
Waktu berlalu, malam itu terakhir kalinya Haykal bertemu Kanaya. Beberapa kali Haykal mencari kesempatan bertemu Kanaya. Namun tak sekalipun, dia bisa bertemu Kanaya. Usaha Haykal sia-sia, tak ada celah bertemu dengan Kanaya. Jangankan sosok Kanaya, bayangan Kanaya tak lagi bisa dilihat oleh Haykal. Kemarahan Kanaya malam itu, bak air cuka yang menyiram luka hatinya. Haykal melewati hari dengan luka yang teramat pedih.
Bahkan Fandy menyewa beberapa orang, untuk mencari keberadaan Kanaya. Namun semua menemui jalan buntu. Haykal tersudut pada satu titik. Menemui keluarga besar Kanaya, demi satu kata maaf. Meski tak ada harapan baginya menjadi satu dengan Kanaya. Setidaknya dia bisa pergi dengan kata maaf.
Tepat pukul 20.00 WIB, di malam minggu yang panjang. Haykal datang berkunjung ke rumah Kanaya. Usaha terakhir yang mungkin bisa membuatnya bertemu Kanaya. Mobil mewahnya masuk ke dalam halaman depan rumah Abra. Rumah tempat Haykal meninggalkan cintanya. Haykal turun dari mobilnya dengan langkah lebar penuh wibawa. Nampak langkah gamang Haykal, ketika dia menginjakkan kaki di teras rumah. Namun dengan tekad yang bulat, Haykal memberanikan diri mengetuk pintu besar rumah Abra.
Tok Tok Tok
Ketukan Haykal terdengar begitu nyaring. Kondisi rumah yang begitu sepi, membuat lirih ketukan Haykal terdengar nyaring. Debaran jantung Haykal, semakin menambah kegugupan hatinya. Beberapa menit penantianya, terasa lama dan lambat. Hatinya berada di persimpangan, antara siap dan tidak menerima penolakan Kanaya.
Kreeekkk
"Iya, ingin bertemu siapa?" sapa Hanna, tanpa mendongak menatap ke arah Haykal. Hanna membuka pintu, sesaat setelah mendengar suara ketukan. Kebetulan Hanna tengah berada di ruang tengah bersama kedua buah hatinya.
"Assalammualaikum Hanna!" sapa Haykal ramah, Hanna mendongak. Dua bola matanya membulat sempurna. Haykal berdiri tepat di depannya. Sosok yang tak pernah dia bayangkan datang mengetuk pintu rumahnya lagi.
"Haykal!" sahut Hanna terbata, kedipan mata Haykal isyarat pembenaran akan rasa tidak percaya Hanna.
Hanna membuka pintu selebar mungkin. Hanna meminta Haykal masuk ke dalam rumah. Rafan baru saja datang dari rumah sakit. Sebab itu Hanna berani mempersilahkan Haykal masuk ke dalam rumah. Setelah Haykal duduk, Hanna masuk ke dapur. Meminta seseorang membuatkan minuman untuk Haykal. Tidak ada yang berubah, sikap seluruh keluarga Kanaya tetap sama. Hanya saja status yang mungkin tak lagi sama.
"Silahkan diminum!" ujar Hanna, Haykal mengangguk pelan. Namun tangan Haykal tetap diam. Seakan dia tak berniat meminum kopi yang disuguhkan oleh Hanna.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Lama kita tidak bertemu!" ujar Hanna, memecah kesunyian. Haykal menunduk, sikap santai dan hangat Hanna. Tak mampu membuatnya tenang, rasa gelisah dihatinya begitu besar. Dia tidak sanggup menutupi kecemasannya.
"Haykal, apa kamu ingin bertemu Kanaya?" ujar Hanna tegas dan lugas. Haykal diam membisu, keberaniannya sirna. Hanya ada kecemasan tanpa alasan yang jelas.
"Diammu menjawab keyakinanku!" sahut Hanna, Haykal mendongak. Haykal merasa heran, tapi ada sinar harapan dalam tatapannya. Berharap Hanna mengatakan keberadaan Kanaya. Haykal sangat ingin bicara dari hati ke hati. Mencari akhir dari rasa cinta yang ada di dalam hatinya.
"Kanaya baru saja pulang!" ujar Hanna, Haykal menatap tak percaya. Seakan jawaban Hanna hanya sebuah kebohongan semata. Namun perkataan Hanna itulah kebenarannya.
"Pulang, bukankah ini rumahnya!"
"Kanaya tidak tinggal di sini. Sejak dia pulang dari luar negeri. Kanaya memilih tinggal sendiri. Kanaya tetap putri keluarga ini, tapi dia memilih hidup tanpa keluarga ini. Keputusan besar yang kami terima dengan hati besar!"
"Dia tetap Kanaya, tak ada yang berbeda dengannya. Hanya cara pandang dan hidup Kanaya yang kini berbeda dengan kita. Kanaya tetap adik kecilku, tapi kemandirian Kanaya tak lagi membutuhkan uluran tanganku!" ujar Hanna lirih, Haykal menggelengkan kepalanya tak percaya. Kebenaran akan Kanaya membuat rasa bersalah Haykal semakin besar.
"Datanglah ke rumahnya, bicara dengannya sebagai teman bukan suaminya. Niscaya, kamu akan mengenal Kanaya lagi!"
"Suami!"
"Iya Haykal, secara tidak langsung kamu masih suami Kanaya. Selama lima tahun, tak pernah sekalipun kamu mengucapkan talak pada Kanaya. Kamu mengembalikan Kanaya pada papa sebagai amanah. Meski itu bisa dikatakan sebagai kata pisah. Namun secara agama, selama kamu belum pernah mengucapkan talak pada Kanaya. Dia tetap istrimu, tapi setelah lima tahun kepergianmu. Alangkah bijak, jika kamu menanyakan keputusan Kanaya. Jika dia ingin mengakhiri pernikahan kalian. Itu haknya, sebagai seorang istri yang tak pernah dianggap selama lima tahun terakhir!" tutur Rizal lirih dan hangat, Haykal terdiam. Dia mendengar sebuah alasan yang membuatnya pantas bahagia. Namun mengingat kepergiannya selama lima tahun. Haykal merasa tak lagi pantas menjadi imam dunia akhirat Kanaya.
"Om Rizal, dimana tante Aira?" sapa Hanna, Rizal menoleh ke belakang. Nampak Aira datang dengan menggendong Faiz. Sedangkan Rizal berjalan lebih dulu, sebab dia membawa beberapa tas besar.
__ADS_1
"Kalian akan menginap?" ujar Hanna, Aira dan Rizal mengangguk bersamaan.
"Aira bosan tinggal berdua denganku. Dia ingin tinggal di rumah ini. Lihat saja, berapa banyak pakaian yang dibawanya? Cinta Aira mulai luntur!" ujar Rizal, Hanna terkekeh. Haykal tersenyum melihat kebahagian yang begitu sederhana. Namun kebahagian yang penuh dengan ketulusan dan apa adanya.
"Siapa yang tidak akan bosan? Hampir setiap malam kakak cemburu tidak jelas. Kakak kesal tanpa alasan, bahkan kakak melarangku bekerja. Sebab aku bertemu dengan laki-laki. Padahal kakak juga ikut denganku!" sahut Aira dengan nada yang lantang. Rizal tersenyum melihat amarah Aira yang terkesan lucu. Rizal merasa bahagia bisa hidup bersama dengan Aira. Menjadi bagian paling berharga dalam hidup Aira.
"Haykal, maaf kamu harus mendengar perdebatan kecil kami. Hanya dengan berdebat, kami bisa menunjukkan rasa cinta kami. Perbedaan usia yang cukup jauh, membuat kami berdua berada di tepi jurang perpisahan. Jika kami tidak mencari tali penguat, maka tangan kami akan terlepas. Perdebatan ini cara terbaik kami saling menyatu. Kami bisa melihat sisi lemah dan kurang, bukan untuk berpisah atau saling mengejek. Melainkan untuk menghargai satu sama lain. Demi rasa cinta yang semakin memudar seiring waktu yang berjalan!"
"Tidak apa-apa? Justru aku berterima kasih, bisa melihat kebahagian yang penuh ketulusan!" ujar Haykal, Rizal mengedipkan kedua mata indahnya. Aira dan Hanna sudah masuk ke dalam. Hanna mengantar Aira masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Rizal memilih menemani Haykal.
"Haykal, seperti hubunganmu dengan Kanaya yang penuh kebencian. Jarak yang menjadi alasan rindu, waktu yang memisahkan kalian dan meninggalkan luka. Cinta yang dulu tulus, kini berubah menjadi benci yang membekas. Namun percayalah, jika kamu bisa menemukan cara mengerti pribadi Kanaya. Kamu akan menemukan kembali cinta yang pudar tak berbekas itu!"
"Om Rizal, aku memang bodoh. Namun cinta dan hati ini hanya untuk Kanaya. Tidak ada nama dan hati lain yang berhak akan cinta ini!" ujar Haykal, Rizal mengangguk sembari menepuk tangan Haykal.
"Aku percaya, cintamu tulus dan rindumu nyata. Namun lima tahun bukan waktu yang sebentar, butuh banyak waktu mengenal Kanaya kembali. Seperti diriku yang menyimpan cinta bertahun-tahun untuk Aira, tapi harus kembali belajar mengenal Aira. Kala cintaku ini terucap dan mencari cara untuk terus bersama. Aku harus belajar menjadi anak kecil, saat Aira bersikap dewasa. Terkadang aku harus menjadi seorang ayah, ketika Aira bersikap seperti anak kecil. Kita memang laki-laki, tidak pantas menangis dan bersikap manja. Namun dalam hangat cinta, bersikap sedikit lembut tidak akan membuat kita kehilangan harga diri!"
"Kenapa om Rizal bicara seperti ini padaku?"
"Sebab dalam cinta kalian berdua ada ego yang menghalangi. Kanaya tumbuh menjadi wanita yang kuat dan dewasa. Dia tidak akan bersikap lemah di depanmu. Sebab itu, jadilah Haykal yang kekanak-kanakan. Agar Kanaya merasa dibutuhkan, bukan diinginkan. Ulurkan tangan pertemanan, jangan nyatakan cintamu. Luka yang kamu tinggalkan belum sembuh. Jangan kamu ingatkan Kanaya akan luka yang sama. Sebaliknya, tawarkan uluran pertemanan yang tulus. Sebagai obat penyembuh lukanya!"
"Terima kasih!" ujar Haykal penuh rasa haru.
__ADS_1