KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keraguan yang Terucap


__ADS_3

"Sayang!"


"Ada apa kak? Kenapa belum turun sarapan? Sudah jam 07.00 WIB, papa pasti sudah menunggumu!" ujar Kanaya lirih, Haykal menggeleng lemah.


Haykal duduk di sofa panjang di kamar Kanaya. Nampak penampilan Haykal yang santai, tak terlihat Haykal memakai pakain ke kantor. Kanaya sempat heran, tapi Kanaya tidak banyak bertanya. Haykal berhak bekerja atau tidak, sebab dia bos dan pegawai dalam kantornya sendiri. Kanaya menghela napas, memahami arti diam Haykal.


"Kenapa tidak pergi ke kantor? Kakak sakit atau sedang ada masalah!" ujar Kanaya lirih, Haykal diam tak bergeming. Kanaya berjalan menghampiri Haykal. Kanaya duduk tepat di sebelah Haykal.


Kanaya duduk begitu dekat dengan Haykal. Harum parfum Haykal tercium nyata oleh Kanaya. Dengan begitu tenang Kanaya duduk di dekat Haykal. Meski Haykal mengacuhkannya tanpa alasan, Kanaya tetap tenang berada di dekat Haykal. Kanaya menyandarkan kepalanya di pundak Haykal. Mencoba mencari alasan diam dan dingin Haykal yang berubah dalam semalam.


"Aku hanya akan bersandar dalam tiga menit Lebih dari tiga menit kakak tidak menjawabku. Aku akan pergi dan aku pastikan kakak tidak akan melihatku lagi!" ujar Kanaya hangat, sembari tetap bersandar pada pundak Haykal. Kanaya merangkul mesra tubuh kekar Haykal. Menyusup dalam dada bidang Haykal. Mendengarkan detak jantung suami yang telah mengikatnya dengan janji suci.


"Kenapa kakak mengacuhkanku?" ujar Kanaya lirih, hembusan napas Kanaya menyusup ke dalam dingin hati Haykal.


Kanaya tersenyum melihat sikap dingin Haykal. Tidak ada amarah, tapi perkataan Kanaya bukan omong kosong. Kanaya akan menepatinya, jika Haykal tetap mengacuhkannya dalam tiga menit. Kanaya tetap pribadi yang tegas dan selalu menepati janjinya. Kanaya mengangkat tangan Haykal, lalu mencium punggung tangan Haykal hangat. Kanaya meletakkan tangan Haykal tepat di dadanya.


"Satu, dua, tiga!" ujar Kanaya, lalu berdiri tepat di hitungan ketiga. Kanaya berjalan tanpa menoleh ke arah Haykal. Namun langkah Kanaya terhenti, ketika tangan Haykal menahannya. Haykal menarik tangan Kanaya, meminta Kanaya tetap tinggal.


"Sayang!" ujar Haykal lirih, sembari menahan tangan Kanaya. Namun semua berubah, Kanaya kini terdiam. Sedikitpun Kanaya tidak menoleh ke arah Haykal.

__ADS_1


"Sayang!" ujar Haykal, sembari memeluk tubuh Kanaya dari belakang. Haykal berdiri tepat di belakang Kanaya. Kepalanya bersandar mesra di bahu Kanaya. Menyusup dalam tengkuk Kanaya yang tertutup oleh hijab.


"Kak, aku harus pergi!"


"Tiga menit waktu yang kamu berikan padaku. Sedangkan padaku kamu meminta waktu tiga tahun. Katakan sayang, mungkinkah aku sanggup menunggu selama itu? Jika menungguku selama tiga menit saja, kamu sudah memilih pergi!" ujar Haykal lirih, Kanaya diam menunduk. Terdengar helaan napas Kanaya, jelas ada rasa kecewa Kanaya pada Haykal.


Kanaya melepaskan pelukan Haykal, tanpa menoleh ke arah Haykal. Kanaya berjalan menuju balkon, dia berdiri di bawah terik mentari pagi. Hangat yang mulai terasa membakar tubuhnya. Hanya beberapa menit, tubuh Kanaya mulai meneteskan peluh. Kanaya merasakan tubuhnya penuh debgan keringat. Kanaya melepaskan hijab, rambut hitam legamnya terurai sempurna.


Haykal terpaku melihat penampilan Kanaya. Namun itu berlangsung hanya beberapa detik, sampai Haykal tersadar akan penampilan Kanaya tanpa hijab. Haykal menarik tangan Kanaya, meminta Kanaya masuk ke dalam kamar. Haykal tidak ingin ada seseorang yang melihat penampilan Kanaya tanpa hijab. Haykal terlihat kesal, tapi dia merasa heran kenapa Kanaya bisa bersikap seperti itu?


"Sayang, pakai kembali hijabmu. Aku tidak ingin seseorang melihat penampilanmu seperti ini!"


"Kenapa kakak cemas? Hanya kakak yang melihatku sekarang. Jangankan rambutku, setiap inci tubuhku halal untukmu. Jika kakak merasa tiga tahun terlalu lama. Detik ini, aku mengizinkan kakak menyentuh tubuhku. Kakak berhak memiliki diriku sepenuhnya. Tanganmu berhak membelai seluruh tubuhku!" ujar Kanaya, Haykal terpaku mendengar perkataan Kanaya.


Kanaya terus menuntun tangan Haykal, membuka satu per satu kancing gamis Kanaya. Haykal terdiam tak berdaya, detak jantungnya berhenti. Tatkala dia melihat keindahan tubuh Kanaya yang tersimpan di balik gamis panjangnya. Aliran darah Haykal mendidih, tak lagi desiran hangat yang dia rasakan. Melainkan aliran panas yang siap membakar tubuhnya. Keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Dia merasa tak berdaya dengan hasrat yang ada dalam tubuhnya.


"Sekarang, milikki aku kak. Seluruh tubuhku halal untukmu, tidak perlu menunggu tiga tahun. Detik ini kakak bisa meminta hak sebagai seorang suami!" ujar Kanaya, sembari terus memegang tangan Haykal.


"Lepaskan, apa yang kamu pikirkan? Aku tidak pernah ingin melakukan ini. Aku mungkin mencintaimu, tapi aku tidak akan menghiba hanya untuk satu hasrat yang bukan untukku!"

__ADS_1


"Bukankah kakak bertanya, kenapa aku tidak bisa menunggumu lebih dari tiga menit? Inilah jawabanku, berada di dekatmu lebih dari tiga menit mampu membuatku kehilangan akal. Jangankan melepas hijabku, melepas gamis yang melekat di tubuku aku sanggup. Jika kakak berpikir, hanya kakak yang mencintaiku dan aku tak mencintaimu. Nyatanya kakak salah, cintaku bukan hanya ketulusan. Cintaku bak sinar mentari pagi, terasa hangat tapi mampu membakar tubuhku hanya dalam waktu tiga menit. Aku bisa menyerahkan seluruh hidupku padamu, tapi di waktu yang bersamaan. Aku akan membencimu seumur hidupku. Cintaku bukan hanya ketulusan, tapi juga kebencian. Jadi jangan pernah menguji ketulusannya, jika tidak ingin melihat kebenciannya!"


"Sayang, maafkan aku. Jujur aku hanya takut kehilanganmu. Aku cemburu melihat kehangatanmu bersama Daffa. Semalam, tak ada jarak diantara kalian berdua. Padahal padaku, kamu tak pernah sehangat itu!"


"Daffa tak lebih dari sahabat, tidak ada rasa diantara kami. Meski aku berada di dekatnya selama berjam-jam. Aku tidak akan kehilangan akal. Maaf jika kedekatan kami memancing rasa cemburumu. Namun seharusnya kakak mengerti, cinta bukan tentang saling memiliki tapi juga saling percaya!"


"Sayang, maafkan aku tak pernah melihat cintamu!"


"Kak, mengacuhkan bukan artinya tak menghargai. Menjauh bukan berarti tak ingin bersama. Terkadang ada rasa saling benci, agar rasa cinta itu terasa indah. Seandainya kakak meragukan cintaku dan berpikir memilikiku menjadi bukti rasa cinta itu. Maka miliki aku sekarang, tak ada lagi sehelai benang yang menghalangi pandanganmu!" ujar Kanaya, sembari membuka gamis yang dikenakannya. Haykal langsung menutup matanya. Haykal tak ingin melihat Kanaya dalam kondisi seperti ini.


"Kenapa kakak menutup mata? Bukankah ini yang kakak tunggu selama tiga tahun!"


"Kanaya cukup, aku sudah meminta maaf. Aku salah telah meragukanmu, tapi tak seharusnya kamu menghina cintaku. Aku mencintaimu dengan tulus, bukan karena tubuhmu!" ujar Haykal lantang penuh amarah, Kanaya tersenyum sinis. Kanaya mengenakan gamis yang dilepasnya.


"Bukan aku yang menghina cintamu, tapi kakak yang meragukan kehormatanku. Kakak merasa aku tak pernah menghargai kehadiranmu. Rasa cemburumu membuktikan, kakak tak pernah percaya padaku. Seharusnya kakak berpikir dua kali atau bahkan seribu kali. Tatkala memutuskan menikah dengan gadis di belia sepertiku. Bukan hanya waktu yang aku minta, tapi kesabaran menghadapi sikap kekanak-kanakan. Jika kakak merasa berat, berhenti sebelum kita saling menyakiti!"


"Kanaya, kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" ujar Haykal tak percaya, perkataan Kanaya bak isyarat untuk sebuah perpisahan.


"Karena keraguanmu telah menyakitiku, cinta ini seolah ingin membunuhku. Sebelum rasaku semakin dalam dan menyakitkan. Lebih baik kita saling menjauh, mencari arti cinta dalam pernikahan kita!"

__ADS_1


"Tidak, aku mohon jangan katakan itu!" ujar Haykal sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu!" ujar Kanaya, lalu berjalan keluar dari kamarnya.


__ADS_2