
Rizal hendak berjalan menuju sofa, tapi langkah kakinya terhenti. Tatkala jantungnya berdetak begitu hebat. Rizal memegang dadanya pelan, dia merasa ada yang salah dengan debaran jantungnya. Seakan jantung Rizal akan berhenti berdetak dan napasnya berhenti berhembus. Rizal terdiam mematung, tubuhnya kaku tak mampu bergerak.
Tap Tap Tap
"Siapa?" batin Rizal bingung, Rizal menoleh ke arah pintu masuk.
Pintu yang berada tepat di depannya. Rizal mampu mendengar, bahkan melihat siapa yang datang dari tempatnya berdiri. Seperti saat ini, Rizal bisa mendengar suara langkah kaki. Suara yang membuat jantungnya, seolah berhenti berdetak. Rizal terus menunggu, sampai sang pemilik langkah terlihat.
Deg Deg Deg
"Khumaira Nabila Ikhsani, bidadari dalam hatiku!" batin Rizal, sesaat setelah melihat Aira masuk ke dalam rumah Abra.
Rizal menekan jantungnya yang terus berdegub hebat. Berharap suaranya terhenti dan tenang kembali. Agar tak ada yang menyadari rasanya pada Aira. Gadis bercadar yang mengusik tenang dan sujudnya, selama delapan tahun terakhir.
"Dia adikku kandungku, kamu adik angkatku. Malam ini, aku akan menjadi kakak bagi kalian berdua. Aku akan menangatakan rasamu padanya. Namun di sisi lain, aku akan mendengarkan isi hatinya. Jika dia menolak rasamu, setidaknya rasamu menemukan akhirnya. Jika dia menerima rasamu, artinya dia siap menerima tanganmu. Tidak ada paksaan, semua akan berjalan dengan penuh keikhlasan!" ujar Embun, Rizal langsung menoleh.
"Kak!" sahut Rizal tak percaya, Embun mengedipkan kedua mata indahnya.
"Semua akan baik-baik saja!" sahut Embun, lalu meninggalkan Rizal yang terpaku.
"Assalammualaikum Guz Rizal!" sapa Aira lirih, seraya menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.
"Waalaikumsalam!" sahut Rizal terbata-bata. Pesona Aira membuat Rizal tak berkutik.
"Pesonamu membuat duniaku berhenti berputar!" batin Rizal kalut.
"Gus Rizal, apa kabar?" sapa Aira ramah, Rizal diam menunduk. Rizal tak mampu menatap Aira, akan fatal seandainya Rizal terus berada di dekat Aira.
"Aku baik-baik saja Aira!" sahut Rizal dingin, Aira menunduk membisu. Suara dingin Rizal, seolah menunjukkan rasa tidak suka padanya.
Rizal memutar tubuhnya, dia berjalan menghampiri Abra. Mengacuhkan sikap hangat Aira padanya. Rizal takut tidak bisa mengendalikan diri. Jika terus berada di dekat Aira. Bagaimanapun Aira bukan muhrimnya dan salah jika Rizal merasa nyaman berada di dekat Aira?
"Bukankah dia yang ingin kamu lihat. Kenapa malah mengacuhkannya? Kamu berani memiliki rasa padanya. Seharusnya kamu juga berani mengatakannya. Aira bukan anak SMP lagi, dia sudah pantas menikah!" ujar Abra lirih, Rizal menggeleng lemah. Abra tersenyum melihat sikap kikuk Rizal. Ketakutan Rizal mendengar penolakan Aira.
"Kak Abra, aku mohon diamlah. Memikirkan kak Embun bersama Aira, sudah membuat jantungku berhenti berdetak!"
"Bukankah dia kakakmu, percayakan saja padanya. Kenapa kamu harus khawatir? Kamu baru saja melihat Aira, belum papa Arya. Padahal, dibanding Aira atau Embun. Dia yang seharusnya kamu khawatirkan!" ujar Abra menggoda Rizal, helaan napas Rizal terdengar begitu berat. Napas Rizal seakan terhenti, pertemuannya dengan Aira. Sejenak membuat hidup Rizal semakin kacau.
Rizal berjalan menuju kamarnya, dia hendak mengganti pakaian yang dikenakannya. Rizal merasa tidak nyaman, bila bertemu dengan Arya atau Iman dengan penampilannya sekarang. Nampak Rizal menggunakan celana jeans yang dipadukan dengan kaos berkra warna abu-abu tua. Rizal terlihat lebih tampan dan keren, penampilan yang mampu membuat mata kaum hawa terpesona.
"Rizal, kemana kamu pergi?" teriak Embun dari meja makan. Rizal langsung menoleh, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang sejak tadi melihat ke arahnya.
__ADS_1
Deg
"Asthgfirullah!" ujar Rizal lirih, sembari mengelus pelan dadanya.
Rizal langsung menunduk, mengalihkan pandangannya dari Aira yang berada tepat di samping Embun. Aira membawa ketenangan Rizal pergi dan menggantinya dengan kekaguman. Rasa kagum akan tatapan teduh Aira, tatapan yang sesaat mengalihkan iman Rizal. Rizal terpana akan dua bola mata indah Aira. Tatapan Rizal dan Aira bertemu tanpa sengaja. Tatkala Rizal menoleh ke arah Embun. Tatapan yang membuat Rizal terdiam akan pesona gadis idamannya.
"Aku akan berganti pakaian. Aku akan pergi ke masjid, tidak mungkin aku menggunakan celana jeans!" sahut Rizal, sembari terus menunduk. Rizal tidak ingin menatap wajah yang membuatnya tak berdaya.
"Kenapa harus pergi ke masjid? Gus bisa menjadi imam kami, ada mushola kecil di rumah ini!" sahut Arya lantang, Fitri mengangguk seraya tersenyum di balik cadarnya. Rizal langsung mengangkat wajahnya, nampak Arya berjalan dengan gagahnya. Rizal menghampiri Arya, menarik tangan Arya pelan. Rizal mencium punggung tangan Arya. Meski Arya melarang, Rizal tetap melakukannya.
"Gus, tidak perlu melakukannya!"
"Tuan Arya, saya Rizal bukan Gus Rizal. Anda ayah kak Embun, bukan santri di pesantren. Seorang ayah akan tetap ayah, takkan berubah meski beliau lemah tak berdaya. Bukan harta atau jabatan yang membuat seorang laki-laki dipanggil ayah. Namun cara beliau mendidik, menjadi alasan aku mengagumi pribadi anda!" ujar Rizal tegas dan hangat, Arya mengangguk mengerti.
"Kesopanan yang jarang aku lihat!" ujar Arya lirih, Rizal tersenyum simpul.
"Saya permisi!" pamit Rizal, Arya mengangguk mempersilahkan.
Semua hening tanpa suara, Fitri dan Aira membantu Embun menyiapkan makan malam. Sedangkan Hanna sibuk merawat Baby kecilnya dibantu oleh Rafan dan satu suster. Aira dan Embun memasak bersama di dapur. Sedangkan Aira sibuk menata hidangan di meja makan. Tak berapa lama Iman dan Afifah datang. Fitri menghampiri Afifah, keduanya saling menyapa dengan begitu hangat.
"Aira!" sapa Embun lirih, Aira mendongak menatap Embun. Nampak suasana dapur sepi, hanya ada Aira dan Embun. Sedangkan yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing
"Ada apa? Kakak membutuhkan sesuatu?" ujar Aira, Embun menggeleng dan mengangguk. Jawaban aneh yang membuat Aira bingung.
"Apa yang ingin kakak katakan? Jangan pernah ragu, katakan apa yang mengganjal dalam benak kakak? Aku akan menjawabnya dengan jujur!" sahut Aira, Embun mengangguk mengerti.
"Aira!"
"Iya kak, katakan saja!"
"Apa pendapatmu tentang Rizal?" ujar Embun, Aira terdiam. Tak berapa lama, Aira menoleh ke arah Embun. Aira merasa bingung dengan arah pertanyaan Embun. Entah kemana arah pertanyaan Embun? Namun terselip rasa heran di hati Aira. Tatkala Embun merasa perlu mengetahui pendapat Aira tentang Rizal.
"Maksud kakak? Pendapat dalam hal apa? Pribadi dan sikap, atau status yang disandangnya!"
"Pribadinya!" sahut Embun singkat dan jelas.
"Beliau sangat baik, tidak pernah ada amarah. Ketika beliau mengajar, kami semua menghargainya!"
"Aira, bukan pribadinya saat mengajar. Namun pribadinya sebagai seorang laki-laki. Bagaimana dia dalam pemikiranmu? Pantaskah dia menikah dengan gadis yang lebih muda? Atau mungkinkah cinta Rizal diterima, seandainya gadis itu tidak pernah mengetahui cintanya!"
"Siapa yang kakak maksud? Aku mengenalnya atau dia itu aku?" ujar Aira tegas, tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Aira, kamu menyadarinya!" ujar Embun tak percaya, Aira mengangguk pelan.
"Sejak kapan?" ujar Embun penasaran, Aira menghela napas. Aira mematikan kompor, lalu menatap lurus ke arah Embun. Aira membuka cadarnya, Embun terpana melihat kecantikan yang tersimpan di balik cadar Aira.
"Sejak kecantikanku terlihat olehnya!"
"Maksudmu?" ujar Embun tak percaya, Aira memakai kembali cadarnya. Hanya nampak dua bola mata Aira yang indah.
"Maafkan aku kak, menutupi semua ini dari orang lain. Termasuk papa dan mama, juga darimu!" ujar Aira, lalu menghela napas pelan. Embun menangkup tubuh Aira, menatapnya lekat.
"Apa yang terjadi? Katakan padaku!"
"Malam pelepasan para santri, lebih tepatnya saat aku di wisuda dari pesantren. Aku mengalami kejadian yang menakutkan. Beberapa santri yang iri padaku, melakukan hal yang tak pantas. Malam menakutkan yang tak pernah ingin aku ingat dalam hidupku. Aku mengalami kejadian pahit yang membuatku bertemu dengan Gus Rizal. Beliau yang menutup wajahku dengan sorban putih miliknya. Bahkan beliau yang memberikan hukuman pada mereka semua. Gus Rizal membuat mereka merasakan dingin jeruji besi. Namun mereka dilepaskan, setelah orang tua mereka meminta maaf padaku. Gus Rizal meluapkan amarah pada orang tua santri. Saat itulah beliau tanpa sengaja mengatakan isi hatinya!"
"Rizal mengatakannya, kenapa Umi tidak mengkhitbahmu?"
"Umi menolak rasa Gus Rizal untukku. Aku tak pantas untuknya, aku terlalu muda untuknya dan takkan pernah bisa mengerti kebutuhannya. Aku takkan mampu menjadi istri yang mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani Gus Rizal. Semenjak saat itu, sikap Gus Rizal dingin dan baru malam ini pertama kalinya kami bertemu!"
"Aira, kenapa kamu tidak menceritakannya? Setidaknya kami mengetahui, jika kamu pernah mengalami semua itu!" ujar Embun, Aira menggeleng lemah.
"Kakak mengenal watak papa, akankah papa diam melihat putrinya tertindas. Meski semua itu tak lebih dari bentuk kenakalan remaja!" ujar Aira lirih, Embun menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya. Embun mengusap pelan punggung tegap Aira. Berharap Aira merasakan hangat kasih sayangnya sebagai seorang kakak.
"Sekarang, jika rasa itu masih ada. Akankah penolakan atau kata iya yang kamu katakan?" bisik Embun, Aira terdiam. Embun melepaskan pelukannya. Terlihat Aira yang terdiam, tak ada kata yang terucap dari bibir Aira.
"Aira!" sapa Embun lirih, Aira mendongak menatap nanar Embun. Seakan ada rasa yang tak mudah dikatakan oleh Aira.
"Kak, beliau laki-laki pertama yang melihat wajahku dan beliau juga yang memalingkan wajahnya dariku. Mungkin dia mencintaiku, tapi cintanya pada Umi jauh lebih besar. Aku tidak ingin mengatakan iya, jika nyatanya rasa itu ada untukku. Namun sesungguhnya bukan untukku!"
"Aira, kenapa kamu bicara seperti itu? Apa karena Hanif?" ujar Embun, Aira menggeleng.
"Rasaku pada kak Hanif, kini telah menemukan akhirnya. Kasih sayangku pada kak Hanif, telah aku salah artikan sebagai rasa cinta. Percayalah, penolakanku tidak ada hubungannya dengan kak Hanif!"
"Aira, aku akan mengatakan pada Rizal. Jika kamu tidak bisa menerimanya rasanya. Sekarang dia harus bisa membuka hatinya, untuk hati yang lain!" ujar Embun, Aira langsung menunduk. Aira keluar membawa masakan, tepat di meja makan. Aira melihat Rizal turun dari lantai dua menggunakan sarung dan baju koko seperti biasanya.
"Dia imam impianku, tapi dia bukan imam yang ditakdirkan untukku. Jika dia pemilik tulang rusuk dalam tubuhku. Aku berharap, ada tubuh lain yang tercipta dari tulang rusuknya. Meski senyumnya bukan karenaku, tapi aku akan tersenyum karena melihatnya bahagia. Semoga beliau menemukan makmum dunia akhiratnya, amiin!" batin Aira lirih.
"Silahkan Gus Rizal!" ujar Arya, Rizal membungkuk menghormati Arya. Semua orang sedang menunggu Rizal untuk sholat berjamaah. Aira berjalan menuju dapur. Dia jelas tidak bisa sholat berjamaah dengan Rizal. Akan lama menunggu Aira bersiap.
"Kenapa kamu tidak bersiap sholat berjamaah? Jika menjadi imam dunia akhiratmu, setidaknya sekali saja aku pernah menjadi imam sholatmu!" ujar Rizal dingin, Aira mengangguk tanpa menoleh ke arah Rizal.
"Kakak sudah mengetahuis semuanya!"
__ADS_1
"Kalian pasangan yang hebat, saling menghargai dalam diam!" ujar Embun lantang, Rizal dan Aira berlalu tanpa peduli pada Embun.
"Kalian mengacuhkanku!" ujar Embun kesal.