KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Amarah Seorang Ayah


__ADS_3

"Haykal Abimata, keluar kamu pengecut!" teriak Arya lantang penuh emosi.


Iman mencoba menahan emosi Arya, tapi usahanya sia-sia. Amarah Arya tak lagi bisa ditahan. Arya tidak hanya marah, bahkan dia siap memhunuh Haykal bila perlu. Amarah dan rasa benci Arya menguasai hati serta pikirannya. Hanya satu yang Arya inginkan, kehancuran dan kesengsaraan Haykal. Arya benar-benar marah, tak nampak lagi ketenangan dalam sikap dan tutur katanya. Arya datang ke rumah Abimata, setelah dia mengetahui Abra akan membawa Embun pergi jauh. Bahkan Abra menutup rapat tempat tujuan mereka. Abra tidak hanya menjauh, dia meninggalkan semua keluarganya. Termasuk Arya yang baru beberapa tahun mengenal Embun putrinya.


"Haykal, keluar!"


"Om Arya, kenapa berteriak? Papa sedang menemani mama!" ujar Ibra, Arya menatap tajam Ibra. Tatapan yang siap membunuh tanpa menggunakan pisau. Tatapan penuh kebencian yang siap menghancurkan keluarga Abimata.


"Dimana Haykal? Suruh dia keluar!" ujar Arya dengan emosi, Ibra menatap nanar Arya. Jelas emosi Arya mampu merubuhkan dinding tinggi rumah Abimata. Ibra menoleh ke arah Iman, seakan dia meminta nasehat. Iman mengedipkan kedua matanya, isyarat semua akan baik-baik saja.


"Silahkan masuk, Ibra akan panggilkan papa!"


"Itu yang terbaik!" sahut Arya dingin.


"Arya, amarahmu tidak akan membawa Embun kembali. Aku mengikuti kemari, bukan ingin melihat amarahmu!"


"Dia harus menjelaskan padaku, kenapa dia bisa setega itu pada putriku? Bahkan dia alasan kepergian putriku. Abra putranya tak lebih dari laki-laki bodoh dan tak berguna!" ujar Arya dengan nada tinggi. Iman menepuk pelan pundak Arya. Menenangkan amarah seorang ayah yang merasa sakit kehilanngan putrinya. Embun pergi tanpa pamit, meninggalkan luka yang menganga di hati Arya dan Iman. Bahkan mereka tak mengetahui, dimana Embun dan Abra akan tinggal? Isyarat Abra dan Embun akan meninggalkan keluarganya tanpa pamit.


"Putrimu yang membuat putraku pergi. Dia alasan kepedihan keluarga ini!" sahut Haykal sinis, Arya dan Iman langsung menoleh.


Nampak Haykal berjalan menghampiri Arya dan Iman. Ibra mengikuti langkah sang ayah. Sedangkan Nissa dan Naura menemani Indira yang sakit setelah kepergian Abra. Arya langsung berdiri, dengan tangan yang mengepal sempurna. Arya berjalan menghampiri Haykal. Amarahnya membuncah, darahnya mendidih mendengar hinaan Haykal. Seharusnya kata maaf yang terucap, malah Haykal menyalahkan Embun atas kepergian Abra. Tepat di depan Haykal, Arya mengepalkan tangan sekuat tenaga dan dengan angkuhnya, Haykal menantang amarah seorang ayah.


Buuuugh Buuuugh

__ADS_1


Dua hantaman keras mendarat sempurna di wajah Haykal. Tubuh lemah Haykal langsung tersungkur, darah segar menetes tepat di ujung bibir Haykal. Hantaman keras Arya, membuat gusi Haykal mengalami pendarahan. Ibra yang melihat Haykal tersungkur, langsung membantu Haykal berdiri. Ibra menopang tubuh lemah ayah kandungnya. Haykal tak berdaya menerima pukulan keras dari Arya.


"Arya, hentikan!" ujar Iman, sembari menahan tangan Arya. Iman tidak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Arya benar-benar marah, apalagi setelah mendengar putrinya dihina.


"Haykal, kamu penyebab putriku pergi. Keangkuhanmu yang membuat putriku terhina. Kesombonganmu yang membuat putriku tersisih. Seandainya putra bodohmu tidak keras kepala menikah dengan putriku. Mungkin sekarang aku masih bersama Embun. Nyatanya putra tak bergunamu, malah menjauhkanku dari putriku. Semua karena kamu ayah yang tak pernah ingin melihat putranya bahagia!" ujar Arya, Haykal meradang. Haykal hendak membalas Arya, tapi langkahnya terhenti bersamaan dengan tangan Ibra yang menahan tangan Haykal.


"Cukup pa, jangan lakukan kesalahan lagi. Om Arya benar, papa tak lebih dari ayah yang tak ingin putranya bahagia. Kak Abra pergi bukan untuk satu atau dua hari. Kak Abra akan pergi, sampai dia merasa ada kenyamanan disini. Kak Abra sudah mengatur semuanya dengan matang. Dia pergi tanpa membawa apa-apa? Seluruh aset yang dimiliki kak Arya. Harta yang selalu papa banggakan. Semua hasil jerih payahnya, semua telah kak Abra tinggalkan atas namaku dan Naura. Kak Embun, putri yang tak pernah papa anggap. Dia tak meminta satu sen dari kak Abra, bahkan untuk putranya sekalipun. Kak Abra pergi membawa keluarga kecilnya dan selamanya papa tidak akan pernah melihat kak Abra!"


Duuuuuaaar


Haykal terdiam, bak suara petir menyambar tubuhnya. Seketika kedua matanya kabur, telinganya tuli dan tubuhnya lemah tak berdaya. Haykal hancur tak tersisa, perkataan Ibra membuatnya hancur lebur. Abra pergi tanpa bukan untuk kembali. Abra pergi untuk selama-selamanya. Meninggalkan kota kelahirannya, bahkan Abra pergi meninggalkan keluarganya. Alasan amarah Arya yang tak mampu dibendung. Perpisahan dengan Embun, putri kecil yang tak pernah dia peluk.


"Kamu bohong Ibra, kamu bohong!" ujar Haykal lirih, Haykal berjalan mundur. Dia tak percaya, kini telah kehilangan Abra putra kebanggaannya.


Tubuh Haykal jatuh membentur kursi, Haykal hancur tanpa sisa. Kesombongan dan keangkuhannya menang. Kini tak ada lagi putranya, hanya ada kebanggaan semu tanpa asa. Haykal menjadi alasan putranya pergi, Haykal merasa kehilangan Abra selamanya. Abra pergi meninggalkan segalanya, berpikir takkan pernah datang kembali.


"Percuma kamu menyesal, mereka tidak akan kembali. Abra pergi membawa putri dan cucuku. Dia merebut waktuku bersama Embun. Dua puluh tahun aku tak pernah mengenal Embun, tapi saat aku bisa mengenal Embun putriku. Abra membawanya pergi jauh, meninggalkan ayah yang selalu merindukan putrinya. Kini aku hancur untuk kedua kalinya, semua karena sikap angkuhmu!" ujar Arya lantang, Haykal menggelengkan kepalanya lemah.


"Arya, kendalikan dirimu!" ujar Iman, Arya diam membisu. Dia tidak peduli akan kecemasan Iman. Dengan tatapan tajamnya, dia menatap Haykal yang tengah terduduk lesu.


"Haykal Abimata, kehancuranmu akan dimulai. Keangkuhanmu dan kesombonganmu, akan kuhancurkan dengan kedua tanganku. Aku akan membuatmu merasakan sakitnya terusir dan terhina. Akan kupastikan, kamu hancur tanpa sisa!"


"Arya, tahan amarahmu. Kebencianmu tidak akan pernah membuat Embun kembali. Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin, bukan dengan emosi!"

__ADS_1


"Haykal Abimata tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Hanya dengan keangkuhan dan kebencian, Haykal akan mengerti. Dia akan merasakan sakitnya terhina, ketika dia terhina dan tak berdaya. Semua dimulai dengan terusirnya Haykal dari rumah ini. Rumah kokoh yang membuatnya sombong, sehingga dia berhak mengusir putriku!" ujar Arya menyahuti Iman, seketika Iman menggeleng tak percaya. Amarah Arya benar-benar nyata. Hanya kehancuran Haykal yang menjadi keinginannya. Arya sanggup melakukan apapun? Selama itu bisa membuat Haykal merasakan sakit yang dirasakan Embun.


"Maksud om Arya!" ujar Ibra lirih, Arya menoleh.


"Kamu akan mengetahuinya besok, persiapkan saja dirimu. Aku percaya kamu bisa melindungi Nissa!"


"Arya, hukum aku saja. Jangan libatkan keluargaku!" ujar Haykal memohon, kedua tangannya menghiba. Kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya. Haykal melihat kesungguhan dalam perkataan Arya.


"Terlambat Haykal, semua sudah terjadi. Aku akan memaafkanmu, hanya saat putriku kembali. Selama Embun tidak ada, akan kupastikan kamu dan keluargamu hancur. Walau kamu mengemis di kedua kakiku. Aku tidak akan tersentuh. Kamu penyebab duka dalam hatiku. Kerinduan akan putriku, hanya akan terobati dengan air matamu!"


"Arya, aku mohon!"


"Selama ini aku diam demi putriku, tapi tidak sekarang. Seorang ayah yang kehilangan putrinya mampu berbuat keji. Semua karena kesombonganmu, sekarang persiapkan dirimu. Kamu akan melihat amarah seorang ayah. Amarah yang penuh dengan rasa sakit dan kebencian!"


"Iman, aku mohon!" ujar Haykal lirih, Iman menggeleng lemah.


"Maafkan aku Haykal, Arya berhak melakukannya!" sahut Iman datar, lalu menyusul Arya yang berjalan keluar dari rumah Haykal.


"Papa, semua sudah hancur. Tidak perlu papa memohon, mulai sekarang tidak akan ada kebahagian dalam keluarga kita. Semuanya hancur oleh keangkuhanmu!" ujar Ibra lirih, Haykal mendongak dengan wajah memelasnya.


"Ibra!"


"Tenanglah pa, aku akan tetap bersamamu. Bukan demi rasa sayangku pada papa, tapi demi janjiku pada kak Abra. Putra yang telah papa hancurkan kebahagiannya!" ujar Ibra, lalu pergi meninggalkan Haykal tertunduk tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2