
"Jadi, Kanaya balapan lagi!" ujar Embun, sesaat setelah mendengar perkataan Haykal.
"Mama!" ujar Rafan, takut Embun marah pada Kanaya.
"Sayang, tenangkan dirimu!" ujar Abra menenangkan.
"Kanaya!" teriak Embun lantang, suara Embun menggema di seluruh bagian rumah.
Tap Tap Tap
"Kenapa mama memanggilku?" ujar Kanaya lirih, Embun meminta Kanaya duduk.
"Dia ada di rumahku, jangan-jangan dia sudah menceritakan tentang balapan kemarin malam!" batin Kanaya kesal, ketika melihat Haykal duduk tepat di depannya.
"Kanaya, kamu balapan lagi!" ujar Embun dingin dengan nada sedikit emosi. Sontak Kanaya menoleh ke arah Haykal.
"Dasar pengadu!" batin Kanaya kesal dan marah.
"Kanaya, angkat kepalamu. Tatap mama, jangan hanya diam seperti pengecut. Bukankah seorang pembalap itu harus berani. Sekarang, hadapi mama dengan berani!" ujar Embun tegas, Kanaya mengangkat wajahnya.
Tatapan Embun bak elang yang siap menerkam mangsanya. Kanaya tak berkutik, tulang-belulangnya terasa lemas tak bertenaga. Kanaya menyadari kesalahannya, sebuah kesalahan yang akan membuat dunia Kanaya berputar. Abra diam tanpa kata, sejak Rafan dan Kanaya masih kecil. Abra tak pernah ikut campur, ketika Embun mendidik mereka. Abra tidak akan membela Rafan dan Kanaya atau melarang Embun bersikap keras dan tegas pada mereka. Abra hanya akan mengawasi, mengingatkan jika Embun menghukum melebihi kesalahan Rafan dan Kanaya.
"Maafkan Kanaya!" ujar Kanaya lirih, sembari menundukkan kepala. Embun menatap lekat Kanaya, sedangkan Abra memilih mengalihkan perhatiannya. Tidak bisa dipungkiri, Abra ikut andil dalam balapan Kanaya. Tanpa Abra sadari, dia alasan Kanaya bisa ikut balapan. Mobil sport hadiah Abra, menjadi fasilitas yang digunakan Kanaya untuk balapan.
"Katakan pada mama, apa kesalahanmu?" ujar Embun lirih, Kanaya meremas ujung hijabnya.
Haykal menunduk, dia merasa bersalah telah memposisikan Kanaya di pihak yang salah. Seharusnya sebagai seorang guru, Haykal lebih bijak. Bukannya langsung mengadu pada orang tua Kanaya. Namun menasehati Kanaya dengan tegas. Agar tidak lagi ikut dalam balapan. Haykal malah membuat jarak yang semakin dalam diantara dirinya dan Kanaya. Bukan simpati yang didapatnya dari Kanaya. Melainkan sikap dingin yang semakin menjadi. Mengingat Haykal alasan Kanaya dimarahi oleh Embun.
"Kanaya ikut balapan di saat hari aktif!" ujar Kanaya tegas, Embun mengangguk mengiyakan. Rafan dan Hanna terkejut dengan alasan amarah Embun. Alasan yang jauh dari bayangan semua orang. Tak nampak Embun khawatir atau curiga, mengingat Kanaya ikut dalam balap mobil.
"Kamu sudah berjanji pada mama, hanya akan balapan di akhir pekan. Kenapa malah hari aktif? Apalagi kamu balapan di malam hari. Mama kecewa Kanaya, kamu melanggar janji yang kamu ucapkan sendiri!" ujar Embun lirih, Kanaya semakin terdiam. Kanaya merasa bersalah telah melanggar janjinya pada Embun. Bukan maksud Kanaya menyembunyikan semuanya. Hanya saja, Kanaya terlanjur berjanji ikut balapan dan tidak boleh gagal hanya karena larangan Embun.
"Maaf mama, Kanaya telah mengecewakan mama. Sebagai seorang anak, Kanaya memilih melangggar janji yang membuat mama kecewa. Namun dalam dunia balap, Kanaya seorang pembalap sejati yang tidak bisa mundur dari tantangan!"
"Maksudmu?" sahut Embun lirih, semua orang terdiam menatap perdebatan antara Embun dan Kanaya. Perdebatan yang lebih ke arah diskusi, bukan amarah akan kesalahan Kanaya.
"Kanaya harus bersedia turun ke jalan, ketika ada penantang yang meminta untuk bertanding. Kanaya melakukan semua itu bukan demi harga diri semata. Namun sikap berani dan tak takut akan tantangan. Mama pernah mengatakan, Kanaya harus jadi wanita berani. Namun tetap dengan pertanggungjawaban dan masih dalam batas wajar!"
"Termasuk melanggar janji pada mama!" sahut Embun, Kanaya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maafkan Kanaya!" ujar Kanaya lirih, Embun mengangguk. Embun menoleh ke arah Abra, lalu menoleh ke arah Rafan. Dua laki-laki yang mampu melindungi Kanaya. Namun baik Abra dan Rafan, tidak ingin ikut campur masalah Kanaya. Keduanya percaya, Embun mampu memberikan hukuman yang tepat untuk kesalahan Kanaya.
"Apa hukuman yang akan kamu inginkan?" ujar Embun, Kanaya mendongak menatap Embun.
"Kanaya akan mengambilnya di kamar!" ujar Kanaya, Embun mengangguk pelan. Abra mengeryitkan dahinya, ada rasa penasaran yang menelisik hatinya.
"Haykal, terima kasih telah mengatakan semuanya pada tante. Mungkin kamu merasa heran, kenapa tante terlihat tenang?" ujar Embun, Haykal mengangguk bersamaan dengan Rafan dan Hanna yang ikut mengangguk. Abra terlihat tenang, seolah dia sudah mengetahui alasan ketenangan Embun.
"Tante sudah mengetahui kebiasaan Kanaya ikut balapan mobil. Bukan sekali atau dua kali, Kanaya ikut dalam pertandingan membahayakan itu. Namun Kanaya tetaplah Kanaya yang keras kepala. Semakin tante mengekangnya, dia akan semakin berontak. Akhirnya tante dan om mengizinkan Kanaya ikut balapan mobil. Dengan catatan, nilai Kanaya di sekolah tidak menurun. Kanaya hanya akan balapan di akhir pekan atau hari libur!" tutur Embun lirih, Rafan menatap tak percaya. Dia merasa bodoh baru mengetahuinya sekarang, kakak yang tak mengenal adik perempuannya.
"Bukankah itu berbahaya, ada resiko yang harus ditanggu Kanaya!" ujar Haykal, Embun mengangguk pelan. Embun mengiyakan perkataan Haykal. Rafan tak percaya melihat anggukan kepala Embun. Sebuah pembenaran akan sikap Kanaya yang salah.
"Tante mengizinkan dengan pertanggungjawaban yang tak biasa. Kanaya harus memenuhi seluruh janjinya. Sebagai balasan atas izin yang tante berikan. Sebagai guru Kanaya, tentu kamu bisa melihat prestasi Kanaya di sekolah. Salah satu syarat yang tante ajukan pada Kanaya. Namun jika Kanaya melanggar janjinya. Akan ada konsekuensi yang besar!"
"Apa itu tante? Maaf jika Haykal penasaran. Apapun yang terjadi pada Kanaya hari ini? Semua karena perkataanku yang akhirnya membuat Kanaya berada di pihak yang salah!"
"Tunggulah sebentar lagi, kamu akan mengetahuinya. Kanaya berani melanggar janjinya, tentu dia sudah siap dengan hukumannya. Seorang pembalap berani bertaruh dengan nyawanya. Lantas, tidak ada alasan Kanaya takut menerima hukumannya!" ujar Embun lirih dan tegas, Haykal diam membisu. Haykal tak percaya dengan semua perkataan Embun.
Haykal melihat sebuah keluarga yang saling menyayangi, tapi tegas akan sebuah kesalahan. Sikap dingin dan tegas Kanaya, seolah bukti dia keturunan keluarga Abimata dan Adijaya yang sejati. Keberaniannya mengakui sebuah kesalahan, membuat Haykal tak percaya. Jika ada seorang anak yang dengan berani menghadapi hukuman. Tak ada tangis atau rengekan, tidak ada pembenaran diri dan merasa tidak bersalah. Haykal hanya melihat keberanian akan sebuah janji yang terlanggar. Sekali lagi, Haykal takjub dengan pribadi Kanaya. Sifat yang tak pernah ingin Kanaya perlihatkan pada orang lain.
"Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya? Jika Kanaya kecilku seorang pembalap!" ujar Rafan lirih, Abra mengangguk mengiyakan. Rafan menggeleng lemah, dia benar-benar tidak percaya. Jika Kanaya manja telah tumbuh menjadi pembalap.
Terdengar helaan napas Embun. Sebuah fakta pahit yang harus di dengar oleh Rafan. Kesepian Kanaya yang selalu merindukan hangat pelukan Rafan. Entah kapan terakhir Rafan memeluk Kanaya? Pelukan hangat yang selalu dirindukan Kanaya sampai saat ini. Rafan tertunduk semakin dalam. Rasa bersalah semakin menguasai hatinya. Kala dia mencoba mengingat pelukan terakhirnya pada Kanaya. Pelukan yang sudah lama terjadi dan kini terlupa.
"Maafkan Rafan!"
"Tidak ada yang salah atau disalahkan. Kalian berdua sama-sama dewasa. Ada jalan yang berbeda di depan kalian. Waktu yang menghilang, tak mungkin bisa kembali. Rasa sepi Kanaya, tidak akan mudah terlupa. Dan sikap dinginmu, tidak akan mudah berubah. Namun di balik kata tidak mudah, ada satu ikatan darah diantara kalian. Sebelum kental darah diantara kalian mencair dan menjadi jarak tak terlihat. Peluk adikmu Rafan, pahami kesepiannya. Kanaya membutuhkan kakak laki-lakinya, terlebih di usianya yang menginjak remaja. Pergaulan yang takkan mudah dilewati, kecuali dengan iman yang kuat!" tutur Embun, Rafan hanya bisa diam.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki Kanaya yang tengah menuruni tangga. Kedua tangan Kanaya terlihat membawa sesuatu. Rafan menoleh ke arah Kanaya, dia merasa ada yang salah. Namun Rafan tak mengetahui, hukuman apa yang akan diterima Kanaya? Sama halnya Haykal yang terdiam. Dia merasa beruntung mengenal keluarga Kanaya. Haykal mendengar banyak kasih sayang. Walau rasa bahagia Haykal akan berbalas sikap dingin Kanaya yang semakin menjadi. Abra langsung menyadarkan tubuhnya di sofa. Dia tak pernah ikut campur, tapi hukuman yang akan diterima Kanaya tidaklah mudah.
"Mama!" sapa Kanaya lirih, Embun mengedipkan kedua matanya. Kedua tangan Kanaya membawa sesuatu yang mungkin akan membuat hidupnya sedikit berat.
"Duduklah!" sahut Embun.
"Mama, ini kartu ATM yang diberikan papa. Sedangkan ini yang diberikan kakek Arya, lalu ini yang diberikan mama. Ini celengan Kanaya dan amplop ini berisi tabungan Kanaya selama sebulan. Uang jajan yang setiap hari mama berikan pada Kanaya. Ini kunci mobil sport yang dibelikan papa dan kunci sepeda motor sport pemberian kakek Arya. Kanaya sudah membawa semuanya, kecuali kalung yang mama berikan. Kanaya ingin menyimpannya!" tutur Kanaya lirih, sembari memberikan satu per satu barang mewah yang dimiliki Kanaya. Tangan Kanaya terlihat menyusup di balik hijabnya. Nampak Kanaya menggenggam erat kalung pemberian Embun. Satu-satu barang mewah yang ingin dimiliki Kanaya.
"Kanaya, apa yang kamu lakukan?" ujar Rafan tak percaya, Embun mengambil satu per satu barang mewah yang dimiliki Kanaya. Abra menghela napas, jelas dia merasa kasihan pada Kanaya. Namun semua terlanjur terjadi, Kanaya harus bertanggungjawab dengan kesalahannya.
__ADS_1
"Kanaya, mama tidak akan mengambil kalung itu. Dengan syarat, kamu harus bangun lebih pagi. Kamu harus menyiapkan sarapan untuk semua orang!" pinta Embun, Kanaya langsung mengangguk. Setetes bening air mata Kanaya jatuh. Kedua tangannya menggenggam erat liontin yang tersembunyi di balik hijabnya.
"Terima kasih mama, Kanaya akan menyiapkan sarapan untuk semua orang!" sahut Kanaya bersamaan dengan tetes air matanya yang jatuh.
"Mama, kenapa hukuman mama seberat ini? Kanaya tidak akan sanggup!" ujar Rafan membela Kanaya.
"Kak Rafan, Kanaya tidak keberatan kehilangan semua itu. Asalkan mama tidak mengambil kalung ini!"
"Bagaimana kamu akan pergi ke sekolah?"
"Aku bisa jalan kaki atau menumpang pada teman!" sahut Kanaya santai, sembari menyeka air matanya. Kanaya menangis bukan karena tak memiliki kemewahan. Namun tangisnya lebih karena takut kehilangan kalung pemberian Embun.
"Tidak bisa, mama harus mengembalikan semuanya!" ujar Rafan lantang, Kanaya menggeleng lemah sembari menahan tangan Rafan.
"Kak Rafan, itu hanya harta tak berharga bagiku. Aku sanggup hidup tanpa semua itu. Asalkan aku masih bisa bertemu denganmu. Aku tidak ingin jauh darimu dan keluarga ini. Kalian segalanya dalam hidupku, aku tidak butuh itu semua!" ujar Kanaya, Rafan menatap nanar Kanaya.
"Maafkan kakak dik, maaf kakak telah mengacuhkanmu selama ini!"
"Kanaya, ambil amplop ini. Setidaknya itu cukup untuk satu bulan ke depan!"
"Tidak perlu ma, Kanaya salah dan harus bertanggungjawab!"
"Bukankah kamu harus menanggung hidup beberapa orang. Gunakan uang itu untuk kewajibanmu!" ujar Embun, lalu mengembalikan amplop berisi uang milik Kanaya.
"Rafan, selama ini kamu mengacuhkan Kanaya. Buktikan kamu bisa menjadi kakak yang baik. Penuhi kebutuhan Kanaya dengan penghasilanmu, tentu saja dengan izin Hanna istrimu!" ujar Embun, Rafan mengangguk mengiyakan. Embun berdiri meninggalkan semua orang. Abra melihat punggung Embun yang menjauh.
"Rafan, percaya atau tidak orang yang paling terluka saat ini? Dia adalah mama, ibu yang harus tegas demi mendidik dan menyatukan kedua buah hatinya!" ujar Abra, lalu mengikuti langkah Embun. Kanaya berdiri meninggalkan Rafan dan Haykal.
"Kanaya!"
"Ada apa kak?"
"Kamu ingin kemana?" ujar Rafan, Kanaya menoleh dengan raut wajah datar. Sekilas Kanaya menoleh ke arah Haykal.
"Aku harus ke dapur menyiapkan sarapan. Sudah sangat siang, kalian tentu belum sarapan. Apalagi guru pengadu itu, terlihat dia sangat kurus. Pasti dia kurang makan, sebab tidak ada yang memasak untuknya!" sahut Kanaya sinis, Rafan terkekeh mendengar kekesalan Kanaya pada Haykal.
"Kenapa bukan kamu saja yang memasak untukku?" batin Haykal, sembari menatap punggung Kanaya yang menjauh.
"Bersiaplah Haykal, Kanaya akan beraksi!" goda Rafan, Haykal menghela napas.
__ADS_1