KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Harta Warisan


__ADS_3

"Embun, tenangkan dirimu sayang. Kakek pasti baik-baik saja!" ujar Abra menenangkan Embun. Sejenak Embun terdiam, merasa tubuhnya kaku mendengar kondisi Dewangga.


Abra datang setengah jam, setelah Embun menghubunginya. Abra terkejut mendengar kabar Dewangga yang kondisi kritis. Abra meninggalkan rapat, Abra gelisah memikirkan kondisi Embun. Suara tangis Embun teringang di telinga Abra. Bukan hanya Abra, Arya langsung pergi menuju kediaman Adijaya. Rasa khawatir akan kondisi Dewangga membuatnya cemas. Bagaimanapun Dewangga pernah menjadi ayah mertua Arya? Seorang ayah yang pernah menjadi bagian paling penting dalam hidup Almaira. Wanita yang paling dicintainya.


"Bisa Abah bicara dengan kalian berdua!" sapa Iman ramah, tepat setelah keluar dari kamar Dewangga. Abra dan Embun langsung mendongak. Keduanya menatap heran ke arah Iman. Walau mereka tak mengerti, tapi raut wajah serius terlihat jelas dari tatapan Iman. Abra dan Embun langsung bisa menduga. Jika ada masalah penting yang ingin dibicarakan Iman.


"Ada apa Abah? Kenapa abah terlihat serius? Apa kami melakukan kesalahan?" ujar Abra cemas, Iman menggelengkan kepalanya lemah.


Iman meminta Abra dan Embun mengikutinya menuju ruang kerja Dewangga. Langkah kaki Iman penuh dengan ketegasan. Embun menunduk menatap langkah kakinya. Semua terasa gamang dan penuh dengan kecemasan. Kondisi Dewangga yang menurun, membuatnya menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri. Menyesal tak pernah ada di samping Dewangga di sisa hidupnya.


"Duduklah!" titah Iman dingin dan tegas, lalu Iman duduk tepat di depan mereka.


Embun mendongak menatap ke seluruh ruangan. Dia melihat beberapa foto masa kecil Almaira. Lagi dan lagi, Embun melihat sisi lemah Dewangga Adijaya. Laki-laki hebat yang kalah oleh cinta. Seorang ayah yang mengusir putrinya, demi rasa sayang Almaira. Seorang kakek yang terus diam menunggu, menanti kata maaf dari sang cucu. Namun saat kata maaf itu terucap, waktu seolah telah habis. Hanya meninggalkan sesal yang tak lagi bisa dihindari.


"Sofia, masuklah!" ujar Iman lantang, saat melihat Sofia berdiri tepat di depan pintu. Abra menoleh heran, dia semakin tak mengerti. Sedangkan Embun terus diam, dia tak lagi peduli sekelilingnya. Penyesalan Embun mengalahkan segalanya. Tak ada lagi kata maaf, sekadar meringankan penyesalannya.


"Haruskah hari ini kak?" ujar Sofia lirih, Iman mengangguk pelan.


"Maafkan kakak Sofia, tapi ini amanah papa. Dia yang menginginkan semua ini. Permintaan pertama dan terakhir selama hidup papa. Mungkin semua ini akan membuatmu terluka. Namun kakak mohon, demi papa yang membesarkan kita. Penuhi permintaannya, setidaknya untuk membalas sedikit budi baiknya!"


"Aku tidak pernah keberatan, papa berhak melakukan apapun? Selama ini aku memang bersamanya, tapi Almaira dan putrinya yang selalu dirindukannya. Aku cukup sadar diri, jika papa lebih menyayangi Almaira!" ujar Sofia lirih dan dingin, Iman diam membisu. Sebaliknya Abra semakin tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?


"Abra, sebelum abah mengatakannya. Abah ingin mengucapkan kata maaf. Seandainya permintaan abah, akan menyinggung harga dirimu sebagai seorang suami!"


"Kenapa abah harus meminta maaf? Sejak kecil abah yang membesarkan Embun. Sudah sewajarnya, kami membalas budi baik abah. Katakan apa permintaan abah? Kami akan memenuhinya!" sahut Abra, Iman mengangguk seraya mengutas senyum.


Iman menoleh ke arah Embun yang terus menunduk. Tangannya yang gemetar, jelas menunjukkan kegelisahan yang teramat besar. Iman memahami pribadi Embun, dia tidak akan menyimpan dendam pada Dewangga. Meski luka yang teramat dalam ditorehkan oleh Dewangga. Sebaliknya Embun orang yang paling terluka, melihat lemah dan tak berdaya Dewangga.


"Embun sayang, kenapa kamu diam?" ujar Iman, Embun mengangkat kepalanya perlahan. Embun menatap sendu Iman, seutas senyum nampak di wajah Iman. Senyum yang mencoba menghibur Embun, meski Iman sendiri menangis dalam hati.


"Abah, bagaimana kondisi kakek?"


"Dia baik-baik saja sayang. Mama Afifah sudah menanganinya. Tubuh lemahnya masih kuat, untuk menemanimu mengasuh Rafan. Jadi jangan salahkan dirimu. Masih banyak waktu yang bisa kamu habiskan dengan kakek!" ujar Iman menenangkan Embun, walau Iman menyadari perkataannya tidak akan pernah membuat hati Embun tenang.


"Embun, ada satu hal yang harus abah katakan?" lanjut Iman, Embun menatap lekat Iman. Dia merasa tatapan Iman begitu serius, seolah masalah ini benar-benar serius dan harus segera selesai.


Braakkk


Iman meletakkan sebuah berkas tepat di depan Abra dan Embun. Sofia menatap dingin ke arah meja. Jelas Sofia merasa tidak suka, tapi ada alasan yang membuat Sofia harus tetap diam. Embun mengambil berkas yang ada di depannya. Sesaat setelah Iman menunjuk ke arah berkas dan meminta Embun mengambil berkas itu.


Embun membuka perlahan berkas putih yang ada di depannya. Iman dan Sofia hanya diam, menanti reaksi yang akan ditunjukkan Embun. Sebuah misteri yang mengusik ketenangan Abra. Rahasia yang seolah tertutup rapat selama bertahun-tahun dan akhirnya terkuak detik ini juga. Embun menghela napas panjang, ketika lembar pertama terbaca olehnya. Helaan napas yang memiliki banyak arti dan hanya Embun yang mampu memahaminya.


"Kenapa harus Embun?" sahut Embun, tepat setelah berkas itu tertutup. Embun tak lagi mampu membaca detail yang ada di dalam berkas. Setiap point yang tertera di dalam berkas, bak sel penjara yang akan mengurung hidup Embun.


"Jangan pura-pura bodoh, jelas kamu mengharapkan semua ini. Tidak perlu munafik, siapapun bahagia menerima semua itu? Kamu mungkin polos, tapi ayah mertuamu sangat menginginkan semua ini!" sahut Sofia sinis, Abra langsung menatap Sofia tajam. Abra merasa perkataan Sofia tidak pada tempatnya. Sejak awal Haykal tidak ada kaitannya dengan pertemuan hari ini. Jadi sangat salah, jika Sofia mengaitkan sikap Haykal pada Embun. Tanpa mengetahui dasar permasalahannya.

__ADS_1


"Kenapa tante mengungkit papa dalam masalah ini?" ujar Abra dingin, Embun membisu. Perkataan Abra jelas membuat posisinya semakin serba salah.


"Jelas aku mengungkitnya, dia satu-satunya orang yang peduli akan harta dan kedudukan. Alasan yang membuat papa menyerahkan semua ini!"


"Tante Sofia, aku mohon cukup. Tuan Haykal tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jangan mempersulitku dengan terus menghina keluarga Abimata. Sejak aku menikah dengan kak Abra. Keluarga Abimata menjadi keluargaku, jadi tidak ada hak tante menghina mereka!"


"Sombong kamu Embun, kamu bisa bicara tinggi di depanku. Sebab kini kamu memiliki segalanya!"


"Tante Sofia, ini bukan tentang kesombongan atau kepolosan. Aku tidak ingin, tante memperkeruh suasana dengan perkataan tante yang tak pernah menghargai orang lain. Padahal jelas tante orang yang tak pantas dihargai!" ujar Embun lirih, Sofia meradang. Tatapannya tajam mengunci wajah Embun. Kepalan tangannya nampak jelas, seakan bersiap memukul Embun dengan sangat keras.


"Jaga bicaramu, aku jauh lebih tua darimu. Jangan karena kekuasaanmu, kamu berpikir aku takut!" ujar Sofia lantang, Iman langsung menahan tangan Sofia. Ketika melihat Sofia hendak menampar Embun.


"Cukup Sofia, perkataan Embun tidak ada yang salah. Kamu memang tak pernah menghargai orang lain. Kekuasaan papa membuatmu sombong dan angkuh. Hari ini semua akan berubah, tak ada lagi kekuasaan yang menopangmu. Masa jayamu telah berakhir dan persiapkan dirimu Sofia. Jika kamu terus menyalahkan orang lain atas duka dan sulitmu. Maka jangan pernah menyesal, jika tak lagi ada orang yang membelamu!"


"Kak Iman selalu membelanya. Dulu kakak menjauh dariku demi Almaira. Sekarang kakak menyalahkanku, karena gadis ini!" sahut Sofia kesal.


"Maaf abah, lebih baik aku permisi. Tante Sofia tidak akan pernah merubah pendapatnya tentangku. Jadi tidak perlu aku menyakinkan dirinya. Jika aku tidak pernah menginginkan semua ini!" ujar Embun, lalu berdiri. Iman menggelengkan kepalanya pelan. Berharap Embun tetap duduk dan mendengarkan penjelasannya.


"Duduklah sayang!" pinta Iman ramah.


"Tapi!" sahut Embun ragu, sembari menoleh ke arah Abra.


"Duduklah sayang, aku baik-baik saja. Abah memintamu dengan tulus. Jangan pernah kecewakan ayah yang tulus membesarkan dan menyayangimu. Sedikit rasa sakitku, tidak sebanding dengan sakit yang pernah dirasakannya selama merawatmu!" ujar Abra menyakinkan Embun.


"Embun, berkas yang kamu terima tadi. Semua itu berhubungan dengan kerajaan bisnis milik keluarga Adijaya. Seluruh harta yang sengaja disimpan kakek untukmu dan putramu. Beberapa usaha yang sejak awal sudah menjadi milikmu. Satu perusahaan induk yang kini ada di bawah pengawasanku. Perusahaan yang menjadi hak Almaira sejak kecil. Berkas yang kamu terima, bukan sekadar harta di atas kertas. Namun ada amanah dan permintaan maaf dari papa padamu. Jika kamu merasa keberatan menerima semua itu. Setidaknya terima semua itu demi harapan terakhir kakek yang sangat menyayangimu!" ujar Iman, Embun menggelengkan kepalanya. Seakan dia tidak akan mampu menerima beban seberat ini.


"Abra, berkas yang aku berikan pada Embun. Itu semua harta yang diserahkan pada Embun dan Rafan. Kekuasaan Adijaya yang kini berpindah tangan pada Embun. Sebuah kelebihan yang mungkin menyinggungmu. Walau sebenarnya, harta ini tidak akan membuat jarak diantara kalian. Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi Embun dan itu butuh persetujuanmu!"


"Apa itu abah?"


"Embun harus memimpin sendiri perusahaannya. Setidaknya sampai Embun menemukan orang kepercayaan dan itu bukan dari keluarga Abimata. Salah satunya kamu yang merupakan suaminya. Embun harus mengambil alih seluruh usaha yang sudah diwariskan papa untuk Embun. Salah satunya perusahaan Haykal!"


"Tidak mungkin perusahaan papa menjadi milik kakek Adijaya!" ujar Abra tidak percaya, Embun langsung menunduk. Sejujurnya alasan ini yang membuat Embun ragu menerima warisan kakeknya. Embun tidak ingin melihat Abra cemas memikirkan Haykal.


"Jelas perusahaan Haykal menjadi milik Adijaya group. Sebab hampir 60% saham perusahaan Haykal sudah menjadi milik papa!" sahut Sofia sinis, Abra menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Sejak kapan?" sahut Abra lirih dan lemah. Embun diam tak berdaya, melihat luka suami yang sangat disayanginya. Membuat tubuh Embun lumpuh, raut wajah Abra jelas penuh kecemasan.


"Abra, jauh sebelum Embun menikah denganmu. Haykal telah menyerahkan 30% saham perusahaannya pada Adijaya Group. Jika kamu masih ingat, ketika Haykal diambang kebangkrutan. Haykal menjual 30% sahamnya pada Adijaya Group. Sekarang 40% saham Haykal yang ada kalah dengan saham yang ada pada Adijaya Group. Sebab itu papa ingin Embun yang mengambil alih perusahaan itu!" ujar Iman lirih, Abra tertunduk lesu.


"Artinya Haykal tak lagi berkuasa akan perusahaannya!" ujar Sofia sinis dan dingin.


"Embun, apa keputusanmu?" ujar Iman, Embun menoleh ke arah Abra. Nampak raut wajah Abra gelisah. Embun tak mampu berpikir, dia tidak bisa memihak salah satu diantara dua keluarga yang kini ada dalam hidupnya.


"Jika aku menerima permintaan kakek, artinya aku harus menyakiti hati suamiku. Jika aku menolak permintaan kakek, artinya sekali lagi aku mengecewakan kakek. Jujur abah, Embun tak pernah ingin berada diposisi ini. Status membuat ayah mertuaku tak pernah mengakuiku. Dia menghinaku sampai titik terendahku. Sekarang ketika aku berharta dan memiliki status. Aku malah harus menjadi musuh ayah yang membesarkan suamiku. Kakek menjauhkan mama Almaira dari hidupnya, demi ketenangan dan kebahagian mama Almaira. Namun saat ini, ketika kakek memintaku mendekat dan merangkulku dengan hangat. Bukan sebuah ketenangan yang ditawarkan oleh kakek. Melainkan celah kecil kawah yang akan memicu kobaran api dalam keluargaku. Sebagai seorang cucu dan penerus keluarga Adijaya. Dengan segenap hati, aku siap mengambil alih perusahaan ini. Namun sebagai seorang istri, aku tidak akan sanggup mengusik ketenangan suamiku. Jika dulu aku menyerahkan hidupku ditangan abah. Sampai akhirnya aku menikah dengan imam pilihanmu. Hari ini, aku serahkan hidup dan statusku pada tangan suamiku. Sebab langkahku ada dengan restu darinya!"

__ADS_1


"Abah sudah menduga!" sahut Iman lirih, Abra diam menunduk. Dia tak mampu mengatakan apapun. Entah kenapa bibir Abra terasa kelu? Embun menempatkan dirinya pada posisi yang sangat sulit.


"Abra, katakan keputusanmu. Embun sudah menyerahkan seluruh keputusan di tanganmu!"


"Jelas dia melarang Embun, secara Haykal ayah kandungnya. Tidak mungkin dia membiarkan Embun memimpin Haykal. Sejak dulu dia selalu diam melihat Embun terhina!"


"Sofia, diamlah. Kamu lupa, nasibmu tidak jauh beda dengan Haykal. Rumah yang kamu tempati ini, masuk dalam daftar harta yang diberikan papa pada Embun!"


"Kakak bohong!" sahut Sofia, dengan sigap Sofia mengambil berkas yang ada di depan Embun. Sofia membuka lembar demi lembar. Mencari data yang mengatakan kepemilikan rumah megah Adijaya.


Braakkk


"Papa keterlaluan!" ujar Sofia kesal, dengan amarah Sofia berdiri. Embun melihat amarah yang menguasai hati dan pikiran Sofia.


"Kemana kamu akan pergi?" teriak Iman, Sofia menoleh dengan penuh amarah.


"Aku akan menanyakannya pada papa. Dia tidak berhak melakukan ini padaku. Haykal layak menerima amarahnya. Sebab dia berani menghina cucu keluarga Adijaya. Sedangkan aku putrinya sendiri, kenapa papa tega melakukan ini padaku?" ujar Sofia penuh amarah.


Buuuggghhh


"Jangan berani bertanya pada kakek dan membuat kondisinya semakin menurun!" ujar Embun lantang, tepat setelah dia menarik tangan Sofia kasar. Embun membanting tubuh Sofia tepat di atas sofa yang ada di ruang kerja Dewangga. Iman dan Abra tidak percaya Embun mampu melakukan semua itu.


"Beraninya kamu mendorongku!" ujar Sofia, hendak melawan. Namun Embun langsung mengunci tubuh Sofia di dalam sofa. Embun meremas tangan Sofia dengan kasar. Rintihan Sofia terdengar menggema. Embun mendekatkan wajahnya pada Sofia.


"Jika dulu tante bisa menyakiti mama dan kakek, sekarang ada aku yang akan menjaga kakek. Jangan pernah berpikir sikap manja tante membuat kakek terluka dan terus mengalah padamu. Jika tante berani melangkah keluar dari ruangan ini. Lalu menemui kakek dan memarahinya, aku pastikan detik itu juga tante menjadi tunawisma. Dingin angin malam akan menyadarkan tante, jika hidup tanpa kakek tidaklah mudah untukmu. Ingat itu!" bisik Embun tepat di telinga Sofia. Dengan kasar Embun menghempaskan tangan Sofia.


"Awwwsss!" ujar Sofia kesakitan.


Braakkk


"Kalian berdua!" teriak Embun pada dua pengawal yang selalu menjaga rumah Adijaya. Sesaat setelah suara pintu terbuka.


"Iya nona!"


"Jangan biarkan tante Sofia masuk ke dalam kamar kakek. Kalian awasi dia, bila perlu kalian buat jadwal menjaganya. Ingat, jangan sampai dia berkeliaran di rumah ini. Jika sampai dia mendekati kakek, kalian yang akan menggantikannya!" ujar Embun tegas.


"Kakak, dia tidak sopan padaku!" ujar Sofia lirih.


"Embun!" sapa Iman tidak percaya.


"Abah, aku tidak peduli dengan harta peninggalan kakek. Namun aku peduli dengab ketenangan kakek. Aku akan melawan siapapun yang ingin mengusiknya? Sudah cukup dia berjuang. Sekarang kakek hanya butuh ketenangan. Tidak sepantasnya dia mendengar keluhan tante Sofia. Anak yang hanya peduli akan bahagianya. Tanpa peduli sakit dan air mata ayahnya!" ujar Embun lantang, lalu pergi meninggalkan Iman dan Abra.


"Sofia, berhati-hatilah!" ujar Iman memperingatkan Sofia.


"Abra, pikirkan semuanya dengan kepala dan hati tenang. Apapun keputusanmu, abah akan mendukungnya. Namun amanah yang papa tinggalkan untuk Embun. Bukan hakku memutuskannya!" ujar Iman lirih.

__ADS_1


__ADS_2