku. Kini liontin ini terbagi, itu artinya aku harus siap menerima satu hubungan baru. Tidak ada lagi papa dan mama, semua telah terbagi. Papa dan mama tak lagi bisa bersama. Hubungan mereka telah berakhir!"


"Lalu, apa hubungmu juga berakhir dengan papa?" ujar Nur, Embun membisu tak ada jawaban dari bibir mungilnya. Abra yang mendengar pembicaraan Embun dan Nur langsung berdiri. Abra merangkul tubuh Embun, kedipan mata Abra menjadi penguat sekaligus sebuah harapan akan persetujuan Embun.

__ADS_1


"Tidak akan ada hubungan yang berakhir antara aku dan papa. Sebab papa berhak bahagia dan aku tidak berhak menghalangi kebahagian itu. Namun akan ada yang berbeda, papa bukan lagi milikku sendiri. Ada hati yang harus dijaga papa dan itu bukan hanya hatiku saja. Sangat angkuh seandainya aku mengakhiri hubungan, demi menghalangi hubungan yang baru dimulai!"


"Artinya kamu menyetujui!"


"Sejak awal, aku tidak pernah melarang papa menikah!"


"Semoga perkataanmu, sesuai dengan hatimu!" sahut Arya, Embun dan Nur langsung menoleh. Nampak Arya masuk bersama dengan Fitri. Embun melihat Arya dan Fitri saling bergenggaman. Embun langsung menunduk, menatap liontin yang ada di tangannya.


"Mama, maafkan Embun. Papa sudah menemukan tulang rusuknya. Sebagai seorang putri, Embun harus mengikhlaskan mama semua ini. Sudah saatnya papa bahagia bersama wanita pilihannya. Percayalah ma, ada atau tanpa papa. Mama akan selalu ada dalam hati Embun. Mama akan menjadi mama terbaik yang pernah Embun miliki. Satu detik pelukan hangat yang mama berikan pada Embun. Akan menjadi hangat seumur hidup Embun dan takkan pernah terganti dengan pelukan lain!" batin Embun, lalu menggenggam erat liontin peninggalan Almaira yang patah.


"Papa, silahkan masuk!" ujar Embun lirih, Embun menyembunyikan liontin di bawah bantal. Abra dan Nur bergantian mencium tangan Arya. Embun tersenyum ke arah Abra, seutas senyum tulus menyambut kehadiran ibu sambung


"Sayang, aku dan Fahmi ada urusan sebentar!"


"Pergilah kak, ada papa yang menjagaku!" sahut Abra, Nur berdiri menjauh dari Embun. Entah kenapa semua orang ingin memberi waktu Embun dan Arya berdua?


"Embun, aku ingin melihat keponakanku!" ujar Nur lantang, lalu keluar mengikuti langkah Abra dan Fahmi.


"Terima kasih, sudah menjagaku dan papa!" sapa Embun pada Fitri. Sontak Fitri mendongak menatap lekat Embun.


"Untuk!"


"Aku merasakan suara dan tangan anda yang menjagaku selama operasi. Mungkin ini ketetapan-NYA, aku kehilangan mama Almaira sesaat setelah aku dilahirkan. Kini aku mendapatkan seorang mama, tepat sebelum aku melahirkan. Dulu aku tidak hanya kehilangan mama Almaira, tapi aku juga kehilangan papa Arya. Namun sekarang aku mengenal anda dan mendapatkan papa Arya. Aku mungkin sudah dewasa dan menjadi seorang ibu. Namun sesungguhnya aku masih sangat kecil dan egois. Maaf jika di awal perkenalan ini, ada rasa cemburu akan kebahagian kalian. Sebagai seorang anak yang baru mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Masih ada rasa kurang dalam hati ini. Sebelum anda merasa tidak nyaman, alangkah baiknya kita saling belajar menerima. Demi kebahagian seorang ayah, laki-laki yang sama-sama kita sayangi!"


"Sayang, maafkan papa!" ujar Arya lirih, lalu berhambur memeluk Embun. Arya mungkin mendengar persetujuan Embun. Namun suara Embun terdengar pilu di telinga Arya.

__ADS_1


"Papa harus bahagia, jangan pernah menyakitinya seperti papa menyakiti mama. Dia wanita yang baik dan tidak pantad disakiti!" ujar Embun lirih, Arya diam membisu. Rasa bersalah Arya semakin besar pada Embun. Kebahagiannya yang ternoda dengan masa lalunya yang pahit.


"Maafkan papa!"


__ADS_2