KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pertemuan


__ADS_3

"Assalammualaikum!" ujar Haykal lirih, sembari berjalan masuk ke dalam rumah Kanaya.


Haykal datang setelah azan isya berkumandang. Nampak raut wajah letih Haykal. Menandakan seharian Haykal bekerja sangat keras. Bahkan Haykal masih menggunakan pakaian kerja. Hanya saja Haykal tidak menggunakan jas. Embun dan Abra menoleh dengan raut wajah heran, sekaligus tidak percaya. Kedatangan Haykal benar-benar tak terduga. Mengingat Kanaya pergi sejak sore, untuk menemui Haykal di rumahnya. Sejenak Abra dan Embun membisu, mereka bahkan lupa menyahuti salam yang diucapkan Haykal. Keduanya benar-benar tak menyangka akan kedatangan Haykal.


"Waalaikumsalam!" sahut Rafan, Abra dan Embun terhenyak. Mereka tersadar dari lamunannya, ketika suara Rafan terdengar menyahuti salam Haykal.


Haykal berjalan menghampiri Abra dan Embun. Nampak keduanya tengah duduk santai di ruang tengah. Setelah mencium punggung tangan Abra. Haykal duduk di samping Rafan. Sedangkan Embun terlihat gelisah, menyadari Kanaya tidak datang menemui Haykal. Abra menyadari kegelisahan Embun, perlahan Abra menepuk pelan punggung tangan Embun. Memberikan ketenangan, meski dalam hatinya ada ketakutan dan rasa cemas yang jauh lebih besar dari Embun.


"Haykal, kamu baru datang dari luar kota!" ujar Abra, Haykal mengangguk pelan. Nampak


Haykal mengeluarkan ponsel pintarnya. Haykal melihat daftar riwayat panggilan. Sekilas nampak raut wajah kecewa Haykal. Bersamaan dengan suara helaan napas Haykal. Rafan menepuk pelan pundak Haykal, saat melihat Haykal mendongak ke arah lantai dua. Lebih tepatnya ke arah kamar Kanaya yang tertutup rapat.


"Kamu belum pulang ke rumah!" ujar Embun menimpali, Haykal menggeleng perlahan. Sontak Embun meremas tangannya, mengisyaratkan kegelisahan akan keberadaan Kanaya.


"Setelah sholat di masjid, Haykal langsung datang kemari. Haykal sengaja kemari, sebab besok pagi Kanaya akan pulang ke pesantren. Hanya malam ini waktu Haykal bersama Kanaya!" ujar Haykal lirih penuh kejujuran. Abra menunduk, terdengar helaan napas. Kecemasan Abra terlihat oleh Haykal. Seketika Haykal merasa heran, melihat gelagat Abra dan Embun.


"Ada yang salah dengan Kanaya?" sahut Haykal, Rafan mengangkat kedua bahunya. Dia tidak mengetahui, jika Kanaya pergi sejak sore. Rafan baru pulang saat petang menyapa.

__ADS_1


"Haykal, Kanaya pergi ke rumahmu. Dia berangkat tadi sore menggunakan motor maticnya!" ujar Abra lirih, Haykal langsung berdiri. Haykal cemas memikirkan kondisi Kanaya, apalagi mendengar Kanaya pergi ke rumahnya.


"Tidak mungkin, Kanaya tidak pernah datang ke rumahku. Jika memang Kanaya ada di rumah. Pasti ada yang menghubungiku!"


"Papa yang memberikan alamatmu. Kanaya pergi, karena mama memintanya. Mama berpikir Kanaya berbohong tentang keberangkatanmu ke luar kota. Mama tidak ingin Kanaya mengacuhkanmu. Bagaimanapun Kanaya seorang istri? Dia harus menemanimu, bukan hidup dalam dunianya sendiri!" ujar Embun, nampak rasa bersalah Embun. Namun kecemasan Embun, memiliki rasa percaya akan kedewasaan dan keberanian Kanaya. Sejak dulu, Kanaya mampu melindungi dirinya. Malam ini, Kanaya pasti bisa melindungi dirinya.


"Terima kasih, mama peduli akan perasaanku. Namun jauh di balik semua itu, aku hanya peduli pada rasa nyaman Kanaya. Aku tak pernah mempermasalahkan sikap dingin dan acuhnya padaku. Meski terkadang aku merasakan ngilu yang teramat. Dadaku terasa sesak, tak mampu bernapas. Kala Kanaya istiku mengabaikan dan meragukan kerinduanku. Semalam aku pergi, bukan karena marah atau kecewa pada Kanaya. Aku memilih pergi, sebab Kanaya merasa tidak nyaman dengan keberadaanku!" ujar Haykal lirih, Haykal duduk menunduk tepat di depan Embun.


"Kata nyaman tidak akan pernah ada diantara kalian. Ketika kamu terus mengalah dan Kanaya terus angkuh dengan sikapnya. Aku tidak berhak ikut campur masalah rumah tangga kalian. Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin mengingatkan pada Kanaya. Ada batasan dalam sikap dinginnya. Bukan karena aku peduli akan kebahagianmu atau Kanaya. Aku tidak ingin melihat kalian terus menjauh. Meski status kalian sebagai suami-istri yang sah!" ujar Embun tegas, Haykal menunduk tanpa berani menatap Embun. Abra hanya bisa diam, perkataan Embun tidak salah. Namun keputusan Haykal juga tidak salah. Memilih bersabar menanti kata nyaman Kanaya. Entah kapan kata nyaman itu ada?


"Maaf, jika Rafan menyela. Sekarang lebih baik kita mencari keberadaan Kanaya. Jika Haykal baru pulang dari luar kota. Kemana Kanaya sejak sore tadi? Kanaya tidak membawa ponsel, jadi kita tidak bisa menghubunginya!" ujar Rafan, semua orang mengangguk setuju.


Haykal menghubungi penjaga rumahnya. Beberapa menit, Haykal berbicara dengan panjaga rumahnya. Sampai akhirnya terlihat kelegaan di wajah Haykal. Tanpa banyak bicara, Haykal pergi meninggalkan semua orang. Hanya Kanaya yang membuatnya cemas. Apalagi langit malam terlihat mendung. Maklum beberapa hari ini hujan. Haykal takut Kanaya kehujanan seperti malam itu.


Haykal melaju dengan kecepatan sedang. Jalan raya terlihat padat merayap. Ketakutan dan kecemasan Haykal akan Kanaya membuatnya kalut. Haykal sudah meminta penjaga, untuk mengajak Kanaya masuk. Namun semua sia-sia, Kanaya bukan pribadi yang mudah. Sebab itu Kanaya memilih menunggu Haykal di luar gerbang tinggi rumah Haykal.


"Sayang!" sapa Haykal, Kanaya langsung menoleh.

__ADS_1


Nampak wajah Kanaya pucat, dia merasa kedinginan di tengah malam. Terlihat kedua mata Kanaya sembab. Jelas Kanaya sedang menangis. Kanaya turun dari motor maticnya. Dia berlari memeluk Haykal, tubuh Kanaya bergetar. Haykal merasa cemas, sontak Haykal membalas pelukan Kanaya. Haykal mendekap erat tubuh Kanaya. Bahkan Haykal mencium puncak kepala Kanaya.


"Kenapa lama? Kemana saja kakak pergi?" ujar Kanaya dengan suara bergetar. Isak tangis Kanaya terdengar dari bibir mungilnya. Kanaya memukul pelan tubuh tegap Haykal. Kanaya kesal dan marah, ketika Haykal tidak kunjung datang. Haykal pasrah menerima pukulan dari Kanaya. Haykal malah bahagia, akhirnya untuk pertama kalinya. Kanaya bersandar pada dirinya, meluapkan rasa takut yang tak pernah Haykal lihat.


"Maaf!" ujar Haykal, sembari menangkup wajah Kanaya.


Haykal menatap dua bola mata indah Kanaya. Keduanya larut dalam rasa yang tak mampu terucap. Perlahan tubuh Kanaya mulai tenang, tak nampak tubuh Kanaya yang bergetar. Haykal mencium kening Kanaya, menyalurkan hangat cinta ke dalam aliran darah Kanaya. Mengusir dingin yang menyelimuti tubuh Kanaya. Haykal menarik tubuh Kanaya dalam dekap hangat pelukannya. Kanaya memeluk erat Haykal. Mencoba mencari kenyamanan dalam hangat dekapan laki-laki yang telah menjadi suaminya.


"Kenapa tidak menghubungiku? Aku akan meminta seseorang keluar!" ujar Haykal lirih, Kanaya melepaskan pelukannya. Kanaya berjalan membelakangi Haykal. Nampak gelengan kepala Kanaya.


"Hubungan kita tak sedekat itu, aku merasa asing dengan rumah ini. Mama benar, aku angkuh dan sombong. Bahkan meminta nomer ponsel kakak, aku tidak bersedia. Maafkan aku, seandainya kakak mencintai wanita yang lebih baik dariku. Aku bukan yang terbaik untukmu!" ujar Kanaya, tanpa menoleh ke arah Haykal. Kanaya menunduk, menyembunyikan rasa sakitnya. Kanaya menyadari, betapa angkuh dan egoisnya dirinya? Haykal begitu mencintainya, tapi Kanaya terus mengacuhkan rasa sayangnya.


Haykal menarik tubuh Kanaya ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya memegang dagu lancip Kanaya. Kedua mata Haykal mengunci wajah Kanaya. Menatap lekat dua mata indah Kanaya yang menyiratkan keteduhan. Napas Haykal memburu, tatkala wajah Kanaya begitu dekat dengannya. Napas keduanya naik-turun hampir bersamaan. Tubuh Kanaya lemas, dia merasakan aliran darahnya terasa panas. Sentuhan demi setuhan Haykal meninggalkan jejak cinta dalam dirinya. Perlahan Haykal mendekatkan bibirnya, Haykal mencium lembut bibir Kanaya. Membakar tubuh Kanaya dengan cinta tulusnya. Kanaya diam tak berdaya, dia merasakan hangat cinta Haykal.


"Jangan pernah mengatakan sesuatu yang tidak penting. Aku tidak butuh kesempurnaanmu. Sebab kita akan sempurna bila bersama. Sayang, rasa ini hanya untukmu. Mungkin saat ini kita asing, tapi kelak akan ada masa kita bersatu!" bisik Haykal tepat di telinga Kanaya, sesaat setelah Haykal mencium lembut bibir Kanaya.


"Kak!"

__ADS_1


"Ada apa?" sahut Haykal lirih.


"Kita akan masuk atau tetap di luar. Aku kedinginan!" ujar Kanaya spontan, membuyarkan hangat yang tercipta.


__ADS_2