
"Ibra!"
"Hmmm!" sahut Ibra tanpa menoleh ke arah Nur.
"Sudah bertemu Nissa!" ujar Nur santai, Ibra menggelengkan kepalanya.
Nur tersenyum meihat sikap acuh Ibra. Embun yang duduk tepat di samping Ibra. Hanya diam mendengarkan percakan Nur dan Ibra. Ketiganya memilih makan bersama di kantin. Entah kenapa semenjak Nur mengatakan isi hatinya? Ibra mulai bersikap seperti biasa. Persahabatan yang hampir terkoyak oleh rasa cinta yang tiba-tiba hadir menyapa. Akhirnya, setelah sekian lama. Siang ini, ketiganya berkumpul kembali. Mereka memutuskan makan siang bersama di kantin kantor. Bahkan mereka memilih menu yang sama, bakso makanan favorit anak muda.
"Nissa, sekarang bekerja di perusahaan kak Abra. Dia bekerja sebagai manager keuangan!"
"Apa hubungannya denganku? Biarkan dia bekerja di perusahaan. Lagipula, aku banyak berada di luar kantor. Jadi akan jarang aku bertemu dengannya!" ujar Ibra, sembari menyantap semangkok bakso.
"Serius, kamu tidak peduli pada Nissa!" ujar Embun dingin, Ibra menoleh ke arah Embun.
"Kenapa kamu tidak percaya?" sahut Ibra heran.
"Dia semakin cantik, penampilannya modern dan terlihat berpendidikan tinggi. Bahkan cara jalannya saja, terlihat sangat anggun. Sungguh wanita sempurna dengan iman yang sempurna!" ujar Embun santai, sembari menyatap kuah bakso yang ada di depannya.
Ibra menoleh dengan tatapan tak percaya. Bukan karena perkataan Embun, tapi Ibra bergidik ngeri melihat banyaknya sambal di dalam kuah bakso Embun. Nur yang melihat rasa takut Ibra hanya tersenyum menimpali. Sejak dulu diantara mereka bertiga, Ibra laki-laki yang takut akan sambal. Sebaliknya Embun wanita yang paling suka dengan sambal. Terkadang Nur takut melihat cara makan Embun. Namun Nur menyadari, Embun hanya sesekali makan pedas. Sebab dia bukan pribadi yang suka makanan pedas.
"Kakak ipar, itu sambal tidak salah taruh. Kuahmu penuh dengan biji cabai, kak Abra pasti marah melihatnya!" ujar Ibra cemas, Embun menatap tajam ke arah Ibra.
"Dia akan marah, ketika kamu mengatakannya. Jangan berani menghubungi kak Abra. Jika tidak ingin melihatku marah padamu. Lagipula kamu aneh, aku bicara apa? Kamu menyahutinya apa?"
"Embun, Ibra sedang mengalihkan pembicaraan!" sahut Nur menimpali, Ibra menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa kalian meributkan dia? Aku saja tidak peduli, dia bekerja atau tidak. Sekarang kami sudah dewasa, tentu semua sudah berubah. Dia sudah menjadi wanita karir yang sukses. Aku berani bertaruh, dia sudah melupakan namaku. Satu nama yang pernah membuatnya sakit hati!"
"Kamu takut jatuh cinta padanya!" ujar Embun, Ibra hanya diam membisu.
"Aku mulai takut jatuh cinta. Cukup sekali aku merusak hubungan persahabatan yang pernah ada. Sekarang aku ingin fokus pada pekerjaan. Setelah aku menggenggam kesuksesaan. Aku akan memikirkan pernikahan, bukan cinta semu tanpa kepastian!"
"Kamu menyalahkanku!" sahut Nur dingin, Ibra menoleh seraya tersenyum.
"Kamu yang menyadarkanku, jika persahabatan kita jauh lebih indah. Lihatlah sekarang, setelah sekian lama. Akhirnya kita mengulang masa indah jaman SMU. Kita makan bersama, tertawa dan saling mengejek. Hubungan kita tidak boleh rusak, hanya karena rasa tanpa arah!"
"Bijaknya tuan Ibra!" sahut Nur, seraya menepuk pelan pundak Ibra.
Huuukk Huuukk Huuukk
"Nur, aku tersedak!" ujar Ibra spontan, Nur dan Embun langsung tertawa melihat tingkah lucu Ibra.
"Kamu pasti tersedak, secara kamu makan bakso tidak ingat kakak!"
"Kak Abra!" sahut Embun terkejut, Nur dan Ibra langsung menunduk. Sedangkan Abra terlihat terdiam melihat kuah bakso yang ada di depan Embun. Kebetulan Embun sudah menghabiskan setengahnya, tapi dari aromanya kuah bakso. Sudah bisa dipastikan, jika bakso itu sangat pedas.
__ADS_1
"Sayang, kamu makan pedas lagi!" ujar Abra cemas, Embun mendongak seraya tersenyum.
"Hanya sedikit!" sahut Embun, Fahmi menggelengkan kepalanya.
"Bohong kak, jelas tadi kakak ipar menambahkan banyak sambal. Aku sendiri melihatnya!"
"Diam kamu!" ujar Embun kesal, seraya menginjak kaki Ibra.
"Awwwwsss!" teriak Ibra kesakitan.
"Sayang, aku sudah melihatnya. Meski Ibra tidak bicara, aku tetap mengetahuinya!" ujar Abr lirih, lalu duduk di samping Embun. Abra mengambil mangkok bakso yang ada di depan Embun.
"Kak!"
"Sudah cukup, minum jus jeruk ini!" ujar Abra dingin dan tegas, Embun mengangguk pelan. Ibra terkekeh melihat Embun yang patuh pada Abra.
"Kamu juga Ibra, sudah tahu Embun hamil. Kamu tetap diam, membiarkan dia makan bakso dengan sambal sebanyak ini. Bukankah seharusnya menjaga dan melarangnya, malah ini hanya melihat!" ujar Abra dingin, Ibra langsung terdiam.
"Sudahlah kak, aku yang salah. Seharusnya aku menahan diri. Namun bakso makanan yang selalu membuat tergiur. Jadi maaf, jika aku khilaf!" sahut Embun dengan santainya. Wajah polos Embun, seketika meredakan amarah Abra. Jelas Abra tidak pernah bisa marah pada Embun.
"Ingat Abra, kakak iparmu sedang hamil. Jangan sampai terjadi sesuatu pada keponakanmu!"
"Maaf kak, aku salah!" sahut Ibra lirih, Nur langsung menangkupkan kedua tangannya. Berharap kata maaf dari Abra. Kedipan mata Abra, menjadi jawaban atas kata maaf Ibra dan Nur.
"Tunggu dulu, kalian makan bertiga. Sejak kapan hubungan kalian membaik?" Sahut Abra heran.
"Sayang, bukankah baru kemarin Ibra dan Nur saling menghindar. Kenapa sekarang mereka malah terlihat akrab?"
"Kak Abra, Ibra sudah memutuskan pilihan. Dia menghapus rasanya pada Nur dan kembali menjadi Ibra kami yang dulu!" ujar Embun riang, Ibra mengangguk pelan. Setuju dengan perkataan Embun.
"Sayang, aku suamimu. Kenapa kamu malah mengatakan Ibra milikmu?" ujar Abra kesal, Embun tertawa sembari merangkul lengan Abra. Embun menyandarkan kepalanya di lengan Abra. Bergelayut manja pada suami yang begitu dicintainya.
"Maksudku, Ibra sahabat kami. Dia sudah memilih persahabatan, daripada urusan hati. Jika memang kelak ada jodoh, mereka tidak akan menolak. Namun hari ini, kami memutuskan hanya bersahabat. Melupakan semua yang pernah terjadi. Jadi kakak tidak perlu cemburu, Ibra tidak akan pernah menggantikan posisimu!" ujar Embun, Nur mengangguk setuju.
"Awas saja kalau dia berani merayumu!" sahut Abra sinis, Ibra langsung menangkupkan tangan ke arah Abra. Isyarat sebuah kata permohonan ampun, jika dia tidak akan melakukan kesalahan itu.
"Kak Abra, sudah bicaranya. Lebih baik kakak pesan makan siang!" ujar Nur mengingatkan, sedangkan Embun terus bergelayut manja di lengan Abra.
"Aku tidak lapar, membayangkan sambal yang ada di bakso Embun. Sudah membuatku kenyang!"
"Kakak tidak suka pedas!" ujar Nur penasaran, Ibra mengangguk tanpa ragu.
"Nur, jika aku adik tertampannya saja tidak suka pedas. Apalagi kakakku yang paling mempesona ini. Jangankan makan sambal, bentuk cabai mungkin dia sudah lupa!" ujar Ibra lantang, Abra langsung menatap tajam Ibra.
"Uuups, maaf kelepasan!" ujar Ibra santai.
__ADS_1
"Kalian memang saudara, sama-sama takut dengan cabai!" ujar Fahmi menimpali, Abra dan Ibra langsung menoleh. Embun langsung melepaskan rangkulannya, ketika melihat Nissa berdiri tepat di samping Fahmi. Nur tersenyum ke arah Nissa dan Fahmi. Sikap sopan yang selalu ditunjukkan Nur pada semua orang.
"Fahmi, silahkan bergabung!" ujar Abra, Fahmi dan Nissa berjalan menghampiri meja Abra. Keduanya memilih duduk di samping Abra.
"Silahkan pesan apa saja? Ibra yang akan membayarnya!" ujar Abra santai, Ibra langsung mendongak terkejut.
"Kenapa harus aku?"
"Sebagai hukuman karena membiarkan Embun menyantap makanan pedas!" sahut Abra dingin, Ibra menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kak Abra tidak adil!" gerutu Ibra.
"Ibra, selamat atas pernikahanmu. Semoga kamu bahagia!" ujar Nissa dengan suara lembut penuh kehangatan.
"Ibra, kamu sudah menikah!" ujar Abra kaget, sontak semua orang menatap tak percaya ke arah Ibra.
"Siapa yang menikah? Nissa mengigau, jangankan menikah. Kekasih saja aku tidak punya!" sahut Ibra lantang.
"Bukankah kamu dan Embun sudah menikah!" ujar Nissa lirih, Nur langsung menoleh ke arah Nissa. Dia mulai memahami alasan sikap dingin Nissa.
"Nissa, bukan Ibra suami Embun. Kak Abra yang menikah dengan Embun. Tentang rencana yang dikatakan Ibra dulu. Itu hanya mampi yang tak pernah menjadi nyata. Jangan diambil hati, Ibra masih menunggu pemilik hatinya yang pergi!"
"Maksudmu apa?" sahut Ibra tak mengerti.
"Kamu belum menyadari cinta sejati itu seperti apa? Sebab itu kamu tidak melihat cinta tulus yang pergi darimu. Sekarang dia sudah kembali, jangan sampai kamu kehilangan kesempatan lagi!" ujar Nur lirih, Nissa menunduk. Dia mengingat kepingan hati yang pernah hancur oleh penolakan Ibra.
"Sudahlah, lupakan kisah cinta Ibra. Sebaiknya kita makan sekarang!" ujar Abra, semua orang mengangguk pelan.
Kecuali Embun yang mulai mengantuk dan akhirnya menutup kedua matanya dengan sempurna. Lengan Abra kini menjadi bantal yang terasa nyaman bagi Embun. Sampai dia tidak peduli lagi akan keributan yang ada di depannya.
"Nur, setelah ini kamu sibuk!" ujar Ibra, Nur menggelengkan kepalanya pelan.
"Ikut denganku, aku harus pergi berdua dengan manager keuangan yang baru!" ujar Ibra lirih, Nissa mendongak menatap Ibra.
"Kenapa aku harus ikut? Jika hanya menjadi obat nyamuk!" goda Nur yang langsung membuat Ibra dan Nissa tertunduk malu. Sedangkan Fahmi sesekali mencuri pandang ke arah Nur. Namun sikap acuh dan biasa Nur, seolah-olah tak pernah menganggap keberadaannya.
"Aku ada di depanmu Nur!" batin Fahmi.
"Jangan khawatir, aku akan membelikanmu kembang gula!" ujar Ibra menimpali godaan Nur.
"Tidak mau, aku ingin es krim coklat!" ujar Nur mengikuti logat anak kecil.
"Kenapa kalian berisik sekali?" ujar Embun sembari menutup mata. Sontak Abra meletakkan jari telunjuknya tepat di tengah bibirnya. Isyarat Abra berharap semua orang tenang.
"Tidurlah sayang, aku menjagamu!" ujar Abra.
__ADS_1
"Jiwa jombloku menjerit!" ujar Ibra yang akhirnya mengundang gelak tawa semua orang.