
"Bagaimana pengalaman pertamamu mengajar di kelasnya Kanaya? Dia murid yang hebat bukan?" tanya Silvi, dia datang membawa secangkir kopi untuk Haykal.
Terlihat Haykal menoleh heran. Dia heran kenapa Silvi harus mengungkit nama Kanaya? Murid berhijab yang nyata membuatnya terkesan. Murid yang sangat acuh di kelasnya. Haykal bingung harus menjawab bagaimana? Pertanyan Silvi sebenarnya mudah dijawab. Namun Haykal merasa terlalu dini, untuk memuji kepintaran Kanaya. Meski Kanaya memang pintar dan berbakat. Akhirnya Haykal memilih diam, Haykal duduk sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.
Haykal dan Silvi tinggal di rumah yang sama. Sebelum Haykal menemukan rumah, sementara waktu dia akan tinggal di rumah Silvi. Sepupunya yang tengah cuti mengajar, karena akan melahirkan. Sepupu yang membuatnya mengajar dan akhirnya membuat Haykal mengenal Kanaya. Satu-satunya orang yang mulai menyadari ketertarikan Haykal pada Kanaya. Meski kekaguman itu hanya akan menjadi angan semata. Mengingat Kanaya itu murid di sekolahnya.
Silvi melihat raut wajah kagum Haykal, akan sosok Kanaya. Tatapan Haykal saat melihat Kanaya, terlihat berbeda. Dibanding tatapan Haykal, saat menatap wanita lain. Pertama kalinya Silvi melihat Haykal tertarik pada seorang wanita. Selama Silvi mengenal Haykal, dia pribadi yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara. Penampilannya selalu rapi, tak pernah Haykal bersikap sembarangan. Wajah tampan yang dimilikinya, mampu membuat seorang wanita tertarik dan jatuh hati. Hanya Kanaya yang seakan tidak peduli dengan ketampanan Haykal. Bahkan mungkin Kanaya tak penah ingin mengenal Haykal.
"Kenapa harus membahas Kanaya? Aku merasa dia sama seperti anak lainnya. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja penampilannya yang berantakan. Sedikit membuatku heran, sebab semua wanita ingin terlihat rapi. Hanya dia yang seolah bangga dengan penampilannya!" Ujar Haykal dingin. Silvi tersenyum menatap cara bicara Haykal. Terlihat nada kesal dalam dinginnya sikap Haykal. Silvi bisa merasakan, penampilan Kanaya mengusik nurani Haykal. Sebuah rasa ada, ketika kita terus membicarakan keburukan seseorang. Sejatinya benci dan cinta itu tipis, sampai kita tak bisa menyadari. Hadirnya cinta dan menganggap itu hanya kebencian semata.
__ADS_1
"Aku tidak salah, kamu mulai tertarik padanya. Kanaya mungkin berantakan dan acuh akan penampilannya. Namun hati dan pikirannya bersih, dia selalu mementingkan orang lain. Kepintarannya di atas rata-rata. Dia mampu mendapat nilai terbaik, meski dia tidak mengikuti kelasmu. Kanaya gadis penuh dengan kejutan dan misteri. Kamu belum mengenal dia sepenuhnya. Jika kamu mengenalnya, kamu akan terkejut sekaligus kagum!" Tutur Silvi santai, sembari menyeruput kopi yang ada di tangannya. Haykal terdiam membisu, hanya beberapa hari dia mengenal Kanaya. Haykal merasa dunianya telah berubah. Haykal merasa Kanaya bukan hanya gadis yang sempurna, tapi keluarga Kanaya penuh dengan kasih sayang. Haykal merasa beruntung pernah mengenal keluarga Kanaya.
Haykal mengeryitkan dahinya tak percaya. Silvi memberikan sebuah majalah. Terlihat sampul majalah yang menunjukkan sepasang pengusaha sukses. Haykal semakin tidak mengerti arah pembicaraan Silvi. Seolah Kanaya bukan wanita sembarang. Meski sebenarnya Haykal sudah mengenal keluarga Kanaya. Haykal memilih berpura-pura tidak peduli, agar Silvi tidak curiga akan rasanya pada Kanaya. Haykal mengakui keluarga Kanaya yang hebat dan sukses. Didikan keluarga yang patut diacungi jempol. Kanaya wanita yang sangat spesial dan patut dibanggakan. Haykal mengakui itu, meski hanya dalam hati terdalamnya.
"Maksudmu apa? Siapa mereka dan hubungannya denganku?" Ujar Haykal bingung, Silvi menunjuk ke arah majalah. Dia meminta Haykal membuka tiap lembar majalah yang ada di tangannya. Haykal mencoba mengikuti arahan Silvi. Seolah dia tak pernah bertemu keluarga Kanaya.
"Mereka berdua orang tua Kanaya Fauziah Abimata, muridmu yang unik. Keluarga terpandang dan kaya raya di kota ini. Kanaya putri satu-satunya keluarga mereka, tapi sepertinya dia memiliki kakak laki-laki. Keluarga mereka baru pindah ke negara ini. Kedua orang tuanya, lahir dari keluarga terpandang. Hampir seluruh keluarga Kanaya terjun dalam dunia bisnis. Mungkin saja, jika kamu bisa mengenal Kanaya lebih dekat. Kamu bisa belajar bisnis dari mereka. Anehnya kanaya selalu berusaha membuat masalah di sekolah. Namun pihak sekolah tidak akan pernah bisa mengeluarkannya. Jangankan mengikuti kelas, terkadang Kanaya malas mengerjakan tugas. Kanaya datang ke sekolah hanya untuk membantu para pesuruh. Sampai pada suatu hari, nyonya Embun datang. Tanpa sengaja dia melihat sikap Kanaya yang bebas. Saat itu, tanpa basa-basi nyonya Embun akan membawa Kanaya pulang. Beliau sudah meminta Kanaya dikeluarkan dari sekolah. Kanaya akan masuk pondok pesantren. Sejak saat itu, Kanaya selalu rajin dan patuh pada semua guru!" Tutur Silvi lirih, seraya menghela napas panjang.
Haykal diam mendengarkan penuturan Silvi. Dalam hati Haykal ada rasa penasaran ingin mengenal Kanaya lebih jauh. Namun dia mencoba menutupi semua rasa penasarannya dari Silvi. Haykal tidak ingin Silvi yakin dengan pendapatnya. Dia mencoba menutupi kepeduliannya pada Kanaya dengan sikap acuhnya. Kanaya bukan orang lain, dia adik sahabatnya Rafan. Akan terjadi masalah, jika Rafan menyadari perasaannya pada Kanaya. Haykal bisa kehilangan sahabat selama-lamanya.
__ADS_1
"Aku heran sebesar apa pengaruh orang tua Kanaya? Sampai pihak sekolah tidak mampu menindak tegas Kanaya!" Ujar Haykal lantang, seolah kesal pada sikap Kanaya. Silvi senyum-senyum sendiri melihat Haykal yang mulai penasaran dengan kisah Kanaya. Silvi semakin yakin, jika Haykal telah terpesona pada Kanaya. Namun Haykal angkuh untuk mengatakannya dan mungkin ada alasan lain yang menghalai rasa Haykal untuk Kanaya.
"Kedua orang tuanya, salah satu donatur tetap di sekolah. Mereka yang selalu memberikan beasiswa pada murid berprestasi. Kedua orang tua Kanaya memiliki hati tulus seperti Kanaya. Alasan yang membuat Kanaya tetap sekolah. Dengan sebuah janji, tidak akan ada anak yang keluar dari sekolah karena kekurangan biaya. Kanaya memberikan cahaya bagi teman-temannya yang kurang mampu. Kanaya berhak bahagia, seperti dia yang selalu memberikan kebahagian pada orang lain!" ujar Silvi, Haykal mengangguk mengiyakan. Haykal setuju dengan perkataan Silvi, sebab dia sudah melihat sendiri. Betapa baik dan tulusnya Kanaya pada sesama.
"Kanaya memang pribadi yang unik dan penuh misteri. Sikap acuh dan berantakannya menunjukkan, betapa uniknya dia? Seunik dan sebaik apapun Kanaya. Satu hal yang mengusik pikiran dan hatiku, kepintaran yang tersembunyi rapat dalam sikap acuhnya. Ibarat ilmu yang tertulis dalam buku yang lusuh. Entah apa lagi yang tersimpan dalam dirinya? Semakin aku mengetahui tentang pribadi Kanaya. Semakin aku ingin mengenalnya, seorang murid yang selalu membuat masalah. Namun dibalik semua itu, terdapat niat yang sangat mulia. Kanaya Fauziah Abimata, nama yang indah dan semoga diiringi pribadi yang indah pula. Semoga rasa penasaranku hanya antara guru pada muridnya, tetap seperti itu dan tidak akan lebih!" Batin Haykal, sembari mengangguk mengiyakan penuturan Silvi. Haykal mulai menyadari rasa penasarannya pada sosok Kanaya. Namun Haykal tak mampu mengungkapkannya. Rafan sahabatnya tidak akan pernah setuju. Mengingat Kanaya masih sangat kecil.
"Sudahlah, aku lelah mendengarmu membicarakan Kanaya. Aku akan keluar bertemu Azzam. Dia akan mengikuti balap mobil. Aku akan pulang larut malam. Jika Azzam bersedia, aku akan memintanya menginap di sini!" Ujar Haykal, Silvi mengangguk mengerti. Haykal berjalan menjauh dari Silvi. Nampak jelas Haykal yang mengalihkan pembicaraan. Silvi bisa menebak, Haykal terlalu takut jatuh cinta pada Kanaya. Perbedaan usia dan status yang mungkin membuat Haykal tak sanggup mengakui rasanya pada Kanaya.
"Kamu tertarik padanya Haykal. Semoga akan ada jalan, agar kalian bersatu. Namun seandainya, ini hanya rasa penasaran semata. Setidaknya, aku bahagia melihat hatimu tersentuh oleh sikap acuh Kanaya murid kecilku!" batin Silvi, sembari menatap punggung Haykal yang menjauh.
__ADS_1