
"Papa, kenapa berdiri di luar?" sapa Abra, Haykal mendongak menatap Abra.
Sebaliknya Abra merasa heran melihat Haykal berdiri di luar rumahnya. Sedangkan Abra melihat, bukan hanya ada mobil Haykal yang terparkir di halaman rumahnya. Nampak juga mobil Iman dan Arya tengah terparkir manis di depan rumahnya. Sejenak Abra merasa heran, melihat banyak mobil terparkir di depan rumahnya. Abra merasa tak ada janji makan malam dengan siapapun?
"Papa baru saja datang, mama Indira sudah masuk ke dalam. Lantas, kenapa kamu pulang semalam ini?" ujar Haykal, Abra mengangguk mengiyakan.
"Kita masuk bersama, kebetulan semua orang sedang berkumpul!" ajak Abra, Haykal diam terpaku.
Haykal menatap lekat Abra putranya. Penampilan Abra yang kusut, jelas menunjukkan pada Haykal. Betapa keras Abra bekerja hari ini. Selarut ini Abra baru pulang, memang masih pukul 20.00 WIB. Namun semenjak Abra menikah, Abra selalu pulang lebih awal. Sedangkan malam ini, Abra terlihat begitu keras bekerja. Haykal menunduk menatap tanah tempatnya berpijak. Ada sebuah rasa bersalah, dia penyebab kesusahan yang dirasakan Abra saat ini. Pembenaran akan semua perkataan Nissa padanya.
"Abra, perusahaanmu sedang dalam masalah!"
"Tidak, kata siapa? Perusahaan Abra baik-baik saja. Hanya saja beberapa hari ini, ada pekerjaan yang sedikit rumit. Aku dan Fahmi harus teliti dalam mengerjakannya. Maklum pa, rekan kerja perusahaan Abra tidak sembarangan!"
"Siapa Abra?"
"Tuan Dirgantara dan istrinya, beliau pembisnis handal dan disiplin!" sahut Abra menerangkan, Haykal menepul pelan bahu Abra.
"Papa bangga padamu!" ujar Haykal lirih, tepat bersamaan dengan pukulan hangat penuh cintanya pada Abra. Haykal menarik tangan Abra, lalu memeluk Abra dengan sangat erat. Haykal sempat meneteskan air mata. Ada rasa ngilu yang teramat. Saat menyadari, dia penyebab kesulitan yang Abra alami saat ini.
"Maafkan papa, maaf Abra!" batin Haykal seraya memeluk tubuh Abra.
"Papa sedang ada masalah?" ujar Abra cemas, Haykal menggeleng lemah.
"Kita masuk, mereka sudah menunggumu. Papa yakin, kamu sangat merindukan putramu. Buah hati yang menghapus lelah dan lukamu dalam satu detik!" ujar Haykal lirih, Abra menoleh tidak percaya. Haykal menoleh dengan senyum simpul. Abra merasa aneh dengan hangat sikap Haykal. Walau hangat inilah yang selalu Abra harapkan. Hangat yang selalu Abra panjatkan dalam sujud dan doanya. Berharap Haykal memeluk tubuhnya dengan cinta.
"Tidak perlu heran, papa merasakan hal yang sama saat kamu terlahir. Papa tidak ingin jauh darimu. Seandainya papa mampu, papa akan membawamu bekerja. Agar papa bisa melihatmu setiap rindu menyapa hati papa. Masa indah yang tak pernah bisa papa lupakan!" ujar Haykal lirih, Abra diam menatap nanar Haykal. Abra terharu mendengar tulus kasih sayang Haykal.
__ADS_1
Haykal masuk ke dalam rumah Abra, denga langkah perlahan. Abra mengikuti Haykal masuk ke dalam rumahnya. Nampak Iman dan Arya tengah duduk bersama di ruang tengah. Sedangkan Indira berada di dapur bersama Afifah. Abra merasa ada yang aneh dengan kondisi rumahnya saat ini. Semua orang berkumpul tanpa ada satu rencana.
"Duduklah bersama kami Haykal. Sebentar lagi, kita makan malam!" ujar Iman lantang penuh dengan ketulusan.
Haykal dan Abra berjalan menghampiri Iman dan Arya. Abra mencium punggung tangan Arya dan Iman bergantian. Haykal melihat dengan kedua matanya, betapa putranya mendapatkan kasih sayang dan kehangatan dari orang lain. Ayah yang tak pernah ingin melihat Abra terluka. Ayah yang menganggap Abra selayaknya putra sendiri. Tidak membedakan antara Embun dan Abra. Kasih sayang yang membuat Haykal merasa ditampar.
"Dimana Embun? Kenapa dia tidak menemani papa dan Abah?" ujar Abra, Arya menoleh ke arah kamar Abra. Isyarat Embun tengah berada di kamarnya. Indira keluar dari dapur dengan menggendong Rafan. Sedangkan Afifah membawa beberapa cangkir minuman dan satu piring kue. Abra menoleh ke arah kamarnya, hatinya merasa gelisah sekaligus tidak percaya. Ketika dia tak melihat Embun ada diantara keluarganya. Setidaknya menyapa Haykal dan Indira.
"Mungkinkah Embun enggan menyapa papa dan mama Indira. Tidak biasanya Embun tidur di sore hari. Pasti ada alasan yang membuatnya memilih tetap diam di dalam kamar. Semoga pemikiranku salah, aku percaya Embunku tidak akan menjauh dari orang-orang yang datang mengulurkan tangan penuh kasih sayang. Tidak terkecuali, papa dan mama Indira. Keluarga yang tak pernah menganggapnya ada dan kini datang menyapa dengan uluran tangan terbuka!" batin Abra.
"Kak Arya!"
"Iya sayang!" sahut Arya dengan lantang, tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Iman dan Afifah terkekeh mendengar sahutan Arya yang penuh cinta pada Fitri. Haykal dan Indira hanya diam, walau Haykal merasa risih mendengar perkataan Arya yang terkesan berlebihan. Fitri tersipu malu, melihat sikap Arya yang penuh cinta padanya. Kebahagian Fitra seolah sempurna dengan sikap manis Arya padanya.
"Kak Arya, tolong belikan obat ini. Embun membutuhkan obat ini!" ujar Fitri, sembari memberikan resep obat pada Arya. Arya mengambil resep dari tangan Fitri. Tanpa banyak bicara, Arya langsung pergi menuju apotik. Arya orang yang paling cemas, ketika melihat Embun sakit. Kecemasan yang Arya simpan dalam diam. Hanya demi ketenangan orang-orang yang menyayangi Embun.
"Ada apa dengan Embun? Kenapa dia harus minum obat?" ujar Abra cemas, Fitri menggelengkan kepalanya lemah. Isyarat semua baik-baik saja.
Tap Tap Tap
Abra berlari menuju kamar Embun, dengan langkah cepatnya Abra ingin segera memeluk Embun. Walau jarak kamar sangat dekat, entah kenapa Abra begitu lama sampai di kamarnya? Kegelisahan Abra menguasai hati dan pikirannya. Abra benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk.
Braaakkk
"Sayang!" teriak Abra, tepat seteah dia membuka pintu dengan kasar.
__ADS_1
Abra berhambur menghampiri Embun, seketika tubuh Abra membeku. Dia melihat Embun tidur meringkuk di balik selimut tebal. Nampak tubuh Embun bergetar hebat. Abra semakin kalut, pertama kalinya dia begitu takut melihat Embun sakit. Sontak Abra langsung mengangkat tubuh Embun. Abra memeluk erat tubuh Embun, dengan mata sayu Embun menatap Abra. Seutas senyum seolah ingin mengatakan dirinya baik-baik saja.
Abra mencium kening Embun dengan sangat lembut. Abra tak lagi peduli akan demam yang menyerang Embun. Hangat kecupan manis Abra, seakan ingin mendinginkan panas tubuh Embun. Abra terus mencium lembut kening Embun, berharap panas tubuh Embun berpindah padanya. Abra tak lagi peduli panas yang menyergap bibirnya. Abra hanya ingin terus mencium dan dekat dengan Embun.
"Sayang, maafkan aku!" ujar Abra lirih, sembari memeluk erat tubuh Embun.
Embun mengangguk pelan, menandakan dia mengiyakan perkataan Abra. Entah kenapa bibir Embun terasa kelu? Tak ada suara yang mampu terucap dari bibirnya. Embun merasa sangat lemah, tubuhnya tak mampu duduk dengan tegak. Kepalanya terasa sangat berat dan seolah ingin pecah. Semua itu terjadi lantaran tekanan darah tinggi Embun yang mendadak tinggi. Embun benar-benar tak berdaya, hanya berbaring keinginan Embun saat ini.
"Kak, kepalaku sakit!" ujar Embun lirih dan lemah. Suara Embun benar-benar lemah, tak ada tenaga dalam kata yang terucap di bibir Embun.
Abra langsung menarik tubuh Embun, Abra memilih duduk di belakang Embun. Abra menyandarkan kepala Embun tepat di dadanya. Abra mengusap lembut kepala Embun yang tertutup hijab. Dengan penuh kasih sayang, Abra memijat pelipis Embun. Menghilangkan sedikit rasa sakit kepala Embun. Sesekali Abra mencium lembut puncak kepala Embun. Abra benar-benar kalut melihat sakit Embun. Seandainya mungkin, Abra ingin menggantikan rasa sakit yang dirasakan Embun. Abra tak sanggup melihat Embun diam menahan rasa sakit. Hatinya seolah teriris, setiap merasakan tubuh Embun yang bergetar hebat.
"Sayang, kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa pulang, menemani dan merawatmu!" ujar Abra lirih penuh kemesraan. Embun mengedipkan kedua matanya, walau Embun menyadari Abra tidak akan pernah melihatnya. Embun terlalu lemah, untuk menyahuti perkataan Abra. Dengan kehangatan tangannya, Embun membalas pelukan hangat Abra. Embun menggenggam erat tangan Abra. Menyandarkan tubuh dan hidupnya pada Abra. Laki-laki yang membuatnya jatuh cinta dengan sepenuh hati.
Lama keduanya saling berpelukan. Abra begitu cemas dengan sakit Embun. Sebaliknya Embun begitu tenang dalam pelukan Abra. Embun menyandarkan kepalanya dengan menutup kedua matanya. Embun merasakam harum tubuh Abra yang penuh dengan keringat. Peluh yang menetes demi kebahagian dirinya dan Rafan. Kerja keras Abra yang tersirat dari bulir-bulir keringat. Pengorbanan besar dan penuh cinta Abra, untuk keluarga kecilnya.
"Kak!"
"Iya sayang!" sahut Abra, Embun menepuk pelan tempat tidur di sisi kirinya. Abra menoleh ke arah tangan Embun menepuk. Abra langsung mengangguk, dia mengerti maksud Embun.
Abra membaringkan Embun perlahan. Abra tidak ingin Embun merasakan sakit kepalanya kambuh. Abra sangat berhati-hati meletakkan kepala Embun di atas bantal. Namun Embun menggelengkan kepalanya. Seolah tidak ingin tidur menggunakan bantal. Embun menoleh menatap sendu Abra. Sebuah tatapan memelas yang membuat hati Abra tersentuh.
"Kamu ingin tidur berbantal tanganku!" ujar Abra, dengan polosnya Embun mengangguk.
Abra langsung tidur di samping Embun. Meletakkan kepala Embun tepat di atas lengannya. Embun meringkuk dalam dekapan Abra. Menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Abra. Kedua tangan Embun memeluk erat tubuh Abra. Embun begitu membutuhkan kehangatan dan rasa nyaman dari Abra. Dalam sakit dan lemahnya, Embun begitu membutuhkan Abra suami tercintanya. Sesekali Abra mencium puncak kepala Embun. Tubuh Embun yang bergetar, mulai terlihat tenang. Sedangkan Abra mulai tenang, tak lagi Abra cemas akan sakit Embun. Selama Abra menemani Embun, Abra percaya Embun akan baik-baik saja. Keduanya terus berpelukan sampai Akhirnya Abra tertidur pulas di samping Embun.
"Kenapa kamu melamun Haykal? Kamu terkejut melihat Abra begitu takut kehilangan Embun. Tanpa kamu sadari, Embun dan Abra bagai dua sisi mata uang. Mereka tidak sama dan saling bertolak belakang. Namun mereka akan tetap satu, hidup sekarang atau nanti!" bisik Iman, Haykal langsung menoleh.
__ADS_1
"Aku kebetulan lewat, aku ingin pergi ke kamar mandi. Tanpa sengaja aku melihat kebersamaan mereka!"
"Sampai kapan kamu akan mengelak? Embun putriku tidak akan membencimu. Sebab dia sangat mencintai Abra, imam dunia akhiratnya. Jangan pernah memaksa diri menerima Embun, tapi demi senyum putramu. Terimalah Embun sebagai menantu di atas kertas!" ujar Iman lirih, lalu meninggalkan Haykal sendirian.