KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hangat yang tercipta


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, usia kandungan Embun menginjak tujuh bulan. Kurang lebih dua bulan lagi, akan hadir baby pelengkap kebahagian keluarga kecil Abra dan Embun. Pengikat cinta suci Embun dan Abra yang akan memancarkan cahaya terang dalam gelap keluarga Embun dan Abra.


Secepat waktu yang berjalan, hubungan Abra dan Embun semakin baik. Tak ada pertikaian atau perselisihan yang tak berarti dalam keluarga mereka. Ketenangan yang bahkan menyiratkan hambar hubungan antara Abra dan Embun. Memang tak lagi ada perselisihan, bahkan tak ada suara dalam hubungan keduanya. Semua berjalan dengan baik, terlalu baik sampai keduanya menjadi asing satu sama lain.


Hubungan yang mulai mendingin, berawal dari keputusan Arya yang meminta Embun mengambil alih perusahaan Daniel. Meski Embun melakukannya dengan izin dari Abra. Namun keraguan Abra akan watak dan sikap Daniel. Membuat Abra merasa galau, sampai Abra selalu menghindar bertemu dengan Embun. Tak ada amarah atau rasa kecewa akan sikap Embun. Abra menghindar semua demi ketenangan. Abra tidak ingin rasa cemburu mengusai hatinya. Sampai akhirnya dia marah dan memicu perdebatan diantara dirinya dan Embun. Sikap bijak yang diambil Abra, nyata membuat hubungan keduanya hambar dan dingin. Abra tak lagi hangat, Embun tak lagi merasakan cinta penuh kasih sayang dari Abra. Semua berjalan terlalu baik, tanpa ada guratan rindu yang mengiringinya.


Kreeeekkk


"Kak, bisa kita bicara!" ujar Embun, sesaat setelah membuka pintu ruang kerja Abra.


Tepat pukul 23.00 WIB, Abra pulang dari kantor. Hampir setiap hari, Abra pulang larut malam. Semua hanya demi menghindari pertemuannya dengan Embun. Sesungguhnya Embun tak pernah tertidur. Dia menunggu Abra pulang, tapi sikap Abra yang jelas menghindar darinya. Membuat Embun merasa takut untuk menyapa. Embun memilih berdiam diri, menanti Abra masuk ke dalam kamar.


Namun harapan terus pupus, ketika seminggu lebih Embun menunggu. Abra tidak pernah datang langsung menemuinya. Abra akan masuk ke dalam ruang kerjanya. Abra baru masuk ke dalam kamarnya. Saat ayam jantan mulai berkokok, malam yang mulai tergantikan pagi. Sama halnya malam ini, Abra langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Embun memutuskan untuk pergi menemui Abra. Sikap dingin Abra, nyata menyiksa hatinya.


"Kamu belum tidur!" ujar Abra kaget, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


Abra mendongak menatap jam dinding, tepat pukul 00.00 WIB. Abra terkejut melihat Embun masih terjaga. Tepat tengah malam Embun memutuskan menemui Abra. Mencari alasan sikap dingin ayah dari putranya. Selama hampir dua minggu, Abra dan Embun hanya bertemu saat sarapan. Keduanya berada di depan meja yang sama. Namun seolah tinggal di dunia yang berbeda. Tak ada kehangatan, semua terasa dingin dan hambar.


"Aku tidak pernah tidur, sampai kamu masuk ke dalam kamar. Aku bahkan tidak pernah makan malam. Sebab aku tahu, kakak tidak pernah makan malam. Haruskah hubungan kita sedingin ini? Jika memang semua telah berubah, kenapa harus bertahan? Lebih baik bicara terus terang!" ujar Embun lirih, salah satu tangannya meremas ujung hijab panjangnya. Sedangkan tangan kanannya memegang perutnya yang tiba-tiba kram.

__ADS_1


"Sayang, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bicara seakan-akan ingin mengakhiri hubungan diantara kita?" sahut Abra cemas, langkah kaki tegap Abra terasa begitu lemah.


Perkataan Embun nyata membuatnya takut. Sebuah rasa takut akan kehilangan dua orang yang paling disayanginya. Abra berjalan menghampiri Embun. Abra langsung menarik tangan Embun, menggenggam erat tangan Embun yang mulai berkeringat dingin. Jelas tidak mudah bagi Embun mengatakan semua itu. Namun kata terlanjur terucap, Embun tak lagi bisa menahan rindu yang menyiksa. Seandainya semua harus berakhir, Embun ingin semuanya berakhir secepat mungkin. Sebelum luka dan duka semakin dalam menganga.


"Bukankah itu yang kakak harapkan. Hubungan diantara kita tidak lagi bahagia. Dingin sikapmu menyiksaku, diammu seolah ingin membunuh cintaku dan menyemaikan benih rasa benci dihatiku. Aku hanya mengatakan sesuatu yang sulit kamu katakan. Aku bukan wanita sempurna yang mampu menahan marah dan rasa sakit!"


"Sayang, kamu salah paham!" ujar Abra, lalu menarik tubuh Embun dalam pelukannya. Abra mengecup berkali-kali kepala Embun. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Embun mampu berpikir sedangkal itu.


"Lepaskan!" ujar Embun meronta, Abra semakin erat mendekap Embun. Abra tidak ingin kehilangan Embun.


"Sayang, maafkan aku. Percayalah, aku tidak akan mengacuhkanmu lagi. Namun jangan pernah sekalipun terbersit dalam benakmu. Ingin mengakhiri pernikahan diantara kita!!"


"Dua minggu lebih, kakak tidak pernah menatapku. Sarapan menjadi waktu bersama kita. Setelah itu, semua kembali menjadi hambar tanpa rasa. Aku tersiksa dengan sikap dinginmu!" ujar Embun, sembari memukul-mukul dada Abra. Embun marah dan kecewa, seandainya Abra bicara jujur. Mungkin Embun tidak akan merasakan sakit ini.


"Kamu jahat!" ujar Embun, sembari memukul Abra tanpa henti.


"Sayang, aku mohon maaf. Tidak lagi aku mengacuhkanmu. Aku akan selalu berada di sekitarmu!" ujar Abra, Embun mulai terlihat tenang. Embun memeluk Abra sangat erat, sikap manja yang sejak kemarin ditahan oleh Embun.


"Kenapa kakak berubah? Apa semua ini ada hubungannya dengan Daniel?" ujar Embun, Abra menunduk. Tangannya semakin erat memeluk Embun. Seolah Abra takut kehilangan Embun.

__ADS_1


Embun merasakan kecemasan di hati Abra. Pelukan hangat yang terlalu erat. Jelas ingin mengatakan, betapa Abra takut kehilangan Embun. Namun langkah Abra salah, dia memikirkan semua dengan hati bukan pikiran. Abra memutuskan dengan rasa, sedangkan banyak hal yang tidak bisa ditunda.


"Aku sudah menduganya, perubahan sikap kakak. Semua berawal dari keputusan papa yang memintaku mengelola perudahaan Daneil!"


"Sayang, maafkan aku!"


"Kenapa kakak diam? Jika memang kakak tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa. Aku akan menolak syarat dari papa!"


"Jangan sayang, papa Arya akan kecewa. Seharusnya aku bersikap dewasa, bukan malah membebanimu dengan rasa cemburu ini!" ujar Abra, sembari memeluk erat Embun. Sesekali Abra mencium puncak kepala Embun. Dingin yang mencair, tergantikan dengan kehangatan penuh cinta.


"Aku akan mengatakan pada papa. Perusahaan Daniel akan dikelola Nur, aku hanya akan membantu!"


"Sayang!" ujar Abra lirih, gelengan kepala Abra. Jelas tidak ingin Embun mengambil keputusan besar itu.


"Cukup dua minggu, aku merasakan dinginmu. Aku tidak akan sanggup hidup dengan sikap acuhmu. Lebih baik aku melihat amarah papa. Daripada aku melihat sikap dinginmu. Kamu segalanya dalam hidupku, aku tidak akan sanggup jauh darimu!"


"Sayang!" ujar Abra penuh rasa tidak percaya.


"Semua itu benar kak, aku tidak akan sanggup hidup dengan dinginmu. Kamu laki-laki yang paling aku sayangi. Hanya padamu akan kuserahkan hidupku!" ujar Embun, sembari memeluk erat Abra.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak bisa hidup jauh darimu. Membayangkan kamu dekat dengan laki-laki lain. Membuatku frustasi, sebab aku takut kehilangan dirimu. Maaf, jika sikapku malah menyiksamu!"


"Abra Achmad Abimata, aku Embun Khafifah Fauziah. Dengan sepenuh hati mengatakan, aku mencintaimu selamanya!" ujar Embun lantang.


__ADS_2